
"Lord Realm adalah pengetahuan, mereka mampu mengetahui semua rahasia di semua Semesta. Tapi, mungkin karena aku belum membunuh Dewa Kehampaan, aku masih tertahan dan tidak pantas untuk mendapatkan informasinya."
Lin Chen berada di tepi danau yang kedalamannya sudah ia kurangi, karena dalamnya danau, tidak ada anak-anak yang berani mendekati; mereka mengatakan danaunya terlalu mengerikan dan gelap, seperti ada monster yang bernaung di dalamnya.
"Aku sudah mengurangi dimensi danau, yang sebelumnya sedalam seribu meter, sekarang hanya lima sampai tiga puluh meter. Karena pengurangan ini, banyak penduduk yang mulai membangun tempat beristirahat di atasnya, tapi tidak semua karena harus mendapatkan izin.".
Lin Chen melemparkan beberapa pakan ikan di tepi danau dan sedang berbicara sendiri, ia ingin menenangkan pikirannya sebelum waktunya datang, karena tidak lama lagi akan melakukan pertarungan terakhir.
"Semoga saja ini benar-benar terakhir, saat melawan Yin'er, aku mengatakan bahwa itu yang terakhir, tapi sekarang melawan Dewa Kehampaan adalah yang terakhir."
Lin Chen melirik ke belakang saat mendengar suara langkah kaki yang sangat pelan, seperti semut yang melangkah di atas rumput. Ia tersenyum tipis dan kembali memberi makan ikan-ikan di depannya. "Jian'er Kecil, Ayah tahu kau ingin mengejutkan Ayah."
Lin Qiao Jianying mendengus tajam mengungkapkan perasaan kesal karena Ayahnya tidak bisa diajak bermain. "Harusnya Ayah berpura-pura saja tidak tahu."
Lin Chen tertawa kecil menanggapi kekesalan Putrinya.
Lin Qiao Jianying tambah kesal karena ditertawakan, tapi tidak benar-benar sampai membuatnya marah; tidak mungkin ia akan marah pada Ayahnya yang sangat perhatian maupun menyayanginya.
"Ayah, Bibi Yin bilang Ayah akan melawan Dewa Kehampaan. Apakah kali ini akan lama lagi?" tanya Lin Qiao Jianying—ia memang ingin berkelana seorang diri, tapi saat bertemu dengan Ayahnya, ia tidak rela jika harus ditinggalkan.
"Iya, Ayah akan melawan Dewa Kehampaan, tapi nanti-nanti saja, saat ini Ayah ingin berkumpul bersama kalian." Lin Chen mengusap kepala Putrinya yang berdiri di samping kiri.
"Tapi, bukankah Dewa Kehampaan bisa bertambah kuat?"
Lin Chen mencubit pipi Lin Qiao Jianying. "Apakah kau meminta Ayah pergi? Dewa Kehampaan tidak bisa bertambah kuat lagi, dia hanya bisa sampai tahap Puncak dari God Realm. Karena hanya ada satu Lord Realm."
"Bu- Bukan begitu Ayah~ Jian'er hanya khawatir." Lin Qiao Jianying mengusap pipinya yang sedikit merah.
"Terima kasih ..." Lin Chen menepuk-nepuk kepala Putrinya. "Apakah Jian'er akan kembali ke Bintang Shangli?"
Lin Qiao Jianying melangkah maju dan berjongkok di tepi danau, bermain bersama ikan-ikan yang sedang diberi makan. "Iya, Jian'er akan kembali ke sana, masih banyak yang harus dilakukan. Jian'er ingin membangun fondasi yang kuat di Bintang Shangli, barulah berpindah ke tempat lain."
"Kau harus berhati-hati di sana, dan pulanglah sesekali jika merindukan Ayah dan Ibu."
Lin Qiao Jianying hanya menganggukkan kepalanya dalam diam, tidak lagi berbicara; ia tahu apa yang dilakukannya, dan akan kembali jika tidak bisa menyelesaikan masalah yang menimpanya. Jika saja tidak untuk membangun fondasi di Bintang Shangli, ia tidak ingin kembali karena ada keluarga Ye di sana.
Lin Qiao Jianying mendongak ke kanan melihat Ayahnya, kemudian menghela napas panjang dan menundukkan kepala; hanya berurusan dengan keluarga Ye tidak perlu meminta bantuan Ayahnya.
Lin Chen menyadari tatapan Putrinya dan tahu apa yang sedang dipikirkannya, tapi ia tidak perlu terlalu khawatir karena sudah meninggalkan kloning di dalam bayangannya. Jika keluarga Ye membuat masalah sampai batas tidak bisa diselesaikan Putrinya, ia akan membiarkan kloning untuk memusnahkan keluarga Ye.
__ADS_1
Lin Chen mengulurkan tangan kirinya. "Apakah Jian'er ingin berjalan-jalan bersama Ayah?"
Lin Qiao Jianying mendongak; meraih tangan Ayahnya dan berdiri. "Jian'er mau. Tapi, ke mana kita akan pergi?"
"Kita akan pergi ke bagian terluar dari Kota Chen, tempat semua orang bisa datang." Lin Chen mengubah semua pengaturan Kota Chen: Wilayah Luar, Wai, Zai, Nei. Wilayah Luar bisa dimasuki setiap orang; Wai hanya Murid Luar Sekte Chenlong; Zai adalah Murid Dalam; Nei adalah Murid Batin.
Wilayah yang sangat luas, bisa menampung dua kekaisaran sekaligus, apalagi Pohon Dewa mengalami pertumbuhan lagi, yang awalnya hanya setinggi 350 mil, kini sampai setinggi 500 mil dan berdiameter 75 mil. Untuk bagian dalamnya, setidaknya memiliki rongga 70 mil yang bagian dasar bisa digunakan untuk suatu upacara atau ujian bagi Murid-murid Batin untuk menjadi Diaken, dan Diaken menjadi Wakil Penatua ataupun Penatua.
Sudah banyak Top 10 Murid Batin yang menjalani ujian, bukan untuk menjadi Diaken, melainkan untuk mendapatkan Profound Ark Ilahi yang bisa membelah ruang; mereka mulai berkelana mengelilingi Galaxy Zhongyang.
"Tunggu, dengan penampilan Ayah yang sekarang, semua orang akan menyadarinya dan perjalanan ini tidak menyenangkan." Lin Qiao Jianying menahan tangan Ayahnya, lalu mulai merias wajahnya.
Lin Chen membiarkan Putrinya melakukan apa yang disuka, hingga belasan menit berlalu, penampilannya sudah berubah total; ada kumis panjang dan janggut sampai batas dada, lalu alisnya juga panjang pada bagian ujung; wajahnya sedikit keriput karena riasan yang digunakan.
Untuk Lin Qiao Jianying, hanya mengubah warna rambutnya menjadi hitam dan mengenakan cadar merah muda.
"Ayah terlihat tampan."
Lin Chen memainkan kumis palsu yang menempel di bawah hidungnya. "Benarkah? Bukankah Jian'er tidak menyukai Ayah menumbuhkan rambut di wajah? Jika Jian'er menyukainya, apakah Ayah harus menumbuhkan—"
Lin Qiao Jianying menutup mulutnya Ayahnya dengan kedua tangan. "Tidak! Ini hanya sementara, Jian'er tidak ingin Ayah memilikinya!"
Pertemuan keluarga Yan kali ini sepertinya untuk mencari Penerus yang menjadi Patriak atau Matriak keluarga Yan, mengingat Yan Zhong sudah berusia 95 tahun dan Ji Yue Ling sudah berusia 89 tahun. Keduanya sudah bosan dan ingin bersantai untuk bermain-main bersama cucu ketimbang mengurus tumpukan kertas.
Lin Chen dan Lin Qiao Jianying keluar dari gang kecil yang tercipta dari celah antara satu bangunan dengan bangunan yang lain.
"Jian'er ingin ke mana?" Walaupun Lin Chen yang membangun Kota Chen, tapi ia tidak terlalu tahu ada apa saja di sini, karena waktu yang ia habiskan lebih banyak di angkasa luar ataupun ruang hampa.
Lin Qiao Jianying menggenggam pergelangan tangan Ayahnya dan berlari ke bagian selatan Kota Chen. "Jian'er ingin menaiki roller coaster!"
Lin Chen mengerutkan keningnya, merasa enggan untuk naik roller coaster, bukan karena takut, tapi karena tidak menyenangkan. Saat belum menjadi yang sekarang dan hanya manusia biasa, ia merasa biasa-biasa saja, apalagi yang sekarang.
Ketika sudah sampai dan sudah naik, Lin Chen hanya diam melipat kedua tangannya di depan dada, berbeda dengan Lin Qiao Jianying yang terlihat bahagia.
"Aku bisa terbang dengan kecepatan miliaran mil per detik, dan sekarang menaiki roller coaster berkecepatan tiga ratus mil per jam."
Lin Chen bahkan sampai menyantap makanan di saat roller coaster terus melaju dengan kecepatan penuh, yang kecepatannya sangat lambat seperti siput. Tapi, tidak ada salahnya menikmati hari indah ini bersama Putri kecilnya yang cantik.
__ADS_1
***
Semesta Kongxu
Semesta yang dikuasai Dewa Kehampaan sudah berubah total; tidak ada lagi kehidupan selain 177 God Realm yang berjaga-jaga apabila Lin Chen datang.
Dari salah satu tempat di Semesta Kongxu, ada celah ruang yang terbuka tanpa mengeluarkan fluktuasi energi, celah itu terhubung dengan Semesta Yongheng di mana Lord Realm memimpin.
"Aku datang ..." Lin Chen yang merupakan Lord Realm keluar dari dalam celah; mengenakan pakaian berlapis-lapis berwarna putih bersih tanpa corak ataupun hiasan lain.
"Aku sudah tiga bulan kembali semenjak menerobos Lord Realm, anak-anak juga sudah kembali ke tempat masing-masing. Jika Xuan'er dan Mei'er bisa tinggal lebih lama, tapi tidak dengan Jian'er yang memiliki Paviliun Xiao Jian'er di Bintang Shangli."
Jika ada kesempatan, Lin Chen ingin datang mengunjungi anaknya satu per satu, bukan dengan kloning, tapi tubuh utama bersama Yan Xue.
Lin Chen mengalirkan sedikit energinya; tiba-tiba Semesta Kongxu mulai bergetar hebat dengan aura membunuh yang bisa dirasakan dari berbagai tempat. Hingga terlihat cahaya yang membentuk siluet manusia mulai terbang dari segala arah dan mengelilingi dirinya yang berada di tengah-tengah.
"Apakah kau yang membunuh Dewi Kuxing dan mengacaukan susunan Weiqi?"
Perhatian Lin Chen tertuju pada pria yang mengenakan jubah hitam sampai menutupi kepala; ada semacam kilauan bintang yang membentuk galaksi di dalam tubuh pria di depannya, Dewa Kehampaan!
"Aku akan memberimu pilihan ..." Lin Chen mengangkat tangannya dan menatap tajam Dewa Kehampaan. "Pertama, aku membunuhmu dalam sekejap tanpa meninggalkan rasa sakit. Kedua, apakah kau ingin bermain-main lebih lama? Tapi ada harga yang harus dibayar, setiap detiknya kau akan merasakan sakit yang luar biasa."
"Persetan!"
Ada teriakan yang berasal dari belakang Lin Chen; fluktuasi energi berkumpul di atas kepalanya, membentuk sebuah jarum perak yang tajam sebesar gunung.
Itu adalah serangan dari Dewa Tabib!
Lin Chen tidak merasa takut, hanya diam dan menahan jari tengahnya menggunakan ibu jari, kemudian melepaskan sentilan kecil.
Booom!
Tekanan kuat dari gerakan kecil Lin Chen menghempaskan jarum di atas kepalanya hingga meledak, yang berakibat pada Dewa Tabib yang mendapatkan luka dalam.
Dewa Kehampaan dan 175 God Realm lain tidak menduga serangan Dewa Tabib akan dipatahkan bahkan sebelum jatuh, bukan hanya itu saja, Esensi Kehidupan Dewa Tabib mulai menipis dan mengubahnya menjadi pria tua tanpa daging, hanya terbungkus kulit kering.
"Pilihan yang aku berikan tadi, sudah tidak berlaku lagi. Sekarang, ayo kita mulai siksaannya!"
...
__ADS_1
***
*Bersambung...