
Walaupun sudah membelah Dewa Xing menjadi empat bagian, Dewa Xing belum mati karena masih ada 'Dirinya' yang tersebar luas di Semesta Xing ini.
"Tahan dia!" Dewa Phoenix yang berada di kejauhan meminta Dewa Ruang dan Waktu untuk menahan gerakan Lin Chen.
Tubuh Lin Chen mulai pecah, membentuk kabut darah yang secara perlahan menghilang dari sana. Ia sudah muak dengan Isolasi Ruang yang selalu menghentikan gerakannya, membuat pertarungan menjadi sangat lambat.
"Dewa Xing? Mengapa tubuhmu tidak menyatu?" Dewa Pedang menghampiri, megang kepala Dewa Xing yang melayang.
"E- Entahlah, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku." Dewa Xing sedikit merintih merasakan sakit di bagian bawah kepalanya. "Aku juga tidak bisa mengendalikan diriku yang lain."
"Dao Iblis, Kutukan!"
Perhatian semua orang teralihkan pada sumber suara, terlihat Lin Chen yang mulai muncul meski hanya setengah tubuhnya saja. Jaraknya juga sangat jauh, mungkin akan membutuhkan waktu miliaran tahun cahaya. Tapi tidak bagi God Realm, mereka bisa bepergian dengan cepat, bahkan Semesta hanya berukuran sebesar kepalan tangan.
Seketika itu juga, Dewa Pedang bersiap-siap untuk menahan apabila datang serangan dari atas, yang mengarah pada Dewa Xing. Begitu pun dengan Dewa Ruang dan Waktu yang mencoba menghentikan gerakan Lin Chen, serta Dewa Bintang yang menciptakan bintang terus-menerus.
Lin Chen berpindah lagi ketika Dewa Ruang dan Waktu hendak menghentikan pergerakannya lagi, kemudian muncul di arah yang berlawan dengan tangan kanan berada di depan dada. "Kematian Abadi!"
Bagian tubuh Dewa Xing mulai bersinar merah terang dengan aura hitam yang keluar. Warna tubuhnya seperti lampu bersinar yang menerangi kegelapan, hingga tak lama kemudian, tubuhnya meledak lebih besar dari yang lain.
Duarr! Duarr! Duarr!
Bukan hanya satu ledakan, tapi miliaran ledakan dari berbagai tempat di Semesta Xing, yang menghancurkan seluruh Semesta Xing. Tidak ada lagi tempat yang bercahaya, semuanya benar-benar gelap tanpa ada aliran energi. Cahaya di sini hanyalah God Realm yang tersisa.
"Hahahaha!" Lin Chen tertawa terbahak-bahak seraya merentangkan kedua tangannya, sikapnya yang sebelumnya tenang mulai berubah ketika menggunakan Topeng Iblis. "Sangat indah! Teruslah meledak!"
"Sial! Kau membunuh adikku!" Dewa Pedang muncul di belakang Lin Chen, langsung saja mengayunkan pedangnya secara vertikal.
Slash!
Tubuh Lin Chen terbelah dua karena serangan Dewa Pedang yang mengerikan, bahkan ayunan pedangnya juga mampu membelah angkasa sejauh mata memandang.
Meski sudah terbelah, Lin Chen tidak terbunuh, melainkan masing-masing bagian yang terbelah itu saling beregenerasi, menciptakan dua tubuh yang berbeda. Keduanya berbalik ke kiri atau kanan, mengarah pada Dewa Pedang yang berada di belakang.
"Persetan!" Lin Chen memukulkan tinjunya pada dada Dewa Pedang.
Bang!
Dewa Pedang terhempas ketika terkena pukulan Lin Chen yang sudah terbagi menjadi dua itu. Dari pukulannya juga menimbulkan efek gelombang suara yang mampu menggetarkan tulang, dengan cincin merah yang menyebar secara vertikal.
"Dao Ruang, Pemotong Ruang!"
Krak!
Ruang di sekitar Lin Chen terpotong seperti retakan di permukaan kaca, membuat tubuh Lin Chen kembali terbelah dua. Tapi, bukannya mati, bagian tubuh yang terbelah kembali beregenerasi dengan cepat, menciptakan tubuh baru.
Lin Chen menoleh ke belakang, menatap tajam Dewa Ruang dan Waktu. Tatapan tajamnya membuat Dewa Ruang dan Waktu tidak bisa bergerak sama sekali, ini adalah kekuatan yang sama yang ia gunakan saat menghentikan gerakan Monster Kuno.
"Giliranmu." Lin Chen berpindah tempat dalam sekejap mata, tepat di depan Dewa Ruang dan Waktu. Ia mengulurkan tangannya menangkap kepala Dewa Ruang itu. "Aku sangat membencimu!"
"Ohok!" Dewa Ruang dan Waktu memuntahkan seteguk darah segar dari dalam mulutnya ketika kepalanya tertembus Cambuk Iblis.
Cambuk Iblis itu sendiri muncul dari telapak tangan kanan Lin Chen, yang saat ini sedang menangkap kepala Dewa Ruang dan Waktu. Tidak berhenti disitu saja, ia mengayunkan tangannya, lalu melemparkan Dewa Ruang dan Waktu mengarah pada Dewa Bintang.
Lin Chen mengangkat tangan kanannya di depan dada, dengan jari telunjuk dan tengah mengarah ke atas. "Kematian Abadi!"
Dari dalam tubuh Dewa Ruang dan Waktu terdengar suara dengung, dengan sinar merah yang berada di dalam tubuhnya seperti lampu. Kemudian sinar-sinar itu menembus tubuhnya dari dalam, yang tak lama kemudian meledak.
__ADS_1
"Sialan!" Dewa Pedang berteriak lantang saat melihat lebih banyak Dewa yang terbunuh.
Dewa Pedang merentangkan kedua tangannya, ada energi biru seperti nyala api yang menyelimuti tubuhnya. Energi itu membentuk sebuah pedang dengan ukuran yang sangat besar, tingginya mungkin sekitar sepuluh galaksi yang ditumpuk.
Lin Chen mengabaikan teriakan Dewa Pedang dan kekesalan Dewa Phoenix. Ia mengalirkan energi spiritualnya di kedua telapak tangannya, kemudian menyentuhkannya perlahan.
Bang!
Dentuman keras dengan gelombang angin menyebar ke segala arah, menjauhkan dampak api yang meledak dan Phoenix lain yang muncul dari kekosongan. Ia juga membuka tiga celah ruang, celah ruang yang menuju Semesta kekuasaan Dewa Monster, Dewa Demon Buddhist, dan Dewa Ruang dan Waktu.
Ketika semua celah sudah terbuka, Lin Chen mengirimkan 'Dirinya' ke sana, untuk mengambil alih Semesta yang Dewa di sana sudah ia bunuh.
Kekuatan Lin Chen kembali meningkat setelah menguasai 4 Semesta. Semesta 314, Semesta 104, Semesta 106, dan Semesta 110. Untuk Semesta Xing, masih ada Dewa lain yang datang, dan di sini benar-benar kosong, yang tidak menambah kekuatannya.
"Aaahhh!"
Teriakan keras yang mengungkapkan kemarahan terdengar dari tiga arah yang berbeda, aura yang sangat kuat yang mulai terasa.
Lin Chen yang berada di tengah-tengah kepungan itu membuka kedua kakinya selebar bahu, dengan kedua tangan di depan dada saling menyentuh. "Dao Dewa, Penciptaan ..."
"Bintang!" Lin Chen merentangkan kedua tangannya.
Wosh! Wosh! Wosh!
Bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu dengan ukuran yang berbeda-beda. Semua bintang itu berputar-putar mengelilinginya dan bergerak menjauh darinya.
Lin Chen mengeluarkan Pedang Kuno dari penyimpanan, mengalirkan sepertiga dari kekuatannya ke dalam Pedang Kuno. Terlihat, aura merah yang sangat pekat mulai menyelimuti pedang. Keadaan di sekitarnya juga mulai berubah, seperti ada kabut merah yang sangat beracun.
"Dao Iblis, Kehancuran." Lin Chen mengangkat Pedang Kuno dengan kedua tangannya. "Malapetaka!" Ia mengayunkannya mengarah pada Dewa Bintang.
Slash!
"Bunuh!" Dewa Pedang mengayunkan pedang besar berwarna biru mengarah pada Lin Chen.
Lin Chen menoleh ke belakang, lalu mengangkat kedua tangannya seperti hendak menangkap pedang. Hanya dari tangannya yang terangkat, ada sosok putih yang sangat besar di atasnya.
Bang!
Dentuman lain kembali terdengar saat sosok putih berhasil menangkap pedang milik Dewa Pedang dengan kedua tangan.
"Aaaahhh!" Dewa Pedang melepaskan lebih banyak kekuatannya, membuat tekanan Pedang Kehancuran lebih berat lagi.
Krak!
Sosok putih di atas Lin Chen mulai retak, yang kemudian meledak begitu saja menjadi pecahan cahaya. Pedang Kehancuran itu terus melesat mengarah pada Lin Chen.
"Ugh!" Lin Chen merintih saat tekanan yang sangat kuat mulai menekan tubuhnya dari atas, terlihat ada darah yang mengalir di sudut bibirnya. "Ohok!"
Lin Chen tidak bisa menahan tekanan, membuatnya terhempas jauh ke bawah terkena Pedang Kehancuran. Hingga tak lama, tubuhnya meledak dan hanya meninggalkan Topeng Iblis.
Topeng Iblis yang melayang di angkasa itu mulai redup kembali, namun hanya dalam hitungan detik saja, Topeng Iblis kembali bersinar di bagian matanya, dan saat itu juga tubuh Lin Chen kembali beregenerasi.
Lin Chen yang sudah beregenerasi itu mengangkat tangannya di depan dada. "Meledak!"
Duarr! Duarr! Duarr!
Ledakan yang keras terdengar beruntun ketika ratusan bintang mulai meledak, bersama dengan Dewa Bintang yang terbunuh karena Kutukan yang ia tanam. Kutukan yang mengejar Esensi Jiwa di mana pun berada.
__ADS_1
"Sial!" Dewa Pedang mengumpat kesal, lalu menoleh ke arah Dewa Phoenix yang masih mengurus Naga Emas.
"Jangan alihkan perhatianmu!"
Dewa Pedang memalingkan wajahnya dari Dewa Phoenix, menata ke depan dan terlihat sudah ada Lin Chen yang berdiri di sana. Ia mengayunkan pedangnya secara vertikal mengarah pada kepala Lin Chen.
Lin Chen memiringkan tubuhnya ke kiri, membuat tubuh kanannya terbelah dan meledak. Tapi, karena Dao yang ia miliki adalah Dewa dan Iblis, tidak seperti yang lain, ia bisa beregenerasi dengan sangat cepat.
Lin Chen mengalirkan setengah Energi Dewa dan Iblis di tangan kanannya, terlihat tangan kanannya mulai retak karena dua kekuatan berbeda yang dikerahkan di satu tempat. "Pergi!" Ia mengayunkan tangannya memukul dada Dewa Pedang.
"Keugh!" Dewa Pedang kembali terhempas dan memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya, ini adalah pukulan yang lebih kuat dari yang ia rasakan tadi.
Bang!
Pukulan itu menimbulkan dentuman yang menggelegar di Semesta Xing.
"Ugh! Ternyata sakit." Lin Chen merasakan rasa sakit di sepanjang lengan kanannya yang merah dan retak, kemudian hancur menjadi abu.
Dewa Pedang mengeluarkan energinya, mencoba untuk mengendalikan tubuhnya yang terhempas. Namun baru saja mengeluarkan energi, tubuhnya sudah berhenti, tapi anehnya ia merasakan ada yang melingkar di perutnya.
Dewa Pedang menoleh ke belakang, terlihat Lin Chen yang sedang memeluknya dari belakang. Kemudian, di depannya juga ada Lin Chen lain yang melakukan hal yang sama.
"Bunuh!" Suara Lin Chen menggelegar di Semesta Xing, dengan petir yang menyambar ke segala arah tidak terkendali.
Fluktuasi energi yang sangat kuat mulai bermunculan di sekitar Dewa Pedang, menciptakan Lin Chen lain yang membawa senjata berbeda-beda.
Tanpa berlama-lama lagi, semua Lin Chen bergerak dengan kecepatan penuh mengarah pada Dewa Pedang. Lalu menusukkan Senjata Ilahi dengan Energi Dewa dan Iblis.
Pedang Kuno, Pedang Dewa, Pedang Cahaya, Pedang Dewa Kematian, Pedang Dewa Iblis, Tombak Ashura, Pedang Neraka.
"Aaarrrgghh!" Dewa Pedang berteriak sangat keras dengan rasa yang terdengar menyakitkan, semua senjata itu menembus tubuhnya dan ada rasa yang tidak bisa dijelaskan.
Sakit, panas, dingin, terbakar, membeku, tersetrum, dan lain sebagainya.
Tubuh utama Lin Chen yang berada di kejauhan juga terkena dampaknya, karena dua 'Dirinya' yang memeluk Dewa Pedang juga tertembus oleh senjata-senjata itu.
Lin Chen yang kedua tangannya di depan dada, menurunkan tangan kirinya perlahan dengan napas terengah-engah. "Kembali."
Tujuh 'Dirinya' yang menggunakan senjata berbeda itu kembali ke sisi Lin Chen dan bergabung dengannya, membuat napasnya kembali membaik.
"Kau, mati!"
"Tidaaakkk!—"
Duarr!
Dewa Pedang meledak dengan ledakan yang lebih besar dari sebelumnya, sampai menciptakan retakan di Semesta Xing. Dari ledakan ini, Lin Chen juga terkena dampak yang cukup parah di bagian lengan dada dan wajah. Terutama untuk wajahnya yang setengah hancur.
"Hah ... hah ... hah ..." Lin Chen kembali bernapas dengan terengah-engah, suaranya juga serak karena luka bakar yang dideritanya sangat parah. "Aku tidak menduga ... akan sangat ... melelahkan ... ini baru tujuh ..."
Lin Chen menolehkan kepalanya melihat Dewa Phoenix yang berlindung di dalam bola api. "Dia yang paling sulit."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1