
Wilayah Tiantang
Lin Chen bangun dari tidurnya saat sinar matahari sudah terbit dan pertarungan yang ia jalani sudah selesai. Ia menoleh ke kanan melihat Yan Xue yang masih tidur dibalut dengan kain putih tipis, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.
"Bahaya di mana-mana, Lord Realm tahap Lima Belas? Aku merasa ada yang lebih kuat dari itu. Tapi, yang menjadi masalahnya sekarang, adalah Lord Sanzu yang dikatakan lebih kuat dari Yuanshi Tianzun."
Lin Chen tidak ingin memercayainya, tapi tidak ada salahnya untuk bersiap-siap apabila benar-benar lebih kuat dari Yuanshi Tianzun, karena bisa mengguncang Alam Tiantang dan bahkan menghancurkannya.
Ia menghela napas panjang, merasa bahwa waktunya hanya tinggal sedikit saja sebelum pertarungan terakhir benar-benar pecah. Tapi, entah mengapa ia merasa pertarungan selama ini tiada akhir. Dari melawan Long Ka Xiang, tiba-tiba harus melawan Dewa dan Dewi di 324 Semesta, kemudian harus melawan Alam Hanzi. Ini sangat memusingkan dan ia tidak lagi berharap jika pertarungan ini adalah yang terakhir—karena semakin ia berharap—makin kecewa pula yang didapat.
Lin Chen mengecup kening Yan Xue, kemudian beranjak turun dari tempat tidur untuk pergi ke tempat lain yang sepi dan tidak boleh dimasuki orang lain selain dirinya dan Yan Xue.
Ruangan ini sangat bersih berwarna putih tanpa ada kotoran, hanya ada kilauan cahaya dan bagian bawah terdapat kabut putih dengan Esensi Kehidupan.
"Atas nama Lin Chen, Dewa Pencipta. Dewa yang menciptakan dan memberi kalian kehidupan, aku memanggil jiwa kalian untuk datang ke tempat ini sekarang."
Tiba-tiba energi berbeda warna dengan kekuatan yang hampir setingkat, berkumpul di depan Lin Chen membentuk hewan-hewan kecil maupun besar. Hewan itu berubah menjadi bentuk manusia yang memiliki penampilan tampan dan cantik.
Belasan Hewan Suci membuka matanya perlahan, kemudian tersentak saat melihat Lin Chen sebelum akhirnya berlutut dan menangkupkan kedua tangan dengan maksud untuk memberi salam maupun hormat. "Salam, Yang Mulia Kaisar Dewa."
Lin Chen mengangkat tangannya meminta mereka untuk berdiri. Kemudian bertanya meski hanya sebatas basa-basi, "Sudah sampai mana kultivasi kalian."
Wanita berambut putih dengan mata yang berbeda, mendongak menatap Lin Chen dan memberi laporan. Ia bernama Kou Jingmi, Matriak dari Klan Kelinci Tiga Warna. Nama Kou diambil dari kata Kouneli dalam bahasa Yunani yang berarti Kelinci. "Kekuatan kami sudah sampai Spirit Realm tahap Puncak."
Lin Chen menganggukkan kepalanya dan tersenyum puas; cukup memuaskan hanya dalam waktu 34 tahun, mereka hampir menerobos Earth Realm. Tapi, kemudian ia menghela napas berat menjelaskan kekecewaan karena kekuatan mereka masih jauh dari cukup untuk membantu peperangan antara Alam Tiantang dengan Alam Diyu.
Wanita lain berambut putih dan samar-samar ada aura lain dengan tujuh warna di belakangnya. Ia adalah Merpati Tujuh Warna bernama Peris Ranran. "Maafkan kami yang lemah ini, Yang Mulia Kaisar Dewa. Jika Hamba boleh tahu, di mana kami berada sekarang? Dan, sepertinya Anda ingin kami cepat-cepat menerobos ke Ranah selanjutnya."
Lin Chen tersenyum tipis dan berjalan ke sisi ruangan. Ketika ia menyentuh dinding, ia berkata dengan pelan, "Kita ada di Alam Tiantang. Alam yang lebih tinggi dari Alam Bawah tempat kalian terlahir, ataupun Alam Semesta. Dalam waktu dekat, Alam Tiantang akan berperang melawan pemberontak dari Alam Diyu ..."
Lin Chen berbalik melihat semuanya yang sudah berdiri. "Karena itu, aku ingin membawa kalian bertarung bersama. Tapi sepertinya, kalian sedang mendapatkan masalah sendiri-sendiri di wilayah kalian."
__ADS_1
Mereka semua tersentak saat Lin Chen mengetahui masalah mereka, tapi itu bukan hal aneh karena mereka diciptakan oleh Lin Chen. Akhirnya, mereka mulai menjelaskan masalah apa yang mereka alami saat ini.
Masalah yang mereka alami hampir sama, yaitu perebutan wilayah yang mereka duduki. Pihak penyerang adalah monster-monster atau manusia yang berasal dari organisasi maupun sekte tertentu, yang datang ke bintang tempat mereka tinggal. Bintang yang mereka duduki adalah bintang yang diciptakan dari kekuatan Lin Chen, sehingga tidak aneh jika memiliki sumber daya berlimpah.
"Apakah kalian sedang bertarung saat aku memanggil kalian? Aku minta maaf jika kalian dalam pertempuran." tanya Lin Chen. Tidak nyaman baginya jika ia membuat klan mereka hancur hanya karena ia memanggilnya. Bukankah kejam jika ia menciptakan mereka, tapi pada akhirnya ia jugalah penyebab mereka hancur.
"Tidak-tidak, kami sedang beristirahat. Bahkan jika kami tidak beristirahat, kami lebih mementingkan panggilan dari Yang Mulia Kaisar Dewa." Kuda Sayap Elang segera menjawabnya dengan panik, takut jika Lin Chen tersinggung karena memanggil mereka.
Kupu-kupu Surgawi berambut ungu dengan pakaian yang selaras, menangkupkan kedua tangannya dan menambahkan, "Benar Yang Mulia Kaisar Dewa. Kami lebih mementingkan panggilan Anda."
Lin Chen terdiam tanpa kata saat menggaruk pipinya. Kemudian ia mengangkat tangannya mengarahkan pada 18 Hewan Suci di depannya. "Baiklah, aku akan memberi kalian hadiah. Dengan ini, kalian bisa menerobos Earth Realm. Kalian juga memiliki kemampuan kultivasi yang lebih cepat lagi, dan saat urusan kalian sudah selesai, tolong datang ke Kota Chen. Aku dan Yan Xue meninggalkan kloning kami di sana."
Energi Keberuntungan dan Energi Abadi berkumpul di tangannya, kemudian dua energi yang sangat berharga bahkan untuk Alam Tiantang bergerak ke arah 18 Hewan Suci. Energi itu memasuki tubuh mereka, dan tiba-tiba ada ledakan dari dalam tubuh mereka dengan aura kuat yang melonjak di dalam ruangan putih.
Wajah semua orang terlihat bahagia saat merasakan terobosan yang selama ini mereka nanti-nantikan; banyak cara yang sudah mereka lakukan untuk menghilangkan kemacetan, dan sekarang akhirnya berhasil menerobos Earth Realm.
Bahkan, mereka merasa bakat mereka mulai naik dan kualitas darah di dalam tubuh mereka berevolusi. Seperti Kupu-kupu Surgawi, bentuk aslinya hanya memiliki satu pasang sayap, tapi sekarang memiliki dua pasang.
Tanpa penundaan, mereka menangkupkan kedua tangan untuk memberi hormat dan kemudian menghilang setelah mereka dikembalikan ke tempat asal oleh Lin Chen.
Sekarang, hanya Lin Chen seorang yang tersisa di ruangan putih. Ia berbalik dan keluar dari ruangan tanpa menoleh ke belakang. "Sepertinya, aku harus berkunjung ke Tiga Dewata Murni."
Lin Chen kembali ke ruangannya untuk mengganti pakaian dan di sana sudah ada Yan Xue yang mengenakan hanfu merah muda dengan balutan jubah biru dan ada selendang putih. Biasanya mereka akan dibantu oleh para dayang untuk mengganti pakaian atau bahkan mandi, tapi ia melarang mereka semua untuk urusan itu, dan tugas mereka hanya membantu Yan Xue jalan-jalan.
Lin Chen membantu Yan Xue yang sedang kesulitan untuk memakai hairpin. "Biar aku bantu."
Yan Xue yang duduk di bangku saat berkaca, tersenyum hangat melihat Lin Chen yang terpantul di cermin di depannya. "Terima kasih."
Lin Chen tersenyum saat selesai memasang hairpin. Kemudian ia mengecupnya dan berkata, "Aku ingin pergi menemui Tiga Dewata Murni. Apakah Xue'er ingin ikut?" Hanya dirinya yang mengetahui tempat persembunyian Tiga Dewata Murni, meski ia baru tiba di Alam Tiantang—karena tiba-tiba ada pengetahuan yang masuk di kepalanya, dan itu hanya tentang Tiga Dewata Murni.
Yan Xue tidak menolaknya. Ia menganggukkan kepala dan berdiri, kemudian berbalik menatap Lin Chen. "Xue'er mau."
__ADS_1
Kuil Tiga Dewata Murni tidak jauh dari Istana Tiantang, bahkan masih dalam Wilayah Tiantang. Hanya saja dalam suatu tempat tersembunyi yang membaur dengan udara, yang kemudian terhalang oleh awan tebal tak berujung.
Lin Chen dan Yan Xue keluar dari Istana Tiantang tidak dengan cara biasa, mereka berubah menjadi udara yang tidak terlihat dan bergerak ke suatu tempat terpencil yang tidak pernah didatangi penghuni Wilayah Tiantang.
Ketika sudah sampai, mereka berdua hanya muncul sesaat sebelum menghilang kembali dan berpindah ke tempat asing. Keduanya seperti berdiri di penjara awan karena sejauh mata memandang, hanya ada awan. Jika Lin Chen tidak memiliki pengetahuan, mungkin mereka akan tersesat dan tidak bisa kembali.
"Berpegangan yang erat." Lin Chen menggendong Yan Xue dengan kedua tangan! tangan Yan Xue melingkar di lehernya.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih dalam dan aura yang dirasakan bertambah kuat; Energi Abadi di sini belasan kali lebih murni dan kental dari Alam Tiantang.
Hingga tak lama, akhirnya mereka tiba di depan kuil kecil yang terbuat dari kayu secang.
Lin Chen menurunkan Yan Xue, kemudian menangkupkan kedua tangannya saat masih berada di depan pintu yang tertutup. "Salam, Kaisar Giok datang untuk menyapa Tiga Dewata Murni."
Yan Xue memberi sikap tubuh yang sama dan berkata dengan hormat, "Salam, Permaisuri Surga datang untuk menyapa Tiga Dewata Murni."
Keheningan yang sunyi bisa dirasakan, bahkan detak jantung mereka bisa di dengar karena keheningan ini. Tapi, Lin Chen dan Yan Xue tetap dalam posisi mereka tanpa mengubahnya, tidak ada sedikit pun rasa tidak hormat. Bahkan jika harus menunggu ratusan tahun, mereka berdua akan tetap dalam posisinya.
Segera, belum sampai setengah jam, ada decitan kayu dari dalam kuil yang diiringi dengan suara serak pria tua.
"Selamat datang, Yang Mulia Kaisar Giok dan Permaisuri Surga. Aku berharap, kalian berdua datang lebih cepat, tapi siapa sangka kalian akan datang tiga hari setelahnya."
"Biarkan, lagi pula mereka terlambat bukan karena bermain-main. Mereka terlambat karena mengembalikan keadaan Wilayah Tiantang." Suara lain yang hampir serupa menambahkan.
Keadaan kembali hening untuk beberapa saat, kemudian pintu terbuka dengan ledakan energi yang menelan mereka berdua, lalu pintu itu kembali tertutup dan suasana kembali hening.
...
***
*Bersambung..
__ADS_1