Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 149 : Negeri Surgawi


__ADS_3

Ketika Gerbang Dimensi sudah terbuka, mereka langsung masuk bersama setelah menciptakan pelindung berbentuk bola, agar mereka tidak terpisah saat sudah masuk ke sana. Sudah menjadi hal biasa jika memasuki tempat seperti ini, yang akan terpisah saat sudah di dalam.


Walaupun Lin Chen bisa mengambil keluarganya yang terpisah, tapi ia lebih memilih untuk melindunginya di awal. Namun akan lebih mudah jika berdiam terlebih dahulu di Ruang Dimensi.


Semua orang yang hadir juga mulai terbang memasuki Gerbang Dimensi saat melihat Lin Chen yang sudah pergi, mereka tidak ingin ketinggalan mendapatkan harta, dan akan melakukan apa pun untuk mendapatkannya, termasuk membunuh.


***


Negeri Surgawi, Tempat Misterius


Hal pertama yang dirasakan Lin Chen saat memasuki Gerbang Dimensi adalah kepadatan aura spiritual yang berlimpah, bahkan bisa terlihat bergerak seperti asap emas yang tertiup angin.


Lin Chen yang melihat ini merasa sedikit terkejut, karena aura spiritual di sini tidak jauh berbeda dari Alam Bawah yang ia kembangkan. Tapi, masih jauh dari Semesta yang sedang ia buat, meski masih jauh dari kata selesai.


Banyak sumber daya yang bisa dikatakan langka dan berharga di mata orang lain, meski tidak berarti di mata keluarga Lin. Bagi mereka, semua sumber daya di sini hanya sebatas bumbu dapur yang tidak terlalu spesial dan mudah ditemukan.


Yang menjadi perhatian, banyak pulau-pulau yang terbang di langit, di atas pulau kecil seluas setengah lapangan sepak bola, ada bangunan berbentuk menara kerucut. Dari pulau itu juga ada air yang jatuh dari sana, dan setiap tetes air itu mengandung energi yang murni.


Sungai juga mengalir di langit, dengan ikan-ikan kecil yang berenang di sana dengan tenang. Tumbuhan juga terlihat tumbuh dengan subur, bukan di tanah atau di air, melainkan di udara kosong tanpa media tanam.


Bagaimana tanaman itu bisa tumbuh subur, karena terus menyerap aura spiritual di sekitarnya dengan sendirinya.


Walaupun tempatnya terlihat indah, tidak ada yang namanya Hewan Suci di sini. Ia hanya merasakan monster-monster luar yang saling bertarung satu sama lain untuk memperluas wilayah kekuasaan.


Lin Chen menaikkan sebelah alisnya, lalu mengerutkan keningnya. "Mereka baru datang dan sudah saling bertukar serangan ..."


"Anak-anak, kalian bertiga harus menyiapkan mental. Memang kalian sudah pernah membunuh monster, tapi tidak dengan manusia, tempat ini berbahaya dan akan ada serangan yang diarahkan pada kita."


Lin Chen harus memberi tahu ini cepat atau lambat, dan ia merasa ini adalah waktu yang tepat. Tapi, ia tidak ingin mengajarkan atau belum waktunya mereka tahu bagaimana cara untuk membunuh manusia, terlebih lagi mereka selalu tinggal di tempat hangat seperti keluarga.


Jika mereka adalah Ling Ji Yue yang tinggal di Tanah Kematian dari bayi sampai berusia delapan tahun, mungkin akan berbeda.


Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan tertegun, mereka berdua mulai gemetaran karena tidak tahu harus berkata apa. Mereka masih belum siap untuk mengambil nyawa orang lain, berbeda dengan Lin Mein An yang malah terlihat tenang.

__ADS_1


Lin Mein An tenang bukan karena sudah terbiasa atau pernah membunuh manusia, tapi karena ia pernah melawan orang dewasa saat ia terluka untuk bertahan hidup.


Jadi, untuk melawan manusia, sudah bukan hal asing baginya meski tidak pernah menang dan selalu diakhiri dengan luka parah, yang hampir membuatnya mati.


Hal terparah adalah saat Lin Mein An tidak bekerja lagi untuk keluarga Lin, jika Lin Chen terlambat sedikit saja, Lin Mein An akan benar-benar mati.


"Tidak!" Lin Qiao Jianying mencengkeram erat jari-jarinya yang terkepal. Tubuhnya tidak lagi gemetar dan matanya memancarkan api membara yang menjelaskan tekadnya. "Jian'er harus bersiap-siap."


Lin Qiao Jianying mengeluarkan Pedang Shen yang terbuat dari dahan Pohon Dewa. Pedang Surgawi pemberian Ayahnya sendiri tidak pernah ia gunakan, hanya ia letakkan di pinggang untuk hiasan.


Lin Da Zixuan melihat Kakaknya yang duduk di punggung Baimei, kemudian ia seperti sedang bersujud di atas punggung Baixue. Walaupun ia senang membunuh monster, untuk melawan manusia, itu terlalu berlebihan.


Yan Xue mengusap punggung Lin Da Zixuan, mencoba untuk menenangkannya dari ketakutan. "Xuan'er tidak perlu mendengarkan kata Ayah, Xuan'er tidak perlu membunuh lagi ..."


Lin Da Zixuan tidak bergetar lagi, tapi ia tidak merasa senang ketika mendengarnya, ia merasa sangat lemah karena tidak diperbolehkan untuk membunuh lagi. "Tidak!" Ia kembali duduk.


"Zixuan sudah bertekad ingin membantu Ayah, jadi Zixuan tidak boleh takut." Lin Da Zixuan mengeluarkan Pedang Shen dari Cincin Ruang, bersiap-siap untuk melawan apabila ada yang menyerang.


Perasaan Lin Chen tidak karuan, ia merasa senang karena anak-anak ingin membantunya, tapi secara bersamaan juga merasa bersalah. Tapi, untuk seorang Kultivator Sejati, membunuh adalah hal dasar yang setiap pembudidaya atau praktisi harus melewatinya.


"Biarkan saja, ini terlalu cepat, jadi aku tidak akan membiarkan mereka membunuh manusia. Jika ada yang menyerang, aku yang akan bertindak." Lin Chen mengirimkan transmisi suara pada Yan Xue yang terlihat khawatir.


Yan Xue tertegun menatap Lin Chen, kemudian menghela napas panjang seraya menepuk keningnya. "Baiklah, cepat atau lambat, kalian juga harus merasakannya. Lin'er juga sudah pernah membunuh saat berusia tujuh tahun."


Lin Da Zixuan menoleh ke belakang menatap Ibunya. "Benarkah? Bibi Lin sudah pernah membunuh? Zixuan tidak percaya, Bibi Lin terlihat seperti tidak pernah memegang senjata dan sangat lembut."


Yan Xue tidak menjawabnya, melainkan hanya mengangguk kecil seraya mengusap kepala Lin Da Zixuan. Ia tidak perlu menjelaskannya lebih jauh lagi.


Lin Chen menoleh ke arah kanan yang sepertinya di sana adalah arah barat, itu didasari dari sinar matahari dan bayangan yang tercipta. "Tidak ada barang berharga di sini, hanya Pil dan Artefak Surgawi maupun Ilahi. Semuanya bukan kualitas tertinggi, yang kualitas terbaik sudah tidak berfungsi seperti masa kejayaannya."


"Ayah!" Lin Qiao Jianying sedikit berteriak, matanya berbinar-binar seperti ada bintang yang berkilauan. "Kita harus pergi ke sana, walaupun tidak berguna, itu semua adalah harta. Jian'er ingin memiliki semuanya untuk ditaruh di Ruang Harta Jian'er!"


Lin Chen memalingkan wajahnya ke kiri saat mendengar Lin Qiao Jianying yang berteriak, lalu menoleh sedikit ke belakang menatap Yan Xue. "Dia sama sepertimu, sangat senang mengumpulkan harta."

__ADS_1


Yan Xue memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata Lin Chen, lalu berpura-pura tidak tahu dengan cara bersiul.


"Baiklah, kita akan pergi mencari harta."


Lin Qiao Jianying melompat kegirangan karena akan pergi ke tempat yang penuh harta.


Lin Chen memimpin jalan ke arah barat, terbang ratusan meter di atas permukaan tanah. Ia tidak bisa terbang terlalu tinggi, karena anak-anaknya terbang dengan kekuatan Baixue dan Baimei, bukan karena kekuatannya.


Awalnya Baixue dan Baimei tidak bisa terbang, tapi setelah belajar dari Bai Hu yang merupakan Hewan Ilahi, mereka sudah bisa terbang meski tidak terlalu tinggi maupun cepat.


Tidak ada kehidupan dalam radius dua ribu mil, tapi tidak membutuhkan waktu lama untuk bertemu dengan monster kuat, batin Lin Chen.


Tempat yang mereka tuju adalah sebuah makam dengan aura Earth Realm. Ia tidak tahu apa yang membuat Earth Realm bisa terbunuh dan dimakamkan di sini, tapi sepertinya dia adalah salah seorang yang terpandang di Bintang Shanjin.


Namun, Lin Chen merasakan ada hal yang cukup bahaya di makam Earth Realm, seperti Earth Realm atau Negeri Surgawi ini sengaja diciptakan untuk memancing Kultivator yang cocok untuk diambil tubuhnya.


Tidak lama setelah mereka terbang, ada celah ruang yang terbuka tidak jauh dari Lin Chen, hanya berkisar 3500 darinya. Itu adalah jarak yang sangat dekat, tapi tidak untuk yang lain.


"Persiapkan diri kalian, saat kita tiba di makam, akan ada pertarungan."


"Baik, Ayah!" Ketiga anaknya mengangguk dan menjawabnya secara bersamaan, mereka mencengkeram erat Pedang Shen yang siap untuk diayunkan.


Lin Chen sudah bertekad untuk memperlihatkan bagaimana manusia terbunuh di depan anak-anaknya, mungkin ia akan menjadi orangtua yang buruk karena memperlihatkan hal buruk. Tapi, ini untuk pembelajaran bagi mereka yang ingin menjadi Kultivator Sejati.


Tiga jam berlalu, akhirnya mereka sudah berada di sekitar makam Earth Realm yang terlihat seperti reruntuhan, tapi di bagian tengahnya ada tugu batu setinggi tiga puluhan meter.


Pada tugu batu itu ada pola-pola dan huruf-huruf kuno berwarna merah, yang setiap waktunya semakin gelap dan memancarkan aura.


Bukan tugu yang menjadi perhatiannya, melainkan ratusan orang yang saling membunuh satu sama lain. Setiap kali manusia terbunuh, pola maupun huruf di tugu batu terlihat semakin gelap.


Makamnya akan terbuka jika banyak manusia yang dikorbankan?


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2