
"Kalian tunggu di sini."
Lin Chen terbang menghampiri sisa kesadaran dari Heavenly Realm yang sangat sombong dan menyebalkan karena menakut-nakuti anaknya yang ia sayangi dan cintai; ingin sekali ia membunuhnya dalam sekejap, tapi tidak menyenangkan apabila langsung membunuh tanpa memberi rasa sakit atau yang lain.
"Hahahaha! Apakah kau menyerah?! Biarkan Shan Xu ini mengambil tubuhmu."
Shan Xu mulai terpecah menjadi lautan darah dengan gelombang tinggi yang jatuh mengarah pada Lin Chen, auranya juga mulai menyebar mengitari Lin Chen untuk mengambil kendali atas tubuhnya.
"Ayah~!" Ketiganya berteriak saat melihat Lin Chen yang hanya diam dan bergerak, mereka takut jika Ayahnya kenapa-kenapa.
Tubuh Lin Chen sedikit bergidik ketika mendengar teriakan anaknya, membuatnya tidak ingin berlama-lama lagi untuk bermain-main dengan Shan Xu, karena bisa membuat anak-anaknya khawatir atau bahkan menangis.
Bang!
Lin Chen mengibaskan tangannya mengarah pada gelombang darah yang hendak menelannya, menghancurkan gelombang darah menjadi beberapa bagian.
"Kau menakuti anak-anak yang sangat aku sayangi, jadi, mari akhiri ini," ucap Lin Chen marah—tidak lagi berniat menyiksa Shan Xu.
Aura kuat keluar dari tubuhnya dan mulai membentuk sosok putih yang merupakan Dewa. Ada Chakram Dewa maupun Pedang Dewa, sosok kali ini benar-benar lengkap, dengan kekuatan yang sangat mengerikan, sampai berefek pada alam sekitarnya.
Tanah mulai kembali tercipta dengan pulau-pulau yang muncul dari kekosongan udara, rumput juga kembali tumbuh beserta pepohonan. Herbal-herbal berharga juga tumbuh saat itu, bahkan binatang-binatang kecil seperti burung dan kelinci juga tercipta.
Gelombang darah yang sebelumnya terpecah, mulai kembali bergabung dan membentuk tubuh manusia yang mana adalah Shan Xu.
Shan Xu gemetaran ketakutan saat melihat Dewa di depannya, ia tidak berani lagi menggerakkan tubuhnya dan tidak lagi berencana mengambil alih tubuh Lin Chen.
"Se- Senior?" Shan Xu berharap jika Senior di depannya dapat mengampuni ketidaktahuan dan sikap buruknya yang berniat menelan maupun mengambil alih tubuhnya.
Lin Chen hanya diam menatap datar Shan Xu, berbeda dengan Dewa yang masih diam, kedua tangan bertopang pada Pedang Dewa yang menancap di tanah, matanya tertutup rapat dan tidak ada tanda-tanda akan bergerak.
Bang!
Dewa membuka matanya yang menyala seperti api, membuat Shan Xu menjadi lebih tertekan lagi dan tidak mampu bersuara. Tugu makam juga hancur berkeping-keping menjadi serpihan batu kecil.
Tapi tidak berhenti di situ, energi emas dan merah mulai muncul di arah timur, selatan dan utara. Energi itu mulai membesar seperti nyala api, setinggi sosok Dewa. Hanya membutuhkan waktu singkat, dua energi berbeda itu membentuk Naga Emas, Kaisar Emas dan Iblis dalam wujud yang lengkap.
Iblis membawa Pedang Iblis dan Pedang Kuno yang menancap di tanah, ada Chakram Iblis dan Cambuk Iblis di punggungnya.
Kaisar Emas juga membawa Pedang Cahaya yang menancap di tanah, matanya masih tertutup sama seperti Iblis dan Naga Emas yang melingkar.
__ADS_1
Ketika tiga sosok tambahan mulai membuka matanya perlahan, Negeri Surgawi bergetar seperti gempa bumi dengan udara yang mulai menghilang, tekanan sekitar bertambah kuat sampai membuat tanah tertekan lebih dalam lagi.
Crack! Crack! Crack!
Ada retakan yang muncul di langit, hanya tinggal menghitung waktu lagi sebelum Negeri Surgawi hancur.
Kelima orang yang bersama Lin Chen terpana dengan mata membulat dan mulut terbuka lebar, mereka tidak berharap kekuatan Lin Chen akan bertambah lebih kuat lagi. Hanya dari mata yang terbuka, Negeri Surgawi sampai berubah menjadi seperti ini.
"Siapa yang kau panggil 'Senior'?"
Blarr! Blarr! Blarr!
Ledakan beruntun dari sambaran petir terus terdengar dan mulai menghancurkan Negeri Surgawi. Tapi ada yang dilindungi Lin Chen dengan Energi Dewa, yang dilindunginya adalah keluarganya dan binatang-binatang yang secara tidak sengaja ia ciptakan.
Binatang yang ia ciptakan itu ia sembunyikan di dalam Ruang Dimensi, yang nantinya akan ia berikan pada Hewan Suci yang berada di Galaxy Zhongyang, Semesta Yongheng.
"Aku tidak pernah memiliki 'Junior'!"
Shan Xu terus menyusut semakin kecil sampai sebesar kepalan tangan, tapi itu bukanlah wujud akhirnya, karena ia terus menyusut sampai seukuran ibu jari. Ia tidak mampu menahan tekanan dari tatapan mata 4 Agung yang mengelilinginya.
Booom!
Ketika Shan Xu sudah meledak, 4 Agung mulai terpecah menjadi partikel-partikel cahaya kecil yang menyatu dengan atmosfer sekitar, mengubah Negeri Surgawi menjadi wilayah kekuasaan Lin Chen.
"Semuanya, keluar!"
Suara Lin Chen menggema di seluruh penjuru Negeri Surgawi, dan terlihat ada pilar-pilar cahaya dari berbagai tempat yang berbeda. Jumlah pilar itu bukan hanya satu atau dua, atau bahkan angka dua digit, karena jumlahnya ratusan ribu.
Pilar cahaya itu hanya muncul beberapa waktu saja sebelum kembali menyusut dan menghilang, mengeluarkan semua orang yang sudah ditandainya untuk pergi dari Negeri Surgawi.
Lin Chen kembali terbang turun menghampiri keluarganya, yang langsung disambut oleh anak-anak yang melompat ke arahnya.
"Ayah~!"
Lin Chen membuka kedua tangannya selebar mungkin, menangkap mereka bertiga dan memeluknya erat. "Bagaimana? Bukankah Ayah hebat?"
Lin Da Zixuan yang berada di tengah-tengah, mendongak menatap wajah Ayahnya. "Ayah sangat hebat, Zixuan juga ingin seperti Ayah. Apalagi Naga Emas itu, sangat luar biasa!"
Lin Chen tersenyum hangat dan mengecup kening mereka bertiga secara bergantian.
__ADS_1
"Kalian juga bisa memanggil naga. Jian'er Naga Putih, Xuan'er Naga Hitam, Mei'er Naga Biru. Yang perlu kalian lakukan hanyalah berlatih, tidak perlu tergesa-gesa, tidak baik untuk kesehatan."
Karena sudah sampai sejauh ini, ia berencana melatih mereka semua untuk menjadi lebih kuat lagi, agar ke depannya Lin Qiao Jianying mampu memanggil Dewa, meski tidak sekuat miliknya.
Begitu pun dengan Lin Da Zixuan yang memanggil Iblis, untuk Lin Mein An, mampu memanggil Kaisar 5 Element, yang sama seperti Kaisar Emas.
"Apakah kalian ingin berburu harta lagi? Masih banyak harta tersembunyi yang belum diambil. Tapi, monster-monster juga banyak di sini, Ayah sengaja tidak membunuh monster untuk melatih kalian."
Lin Qiao Jianying mendongak dengan mata berbinar-binar menjelaskan ketertarikan pada harta yang disebutkan. "Tentu! Barang berkilauan tidak boleh dibuang, terutama harta berharga!"
Lin Chen merasa Lin Qiao Jianying sudah tidak bisa tertolong lagi tentang ketertarikannya terhadap harta, apalagi dalam menghamburkan uang. Putrinya senang mencari harta untuk ditukarkan dengan uang padanya, yang kemudian akan dihamburkan untuk membeli barang-barang aneh dari pasar.
"Baiklah-baiklah, Ayah akan membawa kalian semua. Tapi, kita beristirahat sebentar, sudah waktunya makan siang." Lin Chen kembali menghentakkan kakinya dengan pelan di udara.
Hentakkan kakinya membuat daratan kembali bergetar, yang kemudian ada batu yang mencuat dari dalam tanah dan membentuk sebuah gunung tinggi yang merupakan Gunung Suci.
Lin Chen turun perlahan membawa semua orang, dan mendarat tepat di puncak Gunung Suci yang penuh dengan esensi kehidupan.
Yan Xue membeberkan tikar di atas permukaan rumput, lalu menyusun meja kecil yang cukup untuk digunakan sebagai tempat makan saat mereka duduk di atas bantal duduk.
Makanan yang disajikan adalah hot pot agar lebih mudah saat memakannya dan tidak terlalu banyak membuat persiapan.
"Kakak, sudah sampai mana Ranah Kakak?" Xue Ying sangat penasaran dengan tingkatan yang sudah dicapai Lin Chen.
"God Realm tahap Akhir. Itu masih rendah, karena lawanku masih ada lima God Realm tahap Puncak. Bahkan, meski aku mengerahkan semua kekuatan, aku langsung dikalahkan oleh mereka." Lin Chen tidak berencana menyembunyikan kekalahannya, ini bisa diambil sebagai pembelajaran untuk anak-anak, jika ada lawan kuat, maka mundur sejenak.
"Ayah kalah?" Lin Da Zixuan membuka matanya lebar, tidak menduga jika ada yang bisa mengalahkan Ayahnya.
Lin Chen menoleh ke kanan, mengusap kepala Lin Da Zixuan. "Di atas langit masih ada langit, masih banyak orang yang lebih kuat. Tapi, Ayah tidak akan menyerah, Ayah selalu berlatih menggunakan kloning, dan terus berusaha melawan mereka ..."
"Jadi, jika Xuan'er mendapatkan lawan yang kuat dan tidak bisa dikalahkan, mundurlah. Tapi, jangan sampai menyerah, saat kau mundur, terus berlatih untuk membalas kekalahanmu di hari itu."
Lin Da Zixuan sedikit mengangguk, lalu berucap, "Baik, Ayah. Zixuan akan mengingat pesan Ayah."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1