Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 161 : Heavenly Realm Tersembunyi


__ADS_3

Lin Chen menunggu seorang diri sampai anak-anak mulai bangun bersamaan setelah menghabiskan waktu yang telah ditentukan, kekuatan ketiganya meningkat kembali setelah tinggal selama tiga jam di dalam kesadaran masing-masing.


"Bagaimana? Apakah kalian sudah baikan?"


Ketiganya menoleh ke sana-kemari, terlihat seperti orang linglung karena bangun-bangun sudah berada di dalam kamar.


Lin Da Zixuan beranjak turun dari tempat tidur, melihat Ibunya untuk beberapa saat, kemudian berlari ke Ayahnya. Ia tidak ingin mengganggu Ibunya yang sedang berkultivasi. "Ayah ..."


"Kenapa Ayah tetap diam saja saat Ibu dihina? Bukankah Ayah adalah Dewa?" Lin Da Zixuan tidak paham mengapa Ayahnya tetap diam meski dihina seperti itu.


Lin Chen mengangkat Lin Da Zixuan dan meletakkannya di atas pangkuannya. "Ayah sangat marah, dan ini sering terjadi karena kecantikan Ibu kalian. Ayah ingin bertindak, tapi, kalian bertindak terlebih dahulu ..." Ia hanya tidak ingin berurusan dengan organisasi tak penting.


Lin Chen menundukkan kepalanya melihat Lin Da Zixuan. "Tapi, karena hal itu, kalian sudah memiliki pengalaman dalam hal pertarungan antar manusia. Kelompok tadi berada di kota ini, antara kalian ingin menghancurkannya, itu adalah keputusan kalian."


Ia terus menjelaskan alasan mengapa tidak menghancurkan kelompok mereka, itu karena tidak terlalu ingin ikut campur tentang kehidupan di sini. Ia ingin berubah, tidak lagi seperti bocah yang mudah terpancing emosi.


Lin Da Zixuan terdiam dengan kepala tertunduk, kemudian mendongak tak lama kemudian. "Begitu, Zixuan juga pernah berpikir tidak ingin ikut campur saat ada yang mencari masalah di Kerajaan Epitychimenos." Ia mulai mengerti maksud Ayahnya.


Walaupun sudah memahaminya, tapi, ketiganya tetap berkeinginan untuk membalas perbuatan mereka. Hanya saja, tidak dalam waktu dekat, karena mereka sudah diberi tahu berkali-kali untuk menahan diri dan menunggu waktu yang tepat.


"Ayah, yang tadi itu?" Lin Qiao Jianying merangkak di atas tempat tidur dan telungkup di tepi tempat tidur dengan posisi pipi bertopang ditopang oleh kedua tangan.


Masih mengusap kepala Lin Da Zixuan, Lin Chen tersenyum ringan dan menjawabnya, "Itu adalah Alam Bawah yang Ayah ciptakan. Tempat Ayah mendapatkan Pencerahan dan menerima Pendewaan."


"Tempat itu, Ayah juga yang menciptakannya," sambung Lin Chen.


"Mei'er ingin pergi ke sana secara langsung, di sana sangat indah." Kilauan terlihat di mata Lin Mein An saat mengatakannya, ia benar-benar berkeinginan untuk bisa pergi ke Alam Bawah.


Lin Chen tersenyum tipis dan menjawabnya, "Kita akan pergi ke sana setelah Ayah menyelesaikan semua urusan. Ayah harap kalian bisa bersabar menunggunya." Ia merasa, harus mempercepat rencana pengasingan diri.


Ketiganya mengangguk secara bersama, tidak memaksa sama sekali karena tahu bahwa Ayah sangatlah sibuk. Tapi, meski demikian, mereka sangat bersyukur karena Ayah selalu meluangkan waktu untuk mereka.


Ketika Lin Chen masih memandangi kota melalui jendela di sebelahnya, ia bisa mendengar suara gemuruh yang cukup keras berasal dari perut Lin Da Zixuan.

__ADS_1


"Apakah Xuan'er lapar?" Lin Chen menunduk dengan tubuh sedikit condong ke kanan.


Lin Da Zixuan memegangi perutnya sendiri. "Iya, Zixuan belum makan sejak dari Negeri Surgawi."


Lin Chen sedikit mengangguk, kemudian melihat dua anaknya yang lain, yang sedang berada di atas tempat tidur. "Apakah kalian ingin makan masakan Ayah?" Ia tidak pernah memasakkan makanan untuk anaknya sekalipun.


"Eh!?" Ketiganya terlihat sangat terkejut, karena memang tidak pernah melihat Ayah memasak, bahkan untuk merebus air pun terlihat tidak pernah.


Lin Qiao Jianying beranjak turun dari tempat tidur. "Ayah bisa memasak?"


"Tentu saja. Ayo kita turun, Ayah akan memasakkan untuk kalian." Lin Chen menurunkan Lin Da Zixuan dari pangkuannya, lalu berdiri.


"Tapi ..." Lin Mein An mengangkat tangan kanannya, lalu menoleh ke kiri melihat Ibunya. "Bagaimana dengan Ibu?"


Lin Chen melihat Yan Xue yang masih berkultivasi, dan ia tahu itu akan lama untuk selesai, karena Yan Xue berusaha untuk menembus Ranah Tongzhi. "Ibu sedang kultivasi, dia akan selesai tiga bulan lagi jika benar-benar ingin mencapai targetnya. Tapi, paling tidak, tiga hari lagi dia akan bangun."


Ia tahu tidak mungkin bagi Yan Xue untuk bisa fokus dalam kultivasi, mengingat tugasnya sebagai seorang ibu yang sangat berat.


"Tidak perlu khawatir, Ayah telah memasang formasi array di kamar ini. Tidak ada yang bisa masuk atau keluar selain kita, jika orang lain melakukannya, dia akan merasakan sakit dan berharap mati ketimbang hidup."


Lin Chen terdiam dengan kerutan di dahi. "Bukanlah kalian sama? Kalian melawan belasan orang tanpa ampun."


Lin Da Zixuan memiringkan kepalanya dengan melipat kedua tangannya di depan dada. "Hem... Benar juga, tapi, Zixuan tidak separah Kakak sampai menghancurkan tubuh mereka."


Lin Chen mengusap kepala Lin Da Zixuan, menghentikan pembicaraan untuk sampai disitu saja, karena tidak baik membahas manusia yang tubuhnya hancur di saat mereka akan memasak bersama.


Lin Chen berjala keluar membawa ketiga anaknya, dan mengunci pintu dari dalam melalui kekuatan jiwanya yang menggerakkan kunci. Kemudian, ia turun melalui tangga kayu dari lantai teratas ke lantai dasar.


Penginapan yang biasanya sangat ramai, hari ini terlihat sepi. Biasanya, tidak ada penginapan yang ingin menyewakan seluruh kamar, karena akan mengurangi pemasukan yang bukan hanya dari penyewaan kamar saja, melainkan dari pengunjung yang datang untuk makan.


Namun karena Lin Chen membayarnya dengan jumlah pemasukan penginapan selama setengah tahun, pemiliknya tidak bisa menolak hal itu. Bukan hanya tidak terlalu repot dalam perawatan, mereka juga tidak perlu terlalu pusing karena kebisingan saat malam hari.


Lin Chen sudah tiba di lantai dasar, langsung pergi ke meja resepsionis.

__ADS_1


Seorang wanita berambut biru malam, duduk di balik meja resepsionis. Ia mengenakan pakaian Cheongsam Qipao berwarna merah, dengan corak awan dan bunga. Pakaian itu terlihat ketat, menekankan dadanya dan memperlihatkan kaki jenjang.


Wanita itu berdiri dengan kedua tangan di depan pinggangnya, ia sedikit membungkuk menyapa Lin Chen. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


Lin Da Zixuan berjinjit di samping Lin Chen, dan hanya terlihat kepalanya saja. "Kami ingin meminjam dapur, apakah boleh?"


Wanita itu terdiam sejenak, kemudian tersenyum hangat menatap Lin Da Zixuan. "Tentu saja." Ia mengulurkan tangannya, mencubit pipi Lin Da Zixuan.


"Terimakasih." Lin Da Zixuan sedikit membungkuk untuk menghormati orang yang lebih tua darinya.


Wanita yang namanya adalah Yuhan Xifai itu tersenyum hangat, ia sangat menyukai jika ada tamu anak-anak yang sopan seperti ini, tidak seperti 'Tuan Muda' dari keluarga besar Kota Yang yang selalu menggunakan latar belakang untuk bersikap sombong dan mengancam.


Yuhan Xifai beranjak keluar dari tempat duduknya, lalu membawa keluarga Lin ke dapur yang tidak jauh dari meja resepsionis dan tangga.


Lin Chen mengikutinya dari belakang, dan sesekali menunduk melihat lantai yang terlihat biasa-biasa saja, meski sebenarnya jauh di dalam tanah ada ruangan rahasia. Di ruangan itu ada seorang pria tua yang sedang berusaha untuk bertahan hidup karena suatu penyakit, dia adalah Kultivator Heavenly Realm.


Yang diketahui dunia luar, hanya ada 2 Heavenly Realm, tapi tidak ada yang tahu jika ada Heavenly Realm lain yang sedang bersembunyi untuk memulihkan tubuh.


Dia hanya bisa bertahan selama satu tahun lagi, energi asing yang bukan miliknya, terus menggerogoti tubuhnya dan memakan basis kultivasinya. Mungkin, tidak lama lagi akan jatuh ke Earth Realm, batin Lin Chen.


"Ada apa?" Yuhan Xifai menoleh melihat Lin Chen dengan keringat yang terlihat di dahinya, ia seperti tidak ingin ada yang tahu tentang keberadaannya Leluhurnya yang sedang memulihkan kondisi.


Lin Chen mendongak, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, aku hanya bingung, aku sudah lama mengasingkan diri. Saat aku keluar dari pengasingan, banyak yang mengatakan bahwa Dewa Langit telah mati. Bagaimana mungkin?" Ia tidak bisa memberi tahu bahwa ia merasakan adanya Heavenly Realm.


Yuhan Xifai terdiam sejenak dengan langkah yang terhenti. "Apakah Tuan adalah pemuja Dewa Langit?" Ia terlihat panik sekaligus ada kemarahan di wajahnya.


Lin Chen memiringkan kepalanya seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku? Memuja orang lain? Heh! Mana mungkin, aku tidak pernah memuja siapa pun." Memuja Dewa Langit yang ia kalahkan? Tidak mungkin!


"Bahkan, jika ada ratusan Dewa Langit yabg datang sekarang, aku tidak akan pernah membungkukkan badanku untuknya."


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2