Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 126 : Menghilangkan Gelombang Monster


__ADS_3

"Harus menunggu berapa lama lagi, untukku bisa menembus Lord Realm? Aku juga tidak tahu, mengapa diriku di kehidupan pertama, menyegel ingatan dan harta benda di Dimensi Ruang, yang hanya bisa dibuka oleh Lord Realm."


Lin Chen tidak mengerti tentang dirinya sendiri di kehidupan pertama, terlebih ingatan itu berakhir. Lebih tepatnya, ada beberapa ingatan yang memang tidak bisa ia lihat, seperti harus ada syarat khusus untuk mengetahui ingatan itu, dan syaratnya adalah Lord Realm.


Hanya satu yang ia ketahui, ia menyimpan harta yang terhubung langsung dengan 314 Semesta.


Lin Chen mengehela napas panjang dan kembali mendongak, melihat Lin Qiao Jianying maupun Lin Da Zixuan yang mulai terbiasa melawan monster. "Saat aku sudah berhasil menembus Lord Realm, aku akan membuat Xue'er menjadi salah satu Dewi."


"Mereka, Penyihir Hati Sembilan?!"


Lin Chen menundukkan kepalanya melihat Petualang-petualang yang terlihat terkejut karena Yan Xue, Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan yang melayang di langit. Kemudian ia mendongak, melihat Gelombang Monster yang mulai berkurang.


"Xuan'er sudah seperti diriku. Jian'er, masih ada sedikit perasaan lembut karena selalu bersama Xue'er."


Wajah datarnya berubah dengan senyum hangat yang terukir di wajah. Lin Chen sangat senang melihat anak-anaknya yang sangat bersemangat untuk melawan monster, dan ia juga tidak bisa atau sudah tidak mungkin melarang mereka.


Lin Chen melompat turun dari tembok kota, melayang perlahan dan mendarat di depan ribuan Petualang yang tengah bersiap-siap, meski mereka tidak mungkin kebagian tugas melawan monster. "Apa kalian tidak akan menyerang? Jika kalian tetap diam, semua kredit akan diambil putraku."


Salah seorang berpakaian penyihir, membawa tongkat kayu berjalan menghampiri Lin Chen. Ia adalah Penyihir Hati 4, seorang wanita berusia 18 tahun. "Ba- Bagaimana kami bisa menyerang, jika Gelombang Monster tidak bisa bergerak kemari."


"Aku paling benci bocah yang tidak menghormati orang tua." Salah seorang pria tua keluar dari barisan, Penyihir Hati 6 yang mengenakan jubah putih dan membawa tongkat besi. "Kau harus mengalah dan membiarkanku, yang usianya tertua di sini, aku sudah berusia lima puluh tahun."


Usia? Lin Chen hampir tidak bisa menahan tawanya saat mendengar perkataan pria tua di depannya. Jika membahas tentang usia, ia yang paling tua di sini, ia sudah berusia 53 tahun. Kemudian, apabila usia di Bumi dihitung, dan di Alam Rendah dihitung dari usia 14 tahun, ia sudah hidup selama 64 tahun.


"Aku sudah berusia lima puluh tiga tahun, dan istriku berusia empat puluh satu tahun."


Awalnya usia Yan Xue lebih tua darinya, tapi karena ada 12 tahun waktu di mana Yan Xue mati, maka usianya terhenti dan sekarang Lin Chen yang lebih tua.


Semua orang terdiam dengan mulut sedikit terbuka, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lin Chen. Tidak ada manusia yang berusia 53 tahun dengan penampilan seperti Lin Chen, bahkan yang masih berusia 35 tahun, sudah memperlihatkan perubahan pada bagian rambut.


Lin Chen mengabaikan tatapan semua orang, lalu berbalik melihat Lin Da Zixuan yang masih berada di langit, menyerang Gelombang Monster tanpa ampun.

__ADS_1


Lin Da Zixuan mengangkat kedua tangannya, menciptakan badai petir di langit gelap yang turun salju. "Bayangkan bentuknya." Ia menggertakkan gigi dan menutup matanya.


Kilatan-kilatan petir mulai berkumpul di satu tempat, yang membentuk naga petir berwarna biru. Ukurannya sendiri tidak terlalu besar, tapi sudah lebih dari cukup untuk orang seusianya yang baru berusia enam tahun.


Lin Da Zixuan membuka matanya, memperlihatkan kilatan petir di sudut matanya. "Jatuh!" Ia mengayunkan kedua tangannya mengarah pada Gelombang Monster.


Naga petir itu mengaum dengan suara seperti petir yang menyambar, kemudian melesat jatuh sesuai dengan perintah Lin Da Zixuan yang mengendalikan naga petir.


Boom! Duarr!


Naga petir itu menghantam monster yang mulai berlarian karena takut, membakar habis mereka dan terjadi ledakan keras dengan api yang menyebar ke segala arah. Dalam waktu singkat, Gelombang Monster yang sebelumnya berjumlah 230.000, kini sudah menghilang saty per tiga, atau berkisar 76.666.


Lin Qiao Jianying yang berdiri di belakang Lin Da Zixuan, melesat turun dan mendarat dengan posisi berlutut. Ketika ia turun dalam posisi seperti itu, tanah mulai bergetar hebat dan menciptakan dinding es dari dua sisi di depannya, mengapit Gelombang Monster.


Lin Qiao Jianying berdiri perlahan dan terlihat ada energi spiritual berwarna putih yang menyelimuti kedua tangannya. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan, lalu saling menyentuhkan kedua telapak tangannya. "Mati!"


"Ohok!" Lin Chen tersedak saat mendengar kata yang diucapkan Lin Qiao Jianying. Sepertinya, saat aku membunuh monster, secara tidak sengaja aku mengucapkan kata itu.


Bang!


Dentuman lainnya kembali terdengar ketika dia dinding es itu saling membentur, terlihat ada darah yang mulai merembes keluar dari celah-celah dinding es, serta monster yang berkurang dan hanya menyisakan sedikit. Kabut putih dingin juga menyebar ke segala arah, kembali menghalangi pandangan semua orang yang ada.


Baimei yang ikut bersama Lin Qiao Jianying juga tidak tinggal diam saja saat melihat Tuannya bekerja. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, menciptakan gumpalan energi di dalam mulutnya dan terlihat anak panah es mulai bermunculan di langit.


Ketika Baimei menembakkan gumpalan energi, energi itu melesat seperti laser yang menembus Gelombang Monster yang tersisa dan menembak monster yang mencoba kabur dengan anak panah es.


Karena kabut tebal yang menghalangi ini, para Petualang dan Prajurit tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana, tidak tahu apakah Gelombang Monster sudah berakhir ataukah belum.


Lin Chen yang berdiri di depan gerbang mulai bergerak. Ia melangkahkan kakinya perlahan, menghilangkan tumpukan salju di bawah kakinya dan mengubahnya menjadi hamparan rumput hijau.


Kabut tebal yang menghalangi pandangan juga mulai menghilang, memperlihatkan dinding es merah karena darah, serta tumpukan mayat monster yang menggunung ataupun darah yang mengalir deras seperti sungai.

__ADS_1


Banyak orang yang mual atau bahkan memuntahkan isi perutnya saat melihat sungai darah yang mengalir, ini adalah pemandangan yang sangat berat bagi mereka meski sudah sering membunuh monster. Namun, monster yang mereka bunuh tidak dalam jumlah besar seperti ini, apalagi mayat mereka tidak berbentuk lagi.


Lin Chen mengibaskan tangannya pelan, memindahkan anggota keluarganya tepat di depannya. Ia juga menghilangkan dinding es yang diciptakan Lin Qiao Jianying, serta menghilangkan darah monster dengan menyerapnya menggunakan Cambuk Iblis.


Walaupun darah monster-monster itu tidak terlalu berharga, tapi tidak ada salahnya untuk menyerap dan mengubahnya menjadi kekuatan.


"Bagaimana?" Lin Da Zixuan membusungkan dadanya seraya mendengkus.


Lin Chen tersenyum hangat, lalu berlutut. "Xuan'er sangat hebat. Tapi, Ayah merasa bersalah karena mengubahmu seperti ini," ucapnya pelan.


Lin Da Zixuan mengulurkan kedua tangannya memegang wajah Lin Chen. "Tidak, ini memang keinginan Zixuan untuk menjadi kuat, dan menjadi Dewa seperti Aya—"


Lin Qiao Jianying membungkam mulut Lin Da Zixuan, menghentikannya agar tidak mengatakan identitas asli Lin Chen. Ia juga mendekatkan bibirnya pada telinga Lin Da Zixuan dan berucap, "Ingat kata Ayah? Kita berasal dari tempat yang berbeda. Ayah tidak ingin identitasnya diketahui, dan itu terlalu merepotkan," bisiknya.


Lin Da Zixuan menganggukkan kepalanya perlahan seraya menurunkan tangan Lin Da Zixuan dari mulutnya. "Tangan Kakak bau."


Lin Qiao Jianying memiringkan kepalanya, lalu mencium tangannya sendiri untuk memastikan apakah yang dikatakan Lin Da Zixuan benar atau tidak. "Tidak ada."


Lin Chen tersenyum ringan seraya berdiri, kemudian mereka berpindah ke Mansion Lin di Wilayah Elit.


Petualang dan Prajurit yang sudah kembali tenang, masih berada di sana dan melihat pemandangan di depan mereka. Yang sebelumnya banyak monster, berubah menjadi genangan darah dan berubah lagi seperti semula, seperti tidak pernah ada pertarungan mengerikan di sana.


"Jika seperti ini, untuk apa aku datang kemari? Aku datang ke sini untuk menghalau Gelombang Monster, agar bisa mendapatkan rampasan. Tapi, tidak ada monster yang tersisa, mayat-mayatnya juga tidak bisa dipanen ..."


"Aku juga merasa menyesal, untuk datang ke sini, aku menghabiskan banyak upaya dan tenaga. Cukup jauh bergerak dari selatan ke utara ..."


Pembicaraan Petualang terus berlanjut, mereka mengeluh karena tidak mendapatkan rampasan yang mereka inginkan. Tapi, mereka tidak bisa berbuat banyak, karena tidak ada yang mampu mengalahkan atau berani terhadap Penyihir Hati 9, kecuali orang bodoh atau Raja.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2