Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 132 : Berlatih Membunuh Monster


__ADS_3

Daratan mulai bergetar dengan suara yang gaduh seperti gemuruh, debu-debu juga mulai naik saat monster-monster dari tiga arah yang berlawanan mulai bergerak ke satu titik di mana saat ini mereka berada.


"Datang!" Lin Chen mengingatkan ketiga anaknya untuk bersiap-siap.


Boom!


Monster yang besar dengan tinggi mencapai dua puluhan meter, terlihat datang tepat dari tiga arah yang berbeda, menghancurkan pepohonan di belakangnya dan menciptakan badai debu tebal yang menghalangi pandangan.


Monster itu adalah Banteng Besi, Rusa Tanduk Besi dan Serigala Api. Termasuk monster yang sangat berbahaya, siapa saja yang bertemu dengan mereka tidak mungkin bisa lari, karena pasti akan mati dalam kurung waktu kurang dari satu menit.


"Jangan gugup, pertarungan ini bukan hanya tentang dirimu sendiri, tapi orang lain. Jika tidak siap, bukan hanya dirimu yang akan dalam bahaya, tapi yang lain juga akan terluka." Lin Chen kembali mengingatkan Lin Mein An untuk tetap tenang. Mungkin terlalu berlebihan untuk Lin Mein An yang baru belajar kultivasi berapa hari, tapi Nirwana adalah monster yang sangat lemah bagi Half God.


Lin Mein An mengepalkan kedua tangannya dengan tubuhnya yang gemetaran karena takut, meski sebenarnya tidak terlalu menakutkan karena mentalnya sudah tidak sama seperti saat masih manusia biasa. "Hah..." Ia menghela napas panjang, menenangkan dirinya.


Serigala Api membuka mulutnya dan mengaum keras sampai menggetarkan daratan, kemudian mengeluarkan semburan api dari dalam mulutnya.


Lin Qiao Jianying bergerak sangat cepat, berdiri di depan Lin Mein An. "Kakak. Jian'er tahu Kakak bisa, karena kita adalah anak Ayah dan Ibu."


Lin Da Zixuan menganggukkan kepalanya, kemudian bertukar tempat dengan Lin Qiao Jianying. Ia bergerak ke arah barat timur untuk menahan Banteng Besi.


Lin Qiao Jianying mengangkat tangan kanannya, menciptakan dinding es yang lebih tinggi dari Serigala Api.


Bang! Wosh!


Dentuman keras terdengar dengan angin yang menyebar ke segala arah saat semburan api besar yang menghantam dinding es, kemudian api itu menyebar ke segala arah termasuk menyerang balik Serigala Api.


Lin Mein An menatap punggung Lin Qiao Jianying dengan tatapan khawatir, kemudian ia menoleh ke kiri saat melihat Rusa Tanduk Besi yang mengangkat kakinya hendak menyerang. "Jangan!" Ia mengangkat tangan kirinya.


Tanah mulai bergetar dan terdengar suara retakan di permukaan tanah, terlihat ada celah seperti parit dengan tunas yang baru tumbuh. Tunas itu berubah menjadi sulur tanaman yang melesat naik beberapa meter, mengarah pada kaki maupun tanduk Rusa Tanduk Besi.


Gerakan Rusa Tanduk Besi terhenti saat belasan sulit tanaman mengikatnya dari berbagai arah.


Lin Mein An terpana akan serangan yang ia lepaskan, tidak bisa mempercayai apa yang terjadi.


Lin Chen yang berada cukup jauh tersenyum tipis melihat Lin Mein An. "Dia belum menyadari jika sudah mencapai tahap Memahami Element dari Element Kayu. Jian'er juga mencapai tahap Memahami Element dari Es, Cahaya dan Api ...


"Xuan'er, Petir, Tanah, Ruang dan Waktu."


Untuk anak kandungnya, setidaknya masing-masing dari mereka menguasai 7 dari 11 Element yang dimiliki Lin Chen.


Lin Da Zixuan melompat tinggi hingga sejajar dengan wajah Banteng Besi. Ia mengangkat kaki kanannya ke belakang, kemudian mengayunkan kakinya menendang wajah Banteng Besi.


Boom!

__ADS_1


Banteng Besi terhempas terkena tendangan Lin Da Zixuan yang cukup keras dan cepat.


Lin Da Zixuan tidak berhenti, ia mengibaskan tangan kanannya menciptakan celah ruang di sebelahnya. Ia bergerak memasuki celah ruang dan berpindah tempat tidak tahu ke mana.


Boom!


Banteng Besi yang sudah terhempas ke arah timur, kembali lagi bergerak ke arah barat dalam waktu singkat. Dua kali perpindahan ini mengakibatkan pepohonan dalam garis lurus sudah tumbang tak bersisa, serta tanah yang tercipta cukup dalam seperti parit.


Celah ruang kembali muncul di tempat awal di mana Lin Da Zixuan menghilang. Dari dalam celah itu, terlihat Lin Da Zixuan yang membawa tombak petir di tangan kanannya dan ia langsung berpijak pada dinding spiritual di bawah kakinya.


"Berhenti!" Lin Da Zixuan mengarahkan telapak tangan kirinya pada Banteng Besi, membuat Banteng Besi yang terhempas kembali itu mematung beberapa meter dari permukaan tanah.


Ketika Banteng Besi sudah berhenti bergerak, Lin Da Zixuan melemparkan tombak yang tercipta dari Element Petir.


Tombak petir itu melesat, membelah udara sekitar, menciptakan pusaran angin yang kencang.


Jleb!


Tombak yang semakin panjang seiring dengan berjalannya waktu, sudah menembus tubuh Banteng Petir.


Lin Da Zixuan mengepalkan tangan kanannya, membuat tombak petir itu mengeluarkan sambaran petir yang meledak-ledak, menghancurkan kulit Banteng Besi hingga terbunuh.


"Dia memang putraku." Lin Chen tersenyum tipis melihat Lin Da Zixuan, lalu mengalihkan perhatiannya pada Lin Qiao Jianying. "Jian'er bertarungnya tidak terlalu agresif, dia sama sepertimu." Ia menoleh ke kanan menatap Yan Xue.


Lin Chen kembali diam tidak bisa membantahnya, dan hanya fokus pada Lin Qiao Jianying.


Lin Qiao Jianying yang berhasil menghalau serangan, menciptakan dinding es lain agar api yang membakar, tidak menyebar terlalu luas.


"Turun." Lin Qiao Jianying menurunkan tangan kanannya, mencairkan dinding es di depannya yang membasahi api.


"Roaah!" Serigala Api menjerit keras dan hendak menyerangnya kembali.


Lin Qiao Jianying menarik tangan kanannya ke belakang, lalu mengayunkannya mengarah pada mulut Serigala Api. Tiba-tiba, ada gumpalan es yang masuk ke dalam mulut Serigala Api, yang kemudian membesar dalam waktu singkat menyumbat mulutnya.


Boom!


Ledakan keras berasal dari dalam tubuh Serigala Api, dan terlihat ada darah yang mengalir dari mulutnya yang hancur karena ledakan. Auranya mulai berangsur-angsur turun karena luka yang dideritanya.


Lin Qiao Jianying yang entah dari kapan sudah mengangkat tangannya, menggabungkannya dengan santainya mengarah pada Serigala Api.


Wush! Boom!


Pedang cahaya setinggi sembilan puluhan meter, jatuh dari langit yang menembus tubuh Serigala Api dan membunuhnya dalam sekejap mata.

__ADS_1


Lin Qiao Jianying menoleh ke kiri melihat Lin Mein An yang berhasil menahan Rusa Tanduk Besi, meski masih terlihat kebingungan dengan lanjutannya. "Kakak Mei, semangat!"


Lin Mein An masih mengangkat tangannya, menahan Rusa Tanduk Besi yang mencoba untuk menyerangnya. Ia menutup matanya perlahan seraya menghela napas, membayangkan bagaimana Ayahnya pernah menunjukkan salah satu teknik yang berhubungan dengan Element Kayu.


Angin mulai bertiup kencang, menerbangkan dedaunan pohon di sekitar sampai bersih tak bersisa. Dedaunan itu bergerak mengikuti arahan angin mengelilingi Rusa Tanduk Besi.


Tiba-tiba, Lin Mein An membuka matanya. "Serang!"


Puluhan ribu daun kecil itu bergerak ke sana-kemari seperti pedang tajam yang terus dilemparkan dari berbagai arah, melukai Rusa Tanduk Besi.


Rusa Tanduk Besi tidak bisa bergerak, bukan hanya tanduk dan kaki depannya saja, tapi kaki belakang, mulut dan badannya juga terlilit oleh sulur tanaman. Matanya terlihat berair, seperti rasa sakit yang ia rasakan sungguh tak tertahankan.


Tetes demi tetes darah mulai berkumpul menjadi aliran deras yang keluar dari setiap luka di permukaan kulit Rusa Tanduk Besi.


Lin Mein An menyentuhkan kedua telapak tangannya di depan dada, membuat daratan kembali bergetar dan ada tunas lain yang mulai tumbuh.


Tunas ini sangat berbeda, kini tumbuh pohon yang lebih tinggi dari Rusa Tanduk Besi, yang di batang pohonnya ada bunga berwarna merah seperti bunga tulip. Bunga itu mekar, menyebarkan aroma harum yang menenangkan pikiran.


"Yaaahhh!" Lin Mein An kembali berteriak lantang seraya mendorong kedua tangannya ke depan.


Kelopak bunga yang sudah mekar itu, melesat seperti pedang tajam mengarah pada Rusa Tanduk Besi.


Jleb! Jleb! Jleb!


Kelopak bunga itu menancap di tubuh Rusa Tanduk Besi, terlihat darah merah mengalir deras di sela-sela antara kulit dengan kelompok bunga.


"Hah, hah, hah ..." Lin Mein An bernapas dengan terengah-engah karena masih gugup. "Hup! Hoek!" Ia memuntahkan isi perutnya.


Lin Chen dan Yan Xue mulai berjalan mendatangi mereka bertiga. Keduanya memberikan pujian, serta menenangkan Lin Mein An yang masih mual.


"Apakah Xuan'er ingin berburu lagi?"


Lin Da Zixuan menolehkan kepalanya melihat sekitar, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, bahkan jika masih mau, semua monster sudah melarikan diri."


Lin Chen mengusap kepala Lin Da Zixuan, lalu menggendongnya. "Haruskah kita kembali?"


Lin Da Zixuan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Zixuan ingin mencari buah-buahan di sini. Zixuan mendengarnya dari warga kota, katanya ada buah yang sangat lezat."


Lin Chen terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kita akan pergi setelah Mei'er tenang dan Ibu menyimpan semua monster."


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2