Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 199 : Memberi Harapan pada Lawan


__ADS_3

Dewa Tabib telah terbunuh dengan cara yang sangat menyakitkan; Esensi Kehidupan-nya terus terhisap sampai kering dan setiap waktunya akan sangat tersiksa, apalagi tidak bisa disembuhkan meski dibantu oleh God Realm lain, termasuk mengonsumsi Pil Kehidupan.


"Bunuh!"


Dewa Kehampaan melepaskan seluruh kekuatannya tanpa menahan diri; merasa bahwa akan berada dalam masalah besar jika menahan diri, yang mana bisa saja membunuhnya bersama 175 God Realm.


Ada kubah putih transparan yang menyatu dengan angkasa sekitar dari atas Lin Chen, yang jatuh secara perlahan dan ada aura kuat yang menekan darinya. Kekuatan ini memungkinkan menahan aura spiritual agar tidak bocor maupun mengunci target di dalamnya agar tidak bisa menggunakan kekuatan.


Dewa Kehampaan membuat segel tangan dengan posisi segitiga saat kedua tangan berada di depan dada. "Serang dia!"


Tiba-tiba ada pusaran hitam yang muncul di depan 175 God Realm dan terhubung dengan Penjara Hampa yang sedang mengurung Lin Chen di dalamnya.


Lin Chen tetap diam tanpa menyerang atau bergerak; membiarkan mereka membuat gerakan agar mereka memiliki harapan untuk menang, kemudian harapan itu dipatahkan.


Setelah semua serangan berkumpul di dalam Penjara Hampa, tekanan yang diberikan bertambah kuat, apalagi ini adalah serangan gabungan dari 175 God Realm yang yang mengatur Semesta.


Dewa Kehampaan menggerakkan kedua tangannya agar saling bertemu dan itu sangat berat sekali, karena banyak aura yang berada di dalam Penjara Hampa terakumulasi di sana, bahkan darah mulai mengalir di sela-sela jarinya dan sudut bibirnya.


"Mati!" Dewa Kehampaan menekan kedua tangannya dan berhasil saling bersentuhan.


Booom!


Penjara Hampa mengeluarkan suara keras yang merupakan ledakan kuat; tidak ada apa pun di sana selain api besar yang menyusut dalam sekejap di sana, mencoba menghilangkan Lin Chen menjadi partikel-partikel kecil.


Duarr!


Api yang menyusut seperti tertelan oleh pusaran, meledak karena tidak mampu menahan tekanan yang ada; Penjara Hampa hancur dengan gelombang udara yang menghempaskan 176 God Realm; terlihat Lin Chen yang baik-baik saja saat api mulai menghilang karena lambaian tangannya.


Lin Chen menepuk-nepuk bahunya yang berdebu karena serangan dari Element Tanah yang meledak. "Apakah hanya ini saja? Bukankah kalian sangat ingin menghukum dan membunuhku?"


"Ah~ Kalian sudah kelelahan hanya karena itu? Padahal aku belum mengeluarkan serangan." Lin Chen melihat Dewa Kehampaan dan 175 God Realm yang kelelahan maupun terluka; mereka terkena serangan balik karena Penjara Hampa yang meledak; tidak sedikit pula yang mengalami kemunduran dalam kultivasi.


Lin Chen tersenyum tipis, kemudian menghilang tanpa meninggalkan jejak; seperti aura keberadaannya menghilang tertelan ruang. Ketika ia kembali muncul, terdengar suara teriakan yang terdengar sangat menyakitkan.


"Aarrgghh!"


Perhatian semuanya teralihkan ke bawah; ada Dewi Kekayaan yang mengenakan hanfu berlapis emas, rambut berwarna perak dengan mata biru langit. Dewi Kekayaan berteriak kesakitan saat kepalanya dicengkeram Lin Chen dan secara perlahan tubuhnya mengering saat Esensi Kehidupan-nya diambil.


Lin Chen menguatkan cengkeramannya sampai menghancurkan kepala Dewi Kekayaan.


Setelah menerobos Lord Realm, Lin Chen bisa membunuh God Realm dengan sangat mudah, tidak perlu menyerang sampai menghancurkan Esensi Jiwa-nya. Sekarang, God Realm bagaikan semut yang tidak pantas mendapatkan perhatian di matanya.


Lin Chen melemparkan tubuh tanpa kepala untuk menjauh darinya, lalu menoleh ke belakang melihat 175 God Realm yang masih hidup; tangan kanannya terangkat sampai batas dada, ada gumpalan energi spiritual berwarna merah yang memancarkan auranya.


Dewa Kehampaan dan 174 God Realm menyebar ke segala arah saat melihat energi merah di tangan Lin Chen, entah mengapa mereka merasakan bahaya yang berasal dari energi kecil itu.


"Jangan lari." Lin Chen mengepalkan tangannya yang membawa energi merah.

__ADS_1


Energi merah di tangannya pecah yang kemudian melesat ke segala arah, mengejar 175 God Realm yang melarikan diri darinya. Ketika Lin Chen mengibaskan tangannya, semua pecahan energi itu bergerak lebih cepat lagi sampai memasuki tubuh semua orang yang berada di Semesta Lantian.


"Aaarrrgghh!"


Teriakan-teriakan yang mengungkapkan rasa sakit mulai terdengar bersahutan; darah mulai mengalir di permukaan kulit mereka yang entah dari kapan sudah berlubang-lubang seperti tertusuk sumpit tajam; darah juga mengalir di kedua mata seperti menangis.


"Kalian akan merasakan sakit yang menyiksa, kalian mungkin berpikiran bahwa mengalirkan energi akan membuatnya lebih baik, tapi itu sebaliknya, rasa sakitnya akan terasa dua kali lebih menyakitkan ..."


"Untuk menghilangkan rasa sakitnya, kalian harus membunuhku."


Lin Chen merasakan kehadiran yang datang tiba-tiba di sebelah kanannya; keadaan pemuda yang merupakan Dewa Alkemis sangat parah, pakaiannya berwarna merah darah; darah terus mengalir deras di sekujur tubuhnya dan terasa panas maupun menyakitkan.


Lin Chen mengepalkan tangannya, lalu mengayunkannya ke kanan mengarah pada Dewa Alkemis.


Bang!


Dewa Alkemis meledak karena serangan sederhana Lin Chen, dan karena ayunan dari tangannya tadi, Semesta Lantian mulai retak; ada cahaya biru pada bagian retakannya yang merupakan pembatas papan Weiqi.


Lin Chen tidak lagi bergerak setelah membunuh Dewa Alkemis, karena ingin membiarkan mereka semua merasakan rasa sakit yang mulai menggerogoti basis kultivasi maupun Esensi Kehidupan.


"Aaarrrgghh—" Salah satu dari mereka tidak mampu menahan rasa sakitnya, bahkan basis kultivasinya sampai turun ke Heavenly Realm dan tubuhnya meledak.


"Si- Sialan! De- Dewa Kehampaan! Cari cara!" Wanita berambut merah dengan mata oranye, mengenakan hanfu biru yang sudah berubah warna menjadi merah darah; wajahnya melepuh mengeluarkan darah hitam yang berbau busuk. Ada penyesalan karena datang ke Semesta Kongxu untuk bekerja sama dengan Dewa Kehampaan.


Dewa Kehampaan menggertakkan giginya merasa kesal, tapi tidak mungkin ia menyerah di sini saja. Ia mengibaskan tangannya; ada celah ruang yang terbuka, terhubung ke belakang Lin Chen. Namun, ketika ia mencoba masuk ke dalam celah, tubuhnya terhempas dan mendapatkan luka parah.


"Tapi, tidak menyenangkan langsung membunuhmu." Lin Chen mengayunkan tangannya ke bawah; memukul dada Dewa Kehampaan.


Dewa Kehampaan mengalirkan kekuatannya meski terasa sangat menyakitkan, asalkan tubuhnya memudar seperti angkasa luar yang merupakan ruang hampa, agar tidak bisa diserang menggunakan kekuatan fisik. Tapi, yang tidak diketahuinya adalah fakta bahwa Lin Chen sudah menerobos Lord Realm, God Realm semata tidak bisa menghindari serangan dari Lord Realm.


Booom!


Pukulan Lin Chen sangatlah kuat, menghempaskan Dewa Kehampaan untuk jatuh ke bawah, yang kemudian menciptakan retakan berwarna biru.


Lin Chen membiarkan Dewa Kehampaan untuk hidup sebentar lagi, untuk saat ini ia akan membunuh 173 God Realm secara perlahan agar mereka merasa seperti di neraka.


Lin Chen kembali menghilang dan muncul lagi; tangannya berhasil menangkap kepala pemuda yang rambutnya berwarna biru dengan sedikit merah karena darah. "Matilah."


Pemuda itu berteriak keras; sakit yang dirasakannya lebih kuat dari sebelumnya, ditambah kekuatannya yang terus turun.


God Realm tahap Menengah ... God Realm tahap Awal ... Heavenly Realm tahap Puncak ... Heavenly Realm tahap Akhir ... Heavenly Realm tahap Menengah ... Earth Realm ... Spirit Realm ... Blood Realm ... Body Realm ... Bone Realm ... Skin Realm ... Fana!


Tubuh pemuda itu tidak bisa lagi menahan tekanan dari angkasa luar yang sangat kuat, membuat tubuhnya membeku dan meledak.


Dewa Kehampaan yang sudah bisa mengendalikan tubuhnya, berdiri menatap Lin Chen seraya memegang dadanya yang berlubang. "Bagaimana, kau bisa menyerangku. Aku memiliki kekuatan seperti Dewi Kuxing, harusnya serangan fisik tidak dapat melukaiku."


Lin Chen menoleh ke bawah belakang, melihat Dewa Kehampaan yang kembali naik perlahan. "Orang yang sebentar lagi mati, tidak perlu tahu."

__ADS_1


Lin Chen mendorong tangannya ke arah Dewa Kehampaan, membuatnya terhempas sangat jauh sampai tidak terlihat lagi.


Bang! Duarr!


Dentuman keras terdengar sangat keras saat Dewa Kehampaan menghantam pembatas Semesta Kongxu, terlihat retakan-retakan membentuk jaring laba-laba, kemudian meledak seperti kaca yang pecah. Ledakan yang ditimbulkan menciptakan tekanan kuat, membuat sebagian God Realm tidak bisa menahan ledakannya dan meledak.


"Tch!" Lin Chen kesal karena tindakannya menghancurkan Semesta Kongxu dan membunuh sebagian God Realm, padahal ia berencana membiarkan mereka semua mati perlahan-lahan atau bunuh diri.


Walaupun mendapatkan Point Pengalaman, tapi aku sudah mencapai Ranah Puncak, jadi tidak penting siapa yang membunuhnya, batin Lin Chen.


Karena ledakan dari Semesta Kongxu yang hancur, setidaknya ada 39 God Realm yang terbunuh.


"Datanglah."


Hanya dengan satu kata, ada dua orang yang sudah berdiri di depan Lin Chen dengan bersimbah darah; ini adalah kutukan yang pernah ia tanamkan pada Dewi Kuxing saat masih muda dulu, tapi sudah ditingkatkan berkali-kali lipat.


"Apakah kalian tidak bisa menahannya? Bahkan, Dewi Kuxing saat masih Spirit Realm, dia bisa menahan kutukan ini dan terus melangkah ke God Realm tahap Puncak." Lin Chen tidak merasa bersalah lagi atas tindakannya di masa lalu, mungkin karena sudah mencapai Lord Realm, apalagi karena sudah mendapatkan maaf.


Pemuda berambut cokelat, alis tajam bagaikan pedang bermata merah; hanfu pria yang dikenakannya sudah berubah merah darah yang sebelumnya biru langit. Ia menatap tajam Lin Chen dengan rasa marah dan takut yang bersatu.


"Persetan!" Dewa Hukum meludahkan darah ke arah Lin Chen yang berada di depannya.


Lin Chen hanya diam tak bergeming melihat darah yang berada di depannya, namun saat hampir mengenainya, darah itu berbalik ke arah Dewa Hukum dengan bentuk jarum.


Zrash!


Jarum yang terbentuk dari darah itu menusuk kepala Dewa Hukum dan langsung menghancurkannya seperti tergilas oleh bulldozer. Dewi Alam yang berada di sebelah Dewa Hukum berteriak keras karena rasa sakit dan takut akan kematian; ada penyesalan di matanya karena mengikuti Dewa Kehampaan.


Lin Chen memiringkan kepalanya menatap Dewi Alam dengan mata terbuka lebar dan seringai dingin. "Kau tahu, jika kalian tidak bergabung dengan Dewa Kehampaan, mungkin aku akan memanfaatkan kalian dengan cara menurunkan kekuatan kalian sampai Earth Realm. Tapi ..."


"Karena kalian berkumpul di sini dengan niat membunuhku, maka kalian harus siap-siap untuk mati!"


Duarr! Duarr! Duarr!


Satu per satu God Realm meledak karena ucapan Lin Chen yang mengguncangkan Esensi Jiwa mereka, termasuk Dewi Alam yang berada di depan Lin Chen.


"Hanya tersisa tujuh puluh delapan lagi, kalian yang bisa bertahan, akan aku berikan hadiah, kesempatan untuk menyerangku." Lin Chen tersenyum dingin; memikirkan hadiah yang akan diberikannya membuatnya sangat bersemangat.


Lin Chen menjentikkan jarinya, memberikan energi murni pada 78 God Realm yang tersisa; ledakan energi bisa dirasakan dari dalam tubuh mereka semua, menandakan bahwa mereka telah menerobos sampai Puncak dari God Realm. Tapi, rasa sakit yang diterima dari kutukan juga bertambah beberapa kali lipat dan beberapa dari mereka mulai mengakhiri hidupnya sendiri.


"Sekarang, kalian memiliki kekuatan untuk melawan. Jangan diam saja menerima kematian, itu tidak menyenangkan."


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2