Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 067 : Bersama


__ADS_3

Lin Chen menunda jadwal untuk membangkitkan Lebah Perak dan Semut Emas, karena ia memilih untuk bermain bersama dengan Yan Xue terlebih dahulu. Sudah lama semenjak terakhir kali melakukannya, mungkin sekitar lima belasan tahun lalu.


Ia membawa Yan Xue memasuki Kediaman Jinguang Long, dan langsung melepaskan pakaian Yan Xu satu per satu.


Lin Chen tidak perlu merasa khawatir dengan orang lain, karena di dalam Ruang Dimensi ini hanya ada mereka berdua tanpa ada makhluk hidup lainnya.


"Aakh..." Yan Xue mengeluarkan erangan yang menggoda saat telinga dan lehernya dicium oleh Lin Chen.


Kemudian Lin Chen membawa Yan Xue untuk masuk ke dalam kamar setelah melepaskan semua pakaian dan tidak ada lagi benang yang melindungi kulit, bahkan untuk sehelai pun.


Lin Chen mencium lembut kening, kelopak mata, hidung dan bibir Yan Xue, yang kemudian terus turun secara perlahan. Terutama untuk dua gunung kembar, serta tombol yang mencuat untuk waktu yang lama.


Yan Xue terus mengeluarkan suara jeritan kecil yang mengungkapkan perasaannya saat ini. Ia merasa Lin Chen lebih liar dari terakhir kali mereka berhubungan badan, tapi ia tidak menolaknya sama sekali dan menerima semua kasih sayang yang diberikan oleh Lin Chen padanya.


"Chen ... Gege ..."


Lin Chen mengabaikan napas Yan Xue yang terengah-engah dan terus memainkan gunung kembar. Sudah sangat lama ia merasakan aroma tubuh istrinya yang halus dan bersih tanpa cacat.


Kemudian setelah pemanasan yang cukup selama belasan menit, akhirnya Lin Chen memasukkan senjata ke dalam sarangnya.


Yan Xue terus mengerang tanpa henti dan memeluk erat tubuh Lin Chen sampai meninggalkan bekas cakar di punggung, serta pundak kiri Lin Chen yang juga terluka dengan bekas gigitan di sana.


Lin Chen tidak seperti pertama kali berhubungan, kali ini ia mengubah-ubah posisinya bersama Yan Xue, meski Yan Xue terus menolak karena posisinya benar-benar memalukan dan tidak pantas.


Keduanya berhubungan di atas tempat tidur untuk waktu yang sangat lama, dan tanpa sadar sinar matahari sudah mulai terlihat memasuki jendela kaca. Sinar matahari ini juga menandakan bahwa mereka harus mengakhiri dan beristirahat.


"Terimakasih." Lin Chen mengecup lembut kening Yan Xue, kemudian memeluknya untuk tidur bersama.


Yan Xue tersenyum hangat dan mulai menutup matanya, yang tak lama kemudian tertidur karena sangat lelah bermain sepanjang malam.


Lin Chen membelai rambut yang menghalangi wajah indah Yan Xue, kemudian melihat langit-langit ruangan dan membiarkan lengan kanannya digunakan sebagai bantal oleh Yan Xue. "Kami berdua sangat berkeringat, tempat tidur benar-benar basah ..."


"Bertarung dengan mempertaruhkan nyawa tidak sampai membuatku lelah seperti ini." Lin Chen menarik rambutnya ke belakang.


Lin Chen memiringkan tubuhnya dan memeluk Yan Xue, kemudian menutup matanya untuk tidur.


Walaupun Lin Chen bisa memulihkan staminanya dalam sekejap, tapi ia memilih untuk tidur bersama dengan Yan Xue, bahkan luka-luka di punggung maupun di pundaknya ia biarkan saja.

__ADS_1


Ketika ia membuka mata, hari sudah mulai memasuki pertengahan hari dan Yan Xue sudah tidak ada di sampingnya. Ia beranjak turun dari tempat tidur dan pergi ke halaman belakang untuk berendam di kolam air panas di sana.


Lin Chen menengadahkan kepalanya melihat langit biru tanpa awan, namun tidak terlalu panas karena ada pohon di sekitarnya. "Kalian tidak melihatnya, kan?"


Hitam dan Putih tidak menjawabnya sama sekali dan tetap diam, seperti keduanya sudah menghilang tertelan oleh ruang.


Lin Chen memijat keningnya karena baru ingat tentang Hitam dan Putih. Ini adalah kedua kalinya, sebelumnya saat System masih dalam masa upgrade, Xue Ying melihatnya berhubungan dengan Yan Xue, dan ini benar-benar memalukan.


"Gege, makan siang sudah siap."


Lin Chen membasuh wajahnya dan rambut panjangnya, kemudian ia beranjak keluar dari dalam kolam, lalu memasuki bangunan setelah mengenakan jubah handuk berwarna putih. "Aku datang." Ia sedikit berteriak membalas perkataan Yan Xue.


Keduanya makan bersama dengan pelan, menikmati waktu berdua mereka yang tidak terlalu banyak. Terlihat seperti pasangan suami istri yang baru menikah, meski mereka sudah menikah selama 22 tahun. Tapi meski begitu, mereka masih belum memiliki keturunan.


Walaupun Lin Chen bisa menciptakan makhluk hidup, ia tidak ingin menciptakan manusia. Apalagi untuk diadopsi menjadi anak, ia ingin memiliki putra dan putri hasil hubungannya dengan Yan Xue, bukan udara kosong dengan tubuh herbal.


Puluhan menit kemudian, keduanya sudah selesai makan dan membawa peralatan makan untuk dibersihkan Yan Xue di dapur.


Lin Chen pergi menemani meski tidak membantu melainkan memeluk erat Yan Xue dari belakang. "Aku mencintaimu ..."


Lin Chen menyentuh wajahnya sendiri untuk mengambil busa sabun, dan menyentuhkannya pelan di hidung Yan Xue.


"Gege ..."


Lin Chen tertawa kecil dan terus menggoda Yan Xue, sampai-sampai banyak busa sabun yang menempel di pipi, hidung, dagu dan dahi.


Puluhan menit lainnya kembali berlalu, setelah sudah membereskan rumah dan pakaian yang berceceran di lantai maupun sofa. Akhirnya Lin Chen membawa Yan Xue kembali ke Alam Bawah untuk menemui yang lainnya, serta ia ingin melihat langsung kekuatan mereka.


***


Alam Bawah


Lin Chen dan Yan Xue sudah tiba di dahan pohon besar, yang di sana ada keluarganya dan keluarga Yan Xue yang sepertinya baru menyelesaikan kultivasi mereka.


Yang menyadari kedatangan Lin Chen pertama kali adalah Long Xia Yun. Ia menoleh ke kiri belakang seraya berdiri dengan raut wajah cerah terlihat sangat bahagia. "Chen'er, Bibi berhasil menembus Zhiran— ..."


Long Xia Yun menghentikan ucapannya saat melihat ada belas gigitan di pundak kiri yang berdekatan dengan leher Lin Chen. Ia tertawa kecil seraya menutupi bibirnya, kemudian memberi tahu apa yang ia lihat pada Luo Yi.

__ADS_1


Ji Yue Ling juga tertawa kecil melihat bekas gigitan di pundak Lin Chen, raut wajahnya juga terlihat sangat menyebalkan.


Lin Chen mengerutkan keningnya tidak tahu maksud dari tawa itu. Kemudian ketika melihat Xue Ying yang memberi tanda, barulah ia menutupi pundak kirinya yang terluka. "Sial, aku lupa."


Hanya dengan sentuhan kecil, semua bekas lukanya menghilang seperti tidak pernah ada luka di tubuhnya.


Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa Dewa seperti Lin Chen bisa mendapatkan luka dari Semi-Immortal seperti Yan Xue. Itu semua bisa terjadi karena ia melemahkan tubuhnya, agar sesuai dan tidak melukai tubuh Yan Xue yang bisa dengan mudah mendapatkan luka.


Lin Chen menurunkan tangan kirinya, kemudian menangkupkan kedua tangan tanpa menunduk mengarah pada Long Xia Yun. "Selamat karena Bibi berhasil menembus Ranah Zhiranzhi."


"Hoya-hoya." Long Xia Yun menyeringai lebar seraya mengusap dagunya pelan. "Apakah Chen'er mencoba mengalihkan pembicaraan."


Lin Chen mengabaikan ucapan Long Xia Yun dan langsung memeluk Luo Yi untuk menyembunyikan wajahnya. Perasaan ini, benar saja, Ibu adalah orang yang merawatku di kehidupan pertama.


Aku senang jika aku memiliki hubungan dengan Ibu. Tapi, mengapa di empat kehidupan, Ibu selalu menjadi ibuku?


"Karena aku menyayanginya. Aku menanamkan salah satu teknik, yang mana akan selalu bersama di setiap kehidupan. Karena itulah, orangtuamu selalu sama, dan bahkan mereka berdua selalu menjadi sepasang suami istri." Putih menjawabnya untuk memuaskan keingintahuan Lin Chen selama ini.


Karena mendengar jawaban dari Putih yang selama ini ia nantikan, air mata bahagia mulai mengalir dari sudut matanya. Tapi ada juga kekhawatiran di hatinya, karena Iblis di hatinya pasti karena suatu perasaan kehilangan, benci dan dendam.


Putih tidak memberi tahu lebih jauh tentang terbentuknya Hitam di dalam hati Lin Chen, dan membiarkannya mengetahui hal itu sendiri ketika sudah waktunya, di mana saat Lin Chen berhasil menembus Heavenly Realm yang entah kapan.


Luo Yi yang mengusap punggung Lin Chen itu merasakan perasaan putranya, dan bahkan punggung tangannya juga basah karena air mata. Karena hal ini, ia sedikit panik namun mencoba untuk tetap tenang. "Ada apa, Chen'er?"


Lin Chen membenamkan wajahnya di perut Ibunya. "Tidak ada, aku hanya menyayangi Ibu ..."


Luo Yi tertegun mendengarnya, karena sangat jarang seorang putra yang sudah besar tetap tidak malu mengucapkan kata-kata itu. "Ibu juga menyayangi Chen'er."


"Yi'er?" Xue Ying memiringkan kepalanya dan menunjuk ke arah wajahnya sendiri.


Luo Yi terkekeh kecil dan memeluk Xue Ying dengan tangan yang lain. "Tentu saja, Ibu juga menyayangi Yi'er ..."


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2