Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 153 : Kekuatan dari Bintang Shanjin


__ADS_3

Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat dan sudah dua minggu berlalu semenjak Negeri Surgawi dibuka. Banyak kekuatan dari Bintang Shanjin yang datang ke Daratan Jinmang untuk menyelidiki tentang keanehan Negeri Surgawi yang mengeluarkan semua orang sebelum waktunya.


Kekuatan yang datang di Daratan Jinmang cukup bergaram, dan jika mereka datang ke Semesta Yongheng, mereka bisa menjadi 'Penguasa'.


Ada 100.000 Tongzhi, 10.000 Ziranzhi dan 5 Earth Realm. Untuk 2 Heavenly Realm, mereka mengasingkan diri sejak ratusan juta tahun lalu.


Tentunya tidak hanya Tongzhi, ada Huangdi, Yuzhao dan Divine God ke bawah.


Semuanya datang ke sini, mengalirkan energi mereka ke Gerbang Dimensi untuk membukanya paksa, mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada setelah menunggu sekian lama.


Seorang wanita muda berambut hijau muda, berpakaian biru langit terbuka, memperlihatkan pundak, belahan dada dan pusarnya. Tapi tidak hanya itu saja, ia juga memperlihatkan kaki jenjangnya yang indah sampai paha.


Xian Anqi merupakan salah satu orang yang dihormati di Bintang Shanjin, karena kekuatannya yang sudah di Ranah Earth Realm tahap Menengah.


"Aku dengar, ada yang membuka paksa Gerbang Dimensi dua minggu lalu. Siapa dia?" Xian Anqi menurunkan kedua tangannya, menghentikan gerakannya dalam memberikan energi pada Gerbang Dimensi.


"Salam, Saint Anqi." Pemuda berambut hitam, mata oranye dan mengenakan pakaian biru. Ia menangkupkan kedua tangannya dengan keala menunduk, mengarah pada Xian Anqi. "Saat kami keluar, kami tidak melihat dia keluar. Saya menduga dia masih di dalam Negeri Surgawi."


Xian Anqi mengerutkan keningnya, baru pertama kali mendapati situasi seperti ini. Yang ia tahu, tidak ada yang bisa mengubah susunan Negeri Surgawi kecuali penciptanya, dan tidak ada yang bisa mengeluarkan paksa atau menahan agar tidak keluar dari sana. Kecuali ...


"Heavenly Realm!?" Entah mengapa pikiran Xian Anqi sampai disitu, karena hanya itu saja yang bisa ia pikirkan. Ia juga merasa tidak mungkin ada yang melebihi Heavenly Realm atau yang mampu mencapai God Realm kecuali Dewa Langit.


"Apakah ada Heavenly Realm lain? Ini adalah Bintang Shanjin, pusat dari Semesta Lantian."


Xian Anqi menoleh ke belakang melihat ke arah sumber suara, bisa terlihat ada pemuda yang lebih tua darinya, mengenakan setelan merah dengan rambut ungu, dan membawa kipas tangan.


"Kaisar Qiang?" Xian Anqi menaikkan sebelah alisnya. "Apakah maksudmu tidak mungkin ada Heavenly Realm di bintang lain, selain di Bintang Shanjin?" Ia menatap tajam Kaisar Qiang, tapi tidak ada permusuhan.


Kaisar Qiang merupakan Kaisar dari Daratan Juanxin, kekuatannya sedikit lebih kuat dari Xian Anqi. Ia mendengkus dingin menertawakan ketidaktahuan Xian Anqi yang tidak pernah pergi ke tempat lain, hanya selalu diam di Bintang Shanjin.


"Heh! Aku sudah pernah pergi ke tempat lain, dan tidak ada yang pernah mencapai Heavenly Realm." Kaisar Qiang membuka kipas tangannya, menggerakkannya untuk mendinginkannya wajahnya.


Xian Anqi mengepalkan kedua tangannya erat, kemudian menghela napas panjang dan berbalik meninggalkan Kaisar Qiang. Ia tidak ingin terus berdebat dengan Kaisar Qiang, yang mana teman masa kecil sekaligus rivalnya dalam menggapai Ranah tertinggi.


"Aku memang tidak pernah pergi dari Bintang Qiang, tapi, tidak menutup kemungkinan jika ada Heavenly Realm di tempat lain. Bahkan, Dewa Langit berasal dari bintang lain ..."

__ADS_1


Xian Anqi menghentikan langkah kakinya ketika teringat suatu hal yang sangat penting, yaitu tentang Dewa Langit. Ia tidak pernah lagi mendengar tentang Dewa Langit, bahkan murid-murid atau kenalan dari Dewa Langit yang ada di Bintang Shanjin, menghilang tidak ada kabar.


Walaupun Xian Anqi tidak menyukai Dewa Langit, tapi ia harus tetap bersikap hormat agar bisa hidup tenang.


Pernah ada kejadian salah satu pelayan yang tidak sengaja berbicara buruk tentang Dewa Langit, kabar itu terdengar oleh murid-murid Dewa Langit, dan esok harinya, pelayan itu terbunuh bersama dengan keluarga ataupun tempatnya bekerja.


Karena kejadian itu, banyak yang mulai menghormati Dewa Langit karena terpaksa, dan banyak juga yang mengutuk secara diam-diam.


Jika mereka tahu bahwa Dewa Langit sudah terbunuh lama, mungkin Semesta Lantian akan kacau oleh dua kubu yang saling bertarung satu sama lain.


***


Negeri Surgawi


Lin Chen duduk bersila dengan mata terpejam, menunggu anak-anaknya selesai menyerap esensi Air Surgawi yang sangat berlimpah. Ketika ia membuka matanya, ia langsung menengadahkan kepalanya melihat langit.


"Mereka belum pergi?" Lin Chen sudah tahu tentang kedatangan banyak Kultivator yang menunggu di luar.


Rencananya, setelah selesai mengambil semua harta di Negeri Surgawi, ia akan keluar dari tempat yang sama. Namun, jika mereka tetap tinggal dan tidak pergi, maka hanya bisa berteleportasi untuk berpindah ke tempat lain.


Kultivasi Lin Qiao Jianying sudah menembus Ranah Raja Dewa, Dewa Air. Lin Da Zixuan menembus Dewa Giok, dan Lin Mein An menembus Dewa Besi.


Pemahaman mereka terhadap Profesi Kultivasi juga mulai meningkat secara signifikan, dan hanya membutuhkan waktu saja untuk mereka bisa mencapai tingkat Surgawi.


"Bagaimana? Apakah masih ingin mengatakan tidak berguna?"


Lin Qiao Jianying tertawa canggung melihat ke arah lain, menghindari tatapan mata Ayahnya yang tertuju padanya. "A- Ayah~"


Lin Chen tersenyum ringan melihat Lin Qiao Jianying yang malu-malu, lalu ia menepuk-nepuk pahanya sendiri.


Melihat itu, Lin Qiao Jianying berjalan menghampiri Lin Chen dan duduk di pangkuannya, yang kemudian bersandar di dada dan tidur. Ia ingin beristirahat sejenak, karena setelah ini mereka akan kembali melanjutkan perjalanan.


Lin Chen kembali menutup matanya, mencari tahu keadaan Daratan Jinmang. Ia mencari manusia yang cocok untuk dibunuh, untuk pelatihan anak-anaknya agar terbiasa dalam pertarungan sesungguhnya, bukan pertarungan melawan monster yang tidak ada emosi.


"Ternyata, Daratan Jinmang bukan hanya tidak aman karena banyak monster, tapi banyak juga bandit-bandit. Kerajaan maupun kekaisaran tidak terlalu peduli, karena mereka hanyalah mortal."

__ADS_1


Untuk Pemimpin dari suatu tempat yang tidak ingin bergerak, hanya karena mereka lebih tinggi derajatnya dan yang lain hanyalah manusia biasa, itu terlalu berlebihan.


Tapi, jika ia tidak mengingat pesan dari Putih, mungkin ia akan melakukan hal yang sama dan tidak mungkin bertemu dengan Mein.


Aku bersyukur karena menjadi diriku sendiri, dan tidak perlu melepas siapa sebenarnya diriku, tidak pernah melupakan bahwa aku juga berasal dari mortal. Bahkan meski aku tidak terlalu berubah banyak dan tetap menghargai mortal, aku tetap bisa menjadi Dewa.


Lin Chen membuka matanya, menunduk melihat Lin Qiao Jianying yang tertidur pulas seraya menghisap ibu jarinya sendiri. "Beristirahatlah." Ia mengusap kepalanya lembut.


*Malam Harinya


Anak-anak sudah bangun dari tidurnya saat sinar rembulan hampir menyinari secara vertikal atau berada di posisi puncak, hal ini sangat wajar mengingat ketiganya yang tidak tidur selama dua minggu karena fokus menyerap Air Surgawi.


Tidak menunggu sampai pagi, mereka langsung berangkat malam ini juga ke arah utara dengan Profound Ark ukuran sedang, yang cukup untuk beristirahat di dalamnya.


"Setidaknya masih ada monster Ranah Huangdi, Tongzhi dan Ziranzhi. Untuk Earth Realm, hanya kera tadi saja dan tidak ada yang lain."


Lin Chen berjaga seorang diri di luar bangunan dengan dimensi 15 × 20 meter di belakangnya, ia meminta yang lain untuk tinggal di dalam karena di luar cukup dingin, tidak baik bagi tubuh mereka.


Lin Chen duduk di pinggiran Profound Ark dengan kedua kaki yang menggelantung. Kepalanya tertunduk melihat lututnya seraya mengusap dagunya. "Mereka masih belum menyerah? Sampai kapan mereka di sana?"


"Tunggu ..." Lin Chen mengerutkan keningnya saat merasakan ada fluktuasi energi spiritual di bawah Daratan Jingmang.


Sudah sejak awal kedatangannya ke Bintang Shanjin, Lin Chen mengetahui tentang makhluk yang bersembunyi di bawah Daratan Jinmang. Hanya saja, ia tidak mengambil tindakan karena terasa tidak melakukan apa-apa dan sepertinya bersahabat.


"Auranya sangat pekat, penuh kebencian dan sepertinya sangat ingin menciptakan kehancuran di Bintang Shanjin. Walaupun, makhluk itu tidak seberapa ketimbang Monster Kuno ..."


"Dia akan bangkit setengah bulan dari sekarang, aku masih memiliki banyak waktu bersantai dan membantu Yi'er menembus Earth Realm tahap Akhir."


Lin Chen mendongak melihat lurus ke depan, kemudian tersenyum tipis dan berucap, "Kemudian, Yi'er mampu melawan Monster Kuno."


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2