Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 025 : Membuat Permainan


__ADS_3

Lin Chen sudah bisa melihat langit biru yang ia rindukan selama ini, dan angin sejuk yang bukan berasal dari es membeku juga ia rasakan menerpa wajahnya. Ia tidak tahu sudah berapa lama di dalam sana, ia hanya merasa satu hari saja, namun melihat dari rerumputan yang tumbuh lebih lebat lagi, sepertinya banyak waktu yang terlewat.


Lin Chen menunduk melihat Artefak Ilahi dengan bentuk sabuk, kemudian menoleh ke kiri depan melihat Long Xia Yun yang masih duduk santai. "Bibi, mengapa artefak ini pergi ke arahku?"


Long Xia Yun berdiri, berjalan menghampiri Lin Chen. "Sepertinya itu artefak yang sengaja ditinggalkan Ho Liiu untukmu."


Ditinggalkan? Lin Chen masih belum memahaminya dengan jelas. Sangat aneh Artefak Ilahi ditinggalkan begitu saja di tempat yang antah berantah seperti Daratan Liyang.


"Apakah tidak dapat masalah? Bukankah ini milik Paman Ho? Lalu mengapa Dia memiliki banyak sekali Artefak Ilahi?" Jika mengambil Artefak Ilahi ini hanya akan menimbulkan masalah, lebih baik ia membuangnya saja, tapi ia tidak bisa membuka ikatannya.


"Tidak masalah ..." Long Xia Yun sedikit membungkuk dan membantu Lin Chen melepaskan ikatan sabuk kain. "Artefak ini sudah mengenalimu sebagai Tuannya, maka kau bisa menerimanya dengan tenang." Ia meletakkan sabuk kain itu di tangan Lin Chen.


Karena Long Xia Yun berkata demikian, maka dengan senang hati Lin Chen akan menerima dan menyimpannya ke dalam Penyimpanan System.


Lin Chen menoleh ke sekitar, hamparan rumput hijau telah berubah menjadi hamparan es yang memantulkan sinar matahari milik Bintang Sheng. "Bibi, apakah aku harus mengembalikan semua ini?"


Long Xia Yun juga melihat hamparan es yang membekukan seluruh penjuru Daratan Liyang. "Biarkan saja, Bibi sudah menjelajah Daratan Meili, dan tidak ada wilayah dingin. Bahkan turunnya salju adalah hal baru, karena itulah Daratan Liyang yang membeku biarkan saja seperti ini."


Apa maksudnya?


"Berikan mereka hiburan, daratan es adalah hal baru bagi mereka. Karena mereka sangat menyukai hiburan tentang perang, maka biarkan mereka berperang satu sama lain untuk mendapatkan daratan ini."


Lin Chen hanya bisa diam dan menatap datar wajah Long Xia Yun. Bibinya saat ini benar-benar lepas dari Bibi yang selama ini ia kenal dengan baik hati, karena saat ini Bibinya seperti iblis yang senang melihat pertarungan.


Tapi, jika dipikir-pikir lagi, itu benar-benar sangat menghibur.


Xue Ying yang berada di kejauhan hanya bisa menggeleng dan menikmati jagung rebus. "Dua iblis sedang merencanakan sesuatu ..."


Lin Chen dan Long Xia Yun tertawa terbahak-bahak sembari merentangkan kedua tangan selebar mungkin, benar-benar tidak sesuai dengan penampilan mereka berdua yang terlihat halus dan lembut, namun memiliki niat buruk untuk Bintang Sheng.


"Bagaimana kalau kita bekukan semua Daratan Kecil?" Karena Bibinya berkeinginan untuk menciptakan perang, maka Lin Chen tidak akan tanggung-tanggung untuk membekukan semua Daratan Kecil.


Long Xia Yun menjentik dahi Lin Chen. "Jika Chen'er membekukan semuanya, permainan tidak akan menarik. Namun jika satu atau dua, banyak Feichuan dari berbagai tempat yang saling berperang."

__ADS_1


Lin Chen mengusap dahinya yang merah dan bengkak. "Betul juga ..."


Long Xia Yun melepaskan energinya untuk menyelimuti Lin Chen dan Xue Ying, kemudian memindahkannya jauh ke Daratan Xhusan di arah yang berlawanan, yang jaraknya berkisar 7.500.000 mil dari Daratan Liyang.


Jika Daratan Liyang merupakan alam hijau yang dipenuhi pepohonan dan tanaman dengan ukuran tidak normal, maka Daratan Xhusan merupakan daratan bebatuan terjal yang tidak bisa ditanam oleh tumbuhan, bahkan untuk menghancurkan bebatuan di permukaan juga cukup menyulitkan dengan kekuatan Dewa Giok.


Namun meski sumber daya seperti tanaman dan hewan tidak ada di sini, sebenarnya banyak sekali Batu Roh yang tertanam jauh di kedalaman tanah. Batu Roh berusia lebih dari 10.000 tahun yang merupakan kualitas Tinggi.


Lin Chen yang baru saja tiba langsung berjongkok saat merasakan aura spiritual jauh di dalam tanah. "Banyak sekali Batu Roh, mengapa tidak ada yang mengambilnya," gumamnya.


Ia menoleh ke kanan dan mendongak. "Apakah Kota Abadi tidak memiliki teknologi yang mampu merasakan Batu Roh?"


Long Xia Yun menggeleng pelan, dan menjawabnya, "Tidak ad— Bentar! Sepertinya ada, tapi hanya bisa memindai pada jarak tertentu. Tidak sampai kedalaman ribuan mil seperti di Daratan Xhusan ini." Ia juga berjongkok dan menyentuh tanah berbatu.


"Cepat, bekukan semua daratannya."


Lin Chen menganggukkan kepalanya, tapi ia tidak langsung membekukan semua daratan. Ia mengeluarkan jutaan Batu Roh kualitas Tinggi di atas Daratan Xhusan, agar permainan menjadi lebih menarik lagi jika ada umpan yang lebih baik daripada daratan es.


Gunungan Batu Roh terlihat di berbagai arah, dan menambah padatnya aura spiritual di sini.


Dari hentakkan kaki Lin Chen juga terlihat embun es yang muncul, yang kemudian langsung menyebar ke segala arah membentuk gelombang cincin dingin dan membekukan semua hal yang dilaluinya.


Long Xia Yun tertawa kecil melihat tumpukan Batu Roh. "Dengan begini, permainan akan lebih menarik ..."


Xue Ying menghembuskan napas panjang dan menundukkan kepalanya, kemudian mendongak kembali menatap Long Xia Yun. "Bibi dan Kakak benar-benar seperti iblis, jika Ibu mengetahuinya— Tidak, Ibu juga sangat kesal dengan Kota Abadi. Jadi ..."


Xue Ying terdiam sejenak dan mengusap dagunya pelan. Kemudian terbesit ide yang menurutnya sangat menarik dan pantas untuk dicoba. Ia berbalik melihat Samudra Yuan, lalu mengangkat kedua tangannya setinggi mungkin. "Tambahkan pohon besar dan hadiah di sana."


Samudra Yuan mulai bergejolak seperti air mendidih di dalam kuali, awan hitam juga muncul di langit dengan petir emas yang menyambar seperti hujan karena banyaknya petir yang jatuh. Bahkan Lin Chen yang diam di tempat juga terkena sambaran, dan untungnya tubuh Lin Chen sangat kuat.


Bagi Lin Chen, sambaran petir adalah hadiah dan kesempatan untuk menempa Tubuh Segel Dewa Naga.


Air laut mulai naik membentuk bukit tinggi, hingga saat air itu jatuh dan menimbulkan gelombang tsunami, terlihat pohon yang tumbuh dengan kecepatan tinggi atau lebih mudahnya seperti video time lapse.

__ADS_1


Pohon itu sangat tinggi, dan jika dijelaskan lebih mudahnya, tinggi pohon itu sampai menembus lapisan terakhir atmosfer jika tumbuh di Bumi. Pada bagian dahan-dahan pohon juga terlihat sulur tanaman yang seperti tambang kapal, yang di ujung sulurnya terdapat harta-harta berharga yang Xue Ying anggap sebagai sampah.


Sulur tanaman itu juga bukan sulur biasa, ada duri tajam yang mampu menembus Artefak Surgawi yang dianggap sebagai Harta Surga dan Bumi.


Xue Ying menurunkan kedua tangannya dan berkacak pinggang. "Hum! Ini baru namanya teknik, tidak seperti Kakak yang hanya bisa membekukan daratan. Teknik Kakak hanya cocok untuk membuat es batu."


Lin Chen mengangkat tangan kanannya yang terkepal sejajar dengan dadanya. Ia merasa kesal saat mendengar perkataan Xue Ying yang sangat menghina. Ia berjalan menghampiri Xue Ying dari belakang, kemudian menarik kedua pipi Xue Ying. "Apa kau bilang?"


Bukannya merasa sakit, Xue Ying hanya tertawa kecil dengan posisi tangan masih berkacak pinggang.


Long Xia Yun tersenyum hangat melihat dua keponakannya itu, kemudian ia kembali membawa keduanya untuk pergi ke Kota Abadi, dan menyebarkan berita tentang Daratan Liyang dan Xhusan.


***


Zhusu Tower, Kota Abadi


Kelompok tiga orang yang bepergian selama satu bulan sudah kembali ke lantai teratas dari Zhusu Tower, dan di sana terlihat Luo Yi yang sedang duduk bersama Yan Xue. Ada juga klon Lin Chen yang dipaksa untuk berlatih Tubuh Roh, agar penguasaannya terhadap Energi Jiwa lebih kuat lagi.


Ctak!


Lin Chen menjentikkan jarinya sampai menimbulkan suara yang sedikit keras, dan menghilangkan klon yang sedang bermeditasi. Ia merasakan Energi Jiwanya yang semakin kuat ketika klon itu berubah menjadi molekul cahaya yang memasuki tubuhnya.


"Chen Gege!" Yan Xue berdiri dari sofa dan berlari ke arah Lin Chen, yang kemudian melompat dengan kedua tangan terbuka.


Lin Chen menangkap Yan Xue dan memeluknya erat. "Maaf, aku pergi tanpa memberi kabar, awalnya aku mengira hanya satu hari ..."


Yan Xue menggeleng pelan di dada Lin Chen. "Tidak apa-apa, dalam satu bulan ini, Xue'er juga berlatih bersama Ibu."


Lin Chen mengangguk kecil dan mengusap lembut puncak kepala Yan Xue. Ia mendongak, menatap ke arah kiri depan di mana Ibunya tengah duduk. Ia ingin memberi tahu tentang kekacauan yang saat ini sedang ia perbuat, tapi sepertinya tidak terlalu penting dan lebih baik menunggu kabar yang tersebar nanti.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2