
"Bagaimana?" Lin Chen bertanya pada anak-anaknya tentang pemandangan para praktisi yang saling membunuh.
"Mei'er sudah sering melihat manusia yang mati, karena di Wilayah Tiga, setiap harinya ada manusia yang mati. Tapi, untuk saling membunuh seperti ini, baru melihatnya." Lin Mein An bisa menahan dirinya untuk tidak mual, meski wajahnya sedikit pucat.
Wajah Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan terlihat pucat saat melihat satu per satu manusia yang terbunuh, manusia yang terbelah menjadi beberapa bagian dan jatuh dari langit, menghantam daratan yang kemudian hancur.
Lin Chen bisa memaklumi mengapa mereka terlihat seperti itu, bahkan saat membunuh monster pun mereka mengalami masa-masa sulit.
"A- Ayah ..."
Lin Chen menoleh ke kanannya melihat Lin Da Zixuan yang mulutnya berair, sepertinya telah memuntahkan isi perutnya dan meneguk air untuk menenangkan diri. Ia mengulurkan tangannya, membersihkan bibir Lin Da Zixuan. "Ada apa?"
"Zixuan hanya pernah ... mendengarnya saja, entah dari Nenek maupun Bibi. Ayah juga pernah bercerita, tapi, apakah ini yang Ayah lihat?" Lin Da Zixuan mulai sedikit tenang, meski matanya terlihat sayu karena kelelahan mental.
"Iya ..." Lin Chen menjawabnya tanpa ragu, karena memang sudah tidak perlu lagi disembunyikan.
Lin Chen menjentikkan jarinya, menciptakan beberapa layar hologram berwarna biru yang muncul di udara. Tapi, baru beberapa saat muncul, ia langsung menghilangkan hologram itu, mengurungkan niatnya.
Sebenarnya ia berencana untuk memperlihatkan bagaimana pertarungannya yang sampai mempertaruhkan nyawa, seperti saat melawan Sekte Shashou, Qui Zhalian dan 7 God Realm di Semesta Xing.
Tapi, ia merasa itu terlalu berlebihan untuk mental anak-anak, yang bahkan pemandangan seperti ini saja sudah diluar batas.
Walaupun mengurungkan niatnya untuk memperlihatkan rekaman, tapi ia tidak berniat untuk diam.
"Bertarung melawan ribuan manusia, membunuh mereka, mayat menggunung, darah mengalir membentuk sungai. Itu adalah hal biasa."
Booom! Booom! Booom!
Pertarungan antara ratusan Huangdi, Tongzhi dan Ziranzhi terus berlanjut, menimbulkan ledakan beruntun yang tidak tahu kapan akan berakhir.
Lin Qiao Jianying sedikit menutup telinganya saat mendengar suara keras tiada akhir. "Apakah Ayah tidak takut? Mereka ada banyak, bagaimana Ayah bisa mengalahkan banyak orang?"
Lin Chen menoleh ke kiri melihat Lin Qiao Jianying, ia mengalirkan energinya mengarah pada kedua telinga anaknya, agar suara yang didengar tidak terlalu menyakiti telinganya. "Jika kau takut, akan banyak orang yang terluka. Jika kau takut, orang terdekatmu yang akan menjadi korban. Jika kau takut, bukan lawanmu yang akan mati, tapi dirimu ..."
"Tapi, ada kalanya harus kembali jika kekuatan lawan lebih kuat dan tidak bisa dikalahkan bagaimanapun caranya." Lin Chen memberi sentilan kecil di hidung Lin Qiao Jianying.
Tidak ada lagi yang namanya takut, anak-anaknya mulai kembali pulih dan bertekad.
"Bagaimana bisa ada tikus yang diam di sini di saat yang lain sedang bertarung?"
Tiba-tiba ada suara yang menggema di langit, angin juga bertiup kencang dengan retakan-retakan kecil di udara.
Lin Da Zixuan menengadahkan kepalanya melihat ke langit, terlihat ada belasan orang Ranah Yuzhao yang berkumpul di sana. Ia gemetaran saat merasakan ada aura kuat yang mengelilinginya, meski hanya sebentar saja karena ada Energi Dewa yang melindungi.
Lin Da Zixuan mengambil Mata Informasi dari dalam Cincin Ruang. "A- Ayah, Yu- Yuzhao ..."
__ADS_1
Mata Informasi adalah sebuah kacamata berwarna biru yang memiliki fungsi untuk melihat seberapa besar energi lawan dalam jumlah angka, ini bisa digunakan sampai batas Tongzhi.
Yuzhao di Semesta Lantian sangat berbeda dengan Yuzhao di Semesta Yongheng, kekuatan mereka berbanding 1 : 5 di Ranah yang sama.
Lin Chen hanya diam tidak menjawabnya, melainkan mengangkat satu jarinya menunjuk 18 Yuzhao di langit.
"Tunggu!" Yan Xue menahan pergelangan tangan Lin Chen. "Walaupun Ibu tidak ingin kalian mengambil jalan seperti Ayah, tapi jika sudah sampai sini, maka tidak ada kata kembali."
Lin Chen tertegun dengan mulut sedikit terbuka, kemudian tersenyum hangat dan menurunkan tangannya.
Yan Xue mengangkat kedua tangannya seperti posisi menangkupkan kedua tangan. "Anak-anak, lihat dan pelajari." Ia menarik tangan kanannya, terlihat ada pedang berwarna putih yang keluar dari telapak tangan kirinya.
Salah seorang pemuda berambut hijau, mengenakan pakaian biru menatap tajam Lin Chen dengan seringai menghina. "Heh! Berlindung di balik wanita?—"
Pandangan pemuda itu terus berganti dari langit ke daratan berulang kali, ia juga merasakan tiupan angin kencang yang menerpa wajahnya. Hingga, ia melihat tubuhnya sendiri yang masih di langit, digenggam oleh Yan Xue yang membawa pedang.
Booom!
Tubuh pemuda itu meledak bersamaan dengan Inti Jiwanya.
Kejadian ini sangat tiba-tiba, 17 Yuzhao lain yang sudah mengedarkan kesadarannya tidak tahu kapan Yan Xue bergerak dan membunuh salah satu dari mereka.
Anak-anak juga tidak tahu jika Ibu sangat kuat, bisa menghadapi Yuzhao tahap Awal dan membunuhnya dalam sekejap.
Yan Xue tidak peduli dengan darah yang bergerak, dan tetap fokus pada 17 Yuzhao yang tersisa. Sangat mudah baginya untuk membunuh mereka semua, mengingat ia hampir menembus Ranah Tongzhi.
Whooooosh!
Yan Xue kembali bergerak dengan kecepatan penuhnya yang menciptakan suara angin terbelah, yang kemudian ia muncul kembali meski hanya beberapa detik. Setiap kali ia muncul, akan ada darah yang memercik dan mayat yang jatuh.
Whooooosh! Whooooosh! Whooooosh!
Serangan beruntun dari arah timur bisa terdengar.
Lin Chen menolehkan kepalanya ke belakang, melihat ratusan serangan dari Ranah Huangdi yang sepertinya berasal satu tempat yang sama. Ia melirik melihat anak-anaknya, perhatian mereka tertuju pada Yan Xue yang terus membunuh.
"Bunuh mereka!"
Suara lain terdengar menggema di langit, auranya lebih kuat dari yang lain sampai menciptakan dentuman beruntun dan ruang yang mulai terbuka. Badai petir juga terus menyambar, beserta pedang-pedang yang mulai jatuh.
"Sepertinya kita ditargetkan," ucap Lin Chen yang terlihat malas.
Lin Chen menggerakkan jari-jarinya untuk memindahkan Yan Xue yang cukup jauh darinya. Kemudian, setelah semuanya berada di dekatnya, ia menciptakan dinding spiritual di bawah kakinya dan menghentakkan kakinya.
Bang!
__ADS_1
Dentuman keras berasal dari hentakkan kaki Lin Chen saat energi kuat menyebar ke segala arah. Samar-samar terlihat gelombang pasang berwarna putih transparan, yang hampir menyatu bersama atmosfer sekitar.
Daratan mulai hancur dan terus meledak tanpa henti, serta gelombang energi itu juga menghancurkan semua serangan yang mengarah padanya. Ribuan praktisi yang menyerang mulai terbunuh dalam sekejap mata saat tertelan oleh gelombang energi, mengikis tubuh mereka hingga habis tak bersisa.
Asap putih tebal muncul setelah semua serangan terpatahkan dan semua praktisi sudah terbunuh tak bersisa. Ketika asap putih menghilang, daratan dalam radius 2000 mil sudah bersih tidak ada tumbuhan sama sekali, gunung-gunung hancur, sungai dan pulau yang terbang di langit juga hilang.
Yang tersisa hanyalah makam yang sengaja Lin Chen lindungi, karena ada hal menarik di dalamnya yang ingin ia panggil untuk bermain sebentar.
Anak-anak tidak bisa menahan ekspresi wajah mereka saat melihat kehancuran yang terjadi, mereka mulai bertanya-tanya seberapa kuatnya Ayah mereka yang bisa membunuh tanpa emosi.
Ngung, ngung...
Tugu batu mengeluarkan suara mendengung yang tidak mengenakkan untuk didengar, tugu itu sudah tidak lagi berwarna hitam seperti batu pada umumnya, melainkan merah gelap seperti darah. Hingga tak lama, tugu batu mulai bergetar seperti ada yang bangkit.
Wusshh!
Cahaya merah melonjak ratusan mil ke langit dari tugu batu, menembus udara seperti pedang tajam.
Bang!
Cahaya itu meledak membentuk cincin merah yang menyebar ke segala arah setelah menghantam pembatas Negeri Surgawi. Kemudian, di tengah-tengah ledakan mulai terlihat ada pusaran merah yang mulai membesar, menutupi langit dalam radius 5000 mil.
"Hahahaha!"
Aliran spiritual di Negeri Surgawi mulai kacau saat tawa keras terdengar dari dalam pusaran merah. Darah juga mulai berkumpul dari dalam tanah, naik cukup cepat memasuki pusaran.
Lin Chen hanya diam menatap datar pusaran merah yang terus memadatkan aura kuat di bawahnya, ia merasa ada kehadiran yang cukup langka di Bintang Shanjin.
Wusshh...
Angin berembus kencang di bawah pusaran cahaya merah, yang mulai membentuk tubuh manusia dengan ukuran yang luar biasa, meski hanya bagian atasnya saja.
Pria tua yang merupakan sisa kesadaran dari Heavenly Immortal yang masih bertahan, pria tua itu adalah pemilik dari makam di Negeri Surgawi.
Tatapannya tertuju pada Lin Chen dengan senyum menjijikan, matanya merah menyala mengungkapkan penghinaan pada semua manusia yang memasuki Negeri Surgawi.
"Tubuhmu, akan menjadi milikku! Kemudian aku bisa menembus Ranah Heavenly Realm tahap Menengah!"
Lin Chen masih menatap datar pria tua berwarna merah yang sangat besar itu. "Bodoh."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1