Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 155 : Alam Suci


__ADS_3

Tidak lama setelah tiga serangan meluluhlantakkan Gurun Du, serangan itu pecah dan menghilang begitu saja dari pandangan. Terlihat Gurun Du yang sudah tidak beraturan, Hutan Kehidupan juga terbakar habis menjadi abu yang tertiup angin, pasir cokelat meleleh dan mengeras menjadi kaca.


"Kau lihat ..." Lin Chen menoleh ke kanan menatap Yan Xue seraya menunjuk ke arah bawah. "Anak-anak sudah hebat, jadi Xue'er jangan terlalu khawatir lagi."


Yan Xue hanya diam tidak menanggapi perkataan Lin Chen, meski ia tahu anak-anaknya sudah sangat kuat, tapi sebagai seorang Ibu yang melahirkan mereka, ia tetap sangat khawatir.


Xue Ying yang dari tadi hanya diam, tidak tertarik dengan latihan anak-anak, akhirnya berjalan menghampiri Lin Chen sembari berucap, "Tapi, bukankah Ibu juga mengkhawatirkan Kakak, bahkan saat Kakak sudah menjadi Dewa?"


"Ibu mengatakannya seperti ini 'Chen'er sayang, jangan buat Ibu khawatir', begitulah Ibu mengatakannya."


Lin Chen terdiam dengan tangan terkepal di depan dada, benar-benar ingin sekali rasanya memberikan pukulan kecil di kepala Xue Ying.


Yan Xue terkekeh kecil saat melihat Xue Ying yang berlagak seperti Luo Yi, bahkan sampai mempraktikkan gerakannya dengan cara mengusap pipi Lin Chen.


Xue Ying pergi menjauh dari Lin Chen, lalu melompat turun dari Profound Ark.


Lin Chen dan Yan Xue juga melompat, bersamaan dengan menghilangnya Profound Ark yang sudah disimpan di dalam Inventory System.


"Kalian semua sudah meningkat pesat, kerja sama kalian bertiga juga sudah tertata rapi, bahkan tanpa harus berkomunikasi satu sama lain." Lin Chen melayang turun menghampiri Lin Qiao Jianying yang berada paling dekat dengannya.


Lin Qiao Jianying berbalik. "Ayah!" Ia memeluk erat pinggang Lin Chen.


Lin Chen mengusap lembut kepala Lin Qiao Jianying yang tingginya sudah sejajar dengan bawah dadanya. Pertumbuhan anak-anaknya cukup cepat setelah menyerap Air Surgawi, yang mana saat masih di Semesta Pedang, Lin Qiao Jianying hanya sebatas pahanya saja.


"Apakah kalian ingin berjalan-jalan lagi, atau sudah cukup sampai di sini?" Lin Chen sudah merasa bosan, dan ia merasa ini sudah waktunya untuk menyerap Pil Dewa sedikit demi sedikit.


Ia berencana mengasingkan dirinya selama beberapa bulan atau tahun di Semesta Shangdi yang diciptakannya, meski di sana masih kosong tanpa ada kehidupan. Namun, sedikit banyaknya ini juga berdampak pada peningkatan kekuatannya.


Kemudian, karena Semesta Shangdi masih kosong tanpa kehidupan, ia bisa dengan bebas melakukan apa pun di sana, seperti mengurung Monster Kuno untuk pelatihannya.


Namun daripada memikirkan tentang latihannya, ia harus memikirkan bagaimana cara untuk bisa meninggalkan anak-anak tanpa membuat mereka khawatir, sedih dan marah.

__ADS_1


Satu-satunya cara mungkin menunggu Lin Da Zixuan sedikit dewasa, yang artinya masih delapan tahun lagi, mungkin terdengar sebentar saja bagi seorang Kultivator, namun itu adalah waktu yang sangat lama untuk Lin Chen yang sedang dikejar waktu.


Lin Qiao Jianying melepaskan pelukannya, kemudian berbalik melihat Gurun Du yang sudah tidak beraturan lagi, seperti telah terkena musibah.


"Jian'er, Jian'er ingin melihat semuanya, tapi, Jian'er ingin pergi ke kota." Lin Qiao Jianying juga sudah merasa bosan dengan lawan yang sama, selalu melawan monster.


Seperti yang dikatakan Ayahnya, Lin Qiao Jianying merasa harus melawan manusia untuk bisa bepergian sendiri dan tidak membuat khawatir orangtuanya. Ia merasa tidak mungkin akan selalu bersama, karena ia tidak ingin membuat namanya terkenal dengan bantuan orangtuanya.


"Ayah, Jian'er berencana untuk berkelana seorang diri—"


"Tidak!" Yan Xue tidak setuju dengan gagasan Lin Qiao Jianying. "Ibu tidak setuju, Jian'er baru berusia sepuluh tahun, jangan berpikiran untuk pergi dari Ibu." Ia memeluk erat Lin Qiao Jianying.


Lin Qiao Jianying tertegun untuk beberapa saat, kemudian tersenyum hangat merasakan kehangatan dari pelukan Ibunya. "Jian'er tahu, Jian'er akan pergi berkelana saat sudah dewasa. Saat itu tiba, Jian'er yakin sudah mencapai Kaisar Dewa ..."


"Jian'er tidak berencana untuk berpetualang di Semesta Lantian ini. Jian'er akan mulai dari Semesta Yongheng." Lin Qiao Jianying sudah membicarakan hal ini dengan Lin Chen, dan mendapatkan saran untuk memulainya dari bawah.


Yan Xue melepaskan pelukannya, menatap wajah Lin Qiao Jianying. "Tapi ..."


"Lima belas tahun." Lin Chen menyanggah perkataan Yan Xue, kemudian berjalan menghampiri dan berdiri di belakang Yan Xue. "Ayah akan mengizinkanmu pergi setelah berusia lima belas tahun, artinya, hanya tersisa empat tahun delapan bulan."


Lin Mein An terdiam dengan kepala tertunduk, ia merasa sedih karena hanya tersisa sedikit waktu yang bisa ia habiskan.


Lin Chen sedikit tipis seraya mengembuskan napas, kemudian kembali berucap, "Tapi, Ayah tidak memaksamu untuk bepergian saat itu juga, Mei'er bisa pergi bersama menunggu Jian'er."


"Ayah tidak masalah jika kalian tetap ingin bersama meski sudah berusia tiga puluh tahun atau lebih. Tapi, syarat untuk pergi melihat dunia luar, harus berusia lima belas tahun."


Hanya Lin Da Zixuan yang terlihat tidak senang, karena ia harus menunggu waktu yang cukup lama untuk bisa bepergian seperti Kakak-kakaknya.


"Apakah Xuan'er tidak ingin bersama Ayah? Itu menyakiti hati Ayah jika Xuan'er tidak senang."


Lin Da Zixuan tersentak saat mendengarnya dan terlihat kebingungan harus mengatakan apa. "I- I- Itu. Bu- Bukan itu, Zixuan ingin bersama Ayah. Ta- Tapi, Zixuan juga ingin pergi bersama Kakak."

__ADS_1


Lin Chen tersenyum ringan dengan sedikit tertawa dan mengacak-acak rambut Lin Da Zixuan. "Baik-baik, Xuan'er bisa ikut bersama dengan Kakakmu, tapi saat itu tiba, Xuan'er harus bisa menembus Kaisar Dewa. Apakah bisa?"


Tidak ada keraguan di matanya, Lin Da Zixuan terlihat sangat yakin dan sudah bertekad. "Bisa! Zixuan akan menembus Kaisar Dewa dalam waktu empat tahun!"


Lin Qiao Jianying menoleh menatap Adiknya yang sangat yakin, kemudian ia mendengkus seraya berdiri dengan berkacak pinggang. "Kalau begitu, Jian'er akan menembus Immortal God!"


Lin Mein An tidak terlihat bersemangat, lebih tepatnya tidak terlalu bisa mengekspresikan dirinya seperti Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan, meski ia sangat senang bisa pergi bersama-sama.


Lin Chen tersenyum tipis dan mengangkat tubuh semua orang dengan kekuatan jiwanya, membuat mereka semua merasa heran tak mengerti apa yang akan dilakukannya. Ia mengangkat kakinya, kemudian menghentakkan kakinya cukup keras.


Getaran hebat terjadi di Gurun Du, bahkan sampai membuat pasir mulai melompat-lompat seperti ikan hidup yang langsung dilemparkan ke dalam minyak panas. Hingga tak lama, tiba-tiba Gurun Du terbelah dua, menjatuhkan pasir seperti air terjun yang memasuki celah.


Dari luar tidak terlihat apa pun dan sangat gelap, tapi itu adalah hal yang wajar, mengingat seberapa dalamnya tempat rahasia di bawah Gurun Du.


Lin Chen melompat turun ke dalam Gurun Du membawa yang lain dengan kecepatan yang terbilang sangat lambat.


Membutuhkan setidaknya enam jam untuk sampai, memang sengaja diperlambat, agar tidak mengejutkan anak-anak yang kekuatannya masih sangat lemah dan tidak mampu menahan kecepatan Lin Chen.


Ketika sudah sampai di dasar yang merupakan Alam Suci, hal pertama yang dirasakan adalah perubahan aura spiritual yang sangat kental dan padat, aura di sini berkali-kali lipat dari Air Surgawi.


Lin Chen membawa yang lain ke tepian sungai yang mengalir pelan di dekat pohon yang menjulang tinggi, setidaknya berusia lebih dari 100.000 tahun.


"Kalian bertiga, kalian bisa berkultivasi di tepi sungai. Aliran energi spiritual di sana lebih banyak dan murni dari tempat lainnya."


Lin Chen melihat sekitarnya, selain dari sungai dan pohon, ia juga melihat banyak sekali rempah-rempah maupun herbal berharga yang usianya tidak jauh berbeda dari pohon tinggi. Barisan bukit hijau dan lain sebagainya, ini seperti geografis pada umumnya.


Ketiga anaknya mulai berjalan ke tepi sungai dan mengambil posisi duduk bersila dengan mata terpejam, kemudian mengambil napas panjang dan mempraktikkan Teknik Budidaya untuk menyerap aura spiritual di sini.


Lin Chen juga memberikan dukungan, seperti mengambil Pil Dewa yang sudah ia pecah dengan ukuran seperti sebutir beras.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2