
Pohon Dewa, Kota Chen
Fluktuasi energi spiritual yang sangat kuat berkumpul di dahan pohon; ini adalah kesengajaan agar semua orang yang berada di dekatnya bisa tahu dan datang menghampiri, untuk melihat apa yang terjadi.
Lin Chen yang membawa tubuh Dewi Kuxing berjalan keluar dari pusaran cahaya putih yang tercipta karena fluktuasi energi. "Aku pulang, atau harus aku bilang, kami pulang?"
Whooooosh! Whooooosh! Whooooosh!
Siluet cahaya membentuk manusia terbang ke arah Pohon Dewa karena aura kuat yang dilepaskan dari pusaran cahaya, lalu mendarat mengelilingi Lin Chen yang baru saja keluar dari dalam cahaya.
Wang Ji Fei, Luo Yi, Yan Xue, Xue Ying, Lin Mein An, Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan datang menghampiri, lalu berhenti saat melihat seorang wanita yang dibawa Lin Chen.
"Siapa dia?" tanya Yan Xue—ada perasaan kesal saat melihat wanita yang dibawa Lin Chen, karena tidak mungkin suaminya membawa wanita asing tanpa hubungan yang spesial.
Lin Chen tersenyum ringan melihat Yan Xue yang terlihat kesal. "Dia adalah Dewi Kuxing, God Realm tahap Puncak yang hampir menerobos Lord Realm. Murid, sekaligus lawan yang harus aku hadapi ..."
"Pertarungan kami sangat panjang, berkali-kali tubuh meledak dan rusak, semua teknik dipatahkan." Lin Chen tidak menutupi tentang fakta bahwa ia kewalahan menghadapi Dewi Kuxing.
"Murid?" Lin Da Zixuan berjalan mendatangi, melihat wajah Dewi Kuxing. "Bagaimana bisa seorang murid menjadi lawan Ayah dan berniat membunuh Ayah? Bukankah dia sangat kejam."
Lin Chen tersenyum tipis seraya menghela napas, merasa tidak nyaman saat mendengar kalimat yang diucapkan Lin Da Zixuan, karena orang yang mengubah Dewi Kuxing adalah dirinya, jadi saat mendengar hal itu, ia seperti seorang monster.
Yan Xue masih merasa aneh tentang murid, karena ia tidak pernah tahu jika Lin Chen menerima murid selain Ling Ji Yue dan Yan Lin; termasuk semua orang di sini tidak mengetahuinya, karena biasanya Lin Chen akan memberi tahu hal-hal penting tanpa menyembunyikannya dari keluarga.
Lin Chen berjalan menghampiri Yan Xue dan orang yang lebih tua, ada sesuatu yang ingin ia bahas dengan mereka semua tentang Dewi Kuxing yang ia bawa saat ini. Ia akan berkata jujur tanpa menyembunyikan tentang kekejamannya di kehidupan pertama yang tidak diketahui.
"Anak-anak, ada yang ingin Ayah bahas, kalian bisa berlatih. Ini adalah pembicaraan orang dewasa, jadi kalian tidak boleh mendengarnya." Lin Chen tidak ingin anak-anaknya tahu tentang kehidupan pertama, bahkan kehidupan kedua dan ketiga saja mereka tidak tahu, dan ia tidak berencana untuk memberitahukannya pada mereka. "Dan, maafkan Ayah karena pulang terlambat."
Lin Da Zixuan menangkupkan kedua tangan dengan maksud memberi hormat. "Baik, Ayah." Walaupun ia merasa penasaran dengan apa yang dibahas, tapi ia akan tetap mematuhi perintah itu, karena ia bukan lagi anak kecil yang manja.
Lin Chen masuk ke ruangan kedap suara yang biasanya digunakan untuk pertemuan dengan orang-orang penting, atau pilar-pilar dari Bintang Qiang untuk membahas tentang keamanan Galaxy Zhongyang. Ia meletakkan tubuh Dewi Kuxing di atas sofa lain, barulah ia duduk bersebelahan dengan Yan Xue.
"Apakah kalian ingat, aku pernah memperlihatkan ingatan saat aku adalah Chen Hao Ling? Ibu adalah Yi Xinran dan Ayah adalah Chen Haiyang?" Lin Chen ingin menyakinkan bahwa semuanya masih ingat, akan sangat menyebalkan jika mereka melupakan hal itu, dan membuatnya harus menjelaskannya lagi dari awal.
Luo Yi menganggukkan kepalanya, masih mengingat ingatan tentang kehidupan pertama. "Iya, Ibu mengingatnya, dan itu sangat menyedihkan untuk diingat lagi. Ibu merasa ingin menghapus ingatan itu." Ia sangat sedih melihat Lin Chen yang harus hidup sebatang kara saat itu.
"Apakah ini ada hubungannya dengan dia? Siapa namanya, Dewi Kuxing?" Yan Xue menoleh ke kanan melihat Dewi Kuxing yang terbaring di atas sofa, dilindungi oleh kain hitam yang menutupi tubuhnya.
Lin Chen menganggukkan kepala, lalu menunduk dengan kedua tangan saling menggenggam dan menopang dahi. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi, apa yang akan aku tunjukkan kali ini akan lebih berat dari sebelumnya, mungkin kalian tidak akan habis pikir mengapa bisa seperti itu ..."
"Kemudian, mungkin saja kalian akan membenciku karena pernah melakukan hal yang harusnya tidak dilakukan. Ingatan ini sendiri menghilang dariku, sehingga diambil dari sudut pandang Dewi Kuxing."
__ADS_1
Tapi, jika Lin Chen dibenci oleh keluarganya sendiri, mau tidak mau ia akan menerimanya, anggap saja ini semua sebagai karma karena berlaku kejam pada seorang gadis yang harusnya hidup dalam hangat dan kebahagiaan.
"Ada apa ini? Mengapa kami bisa membencimu?" Wang Ji Fei mulai tak sabar ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Lin Chen menghela napas panjang, lalu mulai memperlihatkan layar biru yang melayang di udara; ingatan-ingatan dari sudut pandang Dewi Kuxing mulai terlihat, dimulai dari pertemuannya dengan Lin Chen di kota saat hari bersalju.
Baru saja ingatan dimulai, suasana ruang langsung dipenuhi oleh kesedihan karena hidup Dewi Kuxing yang sangat berat, lalu ada perasaan hangat ketika diselamatkan oleh Lin Chen dari tumpukan salju yang mengurung.
Kemudian kemarahan saat melihat bagaimana cara Lin Chen yang melatih, atau bisa dikatakan menyiksa Dewi Kuxing yang masih kecil.
Lin Chen yang menunduk, menyadari suasana mulai tegang dan ada kemarahan yang jelas dari Ibunya, itu membuat hatinya sakit saat merasakan aura yang berbeda dari Ibu. Tapi seperti sebelumnya, ia siap menerimanya.
Ingatan ini berlangsung selama tiga jam, dan semuanya adalah siksaan yang diberikannya pada Dewi Kuxing. Lin Chen mengakhiri ingatan itu setelah memberikan kutukan pada Dewi Kuxing, dan ia tetap diam dengan kepala tertunduk.
"Apakah itu kau, Chen'er?" tanya Luo Yi—ia berdiri dari sofa yang berada di seberang; berjalan menghampiri Lin Chen.
Lin Chen terdiam sejenak, kemudian mendongak dan menjawab, "Aku sendiri tidak tahu apakah itu aku atau bukan, tapi melihat dari kekuatan dan penampilannya, itu adalah aku."
Luo Yi yang tangannya terkepal, mulai melonggarkan cengkeraman tangannya seraya menghela napas panjang. "Apakah kau sudah meminta maaf padanya? Bagaimana kau bisa mengalahkannya?"
Lin Chen menggelengkan kepalanya; tidak berencana untuk menyembunyikan fakta. "Belum, dia mati tanpa meninggalkan tubuh. Tubuh yang kalian lihat saat ini adalah tubuh yang aku ciptakan ..."
Luo Yi berlutut di depan Lin Chen seraya memegang wajah putranya. "Chen'er tidak perlu merasa bersalah, meski apa yang kau lakukan memang keterlaluan. Tapi, ini semua berkaitan dengan Ibu, karena Ibu merupakan salah satu alasan yang membuatmu seperti itu ..."
"Bangkitkan dia, dan minta maaf yang baik. Jangan menjadi seperti Pamanmu, yang mengorbankan Ras Naga untuk kepentingannya sendiri," sambung Luo Yi memeluk Lin Chen.
Lin Chen teringat akan pesan yang ditinggalkan Dewi Kuxing untuk tidak membangkitkannya kembali. Tapi, untuk menghilangkan rasa bersalah yang mengganjal, ia akan mengikuti permintaan dari Ibunya untuk membangkitkan Dewi Kuxing.
Jika kepribadian Hitam yang lebih dominan di dalam tubuhnya, mungkin ia tidak akan merasa bersalah, melainkan bahagia karena memiliki murid yang mengorbankan diri untuk meningkatkan kultivasinya. Tapi untungnya Putih yang lebih dominan, dan ia tidak ditekankan untuk berganti sikap ataupun perilaku.
Yan Xue menggenggam tangan Lin Chen. "Gege, itu adalah kehidupan yang tidak Gege ingat. Xue'er bahkan pernah membuat kesalahan dan tidak mengingatnya, jangan terpuruk dalam keadaan, bangkitkan dia dan minta maaf untuk menghilangkan beban di hati," ucapnya.
Lin Chen menoleh ke kanan; melihat Yan Xue yang tersenyum indah. Ia sedikit mengangguk, merasa apa yang dikatakan Yan Xue ada benarnya, siapa tahu salah satu syarat untuk menerobos batas untuk memasuki Lord Realm adalah ketenangan hati yang tidak memiliki beban.
Lin Chen berdiri dari sofa tempatnya duduk, lalu berjalan mendatangi Dewi Kuxing yang berada di sofa lain. Ia berlutut melihat wajah Dewi Kuxing yang terlihat cerah dan tersenyum, seperti tidak ada beban sekalipun. "Keluarlah."
Cincin Jiwa memancarkan cahaya hitam dengan kilauan putih; Api Jiwa mulai keluar yang berakibat pada meredupnya cahaya dari Cincin Jiwa.
"Maafkan aku karena melanggar pesan yang kau tinggalkan, kau meminta untuk tidak pernah lagi dibangkitkan dan membiarkamu berada dalam gelap tak berujung. Tapi, jika kau sangat ingin bereinkarnasi dan hidup bahagia, siapa yang tahan," gumam Lin Chen melihat Api Jiwa.
Lin Chen mengendalikan Api Jiwa untuk memasuki dahi dari tubuh Dewi Kuxing yang kosong.
__ADS_1
Tubuh Dewi Kuxing mulai memancarkan sinar; seperti ada lampu yang berada di dalam tubuhnya. Suhu tubuhnya yang sebelumnya dingin, mulai menghangat dan jantung yang berdetak.
Lin Chen memberikan Energi Dewa untuk memberi kejutan agar Api Jiwa yang masuk mulai bangkit dan membangunkan Dewi Kuxing.
Kelopak mata Dewi Kuxing mulai bergerak, dan kemudian membukanya perlahan, memperlihatkan mata sayu yang belum benar-benar sadar. Dewi Kuxing menoleh ke kanan, melihat Lin Chen yang sedang memandanginya.
"Apakah aku di Neraka?"
Lin Chen terdiam memejamkan mata dengan senyum canggung yang terlihat; tidak bisa menyangkal jika ia disamakan dengan Neraka oleh Dewi Kuxing, karena memang apa yang dilakukannya sangat keterlaluan.
Dewi Kuxing memejamkan matanya dan berucap dengan suara pelan, "Jika ini adalah Neraka—"
Lin Chen menggenggam tangan Dewi Kuxing. "Ini bukan Neraka, aku membangkitkan dirimu yang telah hancur. Untungnya, kau mati karena keinginan sendiri, bukan karena hancurnya Esensi Jiwa. Sehingga aku masih bisa mengumpulkan semua pecahan jiwa mu."
Dewi Kuxing membuka matanya; mengamati pria di depannya dan mulai merasakan hangat dari tangan Lin Chen. Akhirnya, ia menyadari bahwa dirinya kembali hidup.
"Aku sudah menjadi manusia biasa, apakah kau akan kembali menyiksaku untuk membalas perbuatanku?" tanya Dewi Kuxing—ia sudah pasrah jika memang harus menerima siksaan yang tidak pernah bisa ia lupakan.
Lin Chen menggeleng pelan dan menjawabnya, "Tidak, aku membangkitkanmu karena ingin meminta maaf. Maaf karena sudah memperlakukanmu dengan buruk, meski kau adalah muridku ..."
Dewi Kuxing membuka matanya lebar dan mulutnya juga terbuka; tidak mengharapkan akan mendengar permintaan maaf dari Lin Chen, orang yang ia kagumi dan sangat ia benci.
Dewi Kuxing mendongak; melihat seorang wanita muda yang struktur wajahnya terlihat mirip seperti Lin Chen. Walaupun tidak pernah melihatnya, ia bisa menebak jika itu adalah ibu Lin Chen.
"Bisakah aku memanggilmu 'Master'?" tanya Dewi Kuxing berharap—sudah menjadi impiannya sejak lama untuk bisa memanggil Lin Chen dengan sebutan Master atau Guru, untuk memperjelas hubungan mereka.
Lin Chen tertegun dengan mulut terbuka, kemudian ia tersenyum tipis dan menjawab, "Iya, kau bisa memanggilku begitu."
Dewi Kuxing tersenyum cerah menjelaskan kebahagian, lalu mengalihkan pandangannya pada Yan Xue yang berdiri di sebelah Lin Chen. "Apakah Anda istri Master?"
Yan Xue menganggukkan kepalanya. "Iya, aku meminta maaf atas nama suamiku karena perlakuannya padamu," ucapnya membungkuk.
Dewi Kuxing hanya diam dan tersenyum hangat seraya menganggukkan kepala.
Lin Chen berdiri, kemudian melangkah mundur dan membiarkan para wanita berbicara. Ia kembali duduk di sofa, dan memikirkan syarat-syarat untuk menembus Ranah Lord Realm selain dari Point Pengalaman.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1