Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 183 : Kekhawatiran Dewa dan Dewi


__ADS_3

Setelah kematian 5 God Realm tahap Puncak, Ruang Para Dewa yang biasanya ramai dengan para Dewa maupun Dewi, kini sangat sepi bahkan tidak ada seorang pun yang datang karena takut akan menjadi target berikutnya dari Lin Chen.


Apalagi saat kehancuran 14 Semesta ketika pertarungan melawan 3 God Realm dan membunuh Dewa Taoist maupun Dewi Venus. Kejadian itu sangat berbekas di hati mereka yang melihat kerusakan Weiqi saat menunggu di Ruang Para Dewa.


Dewa dan Dewi yang pernah mendukung Dewi Kuxing mulai berkumpul di salah satu Semesta untuk membahas masalah ini, mereka juga berusaha untuk pergi ke Semesta Yongheng atau setidaknya menghubungi Lin Chen—untuk meminta maaf tentang masalah penyerangan di Ruang Para Dewa.


"Apa yang harus kita lakukan? Bahkan Dewi Kuxing tidak mampu menahannya, berikutnya kita yang akan terbunuh," ucap Dewa Tabib khawatir—awalnya ia tidak ingin menyerang saat Lin Chen datang kali pertama ke Ruang Para Dewa—namun melihat Dewi Kuxing yang menyerang, ia melakukan hal yang sama dari kejauhan.


"Aku tidak tahu, aku sudah mencoba berbagai cara, bahkan kekuatanku sampai turun satu tahap, tapi aku masih tidak mampu membuka ruang untuk pergi ke Semesta Yongheng." Wanita berambut biru muda seperti langit, mata oranye dan mengenakan hanfu putih. Dewi Teratai merasakan hal yang sama, ketakutan yang membuatnya tidak tenang.


"Karena dia mampu membunuh Dewi Kuxing, maka dia akan datang ke Semesta terkuat. Kita semua akan berkumpul di sana, menunggunya datang. Walaupun dia kuat, tidak mungkin bisa mengalahkan kita semua secara bersamaan." Dewa Kehampaan sangat percaya diri dengan apa yang ia rencanakan—karena ia bisa meniadakan apa pun di dalam Kehampaan; membunuh tanpa jejak ataupun rasa sakit.


Karena Dewa Kehampaan adalah yang terkuat dari 177 God Realm dalam pertemuan ini, maka mereka semua akan berkumpul di Semesta Kongxu (10) untuk menunggu Lin Chen datang dan membunuhnya; menyerang secara bersamaan; tidak membiarkan Lin Chen untuk melepaskan serangan!


Tidak ada yang menolak usulan dari Dewa Kehampaan; semuanya menerima hal itu dengan baik tanpa ada masalah dari satu sama lain.


Dewa Kehampaan adalah pemuda berambut hitam dengan pakaian yang sama warnanya; wajahnya tidak pernah terlihat karena mengenakan tudung yang menyembunyikan identitas, dan hanya terlihat mata berwarna merah dan biru.


Dewa Kehampaan yang duduk bersila di angkasa; memandangi 176 God Realm lain. "Sebarkan kloning kalian di Semesta Kongxu, dan beri kabar jika bertemu dengan Dewa yang membunuh Dewi Kuxing."


Dewa dan Dewi memancarkan cahaya yang berbeda, kemudian masing-masing dari mereka membelah diri dan mengirimkan kloning yang mereka ciptakan untuk menyebar ke seluruh penjuru Bintang Kongxu.


Dengan kematian Dewi Kuxing, Dewa 5 Element, Dewa Taoist, Dewa Matahari dan Dewi Venus; Dewa Kehampaan merasa menjadi yang terkuat, mengabaikan Lin Chen karena ia memiliki keyakinan dapat membunuhnya—karena sebentar lagi akan menembus tahap Puncak dari God Realm!


Dewa Tabib menatap Dewa Kehampaan. "Apakah sebentar lagi kau akan menerobos? Karena itulah kau memiliki keyakinan dapat membunuhnya?" Ia juga hampir menerobos God Realm tahap Puncak, tapi masih belum yakin dapat mengalahkan Lin Chen.


Tapi jika dibandingkan dengan Dewa Kehampaan yang berspesialis dalam pertarungan, ia yang hanya seorang Tabib tidak pantas membandingkan dirinya dengan Dewa Kehampaan. Namun, mengingat 5 God Realm tahap Puncak yang terbunuh, sepertinya masih sangat mustahil untuk mengalahkan Lin Chen.


Dewa Kehampaan menyeringai dingin dengan aura membunuh yang terpancar darinya; matanya juga mengatakan yang sama, memiliki keyakinan dapat membunuh Lin Chen.


"Tidak perlu khawatir, selama ini aku menahan diri untuk menghargai Dewi Kuxing. Tapi karena dia sudah mati, aku tidak akan menahan diri lagi, aku akan mengeluarkan semuanya. Bahkan, aku bisa menerobos saat ini juga jika aku ingin!"


Pernyataan dari Dewa Kehampaan sangat mengejutkan, karena sudah hampir menembus tahap Puncak, dan ini adalah usia yang sangat muda ketimbang Dewi Kuxing saat menembus tahap Puncak.


Bang!


Dewa Kehampaan melepaskan auranya; menghempaskan 176 God Realm untuk pergi menjauh darinya agar menciptakan ruang yang cukup untuknya menerobos.

__ADS_1


Bintang-bintang menghilang dalam kehampaan dan meledak di sana; ini hampir menghancurkan satu galaksi hanya untuknya menerobos. Tidak ada rasa bersalah saat meledakkan bintang-bintang, karena menurut Dewa Kehampaan, mereka tidak memiliki arti dalam hidup, dan mati di tangannya adalah suatu berkah.


Celah-celah ruang yang mengeluarkan badai angin mulai bermunculan di sekitar Dewa Kehampaan; termasuk robekan pada Semesta Kongxu yang mengubahnya menjadi warna biru, seperti dinding pembatas dari Weiqi.


Melihat dari terciptanya pembatas Weiqi, kekuatan Dewa Kehampaan tidak perlu dipertanyakan lagi, hampir setara dengan God Realm tahap Puncak meski masih belum benar-benar menyentuh tahap itu.


Galaksi-galaksi mulai meredup saat ada serpihan cahaya yang keluar dari sana, bergerak menghampiri Dewa Kehampaan. Dewa Kehampaan mengambil semua aura spiritual yang berada di galaksi sekitar, termasuk kehidupan di sana untuk membantunya menerobos.


Pemandangan ini sangat mengejutkan, meski tidak ada yang merasa aneh karena menggunakan kehidupan sebagai bahan bakar untuk meningkatkan hasil. Yang mengejutkan mereka adalah kemampuan Dewa Kehampaan yang mampu mengambil aura spiritual dari belasan galaksi.


Cahaya-cahaya yang merupakan aura spiritual dari galaksi mulai memasuki tubuh Dewa Kehampaan; ada fenomena lain seperti meledaknya ruang dan terpotongnya tubuh salah satu Dewa karena terlalu dekat, meski masih bisa beregenerasi.


Tubuh Dewa Kehampaan makin besar dan mulai menyatu dengan angkasa gelap; ada kilauan-kilauan cahaya di dalam tubuhnya, seperti ia telah menelan belasan galaksi dan galaksi itu masih memancarkan sinarnya.


Bang!


Galaksi di dalam tubuh Dewa Kehampaan meledak dan terbagi lagi menjadi lebih banyak galaksi, bersamaan dengan auranya yang meningkat; cahaya putih transparan seperti kaca menyebar ke segala arah, mengeluarkan tekanan kuat yang menggetarkan Semesta Kongxu.


Setengah Semesta Kongxu berubah warna menjadi biru, yang kemudian kembali lagi seperti semula.


"Selamat pada Dewa Kehampaan karena berhasil menerobos God Realm tahap Puncak!" 176 God Realm menangkupkan kedua tangan dengan maksud memberi hormat dan memberi selamat atas keberhasilan Dewa Kehampaan.


Dewa Kehampaan menyeringai dingin; matanya berapi-api menjelaskan tekad dan kepercayaan diri bisa membunuh Lin Chen yang tidak mampu diselesaikan oleh Dewi Kuxing.


"Dengan berhasilnya aku menerobos tahap Puncak! Aku menyatakan bahwa mulai hari ini aku adalah Hukum dan Aturan! Jika ada yang membantahnya, aku akan membunuhnya tanpa ampun!"


"Baik, Yang Mulia Kaisar Dewa!" 176 God Realm mengakui kekuatan Dewa Kehampaan tanpa berpikir panjang—karena mereka tidak mampu menang meski melawannya. Apalagi Dewa Kehampaan adalah Dewa yang ditakuti selain Dewi Kuxing!


Dewa Kehampaan kembali membaur dengan angkasa; bersembunyi di Semesta Kongxu untuk menunggu kedatangan Lin Chen.


Dewa dan Dewi yang melihatnya, mengikuti Dewa Kehampaan untuk menyebar dan bersembunyi di Semesta Kongxu. Semesta Kongxu sendiri mulai tidak terkendali karena banyaknya God Realm dalam satu tempat, yang mana itu menyalahi aturan.


***


Pohon Dewa, Kota Chen, Bintang Qiang


Lin Chen sedang duduk bersila di dahan Pohon Dewa; membuka matanya tiba-tiba saat merasakan ada Dewa yang berhasil menerobos tahap Puncak dari God Realm. Ia tidak tahu siapa itu, tapi ia memiliki firasat jika ia harus membunuhnya dalam waktu dekat.

__ADS_1


"Yin'er, apakah kau tahu Dewa mana yang hampir menerobos tahap Puncak?" tanya Lin Chen penasaran—hanya Dewi Kuxing yang menurutnya tahu tentang 267 God Realm yang tersisa dan 177 di antaranya adalah musuh.


Wusshh... Tap...


Dewi Kuxing datang dan sudah berlutut di belakang Lin Chen. Kekuatannya saat ini sudah mencapai Spirit Realm tahap Akhir hanya dalam waktu beberapa minggu, itu wajar karena pengalamannya selama ini dan tubuh baru yang sangat berkualitas.


Dewi Kuxing duduk bersila dan mengambil camilan di atas nampan di sebelah Lin Chen. "Tahap Puncak? Mungkin dia adalah Dewa Kehampaan, dia sangat menyebalkan, aku sudah sering membunuhnya..."


"Dia sangat bertolak belakang dengan kami berlima, mungkin sekarang dia sedang mengumpulkan Dewa maupun Dewi dan mendeklarasikan diri sebagai Kaisar dari Para Dewa." Dewi Kuxing tidak ingin lagi mengingat tentang Dewa Kehampaan yang selalu membantah keputusan yang ia ambil.


Dewi Kuxing memiringkan kepalanya, mencoba melihat Lin Chen yang membelakanginya. "Apakah Master merasakan ada yang menerobos tahap Puncak?"


Lin Chen menganggukkan kepalanya. "Iya, saat aku sedang memahami bagaimana cara menerobos Lord Realm. Aku merasakan adanya fluktuasi dari tahap Puncak."


Dewi Kuxing sedikit mengangguk, lalu berdiri dan menangkupkan kedua tangan untuk berpamitan. "Mungkin saja dia. Aku pergi dulu untuk berlatih, aku akan meninggalkan kloning." Ia kembali menghilang setelah berpamitan.


Lin Chen melambaikan tangannya sebagai balasan dari salam Dewi Kuxing yang berpamitan. Karena Dewa Kehampaan termasuk orang yang menyebalkan, bahkan untuk Dewi Kuxing sendiri, berarti ia harus bersiap-siap untuk bertarung lagi.


Pertarungan kali ini berbeda, karena harus melawan Dewa Kehampaan dan 176 God Realm lain.


Yan Xue keluar dari dalam batang pohon membawa nampan lain. "Apakah Gege akan pergi lagi?"


Lin Chen menoleh ke belakang; menatap hangat Yan Xue yang datang menghampiri. "Iya, tapi tidak sekarang, aku tidak tahu kapan akan pergi. Tapi kali ini, aku akan kembali lebih cepat."


Yan Xue menganggukkan kepalanya, lalu melipat kakinya untuk duduk di samping Lin Chen dan memberikan semangkuk mie pada suaminya. "Silakan, makan selagi masih hangat."


"Terima kasih." Lin Chen mengecup kening Yan Xue. Ia menoleh melihat sekitar; melepaskan kesadarannya, dan saat menyadari tidak ada siapa-siapa, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Yan Xue. "Xue'er, apakah Xue'er mau jika kita memiliki anak lagi?"


Yan Xue tersentak, kemudian menundukkan kepala; menyembunyikan wajahnya yang merah. Dengan malu-malu, ia menganggukkan kepalanya berkali-kali dan menjawab, "I- Iya, Xue'er mau."


Lin Chen tersenyum lembut melihat Yan Xue yang malu-malu seperti saat mereka baru menikah, kemudian ia menyantap hidangan yang telah disiapkan.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2