Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 123 : Kerja Sama Kakak Adik


__ADS_3

Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan menanggalkan senjata mereka untuk melawan Banteng Api, mereka berdua hanya perlu serangan fisik langsung. Bukan karena usulan dari Ayahnya, tapi karena keinginan mereka sendiri.


Lin Chen yang berada di kejauhan gemetar ketika melihatnya, bukan karena mengkhawatirkan tentang keselamatan anak-anaknya, melainkan mengkhawatirkan tentang keselamatan dirinya sendiri.


Bagaimanapun, Yan Xue selalu menatapnya dengan tajam. Jika hal ini terus berlanjut, ia tidak akan bisa mendapatkan jatah malam.


Kembali lagi pada Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan. Walaupun mereka berdua bisa mengalahkan Banteng Api dengan mudahnya, mereka memilih untuk bekerja sama, mengalahkan satu per satu ketimbang bersamaan.


Alasan mengapa keduanya melakukan hal itu, karena ingin meningkatkan kerja sama, terlebih lagi saat melihat Party Petualang lain.


Lin Qiao Jianying melompat cukup tinggi, datang ke tengah-tengah kawanan Banteng Api dengan posisi berlutut seraya menyentuh permukaan tanah dengan kedua tangannya. "Beku!"


Tiba-tiba ada dinding es tebal setinggi lima meter yang terbentuk di depannya, memisahkan kawanan Banteng Api dan menangkap salah satunya.


Lin Qiao Jianying berdiri seraya menarik kaki kirinya ke belakang dan memutar tubuhnya, dengan tangan kanan yang terkepal. "Xuan'er!" Ia memukul kepala Banteng Api yang hendak menyerangnya.


Banteng Api terhempas ke arah Lin Da Zixuan karena terkena pukulan Lin Qiao Jianying.


Karena Banteng Api lebih tinggi dari Lin Da Zixuan, ia sangat mudah menyerang yang menjadi kelemahan Banteng Api. Ia sudah memasang kuda-kuda, kaki kirinya di depan dengan posisi ditekuk dan kaki kanan berada di belakang.


Ketika Banteng Api hampir mengenainya, Lin Da Zixuan mengangkat kaki kanannya ke depan dan menendang Banteng Api pada bagian perutnya, membuat Banteng Api itu melesat naik ke langit.


Lin Qiao Jianying melompat sangat tinggi dengan kekuatan penuh, membuat tanah yang ia pijak menjadi berlubang dan retak. Ia yang sudah tiba di atas Banteng Api, memutar tubuhnya dan menendang punggung monster itu dengan tumitnya.


Wush! Boom!


Banteng Api kembali melesat jatuh dari langit yang tinggi, menghantam tanah dan menciptakan sebuah lubang yang cukup besar, serta ada retakan-retakan membentuk jaring laba-laba.


Lin Da Zixuan juga melakukan gerakan yang sama, ia melompat sangat tinggi seraya mengangkat kedua tangannya di atas kepala. Perlahan, mulai terbentuk batu kecil di antara kedua tangannya, yang secara signifikan mulai membesar sampai seukuran rumah kecil.


"Rasakan ini!" Lin Da Zixuan melemparkan batu besar itu pada Banteng Api yang berada di tengah-tengah lubang.


Zrash!


Banteng Api hancur saat terkena batu besar, dan ada darah yang memercik sesaat sebelum Banteng Api benar-benar menghilang tertindih batu.


"Ka- Kakak." Lin Da Zixuan jatuh karena masih belum bisa terbang.

__ADS_1


Lin Qiao Jianying melesat turun mengejar Lin Da Zixuan dan menangkapnya. "Bagaimana bisa Xuan'er tidak bisa terbang, padahal sudah bisa menciptakan serangan."


Lin Da Zixuan yang digendong oleh Lin Qiao Jianying dengan dua tangan, dan ia melingkarkan kedua tangannya di leher Kakaknya itu menggembungkan pipinya dan menjawab, "Bukankah Ayah sudah bilang, Zixuan tidak boleh terbang sebelum berusia tujuh tahun."


Walaupun Lin Da Zixuan sudah mampu untuk terbang, tapi ia tetap tidak ingin melakukannya sampai usianya mencapai usia yang disarankan oleh Lin Chen.


Lin Qiao Jianying menurunkan Lin Da Zixuan. "Mau bagaimana lagi, kita berlatih di usia dini. Orang-orang berlatih di usia sembilan tahun, dan dimulai dari Pembentukan Tubuh, tapi kita langsung Dewa Putih ..."


"Jadi, meski kita sudah bisa melakukannya, kita harus menahan diri, karena itu juga Ayah melatih kita sejak dini untuk mengendalikan kekuatan kita." Lin Qiao Jianying mengusap-usap kepala Lin Da Zixuan.


"Ayah meminta kita menunggu, agar tubuh kita bisa beradaptasi secara perlahan," pungkas Lin Qiao Jianying.


Lin Da Zixuan menganggukkan kepalanya kemudian, berjalan menghampiri batu besar. Ia mencengkeram batu besar, sampai membuat tangan kanannya tenggelam di sana dan mengangkatnya. "Jadi bubur?" Ia melihat Banteng Api sudah tidak lagi berbentuk.


"Itu karena Xuan'er melempar batu besar, padahal banteng ini sudah mati saat jatuh." Lin Qiao Jianying mengalihkan perhatiannya pada dinding es seraya mengangkat tangannya, membuat dinding es itu meleleh.


Ketika dinding es yang mengurung Banteng Api meleleh, semua banteng berlari ke arah Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan.


Keduanya saling menatap satu sama lain, yang kemudian mengangguk dan melesat mengarah pada Banteng Api.


Lin Qiao Jianying melompat ke atas punggung Banteng Api, yang kemudian membuat tubuhnya semakin berat karena energi yang ia lepaskan, mengakibatkan Banteng Api tidak bisa bergerak dan tertekan sampai menghantam tanah.


Boom!


Banteng Api menghantam tanah dan terbunuh begitu saja karena benturan yang cukup kertas, sampai membuat kepala banteng itu retak.


Lin Da Zixuan turun dari atas banteng dan berlutut seraya menyentuh permukaan tanah. "Teknik Element Tanah, Penjara Bumi!"


Boom!


Tanah dalam ukuran yang cukup besar mulai masuk ke dalam tanah, yang kemudian di tepi lubang itu mencuat batu dari dalam tanah yang mengelilingi lubang, membentuk sebuah kolam yang cukup dalam. Serta ada pula jeruji batu pada bagian atasnya yang menahan monster di dalamnya agar tidak keluar.


"Teknik Element Air, Hujan!"


Lin Qiao Jianying yang terbang di langit, menciptakan awan hitam dan menurunkan hujan deras yang mengisi Penjara Bumi.


Lin Da Zixuan melompat naik ke atas dinding kolam yang tingginya dua kali tinggi Lin Chen, 440 cm. Ia mengulurkan tangan kanannya ke depan, menciptakan tombak petir berwarna biru. "Menurut Ayah dan pengetahuan di buku, air bisa menghantarkan listrik." Ia menurunkan tombak petir ke dalam kolam.

__ADS_1


Seketika itu juga, 13 Banteng Api yang tersisa, yang mana berusaha untuk keluar dari Penjara Bumi, mulai terpanggang karena terkena setrum dari tombak petir. Terlihat juga ada listrik biru yang meledak-ledak di permukaan air, membuat air itu bergolak seperti air yang mendidih.


Kemampuan dan cara membunuh Lin Qiao Jianying maupun Lin Da Zixuan menarik perhatian Party Petualang lain yang kesulitan membunuh Banteng Api. Terlebih lagi dengan kemampuan sihir yang menggunakan sedikit pelafalan.


Lin Da Zixuan melompat turun seraya menyentuhkan kedua telapak tangannya, membuat Penjara Bumi itu menghilang dan tanah kembali naik, menghilangkan lubang dalam seraya membawa naik Banteng Api.


Lin Qiao Jianying melayang turun, kemudian mengarahkan telapak tangan kanannya pada Banteng Api dan menyimpannya ke dalam Cincin Ruang. "Sudah selesai."


Lin Da Zixuan menganggukkan kepalanya. "Sekarang kita harus mencari Babi Besi dan Beruang, mereka di hutan yang sama." Ia melihat peta.


Lin Chen yang berada di kejauhan, tersenyum bahagia ketika melihat anak-anaknya berhasil mengalahkan Banteng Api. "Bagus!" Ia mengepalkan tangan kanannya.


"Gege." Yan Xue menatap tajam Lin Chen.


Lin Chen tertegun dengan mulut sedikit terbuka dan ada keringat mengalir di pipinya. "Ehem!" Ia berdehem, kemudian menghela napas dan kembali berucap, "Anak kita sangat hebat, kerja sama mereka luas biasa, dan yang terpenting, mereka sangat manis."


Lin Chen mengalihkan perhatiannya pada Party Petualang, yang terdapat Penyihir. Sepertinya, aku akan belajar sihir untuk melawan Dewa dan Dewi.


Kultivator menyerap energi spiritual di langit dan bumi, yang kemudian menyimpannya ke dalam Dantian di antara bawah dada dan pusar. Berbeda dengan Penyihir, mereka harus berlatih mantra yang sama berulang kali, atau menyerap Mana ke dalam Hati Mana, atau Jantung.


Ada penyesalan ketika meninggalkan Bintang Biru, yaitu tidak sempat belajar tentang sihir. Karena sekarang sudah berada di Bintang Logia, tidak ada salahnya mempelajari hal baru, yang mungkin saja bisa mempercepatnya untuk menembus tahap ini, dan meningkatkan peluang saat melawan Dewi Kuxing.


Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan berlari ke arah Lin Chen dan Yan Xue.


"Ayah, Ibu! Ayo pergi ke tempat selanjutnya!" Lin Da Zixuan berteriak.


Lin Chen mengangguk kecil dan hendak berdiri. "Tent—"


"Tidak!" Yan Xue menahan Lin Chen yang hendak berdiri. "Kalian harus beristirahat dan makan siang, jangan melawan."


"Baik, Ibu." Lin Da Zixuan tidak menolak usulan Yan Xue, karena ia memang sudah lapar.


Akhirnya, mereka berempat menyiapkan makanan di sana, dengan Lin Chen yang mengurus Banteng Api untuk mengambil dagingnya.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2