Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 113 : Serangan Bertubi-tubi


__ADS_3

Lin Chen menyentuhkan kedua telapak tangannya, lalu menariknya ke arah yang berlawanan secara perlahan. Terlihat ada Pedang Dewa yang keluar dari telapak tangannya, lalu ia ayunkan.


Slash!


Semesta Xing terbelah dua untuk beberapa saat, serta mengubah keadaan Semesta Xing dengan Domain Dewa yang bersinar terang.


Hal ini sangat mengejutkan 7 God Realm yang datang, terutama untuk Dewa Xing dan Monster. Semesta kekuasaannya yang terbelah, dan satunya lagi karena peliharaannya yang ia rawat sejak kecil, sejak seukuran ibu jari, kini meledak tepat di depan matanya.


Dewa Monster terlihat sangat marah, ada aura hijau muda yang menyelimutinya seperti nyala api. Energi itu mengubah ukuran tubuhnya untuk lebih besar lagi, meski hanya sebatas Bintang Xu.


Hanya Dewa Monster saja yang melakukan perubahan pada tubuh, tidak dengan yang lain yang masih menggunakan ukuran tubuh normal.


"Sepertinya cukup sulit." Lin Chen merasa serangan-serangan yang pernah ia keluarkan terhadap Monster Kuno tidak berarti di sini.


Kurasa, aku harus kembali bertarung dengan cara seperti awal. Saat belum menjadi Kultivator Sejati. Bertarung dari jarak jauh sangat merugikanku, karena ada Dewa Ruang dan Waktu yang mampu menghentikan pergerakan.


Dewa Demon Buddhist bergerak sangat cepat seperti beteleportasi, muncul di belakang Lin Chen dengan posisi yang tetap.


Lin Chen melirik ke belakang seraya mengayunkan Pedang Dewa mengarah pada Demon Buddhist, tapi sayangnya, saat hendak mengenai leher Demon Buddhist, gerakan tangannya terhenti seperti ada yang menahannya.


"Sekarang!" Dewa Ruang dan Waktu mengarahkan telapak tangannya pada Lin Chen, menghentikan gerakannya.


Dewa Xing menarik pedang dari sarungnya, terlihat ada aura merah yang menyelimuti pedang. Domain Dewa juga mulai menyusut karena munculnya Pedang Hukum setelah disimpan selama miliaran tahun.


Dewa Xing mengangkat tangannya setinggi mungkin. "Dao Pedang, Hukum. Pembelah Semesta!" Ia mengayunkannya secara vertikal.


Walaupun tidak bisa bergerak, Lin Chen tetap bisa mengendalikan chakram perunggu dengan nyala api ungu di belakangnya. Chakram perunggu itu membesar sampai ukurannya ratusan kali dari Bintang Xu.


Tebasan Dewa Xing memotong Domain Dewa dan membelah Semesta Xing, mengubah warnanya menjadi hitam gelap seperti semula, namun ada garis merah yang lebar serta panjang sejauh mata memandang.


Bang!


Serangan Dewa Xing membentur chakram perunggu, membelah tebasan itu menjadi dua bagian yang bergerak ke dua sisi berbeda. Seketika itu juga, Semesta Xing yang sebelumnya hanya terbelah dua, kini berubah menjadi empat bagian.


Karena serangan ini juga, Lin Chen bisa bergerak lagi meski mendapatkan luka dalam yang tidak terlalu parah. Ia mengulurkan tangannya mengarah pada Bintang Xu, lalu mengepalkan tangannya.


Bintang Xu menghilang dari Semesta Xing, tersimpan ke dalam Inventory System.


Dewa Pedang yang berambut biru langit juga mulai bergerak, mengeluarkan bilah pedang secara perlahan dari sarungnya. Terlihat ada nyala api berwarna biru di pedangnya. "Dao Pedang, Pembunuh. Bulan Sabit!" Ia mengayunkan pedangnya secara menyilang.


"Dao Ruang, Isolasi Ruang!"


"Dao Buddha, Demon Buddhist. Wajra!"


"Dao Bintang, Ledakan Bintang!"


Ayunan dari Dewa Pedang menciptakan siluet bulan sabit berwarna biru yang bergerak sangat cepat.


Lin Chen menyerang Demon Buddhist di depannya, meski tidak sampai karena mengelak dari serangannya. Ia melepaskan ratusan cambuk untuk menahan serangan dari Dewa Pedang, tapi ternyata siluet bulan sabit itu bisa dikendalikan dan mengarah ke arahnya dari kiri.


"Sia—" Lin Chen yang hendak mengangkat tangan kirinya untuk menahan serangan, tapi ternyata tubuhnya kaku tidak bisa digerakkan.

__ADS_1


Slash!


Tebasan dari Dewa Pedang mengenai Lin Chen dan membelah tubuhnya menjadi dua bagian secara menyilang. Ini sangat mengejutkan, membuat Lin Chen hanya bisa diam dengan mata terbuka lebar.


Dewa Pedang sendiri hampir menembus tahap Akhir dari God Realm, serta pemilik Semesta yang masuk dalam jajaran Top 25 Semesta, sehingga tidak terlalu aneh bisa membelah Lin Chen.


Bukan hanya disitu, masih ada serangan lain dari Demon Buddhist.


Wajra adalah istilah yang berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna halilintar dan intan. Sebagai benda ritual, wajra adalah tongkat logam dengan sula ditengahnya dikelilingi banyak sula-sula lain yang melengkung ke dalam dan ujungnya menyambung bersatu dengan sula utama di tengahnya. (Sc : Wikipedia)



Wajra yang dikelilingi oleh petir merah muncul ratusan mil di atas Lin Chen yang sudah tidak bisa bergerak sama sekali itu. Kemunculan Wajra juga mengubah Semesta Xing, banyak ledakan yang mengerikan karena sambaran dari petir yang menyebar dari Wajra.


Wajra sebesar Bintang Xu yang ditumpuk tiga itu melesat jatuh mengarah pada Lin Chen yang mulai beregenerasi.


Dari empat arah Lin Chen juga muncul sebuah gumpalan tanah sebesar kepalan tangan, yang membesar bersamaan mengurung Lin Chen di tengahnya. Kemudian meledak dengan ukuran yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, ledakannya sangat besar, menghilangkan ratusan galaksi di sekitarnya.


Wush!


Wajra membelah nyala api yang membakar Lin Chen di tengah-tengahnya, membuat Lin Chen ikut terbawa jatuh saat tengkuk lehernya terkena ujung Wajra.


"Dao Phoenix, Hukuman. Api Neraka!"


Wosh!


Api yang menyala berwarna hitam muncul mengelilingi Lin Chen yang terus bergerak ke bawah karena didorong oleh Wajra. Api Neraka berputar-putar seperti tornado, suhunya yang sangat panas mulai melelehkan pakaian yang dikenakan Lin Chen, serta mulai ada luka bakar di permukaan kulitnya.


Dewa Monster yang sudah sebesar Bintang Xu juga mulai bergerak, ia sudah berada sangat jauh di bawah Lin Chen, tengah bersiap-siap untuk melepaskan serangannya setelah Wajra dan Api Neraka menghilang.


Bang!


Wajra dan Api Neraka menghilang, bukan karena serangan Lin Chen, tapi karena Demon Buddhist dan Dewa Phoenix yang menghilangkannya. Ketika menghilang, api menyebar ke segala arah membentuk cincin yang terus membesar, membelah Semesta Xing dengan api hitam yang panas.


"Dao Monster." Dewa Monster membyka mulutnya selebar mungkin. "Pembunuh, Kabut Racun!" Walaupun mulutnya terbuka, ia tetap bisa berucap meski dengan nada yang mengerikan.


Ada kabut hijau yang menyembur keluar dari dalam mulut Dewa Monster. Kabut itu terbang mengarah pada Lin Chen, terlihat kulit Lin Chen mulai mengalami perubahan, kulitnya terlihat melepuh dan ada rasa sakit yang mengerikan di sekujur tubuhnya.


Perlindungan dari chakram dan cambuk juga sudah menghilang, membuatnya menjadi target yang mudah untuk diserang. Tapi, semua serangan yang mengenainya bisa pulih dengan cepat.


Lin Chen yang menatap tajam Dewa Monster itu, mulai menutup matanya untuk beberapa saat, mengalirkan energi yang masih tidak stabil karena menembus God Realm yang terburu-buru. Bisa dibilang, belum membiasakan diri dengan God Realm, yang mana biasanya ia akan berdiam diri untuk mengontrol energinya.


"Hah..." Lin Chen mengembuskan napas panjang, terlihat ada kabut cahaya putih yang keluar dari dalam mulutnya.


Bang!


Dentuman lain kembali terdengar ketika Lin Chen kembali berubah, tubuhnya juga semakin besar, setara dengan ukuran Dewa Monster.


"Dao Iblis, Kehancuran. Pukulan Dimensi!"


Lin Chen mengarahkan telapak tangan kirinya ke depan, mengarah pada Dewa Monster dan tangan kanan berada di pinggangnya untuk mengambil ancang-ancang. "Mati!" Ia memukulkan tinjunya ke depan.

__ADS_1


Cambuk Iblis juga bergerak, menyerang Dewa Monster dengan serangan bertubi-tubi tanpa henti. Chakram Dewa yang berada di sekitarnya membesar, mengelilinginya dan Dewa Monster dari serangan luar.


Bang! Bang! Bang!


Serangan dari 6 God Realm membentur Chakram Dewa dan Iblis yang berpindah-pindah untuk menghalau semua serangan, meski ketika terkena serangan Dewa Pedang dan Dewa Phoenix, Chakram Dewa miliknya mengalami dampak di permukaannya.


"Kau tidak akan bisa membunuhku!" Dewa Monster berteriak lantang. Ia juga cukup terganggu dengan adanya Cambuk Iblis yang melukai permukaan kulitnya.


Lin Chen tidak terlalu peduli, ia juga mengerti dari mana asal kepercayaan Dewa Monster. Bagaimanapun, ia juga termasuk Dewa. Dewa tidak akan mati jika semua tubuhnya yang tersebar di Semesta tidak dibunuh secara bersamaan.


Pukulan yang dilepaskan Lin Chen tadi belum mengenai Dewa Monster, karena sesuai dengan namanya, pukulan itu bersembunyi di dimensi khusus yang tidak bisa dimasuki siapa pun.


"Persetan!" Lin Chen merentangkan kedua tangannya, lalu mengayunkannya ke depan secara bersamaan.


Chakram Dewa dan Iblis yang ia gunakan untuk menciptakan pelindung, mulai bergerak sesuai dengan perintahnya. Chakram itu memiliki kekuatan yang mengerikan dan sangat tajam, sampai mampu memotong tangan Dewa Monster seperti mentega.


Cahkram bergerak bebas ke sana kemari, terus melukai Dewa Monster hingga mengubahnya menjadi beberapa bagian.


Dewa Monster masih saja menatap tajam Lin Chen dengan rasa kepercayaan diri yang tinggi. Ia menduga jika tidak ada yang bisa membunuhnya, terlebih lagi ia memiliki miliaran dirinya di Semesta Guai.


"Datang!" Lin Chen mengarahkan telapak tangannya pada Dewa Monster. Dengan tangan kirinya mengarah ke belakang.


Semua chakram bergerak ke belakang, atau bisa dibilang di atasnya jika berada di posisi yang sekarang ini.


Celah ruang terbuka tepat di atas kepala Dewa Monster, terlihat ada pukulan yang ukurannya setara dengan gabungan tiga galaksi. Pukulan itu berwarna merah kehitaman, dengan aura membunuh yang sangat pekat.


Dewa Monster masih terlihat sangat percaya diri, menunggu tubuhnya beregenerasi. "Kau tidak akan mampu membunuhku!"


Duarr!


Pukulan Dimensi menghantam tubuh Dewa Monster yang sudah terbagi menjadi beberapa bagian, yang kemudian meledakkannya.


"Kau!—" Dewa Monster merasakan hal aneh pada tubuhnya, ia tidak bisa merasakan aura dari miliaran klon yang berada di Semesta Guai. "Ba- Bagaimana— Aarrgghh!"


Duarr!


Ledakan lain kembali terdengar ketika Dewa Monster benar-benar meledak, menyapu habis benda-benda yang berada di sekitarnya. Bisa dipastikan, setengah dari Semesta Xing sudah hancur tanpa sisa.


Lin Chen yang masih mengarahkan tangannya ke depan itu tersenyum tipis. "Bodoh."


Pukulan Dimensi, terlebih lagi Kehancuran yang merupakan salah satu Esensi dari Dao Iblis. Pukulan Dimensi itu akan mengakibatkan ledakan beruntun, yang mana apabila salah satu tubuh Dewa terbunuh, tubuh lainnya akan ikut terbunuh karena mengejar Esensi Jiwa yang sama.


Jiwa Kecil adalah Manusia Biasa. Api Jiwa adalah Pembudidaya Ranah Dewa. Inti Jiwa adalah Pembudidaya Ranah Immortal God. Esensi Jiwa, adalah mereka yang sudah mendapatkan Pencerahan dan Pendewaan.


Lin Chen berbalik melihat 6 God Realm yang menciptakan pelindung, berlindung dari ledakan yang ditimbulkan dari meledaknya Dewa Monster. "Tersisa enam."


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2