Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 249 : Mengawasi Lin Qiao Jianying (2)


__ADS_3

Yan Xue membuka telapak tangannya; ada bayangan Lin Mein An yang sedang dikejar oleh ratusan ribu manusia di belakangnya dengan kekuatan yang terbilang cukup kuat untuk Bintang Fengxuan.


Lin Mein An yang dikejar terlihat berkeringat; panik dan khawatir tertangkap. Tidak masalah apabila ditangkap biasa, tapi sangat tidak ingin apabila diperbudak, itu hanya mempermalukan nama Lin Chen yang merupakan ayahnya dan orang yang mengajarkan keterampilan Formasi Array.


"Woah!" Lin Chen mengamati gambaran langsung di Bintang Fengxuan yang diproyeksikan di atas tangan Yan Xue. "Xue'er memiliki kemampuan seperti ini? Bukankah, Xue'er bisa mengintip orang? Jangan bilang, saat aku mandi, Xue'er ..."


Yan Xue menarik telinga Lin Chen sampai terlihat seperti Buddha Goutama. "Mengintip apa? Kita selalu mandi bersama semenjak bertunangan. Ini sudah lima puluh lima tahun."


Yan Xue melepaskan tangannya dari telinga Lin Chen. "Xue'er sudah melihat setiap inci tubuh Gege, bahkan menyentuhnya. Jadi, jangan membuat Xue'er terdengar seperti orang mesum."


Lin Chen membuka mulutnya seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, tapi sebenarnya menghela napas panjang. Telinganya terasa panas dan merah, sangat aneh karena membuatnya seperti ini, bahkan saat bertarung melawan Lord Sanzu, tubuhnya tidak terluka jika benar-benar serius.


"Xue'er bisa membunuh mereka, tapi ingin melihat bagaimana langkah yang diambil Mei'er." Yan Xue fokus pada tindakan yang diproyeksikan di tangannya, dan saat melihat Lin Mein An, ia berkata, "Gege, apakah Gege meninggalkan klon di tubuh Mei'er? Harusnya Gege mengetahui ini, tapi kenapa tidak bertindak?"


Lin Chen merasakan tatapan tajam Yan Xue dan itu terasa seperti jarum dingin yang menusuk ke tulangnya. Ia batuk beberapa kali dengan sengaja, kemudian tatapannya lurus ke depan dengan ekspresi serius saat berkata, "Aku mengaturnya, Mei'er masih bisa mengatasinya sendiri. Klon yang aku tinggalkan akan muncul jika Mei'er tidak bisa lagi bertindak, begitu pun dengan klon yang aku tinggalkan pada Jian'er dan Xuan'er."


Yan Xue kehabisan kata-kata, sudah sering mendengar Lin Chen mengatakan omong kosong, tapi ia selalu mempercayainya.


Ketika Yan Xue melihat Lin Mein An, Lin Chen melihat Paviliun Qiao Jian'er; melihat lantai teratas yang jendelanya terbuka. Ada seorang wanita berusia sekitar 25 tahunan, rambutnya putih berkilau, alisnya hitam, mengenakan hanfu dengan jenis gaun indah berwarna biru langit.


"Jian'er ..." Lin Chen menatap wanita itu dengan tatapan penuh kasih sayang dan berkata dengan lembut; ada kerinduan yang mendalam dalam pancaran matanya.


"Sayang, apakah Mei'er mengkultivasikan Profesi Master Mantra?"


Lin Chen menganggukkan kepalanya. "Bukankah Xue'er sudah tahu? Bukankah kita melatih anak-anak bersama?"


Yan Xue melihat Lin Mein An sedang dikelilingi oleh ratusan ribu kertas kuning yang merupakan Talisman. "Tapi, bukankah dia memfokuskan pada Formasi Array?"


Lin Chen tersenyum melihat keterkejutan Yan Xue. "Jian'er mengkultivasikan Profesi Alkimia sampai tingkat Ilahi, Mei'er Profesi Formasi Array sampai tingkat Ilahi, dan Xuan'er mengkultivasikan. Master Mantra sampai tingkat Ilahi. Tapi ..."


Lin Chen berhenti sejenak, sampai akhirnya mendapatkan tatapan tajam Yan Xue yang terburu-buru. "Mereka tetap mengkultivasikan Profesi lain, termasuk Tabib dan Pemurnian Senjata atau Penempa sampai tingkat Surgawi. Jadi, bisa dibilang mereka menguasai semuanya."


"Harusnya, Xue'er bisa mengetahuinya dengan mudah, lagi pula, Xue'er juga mengkultivasikan semua Profesi sampai tingkat Ilahi, bahkan Master Mantra sudah mencapai tingkat Dewa sampai membangkitkan Roh Pertempuran."


"Oh? Benarkah?" Yan Xue memiringkan kepalanya. "Xue'er tidak tahu itu sudah meningkat, padahal Xue'er hanya menulisnya dengan asal."


Lin Chen tertegun, kemudian menghela napas seperti tadi. Ia kembali memalingkan wajahnya pada Lin Qiao Jianying yang dudu di kursi kayu dan terlihat sedang menulis puisi di gulungan bambu. "Aku akan mengajari anak-anak Profesi Lukis."

__ADS_1


Ketika Wilayah Tiantang diserang oleh Aliansi Penjarah Surga, salah satu dari Tujuh Putri menyerang menggunakan Lukisan Pemandangan Gunung dan Sungai. Saat itulah, Lin Chen menyadari bahwa lukisan bisa digunakan untuk menyerang, dan mulai mengembangkannya. Tapi, jika diingat kembali, saat di Alam Rendah ia sudah pernah menggunakan langkah yang sama untuk menyerap serangan lawan. Namun karena perkataan Xue Ying yang menusuk hati, ia melupakannya sejak saat itu dan tidak pernah lagu melukis.


Dalam proyeksi, Lin Mein An terus terbang saat banyak yang mengejarnya dari belakang. Kemudian berbalik saat masih terbang tanpa melihat. Lin Mein An mengangkat tangan kanannya di depan dada dengan dua jari menghadap ke langit.


Ratusan ribu Talisman yang melindunginya bergerak seperti kilatan cahaya yang membelah udara, menimbulkan suara mendesing yang mengganggu telinga.


Ketika Talisman sudah mendekati rombongan orang yang mengejar, Talisman itu memancarkan cahaya biru yang terjalin membentuk garis halus. Garis halus itu terus terungkap sampai membentuk jaring besar.


Dari kejauhan, itu terlihat seperti jaring nelayan yang menangkap ikan-ikan kecil.


Jaring biru itu mengeluarkan kilatan petir seperti listrik, kemudian kilatan petir itu menembak semua orang yang mengejar dan memperlambat mereka.


Cahaya biru terang menghalangi pandangan semua orang yang melambat karena kilatan Petir terus membesar.


Lin Mein An mengarahkan tangannya ke depan, ratusan ribu Talisman yang lain bergerak melalui lubang pada jaring. Kemudian mulutnya terbuka seperti mengatakan sesuatu, dan pada saat itu juga Talisman bercahaya dengan warna merah, yang kemudian meledak dengan api besar.


Tidak tahu apa yang terjadi di dalam api. Api itu bertahan untuk waktu yang cukup lama, mungkin satu menit, dan saat api menghilang, hanya tersisa beberapa orang Ranah Spirit Realm tahap Puncak yang baru menerobosnya dan terluka parah.


Lin Mein An tidak berhenti, seperti mengingat ajaran yang sudah mengakar. Ia melemparkan bendera berwarna merah ke depannya. Bendera itu tertelan oleh celah spasial, yang kemudian muncul kembali di empat sudut mengitari beberapa orang yang masih selamat.


Sayangnya, proyeksi ini tidak mengeluarkan suara. Jika ada suaranya, akan terdengar teriakan yang menggema dipenuhi rasa sakit.


Terdistorsinya ruang itu tidak berlangsung lama, tapi semua orang yang berada di dalam formasi, sudah terbunuh dengan tubuh yang tidak lengkap.


Lin Mein An menghela napas lega, lalu pergi ke langit yang tinggi untuk meninggalkan Bintang Fengxuan.


Lin Chen sangat bersemangat melihat Lin Mein An yang berhasil membunuh Spirit Realm tahap Puncak (Huangdi), saat masih di Spirit Realm tahap Akhir (Divine God), bahkan tahap Akhir pun masih di pertengahan.


Proyeksi di tangan Yan Xue berganti, itu adalah pemandangan Lin Da Zixuan yang sedang terbang di angkasa tanpa menggunakan Profound Ark maupun Feichuan.


Lin Da Zixuan bersama rekan-rekannya terlihat mengejar kelompok orang yang jumlahnya lebih besar dan kuat, tapi anehnya pergi ketakutan.


***


Lin Qiao Jianying merasakan tatapan yang sangat intens dan itu membuatnya sangat tidak nyaman; tatapan itu sepertinya tidak bisa dihilangkan bahkan saat ia menutup jendela di depannya. Karena tidak bisa menghilangkannya, ia hanya pasrah dan membiarkannya kembali terbuka.


"Apakah bantuan keluarga Ye sudah datang? Aku sudah tujuh tahun di sini, tidak mungkin aku pergi sebelum Paviliun Qiao Jian'er mengajar di sini. Jika aku pergi sekarang, itu sama saja seperti menerima kekalahan dan aku akan mempermalukan Ayah!"

__ADS_1


Lin Qiao Jianying mengepalkan tangannya, mematahkan kuas yang dipegangnya. Ia bisa menyelesaikan semua masalah apabila memecahkan batu giok yang diberikan padanya oleh Lin Chen. Ini memungkinkan untuk memanggil klon yang bersembunyi, tapi selama ini, ia tidak pernah ingin memecahkannya.


Karena penasaran saat merasakan ada yang menatapnya, Lin Qiao Jianying menengadahkan kepalanya dengan sudut 45 derajat; tidak ada apa pun di sana selain awan putih bersih yang terbang rendah. Tapi, saat ia terus melihatnya, ia menyadari bahwa awan itu nampak diam tanpa gerakan.


"Tunggu!" Lin Qiao Jianying berdiri seraya membanting kedua tangannya di atas meja. Awan yang dilihatnya sangat berbeda dengan awan yang lain, itu lebih putih tanpa polusi dan nampak melayang naik meski sangat pelan sampai tidak disadari oleh orang lain. Tapi untuknya, ia sudah pernah melihat awan yang serupa. "Ayah? Ibu?"


Dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan, Lin Qiao Jianying melompat dari jendela dan terbang di langit.


"Lihat! Bukankah itu Peri Jianying? Apa yang membuatnya keluar? Sudah berapa tahun sejak dia meninggalkan tempatnya?"


Pada saat itu, saat mereka mendengar suara yang keras, mereka mengalihkan perhatiannya pada sumber suara, melihat pria paruh baya yang menunjuk ke langit. Semua orang pun melihat ke langit yang sama dan mendapati bahwa Lin Qiao Jianying berada di sana.


"Dia sangat cantik!"


Salah seorang mengerutkan keningnya. "Dia terbang! Walaupun dia kuat, harusnya tidak boleh terbang di kota atau dia akan dihukum!"


"Siapa yang ingin menghukumnya? Dia adalah yang terkuat di kota!"


Lin Qiao Jianying mengabaikan semua orang yang membicarakan tentangnya. Ia sudah tiba di awan putih bersih, tapi tidak ada seorang pun di atas awan itu. Ia melihat sekitarnya dengan panik. "Ayah! Ibu! Di mana kalian?!"


Mendengar itu, semua orang yang di bawah membuat keributan.


Mereka bertanya-tanya seberapa kuat orangtua Lin Qiao Jianying. Bagaimanapun, Tuan Muda Ye saja hanya Spirit Realm tahap Menengah (Immortal God), dan itu sudah dianggap genius, tapi setelah kedatangan Lin Qiao Jianying, Tuan Muda Ye tidak lagi dianggap, dan hanya dalam kurun waktu enam tahun, bahkan Leluhur Ye sudah tidak bisa berbuat apa-apa pada Lin Qiao Jianying.


Tiba-tiba, ada tangan yang muncul dari belakang Lin Qiao Jianying dan itu dilihat semua orang. Tangan itu menangkap keras gaunnya, yang kemudian membuat Lin Qiao Jianying menghilang dari pandangan.


Semua orang yang melihatnya, terdiam tanpa bisa berkata-kata. Mereka tidak merasakan fluktuasi spasial, tapi tiba-tiba ada tangan yang meraih Lin Qiao Jianying.


Walaupun semua orang diam, tapi mereka memiliki satu pemikiran yang sama.


Jika keluarga Ye terus memaksa Peri Jianying, keluarga Ye akan menghilang.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2