
Karena Dewi Alam sudah bisa diserang menggunakan serangan fisik ataupun kemampuan dari energi, Lin Chen melepaskan Topeng Iblis yang ia kenakan. Sikapnya kembali berubah, tidak lagi seperti binatang liar karena Iblis di dalamnya mulai meredup.
Mengenakan atau tidak, tidak ada perbedaan yang pasti. Topeng Iblis hanya berefek pada penglihatannya yang semakin tajam, serta kepekaan terhadap aura yang serupa dengannya. Tapi, efek utamanya adalah untuk meningkatkan haus darahnya akan membunuh.
Lin Chen menggantungkan Topeng Iblis di pinggangnya seperti saat belum dikenakan. "Aku tidak terlalu suka menyiksa orang, karena itu, aku akan memberikan kau kematian yang cepat."
Dewi Alam yang menengadahkan kepala melihat Penyegelan Semesta, menunduk melihat Lin Chen dengan tatapan aneh dan menghina. "Bodoh, walaupun kau berhasil melukaiku, kau tidak akan bisa menang."
Lin Chen mengembuskan napas panjang, mengeluarkan Pedang Dewa yang panjangnya setengah dari tinggi tubuhnya. Ia mengalirkan Energi Dewa ke Pedang Dewa, memberikan efek energi seperti gergaji mesin yang terus bergerak-gerak.
"Aku tidak peduli." Lin Chen muncul di depan Dewi Alam dalam waktu singkat, sampai Dewi Alam tidak menyadari jika ia sudah berpindah. Ia mengangkat Pedang Dewa, mengayunkannya mengarah pada kepala Dewi Alam.
Dewi Alam membelalakkan matanya ketika melihat Lin Chen yang sudah di depannya, ia tahu jika kecepatan Lin Chen tidak seperti ini saat pertama kali bertemu dan bertarung tadi.
"Sial!" Dewi Alam mengumpat kesal sembari melepaskan auranya yang selama ini ia tahan karena tidak ingin menembus tahap Akhir.
Bang!
Energi lima warna menyelimuti tubuh Dewi Alam, menghempaskan Lin Chen menjauh darinya dan berhasil menembus tahap Akhir. Dewi Alam juga kembali tenang seperti sedia kala, tidak ada rasa takut maupun gugup.
Lin Chen yang terhempas langsung mengubah tubuhnya menjadi kabut putih untuk mengendalikan tubuhnya. Ia yang sudah bisa mengendalikan tubuhnya, tetap berdiri diam di tempatnya dan tidak lagi mendekati Dewi Alam.
Dewa bisa menyerang hanya dengan pikiran, tapi, aku lupa bagaimana cara melakukannya.
Lin Chen mengambil kain hitam dari dalam Cincin Ruang, lalu mengingatnya untuk menghalangi kedua matanya yang tertutup. Ia ingin fokus pada yang lain, tidak selalu menggunakan kedua matanya saat melakukan serangan.
Dewi Alam merasa terhina dengan tingkah Lin Chen yang menutup mata saat dalam pertarungan hidup dan mati seperti ini. "Tenang ..." Ia menghela napas panjang, menenangkan dirinya.
Dewi Alam mengangkat tangannya mengarahkan pada Lin Chen yang sedikit lebih rendah darinya. "Dao Alam. Pertumbuhan, Akar Kayu!"
Fluktuasi energi kuat berkumpul di sekitar Lin Chen yang masih menutup mata tanpa bergerak sama sekali di tempatnya. Dari fluktuasi energi itu menciptakan pusaran cahaya berwarna biru, yang dari dalamnya terlihat ada tunas baru yang tumbuh, melesat tajam mengarah pada Lin Chen seperti tentakel.
Lin Chen mengembuskan napas panjang, ada embun dingin yang keluar dari dalam mulutnya. Tiba-tiba, ia mendongakkan kepalanya.
Boom!
Akar-akar pohon meledak hanya karena Lin Chen yang mendongak, mengubahnya menjadi debu yang melayang di angkasa luar.
__ADS_1
Lin Chen sedikit menoleh ke kanan, menciptakan sebuah fenomena terhadap serpihan kayu yang kembali bergabung atas kendalinya sendiri, tidak lagi dalam kendali Dewi Alam. Serpihan kayu itu membentuk ratusan bola sebesar kepalan tangan, yang mengeluarkan kilatan-kilatan petir.
"Pergi!" Lin Chen berteriak lantang, membuat ratusan bola kayu itu melesat bagikan kilatan cahaya ke arah Dewi Alam.
Dewi Alam mengarahkan tangannya lagi mencoba menciptakan akar kayu lain. Namun, akar kayu yang baru muncul dari pusaran cahaya langsung meledak tak bersisa karena terkena sambaran petir.
Lin Chen tersenyum tipis dengan salah satu sudut bibirnya yang terangkat, merasa puas karena tindakan yang ia ambil ternyata membuahkan hasil. Sebelumnya ia menghancurkan serangan Dewi Alam, memanfaatkan energi yang berada di dalamnya, dan mengubahnya menjadi miliknya.
Setiap kali Dewi Alam menggunakan Element Kayu sebagai serangan, petir-petir yang mengelilingi bola kayu itu akan langsung menyerang sampai hancur.
Tubuh Lin Chen pecah menjadi kilatan petir yang pergi menghampiri Dewi Alam, bersamaan dengan serangan yang ia beri nama Bola Petir. "Sepertinya kau terlihat panik." Ia mengulurkan tangannya mencoba menangkap Dewi Alam.
Dewi Alam tersentak akan kemunculan Lin Chen yang tiba-tiba. Kekuatannya yang sekarang terasa lebih lemah meski sudah menembus tahap Akhir, ini semua karena Penyegelan Semesta yang membuatnya tidak berdaya.
Dewi Alam melangkah mundur, mencoba menjauh dari jangkauan Lin Chen.
"Datang." Lin Chen tersenyum ringan seraya mengangkat kedua jarinya di depan wajahnya.
Bola Petir bergerak ke belakang Dewi Alam dan melepaskan benang petir yang saling terhubung satu sama lain, membentuk sebuah jaring besar yang menutup jalan Dewi Alam untuk melarikan diri.
Dua jaring petir dari dua arah yang berlawanan itu saling terhubung oleh benang petir. Benang petir yang mampu mengacaukan aliran energi siapa saja yang berdekatan dengannya, terlebih lagi apabila terkurung di dalamnya.
Dewi Alam melihat sekitarnya, lalu menunduk melihat telapak tangannya sendiri. "Bagaimana, aku yang sudah menerima Pendewaan, bisa sampai kehilangan kendali atas energinya sendiri— Hook!"
Lin Chen berhasil mencengkeram leher Dewi Alam setelah banyak usaha yang ia lakukan. "Akhirnya, kau tidak bisa berubah lagi menjadi air ataupun udara, Element Kayu yang kau keluarkan juga akan langsung meledak."
"Awalnya, aku menganggap mu sebagai lawan yang lebih menyusahkan dari Dewa Pedang dan Phoenix, tapi ternyata kau adalah lawan yang sangat mudah untuk dikalahkan."
Dewi Alam menggertakkan giginya seraya mengepalkan kedua tangannya. Ia yang hendak melakukan serangan dengan mengangkat tangan, tapi saat itu juga kedua tangannya merentang secara paksa akibat terikat oleh rantai petir yang sangat kuat.
Wosh!
Energi Iblis menyelimuti tubuh Lin Chen seperti nyala api yang menambahkan aura mengerikan yang ia keluarkan. Energi Iblis itu mulai berkumpul di belakang punggungnya, membentuk sosok merah dengan empat tangan, dua tanduk mencuat di pelipis, serta taring tajam.
Ukuran tubuhnya sendiri sekitar tiga kali ukuran Lin Chen, dengan mulutnya yang bisa terbuka lebar sampai tinggi satu meter.
Dewi Alam gemetaran ketika melihat Iblis di belakang Lin Chen, merasakan perasaan tidak berdaya. "Sia— Aarrgh— Eek!" Ia yang berteriak kesakitan itu tertahan ketika cengkeraman Lin Chen lebih kuat lagi sampai menembus tenggorokannya.
__ADS_1
Iblis yang di belakang Lin Chen, mengulurkan dua tangannya untuk mencengkeram tubuh Dewi Alam, dan dua tangan lainnya memegangi dua tangan Dewi Alam yang merentang.
Zrash!
Iblis itu merobek tangan Dewi Alam, lalu melemparkannya ke dalam mulut, mengunyah dan menelannya.
Dewi Alam tersentak ketika merasakan rasa yang tidak pernah ia rasakan selama ia hidup. Ini terlalu menyakitkan saat kedua tangannya terputus, yang kemudian energi di dalam tubuhnya meledak-ledak. Tapi, yang lebih membuatnya terluka, adalah melihat dua tangannya yang disantap oleh Iblis.
Jleb!
Cambuk Iblis menembus dada Dewi Alam daei belakang, terlihat ada darah yang mengalir dari sela-sela luka dan Cambuk Iblis. Cambuk itu mulai mengeluarkan api ungu, yang berubah menjadi merah bersamaan dengan mengeringnya tubuh Dewi Alam.
"Mungkin kau bertanya-tanya mengapa ini terjadi meski kita tidak memiliki masalah. Kau hanya bisa menyalahkan Dewi Kuxing atas semuanya, dia menghajar ku habis-habisan. Tapi ..."
Lin Chen mendekatkan wajahnya dan melepaskan cadar hijau muda yang dikenakan Dewi Alam. "Kau juga ikut menyerangku saat di Ruang Para Dewa."
Dewi Alam tidak bisa berkata-kata dan tidak bertanya bagaimana Lin Chen bisa mengetahui penampilannya meski saat di Ruang Para Dewa sangatlah gelap, termasuk sekarang yang sedang mengenakan penutup mata. Kesadarannya mulai menipis karena kekuatannya yang terus-menerus mengering.
Lin Chen mengangkat kakinya dan menendang perut Dewi Alam, membuatnya terhempas sangat jauh. Ia mengangkat tangannya yang diselimuti energi kuat bercahaya merah. "Dao Iblis, Kehancuran. Tapak Kematian!"
Bang!
Lin Chen menyentuhkan kedua telapak tangannya, menciptakan dua telapak tangan merah sebesar bintang yang mengepung Dewi Alam di tengah-tengahnya. Dua telapak tangan itu saling bersentuhan, mengakibatkan ledakan energi yang sangat besar dengan api yang membakar.
Tidak ada yang istimewa dari membunuh Dewi Alam setelah banyak membunuh Dewa dan Dewi.
"Belum, belum, belum ..."
"Sekarang!"
[Ding~ Berhasil Membunuh God Realm tahap Akhir. Mendapatkan 15.000 Sektiliun Point Pengalaman +25% dan 1500 Sektiliun Point System]
...
***
*Bersambung...
__ADS_1