Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 200 : Bertemu dengan Chen Hao Ling


__ADS_3

Kepercayaan diri semuanya mulai meningkat setelah berhasil menembus God Realm tahap Puncak, dan meski sakit yang diterima meningkat berkali-kali lipat, bahkan mungkin saja mereka akan terbunuh, tapi mereka bertekad untuk membawa Lin Chen mati bersama.


Lin Chen tetap tenang tanpa berkedip ataupun menunjukkan rasa takut. Jika ia bisa memberikan mereka kekuatan, maka ia bisa dengan mudah mengambil kekuatan itu kembali. Semuanya sangat mudah seperti membalik telapak tangan.


"Rasakan energi yang mulai menggerogoti tubuh kalian, kalian hanya memiliki tiga jam untuk bertahap hidup. Kita lihat, apakah kalian akan mati karena waktu, atau kalian akan mati karena tindakan bodoh kalian."


Tiba-tiba ada yang menyerangnya dari belakang menggunakan serangan fisik; tendangan kuat mengarah pada tengkuknya.


Lin Chen mengangkat tangan kirinya untuk melindungi tengkuknya dari tendangan kuat, bukan karena itu adalah kelemahannya, tapi karena tidak ingin rambutnya yang indah sampai terkena tendangan kotor penuh darah.


Bam!


Tendangan yang entah dari siapa itu tertahan oleh punggung tangan Lin Chen; darah yang memercik keluar dari tendangan juga terhalang oleh dinding pelindung berwarna putih yang tercipta dengan sendirinya, bukan karena diciptakan Lin Chen, melainkan energi di sekitar menanggapi keinginannya yang ingin melindungi rambut putihnya dari darah.


Lin Chen yang sudah menahan serangan dengan punggung tangan, mendorong tangannya seperti mengibaskan nyamuk untuk pergi menjauh darinya.


Keinginan Lin Chen tersampaikan pada energi yang melindungi rambutnya, energi itu berubah bentuk dalam sekejap, seperti duri-duri pada landak yang tumbuh sedemikian rupa dan menembus God Realm yang menyerang dari belakang.


"Ah!? Sudah mati?" Lin Chen menoleh ke belakang melihat pemuda bersimbah darah. "Bukankah kalian semua sangat lemah? Aku hanya menahan tendangan, dan kalian mati?"


Tekanan kuat keluar dari segala tempat menanggapi perkataan Lin Chen yang mengandung Dao Dewa, menekan 77 God Realm yang tersisa.


Lin Chen menghilang dalam sekejap mata tanpa meninggalkan jejak, muncul di salah satu dari mereka dan menyentuhkan telapak tangannya pada punggung mereka. Hanya dengan sedikit kekuatan, tubuh mereka meledak dan tercerai-berai menjadi potongan kecil.


Tidak ada lagi yang berani menyerang, mereka menganggap semuanya sia-sia saja meski sudah menembus tahap Puncak dari God Realm. Ranah yang selalu mereka impikan selama ini sampai menghabiskan banyak sumber daya dan waktu yang tak terhitung jumlahnya.


"Apakah tidak ada yang mau menyerang? Aku akan diam di sini tanpa membalas." Lin Chen mengubah posisinya seperti terlentang di angkasa luar, tubuhnya melayang ke sana-kemari seperti sedang mengapung di atas air.


Lin Chen menunggu datangan serangan, tapi tetap tidak ada yang bergerak. Awalnya ia sangat bersemangat karena harus menghadapi 177 God Realm, tapi ternyata semuanya jauh dari harapan.


Lin Chen menghela napas panjang dan mulai duduk bersila; ada Weiqi yang muncul di depan tempat duduknya berwarna hitam dengan garis-garis biru yang memperjelas bentuknya. Ia mengibaskan tangan kanannya sampai gerakan penuh, tangannya lurus dan di antara jari telunjuk maupun tengah, ada bidak catur berwarna hitam dengan bentuk seperti permen.


Lin Chen meletakkan bidak catur pada garis di sekitar kotak kesepuluh dari bagian atas kiri.


Bang!


Semesta Kongxu mengeluarkan dentuman yang sangat keras tanpa ada aba-aba, tidak ada api maupun retakan-retakan berwarna biru, hanya ada aura spiritual yang lebih kuat lagi.


Kesadaran Spiritual berkumpul di depan Lin Chen, membentuk siluet manusia yang duduk bersila tanpa ada wajah. Kesadaran Spiritual mengibaskan tangan yang sama, ada bidak catur berwarna putih di sana.

__ADS_1


Lin Chen tersenyum tipis, kemudian terus mengambil langkah, meletakkan bidak catur berwarna hitam secara bergantian setelah Kesadaran Spiritual selesai mengambil langkah.


Setiap langkah yang diambil mereka berdua, akan selalu ada fenomena aneh di 324 Semesta. Tapi, yang lebih terkena dampak adalah Semesta Kongxu, mengingat Semesta Kongxu adalah tuan rumah permainan Weiqi Semesta dimainkan.


Setiap bidak catur diturunkan, akan selalu ada God Realm yang meledak karena siksaan ataupun udara yang terkompresi sampai tidak bisa mereka tahan.


Lin Chen sendiri menyadari bahwa setelah mencapai Lord Realm, ketertarikannya dalam bertarung mulai turun, tapi merasa ini bukanlah akhir, karena setelah membunuh Dewa Kehampaan, akan ada hal baru yang mungkin tidak pernah ia duga.


Yang ia lakukan saat ini sendiri hanyalah bermain Weiqi, namun alasan mengapa memiliki dampak yang mengerikan—itu karena ia memahami Dao Catur! Semuanya adalah permainan di matanya!


Pertempuran di papan Weiqi terus berlanjut hingga setengah jam berlalu, dan berakhir dengan imbang. Waktu di Semesta Kongxu berhenti, energi spiritual yang sangat sedikit juga menghilang.


Lin Chen tersenyum tipis melihat papan yang diisi penuh oleh bidak catur dengan poin yang sama. "Menyenangkan sekali bermain catur setelah lama tidak melakukannya, bukankah begitu, Diriku?"


Fluktuasi kuat keluar dari Kesadaran Spiritual yang duduk berseberangan dengan Lin Chen; mulai ada bagian-bagian yang terbentuk di wajahnya: mata, hidung, alis, bibir dan telinga.


Kesadaran Spiritual itu merupakan kumpulan energi berwarna putih, bukan putih bersih yang berkilau, tapi putih kusam seperti ada tinta hitam yang tercampur di dalam susu.


Struktur wajahnya sama seperti Lin Chen, meski terlihat lebih dewasa dan kelelahan terlihat jelas di wajahnya, seperti sudah melalui banyak peristiwa yang menggetarkan hati.


Chen Hao Ling!


"Tentu saja, bagaimanapun, kita adalah satu orang." Lin Chen memaksakan senyum di wajahnya.


Chen Hao Ling terdiam untuk beberapa saat, kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Sepertinya kau sudah membunuh Kun Xiang Yin."


Lin Chen menganggukkan kepalanya. "Iya, dan aku sudah membangkitkannya kembali. Sekarang, aku memperlakukannya seperti seorang adik." Ia merasa sedikit aneh berbicara dengan 'Dirinya' sendiri, tapi ia harus menahan rasa canggung untuk mendapatkan informasi.


Chen Hao Ling tersenyum tipis, seperti sudah mengharapkan hal ini terjadi. Ia melihat sekitarnya untuk sekilas, lalu menciptakan sebuah formasi yang menghalau suara agar tidak keluar. "Aku akan mengatakannya, meski aku sudah menerobos Lord Realm. Aku tidak lengkap, rahasia-rahasia yang aku dapatkan sangat terbatas, mungkin karena aku menerobos paksa dengan cara membantai ..."


"Karena itulah, aku mencoba untuk memisahkan antara Dewa dan Iblis, tapi siapa yang menduga bahwa aku, Lord Realm akan terbunuh."


Lin Chen mengangkat tangannya perlahan, mencoba menyela Chen Hao Ling. "Aku sudah bertemu dengan Hitam dan Putih, aku akan bertanya, bagaimana 'Aku' bisa turun dari langit seperti meteor yang jatuh?"


Chen Hao Ling melipat kedua tangannya di depan dada, terkadang mengusap dagu, menggaruk kepala, dan memutar-mutar jarinya di pelipis.


"Aku tidak tahu, aku sudah mencari tahu jawabannya selama jutaan tahun, namun tidak menemukannya. Kemudian, aku melupakannya." Chen Hao Ling mengangkat kedua bahunya dengan tangan yang sedikit merentang.

__ADS_1


Lin Chen sudah menduganya dan ia juga tidak terlalu berharap. Ia juga menduga jawaban itu akan datang dengan sendirinya setelah membunuh Dewa Kehampaan, yang mungkin rahasia-rahasia yang selama ini ingin ia cari akan terpampang.


"Lalu, bagaimana caramu belajar berkultivasi? Aku hanya melihat kau belajar dari binatang-binatang di gunung." Lin Chen tidak pernah melihat 'Aku' berlatih terlalu keras, semuanya hanya pelatihan fisik biasa, tapi anehnya mampu memperlihatkan teknik-teknik luar biasa.


Chen Hao Ling mengangkat kedua tangannya di depan dada dengan telapak yang terbuka, terlihat ada proyeksi seperti hologram yang memperlihatkan gerakan-gerakan bela diri. "Saat aku tidur, banyak pengetahuan yang masuk dan aku berlatih di dalam mimpiku."


Chen Hao Ling mendongak menatap Lin Chen. "Aku menyimpan harta yang menurutku sangat berharga melebihi apa pun di dunia, bahkan di Semesta. Salah satu syarat untuk membukanya adalah Lord Realm, dan darah. Dimensi Ruang akan mengenali darah pemiliknya."


Lin Chen akhirnya mengerti mengapa Dewi Kuxing sangat menginginkan Esensi Darah-nya, ternyata itu adalah salah satu syarat untuk membuka Dimensi Ruang.


Chen Hao Ling menengadahkan kepalanya seraya menunjuk ke atas. "Bunuh God Realm di Semesta Kongxu, kemudian tunggulah sebentar dan kau akan mendapatkan jawaban yang lebih banyak."


Lin Chen menengadahkan kepalanya melihat ke arah yang ditunjuk Chen Hao Ling; tidak ada apa pun di sana yang spesial, tapi ia tetap menganggukkan kepalanya dengan baik.


Chen Hao Ling menunduk melihat telapak tangannya sendiri, telapak tangannya terlihat memudar seperti tidak memiliki waktu lebih lama lagi. Ia mendongak menatap Lin Chen dengan tatapan penuh harap. "Aku sudah mati sangat lama, ini hanyalah Kesadaran Spiritual yang tersisa. Aku meninggalkannya untuk reinkarnasiku di masa depan, untuk menjawab pertanyaan ..."


"Karena semuanya sudah selesai, aku akan menghilang." Chen Hao Ling pecah menjasi partikel cahaya yang menyebar dan memudar.


"Carilah jawaban dari pertanyaan yang tidak bisa aku dapatkan! Aku percaya padamu!"


Walaupun itu memiliki kesadarannya sendiri, Lin Chen merasa aneh mendengar penjelasan dari dirinya yang lain, apalagi saat melihat 'Dirinya' yang terpecah di depan matanya.


"Dan, terima kasih karena sudah menyelamatkan Kun Xiang Yin. Selama ini aku menyesal karena mengubahnya menjadi bahan eksperimen, menyiksanya tanpa henti."


Lin Chen hanya diam dan menganggukkan kepalanya, tidak bisa tidak setuju dengan Chen Hao Ling, bahkan ia mengutuk 'Dirinya' sendiri atas perbuatan yang pernah dilakukan di masa hidup di kehidupan pertama.


Lin Chen tidak menjalankan waktu, masih ada pikiran yang mengganjal di dalam hatinya tentang penjelasan Chen Hao Ling. Yaitu tentang mimpi-mimpi teknik-teknik kuat yang harusnya tidak mungkin bisa dikuasai oleh Immortal God atau Blood Realm tahap Menengah.


Entah mengapa, pikirannya malah terpikirkan tentang kehidupan lain.


Lin Chen menggeleng cepat membuang pikiran itu. "Tidak mungkin!"


"Tunggu!" Lin Chen merasa telah melupakan sesuatu yang penting, ia diam dengan kepala tertunduk, memikirkan apa yang telah ia lupakan. "Ah!" Ia mendongak saat mengingatnya. "Aku lupa menanyakan rahasia apa itu!"


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2