
Lin Chen melepaskan semua formasi array dan mengambil semua peti mati yang ia simpan dengan baik selama ini tanpa ada perubahan, semua tubuh kosong di dalam peti mati juga sangat terawat tanpa mengeluarkan aroma busuk.
Lin Chen membawa semua peti mati itu ke perbukitan luas yang mampu untuk menampung sekitar 901.197 peti mati di atas sana. Sebelumnya tidak sanggup, tapi karena ada perubahan, wilayah perbukitan hijau semakin meluas.
Sesaat setelah peti mati mendarat di atas rerumputan, peti mati itu mulai tenggelam, menyatu dengan lingkungan sekitar dan memperlihatkan tubuh kosong yang masih sangat terjaga.
"Dao Dewa. Berkah." Lin Chen merentangkan kedua tangannya.
Fluktuasi energi yang hampir serupa namun tak sama dengan energi spiritual itu berkumpul di langit, menciptakan cincin Dewa yang sangat besar di sana. Cincin itu mulai memperlihatkan sinar putih bersih yang memandikan semua tubuh.
Tubuh mereka mengalami perubahan pada bagian fisik yang lebih kuat dari sebelumnya, fondasi kultivasi juga semakin kokoh.
Lin Chen mengarahkan tangan kanannya ke depan dan sedikit terangkat. Tiba-tiba, angin kembali bertiup kencang namun tidak sampai membuat kehancuran. Tidak lama kemudian, tercium aroma yang sangat segar dan harum, serta mengandung banyak sekali esensi kehidupan.
Aroma itu berasal dari ratusan Buah Dao yang ukurannya sebesar kelapa, warnanya juga berbeda dari yang sebelumnya berwarna merah. Warna Buah Dao ini benar-benar putih dengan pola emas di permukaannya.
Semua jiwa di belakang Lin Chen, meski mereka tidak bisa berbicara untuk saling berkomunikasi, tapi mereka melihat dengan jelas apa yang dilakukannya saat ini. Mereka sangat takjub dengan pemandangan di depan mereka, seperti ada Dewa yang turun dari Surga.
Dengan mengepalkan tangan, ratusan Buah Dao meledak dan berubah menjadi kabut asap halus yang perlahan memasuki tubuh kosong melalui pori-pori kulit. Kulit pucat mereka mulai ada perubahan, kulit putih mereka secara signifikan menjadi cerah dan mulai hangat kembali.
Lin Chen kembali meletakkan kedua tangan yang hampir bersentuhan di depan dada. "Dao Dewa. Kelahiran, Pengembalian Jiwa!" Ia mendorong kedua tangannya ke depan.
Wush! Wush! Wush!
Inti Jiwa, Api Jiwa dan Jiwa Kecil mulai bergerak secara bersamaan mengarah pada tubuh kosong yang tergeletak di atas rumput, dengan bunga-bunga yang berada di sekitar. Semua jiwa melambat sesaat hampir memasuki dada, yang kemudian masuk secara perlahan.
Walaupun semua jiwa sudah memasuki tubuh masing-masing, mereka masih belum sadarkan diri.
Lin Chen duduk bersila di udara tanpa alas, namun benar-benar terlihat seperti sedang duduk di lantai keras. Ia menutup matanya perlahan, dan ada fluktuasi energi yang menyelimuti tubuhnya mulai membentuk sesosok pria besar.
Sosok itu tidak terlihat wajahnya, hanya memperlihatkan bagian atas perut sampai lehernya saja. Mengenakan pakaian berwarna putih yang berlapis-lapis, dan ada cincin besar di belakang punggungnya yang hanya terlihat setengahnya saja.
__ADS_1
"Dao Dewa. Kelahiran, Hidup."
Sosok itu mengarahkan telapak tangannya pada ratusan ribu orang yang tergeletak di atas rerumputan. Telapak tangan itu mulai bersinar dan memandikan semua tubuh yang di sana, membuat tubuh mereka mulai menghangat serta kembali cerah dari sebelumnya, serta mulai ada denyut nadi di pergelangan tangan.
"Hah..." Lin Chen mengembuskan napas panjang dan membuka matanya perlahan, menghilangkan sosok besar yang menyelimuti tubuhnya.
Lin Chen menundukkan kepalanya melihat semua orang, dan air matanya mulai terbendung di kelopak mata saat melihat Yan Xue yang secara perlahan mulai duduk.
Dalam sekejap, Lin Chen berpindah dan tiba di depan Yan Xue, kemudian memeluk erat. "Xue'er, Xue'er, Xue'er..."
Pandangan Yan Xue masih kosong seperti jiwanya belum benar-benar menyatu dengan tubuh fisik, tapi tidak sampai sepuluh detik, matanya mulai berkilau dan menunduk. "Gege..." Ia mengusap lembut puncak kepala Lin Chen yang membenamkan wajah di dadanya.
"Maaf, maaf, maaf..." Lin Chen memeluk erat pinggang Yan Xue dan wajahnya mulai menurun, dari yang berada di dada, kini turun ke pangkuan Yan Xue.
Yan Xue mengencangkan bibirnya mencoba menahan tangis saat melihat Lin Chen yang seperti ini, tapi ia benar-benar tidak bisa menahannya. Air matanya mulai mengalir dari sudut mata, mengalir turun membasahi wajah dan berkumpul di dagu.
Begitu pun dengan Lin Chen, ia juga menangis saat melepaskan semua emosinya yang ia tahan. Air matanya mengalir dari pipi kanan dan mengenai punggung tangan kiri Yan Xue, kemudian jatuh ke atas rumput.
Tiba-tiba, tempat yang terkena jatuhan air mata Lin Chen itu mulai menciptakan mata air yang mengalir deras, membentuk sebuah sungai deras yang mengandung energi spiritual yang sangat murni.
Karena Lin Chen menangis ini, ada fenomena lain yang benar-benar terlihat jelas. Pohon-pohon tinggi mulai membungkuk ke arah Lin Chen, bunga, rumput, dan semua tumbuhan lainnya juga melalukan hal yang sama.
Langit juga berubah menjadi mendung, namun hanya bagian di atas Lin Chen saja yang masih terlihat cerah.
Banyak yang melihatnya menangis, tapi ia tidak peduli sama sekali dengan pandangan semua orang, karena ia ingin melepaskan kerinduannya pada Yan Xue.
"Chen Gege ..." Yan Xue mengusap lembut kepala Lin Chen dengan air matanya yang masih mengalir tanpa henti. "Sudahlah, Xue'er tidak ingin melihat Gege seperti ini."
Lin Chen melepaskan pelukannya dan duduk saling berhadapan dengan Yan Xue. Ia mulai mengusap air matanya dengan kedua lengan, kemudian membawa Yan Xue pergi ke Kediaman Jinguang Long.
"Kalian semua, datang ke Kediaman Jinguang Long." Ia mengirimkan transmisi suara pada orang-orang penting.
__ADS_1
Ketika Lin Chen terbang, semua tumbuhan dan langit kembali ke bentuk normal mereka seperti tidak terjadi apa-apa. Namun untuk Sungai Spiritual yang tercipta karena air matanya, itu semakin melebar dan panjang, sungai itu bisa digunakan untuk membuka Jalur yang dan meningkatkan bakat kultivasi.
Lin Chen yang sudah mendarat itu langsung menghentakkan kaki kanannya, memunculkan awan tebal di atas Kediaman Jinguang Long. Tapi bukan awan tebal yang jadi pusat utama, melainkan bangunan yang tiba-tiba terbangun di atas awan.
"Chen Gege ..."
Lin Chen menundukkan kepalanya menatap wajah Yan Xue yang sedang ia gendong dengan kedua tangan. "Aku merindukanmu." Ia mengecup lembut kening Yan Xue.
"Aku akan menjelaskan semuanya." Lin Chen merasa ini sudah waktunya ia menceritakan tentang peristiwa di Alam Selestial dan perubahan yang terjadi di Alam Bawah.
Walaupun tidak tahu apa yang dikatakan, Yan Xue hanya tersenyum hangat dan menganggukkan kepalanya. Sebagai seorang istri, ia akan selalu mendukung keputusan Lin Chen, dan mencoba membantu apa pun yang bisa ia lakukan.
Lin Chen melompat ke atas awan tebal di langit, dengan tetap membawa Yan Xue yang melingkarkan kedua tangan di lehernya. Kemudian ia memasuki bangunan yang sangat besar dan tinggi, berwarna putih bersih tanpa ada warna lain.
Di sana sudah ada kursi-kursi yang tersusun rapi, dan Lin Chen langsung menaiki tangga sedikit satu meter, berjalan menuju kursi utama yang muat untuk tiga orang dewasa duduk bersama.
Lin Chen berbalik, melihat pintu keluar yang terbuka lebar, kemudian ia menekuk kedua lututnya dan duduk di kursi utama, dengan Yan Xue yang duduk di pangkuannya.
Cukup lama untuk menunggu kedatangan yang lain, mungkin karena tempat yang ia bangun kali ini terlalu tinggi bagi mereka semua untuk sampai di sini. Tapi jika mereka tidak bisa naik ke sini, maka ia tidak akan memberi tahu mereka yang tidak bisa mencapainya.
Yan Xue yang duduk menyamping di pangkuan Lin Chen itu memandangi wajah suaminya yang mulai ada perubahan di ekspresi wajahnya, yang terlihat menyimpan banyak sekali rahasia dan beban. "Pasti berat ..."
Lin Chen tertegun dengan mulut sedikit terbuka, kemudian tersebar tipis dan menundukkan kepalanya. "Iya, ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan ..."
Tentu saja ia masih merasakan sakit, bagaimanapun ia melihat semua mayat orang yang disayanginya secara bersamaan, termasuk mereka yang mengikutinya.
Yan Xue mengepalkan tangannya, kemudian menyentuh dada Lin Chen dan juga menyandarkan kepalanya.
Lin Chen menunduk menatap wajah Yan Xue, kemudian kembali mendongak saat merasakan kedatangan orang-orang yang ia kirimkan pesan satu per satu.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...