Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 093 : 5 Tahun Kemudian


__ADS_3

Lin Qiao Jianying sudah berusia satu minggu dan matanya berwarna hitam, kekuatannya juga cukup besar untuk ukuran bayi yang baru lahir, yang mana sudah mencapai Ranah Half God saat awal lahir. Dengan kekuatan seperti itu, tentunya masa depan Lin Qiao Jianying tidak terbatas.


Tapi Lin Chen berharap agar putrinya tidak mengikuti jejaknya yang menjadi Dewa, karena itu terlalu berbahaya. Dalam hati kecilnya, ia menginginkan putrinya untuk hidup normal tanpa kekuatan, meski sepertinya itu tidak mungkin.


Menjadi seorang ayah ternyata tidak mudah, ia harus terjaga sepanjang malam apabila putrinya terbangun. Jika mereka manusia biasa, pastinya mata mereka sudah menghitam karena mengantuk, untungnya mereka adalah Kultivator, sehingga bisa terjaga selama ribuan tahun.


Sebenarnya Lin Chen berharap jika anak pertamanya adalah laki-laki, tapi tidak mungkin, kan, ia mengeluh di depan Yan Xue. Lagi pula, mereka juga berencana menambah keturunan lagi, tapi untuk saat ini lebih baik merawat Lin Qiao Jianying sampai bisa berjalan dan berbicara.


Walaupun ia Dewa dan bisa menciptakan kehidupan manusia, entah pria atau wanita. Ia tidak ingin mengubah gender bayi kecilnya saat masih di dalam kandungan Yan Xue, karena itu terlalu berlebihan.


"Dia sangat lucu." Lin Chen menyentuh perut Lin Qiao Jianying dengan jari telunjuknya.


Lin Qiao Jianying tertawa kecil seraya menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.


Lin Chen mencium pipi dan kening Lin Qiao Jianying secara bergantian. "Putri kecilku sangat cantik."


Yan Xue yang duduk di depan Lin Chen dengan kaki terlipat itu nampak sedikit kesal karena dari awal Lin Chen yang bermain dengan Lin Qiao Jianying, sedangkan ia hanya melihatnya. "Huh!"


Lin Chen menggendong Lin Qiao Jiaying. "Lihat, Ibu sedang kesal."


Lin Qiao Jianying memiringkan kepalanya, lalu tertawa seraya menepuk-nepuk telapak tangannya.


Lin Chen dan Yan Xue sangat bahagia dengan kehadiran Lin Qiao Jianying di antara mereka berdua. Lin Chen sangat ingin hal ini terus berlangsung selamanya tanpa harus memikirkan tentang yang lain, namun ia paham hal itu masih jauh untuk bisa diwujudkan. Ia harus membunuh Dewa dari Semesta Kuxing, barulah hidupnya bisa tenang.


Kehidupan tenang mereka terus berlanjut dan selalu sama, sampai akhirnya tiga bulan berlalu, Lin Qiao Jianying sudah bisa merangkak serta berbicara, meski masih tidak terlalu jelas apa yang diucapkan.


***


5 Tahun Kemudian


Dalam waktu lima tahun terakhir, ia tetap berada di Kota Zhan tanpa pergi ke mana pun dan mengurus Lin Qiao Jianying. Serta, anak kedua yang merupakan seorang laki-laki berambut hitam, mata cokelat dengan alis berwarna hitam.


Yang diturunkan dari Lin Chen untuk putranya adalah hidungnya yang mirip, dan alis tajam bagaikan pedang.


Putranya bernama Lin Da Zixuan, sama-sama memiliki nama dengan empat suku kata. Da memiliki arti pencapaian, kecerdasan, hebat dan besar. Zixuan memiliki arti tinggi.

__ADS_1


Lin Chen ingin putranya menjadi pria yang hebat dengan pencapaian yang luar biasa, serta memiliki kedudukan tinggi di masa depan nanti.


Untuk kekuatan Lin Da Zixuan sendiri sama-sama Half God saat lahir, dengan fenomena yang hampir serupa. Namun bukan Naga Putih yang berputar-putar di langit, melainkan manusia dengan sayap yang merupakan Tubuh Suci, serta ada cambuk-cambuk di bagian pinggang.


Jika Lin Qiao Jianying mendapat Tubuh Dewa Naga dan Dewa. Lin Da Zixuan mendapat Tubuh Suci dengan Iblis.


Perbedaan usianya sendiri adalah dua tahun, saat Lin Qiao Jianying memasuki usia satu tahun, Lin Chen dan Yan Xue memutuskan untuk berhubungan lagi, dengan harap dapat memberikan adik untuk putri kecil mereka.


Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan juga cukup akrab dengan Paman (Lin An Guang) maupun Bibi (Lin An Peiyu) mereka berdua, meski perbedaan usia mereka tidak terlalu jauh. Sikap mereka juga sangat menghormati, sepantasnya keponakan bersikap pada pamannya.


Lin Chen juga mengajarkan keduanya berlatih dan mengendalikan kekuatan mereka berdua, seperti sekarang ini di mana mereka berlatih di hamparan rumput di bawah Pohon Dewa.


Lin Da Zixuan yang mengayunkan pedang kayu kecil itu kelelahan dan terduduk di atas rumput kering. "Ayah, Zixuan lelah..."


Lin Qiao Jianying berjalan menuju Adiknya seraya berkacak pinggang. "Xuan, kita baru berlatih setengah jam. Jangan manja!" Ia sedikit berteriak.


Lin Chen menggeleng pelan seraya berdiri dari atas alas di permukaan rumput. Ia berjalan menghampiri putra dan putrinya itu. "Sudahlah, jangan terlalu keras dengan Adikmu." Ia mengusap lembut puncak kepala Lin Qiao Jianying. Lalu menoleh ke kanan seraya berjongkok. "Xuan'er, aku tahu kau masih memiliki cukup tenaga. Kau berpura-pura lelah karena ingin bermain, kan?"


Walaupun masih berusia tiga tahun, Lin Da Zixuan sudah bisa berbicara dengan lancar, dan memahami 1000 Karakter Klasik China. Begitu pun dengan Kakaknya, Lin Qiao Jianying.


Lin Da Zixuan tertawa kecil seraya menggaruk pipinya dengan memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata dari Lin Chen. "Hehehehe..." Gerakan ini sama seperti Lin Chen saat merasa canggung.


"Kalian ini, saat kalian kecil, kalian berdua sangat akur. Bahkan Ayah masih menyimpan gambar kalian berdua yang saling berpelukan, itu benar-benar manis."


Keduanya menatap satu sama lain, kemudian mendengkus kesal seraya memalingkan wajah.


Lin Chen benar-benar tidak habis pikir dengan perubahan sikap anak-anaknya. Tapi, ia merasa hal itu biasa, namun tentu saja ia tetap membatasi agar mereka berdua tidak benar-benar bertengkar.


"Ayah ingin kalian akur, oke? Ayah ingin kalian saling membantu satu sama lain, lalu untuk latihan, lakukan saja sebisa kalian. Ayah tidak memaksanya."


Keduanya menoleh secara perlahan, menatap satu sama lain lalu menganggukkan kepala. "Baik."


Lin Chen tersenyum hangat, lalu duduk saat sudah sampai di tempatnya mengamati tadi. Di sana terlihat Yan Xue yang sedang menyiapkan makanan siang sederhana, yang mana mudah untuk disantap.


Lin Da Zixuan membuka kedua tangannya, mengulurkannya ke arah Lin Qiao Jianying. "Kakak."

__ADS_1


Lin Qiao Jianying mengarahkan tangan kanannya ke arah dua tangan Adiknya, terlihat ada aliran air yang membersihkan tangan kotor Lin Da Zixuan. "Xuan sudah belajar? Biasanya selalu makan tanpa mencuci tangan. Bahkan, kau pernah makan rumput."


Lin Da Zixuan menoleh ke kiri menatap Yan Xue seraya menunjuk Lin Qiao Jianying. "Ibu, lihat Kakak. Dia menggoda Zixuan," rengeknya.


Yan Xue tertawa kecil, lalu mengeringkan kedua tangan Lin Da Zixuan dengan sapu tangan bersih seraya mengecup keningnya. "Tapi itu benar-benar lucu." Ia mengeluarkan album foto di atas karpet.


"Lihat." Yan Xue membuka album foto di mana terlihat foto-foto Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan semasa kecil.


Foto pertumbuhan mereka berdua yang diambil setiap minggu, dan ada pula foto kebersamaan, kedekatan keduanya saat masih kecil.


"Lihat! Kakak sering menghisap jari Ayah." Lin Da Zixuan menunjuk salah satu foto di album.


Lin Qiao Jianying menutupi foto yang ada di album itu dengan kedua tangan. Ada rasa kesal, meski sebagian besarnya rasa rindu.


Lin Chen mengulurkan jari telunjuknya pada Lin Qiao Jianying. "Apakah Jian'er ingin menghisapnya seperti saat kecil dulu?"


Lin Qiao Jianying menggembungkan pipinya.


"Sayang, jangan menggoda mereka berdua." Yan Xue mencubit pipi kanan Lin Chen.


"Ibu, Ibu ..." Lin Da Zixuan menarik lengan baju Yan Xue. "Apakah Ayah kuat? Zixuan ingin melihat kekuatan Ayah."


Lin Qiao Jianying menoleh ke kiri, lalu menatap Lin Chen seraya menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Benar-benar! Jian'er juga ingin tahu kekuatan Ayah. Banyak yang bilang jika Ayah sangat kuat, Jian'er sangat penasaran."


Lin Chen terdiam untuk beberapa saat, berpikir untuk tidak menunjukkan kekuatannya. Namun saat melihat ekspresi keduanya, serta nada bicara mereka yang sangat manja dengan suara merdu, ia tidak bisa menolaknya. "Baiklah, besok kita akan pergi dari kota untuk mencari monster. Ayah akan perlihatkan kekuatan Ayah."


Lin Chen merasa ini semua terlalu awal, tapi sepertinya tidak masalah karena sebentar lagi mereka akan pergi meninggalkan Semesta Yongheng, dan ini bisa dianggap sebagai pembelajaran untuk mereka.


Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan tersenyum cerah, lalu melompat ke arah Lin Chen. "Jian'er/Zixuan sayang Ayah!"


"Ibu?" Yan Xue menunjuk wajahnya sendiri.


Keduanya juga melompat ke arah Yan Xue, dan mengeluarkan perasaan mereka.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2