
Ketika berada di meja makan, pikirannya tidak berada di tempat, atau bisa dibilang ia sedang memikirkan rombongan yang sedang datang menuju Desa Huang. Selama ia tinggal di sini, tidak pernah ada yang pergi berkunjung, bahkan desa sebelah juga tidak datang.
"Ada apa?" Yi Xinran menusuk-nusuk pipi kanan Chen Hao Lin yang berhenti mengunyah.
Chen Hao Ling tersadar dari lamunannya dan menoleh ke kanan. "Ibu, apakah ada yang memiliki Desa Huang?"
Yi Xinran mengerutkan keningnya. "Mengapa Hao Ling menanyakan itu?" Kemudian ia menggelengkan kepalanya, dan kembali melanjutkan perkataannya, "Tidak ada, kita adalah korban peperangan yang pergi meninggalkan kerajaan. Kemudian tinggal di tempat kering dan tandus."
Korban perang!? Putih tidak pernah mengatakan hal ini.
Chen Hao Ling mengepalkan kedua tangannya erat, kemudian berkomunikasi dengan Paman Kera untuk meminta bantuan, berjaga-jaga di dua sisi gunung apabila terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.
"Apakah Hao Ling memikirkan sesuatu?" Yi Xinran sangat khawatir dengan Chen Hao Ling. Ini sudah pernah terjadi dua tahun lalu, saat di mana hujan deras, putranya berperilaku seperti ini dan lusanya terjadi banjir.
Chen Hao Ling mendongak kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak apa." Ia tersenyum cerah menatap Yi Xinran dan melanjutkan menyantap hidangan.
Yi Xinran menatap khawatir Chen Hao Ling, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut dan memilih untuk menunggu apa yang sebenarnya terjadi nanti. Tapi, ia harus mempersiapkan diri bila-bila ada bahaya yang datang.
Setelah sudah selesai makan siang, Chen Hao Ling tidak pergi ke gunung untuk bermain, melainkan membersihkan pekarangan rumah. Dan, ia ingin menjaga Desa Huang sampai saatnya tiba, meski ia harus mengeluarkan rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
***
7 Hari Kemudian
Yi Xinran memandangi Chen Hao Ling yang mengayunkan ranting kayu di halaman dengan tatapan hangat. Ini sudah memasuki hari ke lima semenjak putranya mengayunkan ranting, dan sedikit banyak ia mulai memahami apa yang akan terjadi tidak lama lagi.
Perang! Hanya itulah yang bisa Yi Xinran pikirkan. Seperti saat banjir hampir datang, Chen Hao Ling menuangkan air di gelas sampai penuh dan tidak berhenti sama sekali meski membanjiri meja.
Tapi, semoga saja apa yang ia pikirkan semuanya salah dan tidak akan ada perang yang terjadi di sini. Jika ada perang, tentunya Desa Huang akan hancur, mengingat semua orang di sini hanya petani.
"Semua orang! Ada pasukan berkuda yang datang!" Pemuda berusia dua puluhan tahun berlari-lari di jalan desa memberi peringatan.
Chen Hao Ling menghentikan pelatihannya, lalu ia berlari ke arah barat menuju sungai yang berada di luar Desa Huang. Ia ingin melihat lebih jelas pasukan berkuda yang datang, dan niat mereka datang kemari.
"Hao Ling!" Yi Xinran berlari mengejar Chen Hao Ling, namun tidak terkejar karena cepatnya berlari.
Chen Hao Ling sudah berada di tepi sungai, melihat sekitar 350 pasukan berkuda dan ada gerbong kereta mewah berwarna merah di tengahnya, yang dijaga dengan ketat.
__ADS_1
Belasan menit berlalu dengan cepat, pasukan berkuda sudah berhenti di seberang sungai dengan tatapan merendahkan penduduk desa. Terlihat di barisan depan ada pria paruh baya yang mengenakan jirah besi berwarna perak dan membawa tombak panjang di tangan kanannya.
"Bocah! Apa yang kau lihat?!" Pria itu mengarahkan tombaknya pada Chen Hao Ling.
"Apa yang kalian lakukan di sini?!" Chen Hao Ling balas berteriak mengarahkan ranting pohon yang ia bawa.
Yi Xinran menarik Chen Hao Ling dan memeluknya dari belakang dengan sedikit berlutut. "Hao Ling. Jangan gegabah."
Pria paruh baya itu menjilati bibirnya sendiri ketika melihat Yi Xinran, yang penampilannya sangat menarik dari wanita lain. Hanya Yi Xinran saja yang terlihat merawat diri dan kulitnya benar-benar bersih.
"Kerajaan Hui akan mengambil Desa Huang! Kalian harus membayar pajak gandum dan beras, masing-masing sebanyak dua ribu kati!" teriak pria paruh baya itu, yang membuat semua penduduk Desa Huang terkejut.
Pria paruh baya itu mengalihkan perhatiannya pada Yi Xinran. "Karena bocah ini mengacau, kau harus membayarnya dengan tubuhmu!"
Walaupun Chen Hao Ling tidak paham, tapi ada kemarahan yang bangkit di dalam hatinya. Ia mengambil kerikil kecil di bawah kakinya dan melemparkannya ke wajah pria itu. "Keluar dari desa kami!"
"Bocah sialan!" Pria paruh baya itu mengumpat kesal seraya melemparkan tombaknya.
Yi Xinran yang melihat itu memeluk erat Chen Hao Ling dan menggunakan punggungnya sebagai perisai untuk melindungi putranya dari serangan. Namun, tombak itu tidak mengenai punggungnya, melainkan jatuh ke sungai dan ada suara teriakan keras di belakangnya.
Kera Abu-abu adalah binatang liar yang ada di kedalaman gunung dan sangat ganas, sangat tidak bersahabat dengan manusia. Kera Abu-abu memiliki kekuatan yang mengerikan, pukulannya bisa menghancurkan batu besar.
Satu saja sudah sangat berbahaya, tapi ini ada ribuan Kera Abu-abu yang melemparkan batu dari dua sisi gunung. Dalam sekejap mata, pasukan berkuda itu tersapu bersih menjadi daging cincang dan genangan darah.
Bukan hanya itu saja, air sungai mulai naik belasan meter dan jatuh membasahi tanah di seberang Desa Huang, membersihkan semua darah yang mengotori.
Kejadian ini sangat mengejutkan, ada ketakutan dan perasaan lega. Kemudian semua orang mulai bersujud mengarah ke dua sisi gunung, namun tidak dengan Chen Hao Ling yang masih berdiri kokoh.
***
3 Tahun Kemudian
Chen Hao Ling sudah berusia 13 tahun dan kekuatannya terus mengalami peningkatan, Blood Realm atau Immortal God. Hanya menunggu waktu lagi sampai hari di mana Chen Haiyang dan Yi Xinran mati, yang ia tidak bisa menyelamatkannya.
Penyerangan dari Kerajaan Hui terus terjadi setiap bulannya selama tiga tahun terakhir, namun berakhir dengan kegagalan dan korban yang berjatuhan tanpa menyisakan seorang pun, bahkan mayatnya juga tidak ada.
Desa sebelah yang mendengar berita itu, akhirnya meminta bergabung dengan Desa Huang, membuat desa semakin hidup. Sebelumnya ada yang ragu apakah ini adalah pilihan yang tepat untuk membiarkan desa lain datang, tapi setelah kejadian itu, desa kembali damai.
__ADS_1
Kejadian di mana salah seorang dari desa sebelah yang mencoba memasuki salah satu rumah penduduk asli Desa Huang, dan saat pemilik rumah berteriak, tiba-tiba Kera Abu-abu datang untuk membunuh orang itu.
"Ayah, Ibu ..." Chen Hao Lin membuka pintu kamar orangtuanya perlahan, terlihat mereka berdua yang tertidur pulas.
Chen Hao Ling menghampiri keduanya. Ia mengangkat tangan kanannya menyentuh keningnya sendiri dengan dua jari, kemudian menariknya perlahan, terlihat ada dua gumpalan cahaya putih yang keluar dari dahinya.
Ia mengarahkan jarinya pada Chen Haiyang dan Yi Xinran. Gumpalan cahaya itu bergerak memasuki kening mereka berdua, membuat tubuh mereka menjadi lebih bugar dengan sinar putih yang menyelimuti.
Setelah selesai, Chen Hao Lin berjalan menuju pintu keluar dan menutup pintunya secara perlahan agar tidak membangunkan kedua orangtuanya.
Apakah itu teknik yang membuat mereka selalu berhubungan, tidak peduli berada di kehidupan ke berapa?
Chen Hao Ling pergi kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Kehidupan Chen Hao Ling di Desa Huang sangat tenang meski masih ada serangan dari Kerajaan Hui, tapi bisa diatasi dengan mudah oleh Kera Abu-abu yang sudah dianggap sebagai Penjaga Desa.
Hingga puluhan hari berlalu, fenomena aneh yang mengerikan terjadi di langit Desa Huang. Tidak! Semua langit dunia sejauh mata memandang, terkadang ada suara auman yang sangat keras, membuat langit berubah-ubah dalam waktu singkat seperti lampu di dalam ruangan yang dimainkan.
Gelapnya langit juga tidak berlangsung selama beberapa jam atau hari, melainkan beberapa bulan tanpa ada sinar matahari yang menyinari daratan. Karena hal ini, tanaman mulai layu kembali dan membusuk, pasokan makanan juga mulai berkurang.
Chen Hao Ling yang bermain di halaman rumah itu menengadahkan kepalanya melihat langit gelap. Ia merasa ada sesuatu yang salah, lebih mengerikan dari langit gelap ini.
Duarr!
Langit meledak mengubah warnanya menjadi oranye dalam sekejap seperti ada Matahari yang jatuh, membuat suhu mulai naik secara signifikan. Tapi yang lebih mengerikan dari itu semua, terlihat gigi-gigi besar yang mulai turun dari ketinggian langit.
Jeritan panik bisa didengar dari segala penjuru Desa Huang.
"Apa ini?" Chen Hao Ling tidak bisa berpikir jernih saat melihat gigi yang turun, ia juga tidak bisa bergerak sama sekali seperti ada kekuatan yang menahannya.
Inilah akhirnya, aku harus siap merasakan sakit di mana melihat kematian orangtuaku di depan mata.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1