Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 243 : Ras Dewa-Iblis dan Kebenaran Dimensi Kekacauan


__ADS_3

Dalam masalah perang yang entah apakah ini akan menjadi akhir atau tidak, ia tidak berencana untuk memberitahukannya pada yang lain, termasuk Yan Xue. Ia berniat menyimpannya sendiri, dan pergi ke sana bersama Dewi Nuwa dan Tao Agung atau Yuanshi Tianwang (Yuanshi Tianzun, Lingbao Tianzun, Daode Tianzun).


Dewi Nuwa bangkit dan berkata, "Untuk saat ini, itu saja informasi yang bisa kuberikan. Informasi lainnya akan datang ketika kita pergi, sekarang, aku akan melihat Tao Agung."


Lin Chen membungkuk dan menangkupkan kedua tangannya dengan maksud untuk memberi hormat pada Dewi Nuwa yang berjalan membelakanginya. Kemudian ia menuntun Dewi Nuwa untuk keluar dari Istana Tiantang, pergi ke suatu tempat tersembunyi untuk menemui Tiga Dewata Murni—tentu ia tidak ikut.


Ketika melihat Dewi Nuwa memasuki dimensi, Lin Chen langsung kembali ke Istana Tiantang, pergi mendatangi Yan Xue yang beristirahat di lantai teratas.


Lin Chen melihat Yah Xue bersandar di tempat tidur yang besar berwarna putih, dengan Tujuh Putri yang menjaga. Mereka berbagi tugas, dari mengupas buah-buahan, menyuapi, atau bahkan memberikan pijatan halus.


Xue Ying, berada di pojok dalam posisi duduk bersila. Kesadarannya sedang berada di Bintang Qiang, ia masih God Realm, sehingga tidak bisa membagi kesadaran secara bersamaan. Jika hanya Semesta Yongheng dan Lantian, mungkin bisa, tapi ini adalah Alam Tiantang dan Alam Semesta.


Ketika melihat kedatangan Lin Chen, Tujuh Putri memberi salam, "Salam, Ayah Kaisar."


Lin Chen tersenyum, menepuk kepala mereka bergantian. Bahkan jika mereka hanyalah bunga, tapi mereka tetaplah putrinya, ditambah sudah mendapatkan sedikit Esensi Darah-nya dan Yan Xue.


"Apakah kalian sudah makan?"


Tujuh Putri hanya diam tanpa menjawab ataupun bergerak. Meski sudah bertahun-tahun, mereka masih canggung dengan Lin Chen yang merupakan Kaisar Giok di kehidupan pertama.


Lin Chen menyadari hal itu, dan mungkin saat dulu, mereka tidak pernah makan bersama, karena itulah Tujuh Putri nampak canggung.


Lin Chen mengalihkan pandangannya pada dinding, dan dengan kibasan tangannya, banyak makanan ringan ataupun berat yang bermunculan di atas meja. Semua makanan itu adalah buatan dari orang-orang yang berada di Bintang Qiang, dan kebetulan pemilik restoran bintang lima saat di Bumi.


Hong, Cheng, Huang, Zhi, Lan, Li, dan Ziye tertarik melihat makanan yang nampak asing bagi mereka. Dari dulu, mereka sangat jarang memakan daging, atau bahkan bisa dikatakan tidak pernah, mereka hanya memakan tumbuh-tumbuhan.


Ketika melihat daging, kue, dan lain sebagainya, mereka melangkah ke sana tanpa sadar.


Lin Chen mengabaikan mereka dan menghampiri Yan Xue. Ia duduk di kursi di samping tempat tidur. Tempat tidur ini sendiri bukanlah kamar mereka berdua untuk beristirahat, karena kamar mereka adalah ruang pribadi, tidak ada yang boleh masuk ke sana, apalagi banyak pakaian yang menggantung di lemari.


"Apakah Xue'er baik-baik saja?" Lin Chen menggenggam tangan Yan Xue.


Yan Xue tersenyum dengan anggukan kecil. "Bukankah sudah katakan berkali-kali, Xue'er baik-baik saja. Tapi Gege saja yang terlalu khawatir."


"Meski begitu ..." Lin Chen tidak melanjutkan ucapannya karena bibirnya ditahan oleh jari Yan Xue. Tapi, meski tidak lagi berbicara, ekspresinya menjelaskan semuanya. Bagaimanapun, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Yan Xue terkena serangan Yan Luo Wang.


Tujuh Putri yang sedang makan, melihat kedekatan Ayah Kaisar dan Ibu Permaisuri. Wajah mereka memerah saat menutupinya dengan kedua tangan, meski mata mereka masih melihatnya melalui sela-sela jari.


Yan Xue menyadari tatapan itu, tapi mengabaikannya seperti tidak ada seorang pun di sini. Bagaimanapun, ini masih dibatas wajar dan mereka berdua sering memperlihatkan kemesraan mereka di depan umum.


Bahkan, saat dalam perang, mereka masih menyempatkan diri untuk merayu satu sama lain atau memberi kecupan di pipi dan dahi.


Lin Chen mengangkat tangannya hendak mendorong tubuh Yan Xue di atas kasur, tapi menahannya karena mereka tidak sedang berada di kamar pribadi. Ini adalah kamar perawatan, kamar yang digunakan untuk orang-orang Istana Tiantang beristirahat saat kelelahan, sehingga saat orang lain dapat datang berkunjung.


Yan Xue menyadari tatapan mata Lin Chen, tetapi tetap diam dan terkekeh kecil.

__ADS_1


Dewi Kuxing, yang duduk di samping Xue Ying, membuka matanya dan mengembuskan napas panjang. Setelah berkultivasi di sini, kemajuan dalam kultivasinya meningkat cukup cepat, dan bisa kembali ke Puncak dari God Realm dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun.


Dewi Kuxing sangat bahagia, setelah datang ke Bintang Qiang, ia mendapat banyak sekali surat lamaran, tapi semuanya ditolak karena ingin fokus dalam kultivasi. Ketika datang ke Alam Tiantang, ia mendapatkan hal yang sama, yaitu lamaran. Jika masih menyandang gelar sebagai Pembantai dan Pembunuh saat di Semesta Kuxing, tidak pernah terpikirkan olehnya mendapatkan lamaran, bahkan pria yang melihatnya akan langsung lari karena takut dibunuh.


Ketika Dewi Kuxing bangun, perhatiannya langsung tertuju pada meja makan yang dipenuhi makanan. Setelah kenal dengan Xue Ying dan berkelana bersama, ia memiliki hobi baru, selain membunuh, ia sekarang sangat menyukai makanan, akan mencoba berbagai makanan baru.


Mungkin, alasan lainnya adalah karena ingin melupakan perasaan memakan racun dan kulit kayu.


"Siapa tamu yang datang?" tanya Yan Xue. Ia sangat penasaran, tapi tidak diperbolehkan untuk datang.


"Dewi Nuwa."


Dewi Nuwa? Yan Xue memiringkan kepalanya menatap kosong seperti orang yang tidak tahu apa-apa.


Berbeda dengan Tujuh Putri, mereka yang tinggal di Wilayah Tiantang, tentu tahu hal itu. Ketika mereka mendengarnya, mereka tercengang dan pada saat itu juga pikiran mereka memikirkan suatu masalah yang serius. Karena selama ini, Dewi Nuwa hanya datang dua kali, dan mereka hanya bertemu sekali saat melaporkan tentang pemberontak Alam Diyu.


"Teman lama Tiga Dewata Murni." Lin Chen menjawabnya apa adanya, tapi menyembunyikan niat Dewi Nuwa yang datang kemari. Ia juga mengirimkan transmisi suara pada Tujuh Putri, "Jangan membahas tentang Dewi Nuwa. Apa yang kalian pikirkan benar, tapi aku ingin kalian semua diam, jangan beritahu Permaisuri Surga."


Tujuh Putri tersentak, tapi dengan segera, memberi jawaban dengan cara yang sama.


Setelah cukup lama, Lin Chen membantu Yan Xue untuk turun dari tempat tidur, mengatakan pada yang lain bahwa mereka berdua ingin berjalan-jalan di taman belakang. Meskipun, pada akhirnya mereka pergi ke kamar pribadi.


Untuk mengapa mereka di sana, tidak perlu dijelaskan.


Dimensi Kekacauan


Angkasa gelap seperti ujung Semesta, tapi di sini banyak badai seperti pedang tajam yang menebas ke segala arah dan badai petir yang menyambar dari celah spasial. Kekuatan sambaran mampu membunuh Earth Realm, bahkan terkadang ada petir yang sangat kuat sampai mampu merubah Heavenly Realm menjadi debu.


Pada bagian tertentu, terdapat sebuah bola seperti planet, tapi terbuat dari energi yang terkompresi, memadat dan membentuk kehidupan.


Bintang itu berwarna putih kemerahan, meski lebih banyak merahnya karena aura membunuhnya lebih mendominasi.


Di kedalaman tanah, terdapat ruang besar seperti gua dengan ketinggian mencapai belasan mil. Ada mata air seperti danau berwarna biru, dengan untaian aura seperti benang merah yang bergerak di permukaan.


Di tepi danau, ada seorang pria paruh baya. Rambutnya putih dan merah terbelah dua, ada dua pasang sayap: putih seperti merpati dan merah seperti kelelawar. Pakaian yang dikenakannya berwarna hitam, dan ada aura merah membentuk kabut yang mengelilingi.


Matanya merah dengan pandangan yang dalam di bawah alis hitam. Tatapannya sangat tajam seperti mampu menembus pikiran orang.


Dia adalah Kaisar Dewa-Iblis! Dua orang dari ras yang berbeda setelah bergabung!


Pandangan Kaisar Dewa-Iblis tertuju pada gumpalan cahaya merah yang melayang belasan inchi dari permukaan tanah di tengah-tengah danau, tanah seperti daratan kecil dengan diameter tiga meter.


"Sura. Harusnya kau merasakannya sendiri, saudaramu, Lord Sanzu telah mati." Kaisar Dewa-Iblis berbicara dengan biasa-biasa saja tanpa emosi, tapi menggetarkan ruangan sampai-sampai kerikil di langit-langit berjatuhan.


Sura, berhasil diselamatkan di detik-detik terakhir saat kehancuran Klan Sura. Pada saat itu, Kaisar Dewa-Iblis bertarung dengan Dewi Nuwa, tapi tidak benar-benar mampu melukainya, hanya mampu menangkap sedikit Esensi Jiwa Sura, dan itu pun dengan teknik khusus yang menyembunyikan kehidupan Sura—sehingga Dewi Nuwa menganggapnya telah mati.

__ADS_1


Teknik ini sangat kuat—bahkan Dewi Nuwa tidak menyadarinya.


Alasan lain Kaisar Dewa-Iblis menyelamatkan Sura, untuk mengembangkan kekuatannya lebih tinggi dan membunuhnya di kemudian hari untuk mengambil Dao Surgawi dari Sura. Ini sama seperti saat membunuh Pan Gu, dan karena Sura terlahir dari Darah Pan Gu, tentunya memiliki Dao Surgawi yang sama dan bisa meningkatkan Dao Surgawi yang diambilnya.


Ketika Sura datang ke Dimensi Kekacauan, Kaisar Dewa-Iblis ingin membunuhnya langsung, tapi menyadari kekuatannya terlalu lemah dan menunggunya sampai kuat. Tapi, rencana yang sudah disusun sedemikian rupa, dihancurkan oleh Dewi Nuwa.


Gumpalan cahaya merah itu bergetar, kemudian samar-samar terlihat wajah yang nampak menyeramkan. Aura membunuh yang dikeluarkan tidak rendah dan menggetarkan ruangan, ini seperti miliaran nyawa sudah dibunuhnya.


"Siapa yang membunuh adikku?!"


Kaisar Dewa-Iblis tidak terlalu tahu banyak, dan asal menjawab, "Tao Agung."


Sura sangat marah ketika mendengarnya, membuat gumpalan cahaya itu terus membesar seperti api yang tertiup angin.


Kaisar Dewa-Iblis tersenyum tipis, tapi dalam hatinya merasakan kebahagiaan yang tidak dapat dijelaskan. Jika ia bisa membangkitkan amarah Sura, maka akan lebih mudah baginya untuk mengambil Dao Surgawi. Dengan demikian, ia bisa membangun Dunia dengan sistem baru di dalam tubuhnya.


Kaisar Dewa-Iblis, akan menjadi yang terkuat! Bayangkan saja, memiliki Semesta di dalam tubuh, dan terus berkembang sampai lahirnya makhluk baru di dalamnya, itu akan sangat luar biasa. Ia bisa memerintah mereka untuk mengambil alih Tiga Alam, atau bahkan tempat-tempat lain apabila ada.


Kaisar Dewa-Iblis, tahu bahwa Dimensi Kekacauan tidak sesederhana yang terlihat.


Yang diketahui oleh masyarakat umum, yang terlahir dari Dimensi Kekacauan hanyalah Yuanshi Tianzun yang bisa mengambil bentuk Tao Agung, Dewi Nuwa, Pan Gu dan Kaisar Dewa-Iblis.


Tapi, Kaisar Dewa-Iblis mendapatkan relik kuno yang mengungkapkan keberadaan mereka dengan jelas.


Setelah Dimensi Kekacauan terbentuk, terlahir makhluk tertinggi yang dimanifestasikan dari Dimensi Kekacauan.


Chuangshi Yuanling, Hongjun, Hun Kun Patriak, Permaisuri Nuwa, Lu Ya Doujin, Tao Agung, Pan Gu, Kaisar Dewa-Iblis.


Chuangshi Yuanling memiliki empat murid: Hongjun, Hun Kun Patriak, Permaisuri Nuwa, Lu Ya Doujin.


Hongjun memiliki murid bernama Yuanshi Tianzun dan Taoist Sanqings. Walaupun berbeda nama dan orang, mereka berdua adalah Tao Agung.


Hun Kun Patriak, memiliki banyak murid dan dua di antaranya adalah orang dibalik terbentuknya Agama Barat dan Tatagatha (Buddha).


Jika dilihat dari catatan, Tao Agung harus memanggil Permaisuri Nuwa sebagai 'Bibi Abadi'. Tapi, bagaimanapun, perbedaan waktu keduanya miliaran bahkan triliunan tahun, sehingga tidak terlalu tahu dengan identitas masing-masing.


Dari sini juga, Permaisuri Nuwa akan mengetahui tentang Chuangshi Yuanling, Hongjun dan Hun Kun Patriak. Tapi, dalam penjelasannya pada Lin Chen, Permaisuri Nuwa tidak menjelaskan tentang mereka bertiga.


Sepertinya, kekuatan Lin Chen masih belum cukup untuk mengetahui semua kebenaran. Jadi, hanya menjelaskan secara singkatnya, dan keberadaan yang terlahir setelahnya.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2