
Ketika anak-anak sudah beristirahat karena lelah berlatih dan bermain sepanjang hari, Lin Chen masih terjaga bersama Yan Xue yang sedang bersantai, menikmati waktu berdua mereka dengan memandangi kilauan bintang di langit maupun pantulannya di danau.
Walaupun Pohon Dewa sendiri sangat luas dan hampir seluruh bagian pusat Kota Zhan, radius 25.000 mil, tapi masih bisa melihat pemandangan di malam hari.
"Sudah lama kita tidak duduk bersama seperti ini." Lin Chen menoleh ke kanan menatap Yan Xue.
Yan Xue menoleh ke kiri membalas tatapan Lin Chen. "Iya, itu karena kita sudah memiliki dua tambahan anggota keluarga. Tapi, Xue'er merasa lebih bahagia."
Lin Chen mengulurkan tangannya ke belakang tengkuk Yan Xue, lalu membawanya ke dalam pelukannya. "Tapi, maafkan aku. Untuk bisa hidup tenang, aku harus menembus God Realm dan membunuh Dewa Terkuat saat ini."
Keberangkatannya kembali ditunda sampai Lin Da Zixuan benar-benar bisa berlari dengan normal, setidaknya saat berusia lima tahun atau dua tahun lagi. Meski masih lama, ia tidak bermalas-malasan, dirinya yang ada di Alam Bawah sedang berlatih untuk menembus Heavenly Realm tahap Puncak.
Yan Xue yang berada di dalam pelukan Lin Chen itu mengangguk kecil, mengerti dengan semua beban yang dibawa Lin Chen. Karena itu, di sela-sela merawat dua anak, ia juga berlatih untuk dapat mencapai Ziranzhi secepat mungkin, agar bisa membantu dalam pertarungan, meski melawan musuh yang tidak terlalu kuat.
"Besok, kita akan pergi ke mana?" Yan Xue mendongak menatap wajah Lin Chen.
"Bagaimana dengan bintang lain? Aku merasa monster di sini terlalu lemah, dan semua orang di Bintang Qiang mengenalku." Lin Chen ingin perjalanan mereka besok hari diisi dengan kesederhanaan, yang mana tidak selalu mendapatkan salam dari orang-orang.
Yan Xue mengangguk kecil, lalu kembali bersandar di dada Lin Chen. "Xue'er akan selalu mengikuti ucapan Gege."
Lin Chen memeluk erat Yan Xue hingga tertidur dan tidak terasa sudah pagi hari. Selama semalaman, mereka berdua berada di dahan pohon.
Lin Chen yang membuka matanya di awal itu langsung berpindah ke rumah mereka, duduk di sofa ruang tamu agar tidak membuat anak-anak merasa khawatir karena ketiadaan mereka di rumah.
"Ayah, Ibu ..."
Lin Chen yang sudah bangun itu berpura-pura tidur kembali di sofa, dan merasakan kehadiran Lin Qiao Jianying maupun Lin Da Zixuan.
Lin Da Zixuan mencoba untuk naik ke atas pangkuan Lin Chen, lalu memukul-mukul pelan dada Lin Chen. "Woah! Dada Ayah sangat keras."
Lin Chen membuka sebelah matanya menatap Lin Da Zixuan, lalu menangkap putranya dengan kedua tangan. Kemudian ia mengangkat putranya setinggi mungkin.
Lin Da Zixuan tertawa bahagia saat diangkat oleh Lin Chen, namun detik berikutnya ia terlihat panik bahkan hampir menangis karena terus terbang tanpa dipegang oleh Lin Chen, terbang tinggi hampir mencapai langit-langit ruangan.
Lin Qiao Jianying terlihat khawatir melihat Adiknya yang melayang, namun tidak lama kemudian ia juga terbang karena kekuatan Lin Chen yang menyelimuti.
"Sayang, jangan menggoda mereka." Yan Xue mencubit pipi kiri Lin Chen.
__ADS_1
Lin Chen tertawa kecil, lalu menurunkan keduanya dan menangkapnya ke dalam pelukannya. Ia menunduk menatap anak-anaknya. "Bagaimana? Apakah menyenangkan bisa terbang?"
Keduanya mengusap air mata yang hampir mengalir, lalu memukul dada Lin Chen berkali-kali seraya berucap, "Ayah jahat!"
Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan memang belum diajarkan untuk menggunakan energi spiritual, mereka hanya diajarkan untuk mengolah tubuh fisik dan menahan kekuatan. Karena itulah mereka cukup terkejut saat bisa melayang di udara, yang mana hampir mencapai sepuluh meter dari permukaan lantai.
"Ayah minta maaf." Lin Chen berdiri dari sofa empuk, lalu berjalan menuju ruang makan bersama dengan Yan Xue di sebelahnya. "Setelah sarapan, kita akan berangkat."
"Jian'er ingin membantu Ibu." Lin Qiao Jianying mengulurkan kedua tangannya, ingin berpindah dari pelukan Lin Chen ke Yan Xue.
Lin Chen menyerahkan Lin Qiao Jianying pada Yan Xue. "Hati-hati."
Yan Xue membawa Lin Qian Jianying di kedua tangannya, lalu mengusapkan pipinya di pipi putrinya itu. "Putri Ibu sangat cantik."
Lin Qiao Jianying tertawa bahagia, lalu mencium pipi Yan Xue. Untuk Lin Chen dan Lin Da Zixuan, mereka menunggu di meja makan.
Saat makan, meski Lin Da Zixuan sudah bisa menggunakan sumpit, Lin Chen masih membantunya makan karena jarinya yang terlalu kecil untuk menggunakan sumpit, terlebih lagi meja yang terlalu tinggi.
Beberapa jam kemudian semenjak mereka berada di ruang makan, mereka sudah selesai menyantap sarapan pagi dan duduk sejenak. Ketika sudah bersiap-siap, barulah mereka berjalan ke dahan Pohon Dewa.
Lin Chen menggendong Lin Qiao Jianying, dengan Yan Xue yang menggendong Lin Da Zixuan.
Lin Chen menepuk-nepuk pelan punggung Lin Qiao Jianying. "Tidak apa-apa, Ayah di sini."
Saat Lin Chen menoleh ke kiri, terlihat Lin Da Zixuan yang juga gemetaran karena takut saat melihat ke bawah yang sangat tinggi.
Lin Chen melepaskan energinya, menciptakan pelindung berbentuk bola dengan warna putih yang hampir transparan, membuat siapa saja yang berada di dalamnya merasa nyaman dan aman.
Tanpa berlama-lama, Lin Chen mulai melayang meninggalkan dahan pohon dengan membawa yang lain bersamanya. Kemudian melesat tinggi menembus dedaunan lebat di atas mereka dengan mudahnya.
"Ayah ..." Lin Qiao Jianying mencengkeram erat pakaian Lin Chen dan tubuhnya gemetaran karena takut.
Seraya mengusap tengkuk Lin Qiao Jianying, Lin Chen berucap, "Tidak perlu takut, coba Jian'er lihat. Pemandangan dari atas sini sangat indah."
Lin Qiao Jianying menoleh perlahan, lalu matanya terbuka lebar saat melihat lautan awan yang bergerak tertiup angin pelan.
"Apakah Jian'er ingin berdiri sendiri?"
__ADS_1
Lin Qiao Jianying menggelengkan kepalanya, lalu kembali menyembunyikan wajahnya.
"Baiklah." Lin Chen menepuk-nepuk punggung Lin Qiao Jianying, lalu menoleh ke kiri menatap Yan Xue. Keduanya menganggukkan kepala bersamaan, sebagai tanda bahwa semuanya sudah siap.
Lin Chen membawa semuanya untuk terbang sangat tinggi, sampai menembus lapisan awan lain di atas mereka, hingga keluar dari Bintang Qiang.
Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan mencuri-curi pandang saat sudah berada di luar angkasa, meski sesaat kemudian kembali takut karena tidak ada tempat untuk berpijak.
Kecepatan yang digunakan kali ini tidak terlalu cepat, mungkin setara dengan Tongzhi tahap Akhir. Hingga beberapa jam berlalu, Lin Chen sudah sampai di salah satu bintang yang cukup jauh dari bintang yang ia ciptakan.
Anak-anaknya juga tertidur dalam pelukan karena lamanya perjalanan.
Bintang yang Lin Chen datangi berwarna biru, dengan sinar putih yang menyelimuti dan ada penjagaan ketat seperti Bintang Sheng yang sudah meledak. Ada Gerbang Dimensi di sana, sebagai tempat untuk masuk ke dalam bintang.
Kekuatan terkuat di bintang ini sendiri hanya sebatas Huangdi tahap Menengah, dengan kekuatan hewan monster maupun monster di Ranah Divine God.
Hanya dengan melihatnya sekilas, Lin Chen dan yang lain menghilang dari tempat mereka, kemudian berpindah ke dalam bintang.
***
Bintang Xuyan
Keluarga Lin Chen tiba di pantai yang tidak terlalu jauh dari kota terdekat, dan pantainya nampak tenang tanpa ada sayatan angin yang tajam bagaikan pedang, meski di dalamnya banyak monster kuat yang sedang bersembunyi.
"Gege, apakah kita akan langsung pergi ke kota?" Yan Xue membenarkan posisi tidur Lin Da Zixuan yang berada di pelukannya.
Lin Chen menggelengkan kepalanya, kemudian menjawab, "Tidak, kita akan bersantai di sini sebentar. Biarkan mereka berdua melihat pantai di sini, bagaimanapun selama ini mereka hanya tinggal di dalam Kota Chen tanpa bepergian ke tempat lain." Ia berbalik menatap wajah Yan Xue.
Lin Chen berjalan menghampiri pohon kelapa yang berada tidak jauh darinya. Ada getaran di bawah pohon kelapa, yang kemudian terlihat tunas baru yang tubuh mulai membentuk gazebo.
"Kita akan beristirahat di sini sebentar, saat Jian'er dan Xuan'er bangun, kita akan pergi ke kota."
Lin Chen mengeluarkan alas tebal, halus nan lembut di lantai gazebo, serta meletakkan bantal empuk yang nyaman di sana. Kemudian ia meletakkan Lin Qiao Jianying dengan hati-hati agar tidak membangunkannya dari tidurnya.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...