Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 225 : Menyuling 9 Lord Realm


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama untuknya mengambil Esensi Jiwa dari Leluhur Malaikat dan meninggalkan Lord Shenjun, Lord Fengku, Lord Feng Jian dan yang lain. Ia tidak langsung mengambil Esensi Jiwa mereka, dan memilih untuk memberikan sedikit pelajaran


Kaisar Emas di belakangnya sudah menghilang setelah mengambil Esensi Jiwa Leluhur Malaikat; Chakram Dewa pun mengecil dan kembali ke ukuran normalnya.


Whooooosh!


Lin Chen melintas dengan kecepatan penuhnya sampai meninggalkan bayangan di tempatnya berdiri; tiba di depan Lord Fengku dengan telapak tangan yang terbuka seperti sedang menyentuh dinding.


Ledakan keras dengan getaran kuat tiba-tiba terjadi sesaat setelah Lin Chen berpindah tempat, menghempaskan 7 Lord Realm seperti layang-layang putus yang terkena badai angin. Samar-samar suara kasar juga terdengar, menandakan bahwa tulang mereka telah patah.


"Aku tidak tahu kalian mendapatkan kepercayaan diri dari mana. Tapi entah apakah ada pendukung lain di belakang Aliansi Penjarah Surga, aku akan menghabisinya dan mengambil Esensi Jiwa-nya!"


Lord Shenjun adalah yang tercepat mendapatkan kendali atas tubuhnya. Ia memegang dadanya; tidak lagi bisa mempertahankan bentuk manusianya lebih lama, membuat ekor dan telinga singa sudah muncul di tubuhnya karena luka parah yang diterima.


Lord Shenjun mengatupkan rahangnya yang bergetar, kemudian menatap Lin Chen dengan wajah pucat dan berkata, "Ka- Kau, iblis!"


Lin Chen tidak menanggapi perkataan Lord Shenjun dan memilih untuk mengejar Lord Fengku yang masih terbang. Ketika sudah tiba di depannya, ia mengayunkan tangannya sampai terbelah dua, tapi anehnya ia tidak mendapatkan Esensi Jiwa-nya.


"Memindahkannya? Kau sudah bersiap-siap? Kau membuat banyak sekali kloning yang kau sebarkan di Alam Tiantang agar kau tidak bisa dibunuh. Ide yang bagus, tapi kau salah memilih lawan." Dengan lambaian tangannya, tiba-tiba celah hitam terbuka di atas kepalanya dan tangan merah melesat memasuki celah.


Ledakan keras dengan getaran terjadi di sekitarnya, serta api yang menyala cukup besar. Ledakan ini tidak hanya berada di sini, tapi di tempat lain yang sangat jauh, meski tidak bisa dirasakan getarannya maupun suaranya yang tidak bisa didengar.


Lin Chen kembali bergerak ke arah Lord Feng Jian dalam kedipan mata dan tiba di belakangnya. Ia menusuknya dengan tangan kanannya sampai menembus ke dada dan berhasil menangkap Esensi Jiwa-nya. Ia menyimpannya ke dalam Botol Giok Jiwa, kemudian perhatiannya teralihkan pada Lord Realm yang tersisa.


"Satu hal, aku baru menerobos Lord Realm tahap Tujuh Puluh. Kita tahu, walaupun hanya beda satu tahap, kekuatannya bagaikan langit dan bumi. Lalu, bagaimana jika ada perbedaan Dua Puluh tahap?"


Awalnya mereka sudah jatuh dalam jurang dan berharap ada keajaiban yang menolong mereka dari atas, tapi setelah mendengar ucapan Lin Chen tentang kekuatannya, harapan itu tiba-tiba sirna dan tidak pernah datang menolong mereka. Tubuh mereka gemetaran, kemudian jatuh perlahan seperti layang-layang putus.


"I- Iblis!" Lord Shenjun masih sempat mengumpat sebelum akhirnya meledakkan dirinya.


Api besar dengan suara keras yang menggetarkan udara terjadi ketika Lord Shenjun meledak; lautan awan terbuka dan sebagiannya lagi naik membentuk asap jamur yang bisa dilihat dalam radius jutaan mil dari pusat ledakan.


Lin Chen hanya diam tanpa bergerak saat api besar terbang ke arahnya; dinding putih muncul di depannya dan menghempaskan nyala api ke sisi lain.


Ketika yang lainnya ingin meledakkan diri mengikuti Lord Shenjun, kekuatan mereka tidak bisa dilepaskan bahkan tubuh pun tidak bisa digerakkan. Hingga terlihat ada benang tipis yang melesat menusuk tubuh mereka, melilit Esensi Jiwa dan menariknya keluar.


Lin Chen kembali menyimpannya ke dalam Botol Giok Jiwa. "Sembilan Esensi Jiwa Lord Realm. Panen yang cukup besar, aku harap mampu menerobos tahap Seratus. Kemudian mendapat kekuatanku yang dulu, lalu berusaha naik untuk melewati Tiga Dewata Murni." Ia melihat sekitarnya, kemudian terbang menjauh; mencari tempat untuk menyuling Pil Dewa Abadi.


...***...

__ADS_1


Bintang Qiang


Xue Ying sudah berhasil menenangkan penduduk yang panik karena langit berubah warna menjadi merah darah, dan sekarang warnanya semakin pekat dengan aroma amis yang mulai menyatu dengan atmosfer sekitar.


Akhirnya, Xue Ying memberanikan diri untuk datang ke tempat Lin Chen berada di Pohon Dewa. "Kakak. Yi'er ingin ..." Ia menahannya dan menekan bibirnya sampai membentuk garis tipis.


Lin Chen membuka matanya perlahan, kemudian menoleh ke belakang. "Apakah ini semua tentang langit merah?"


Xue Ying mendongak, kemudian menganggukkan kepalanya berkali-kali.


"Itu karena perang. Ada yang menyerang wilayah ku, jumlah mereka memang tidak banyak, tapi, kekuatan sedang mereka mampu menghancurkan Semesta Yongheng. Ada ribuan God Realm dan ratusan Lord Realm."


Xue Ying tidak bisa tidak terkejut. Ia memang ada kepikiran ke sana, tapi tidak menyangka akan sangat banyak God Realm yang terbunuh. Jika God Realm sangat banyak, maka Heavenly Realm yang ia anggap luar biasa, bagaikan sampah di Alam Tiantang.


Lin Chen tersenyum tipis saat menghela napas, tahu apa yang sedang dipikirkan Xue Ying. Ia berdiri, kemudian berjalan menghampiri seraya berkata, "Jangan memikirkannya terlalu dalam. Untuk saat ini, aku ingin Yi'er terus berlatih, karena dalam perang selanjutnya, aku akan membawamu."


Xue Ying menundukkan kepala dengan tubuh yang gemetaran. Ia merasa sangat lemah dan selalu dimanjakan, ingin sekali membantu Kakaknya dalam pertempuran. Dulu, saat ia sangat kuat, lebih kuat dari Kakaknya, ia ingin membantu dalam pertempuran, tapi apa daya tidak diperbolehkan untuk membantu karena itu adalah perintah dari Long Xia Yun.


Lin Chen kembali menghela napas, kemudian memeluk Xue Ying dan menepuk-nepuk belakang kepalanya. "Lepaskan semuanya." Ia tahu Xue Ying sudah menanggung beban, tapi ditahannya selama ini karena tidak ingin membuat orang-orang di sekitarnya khawatir.


Xue Ying membalas pelukan Lin Chen dengan erat dan mulai menangis.


"Yi'er, aku tidak masalah memanjakan dirimu seperti ini. Tapi, apakah kau sudah mendapatkan calon suami? Tidak mungkin kau selalu berkeliaran dan bermain-main."


Xue Ying tidak lagi menangis, dan suasana terasa lebih berat dengan angin kencang bertiup di sekitar. Ia menginjak kaki Lin Chen cukup kuat, kemudian memukul perutnya. "Tidaaakkk! Yi'er masih ingin bermain-main!" Ia pergi setelah mendapatkan pukulan.


Lin Chen mengusap perutnya saat menggelengkan kepalanya melihat Xue Ying pergi. Kemudian, ia menengadahkan kepalanya melihat langit yang mulai kembali cerah secara perlahan.


"Tubuh utamaku sedang bersama Tujuh Putri, yang lain sedang mencari tempat untuk menyuling. Tidak bisakah Juling Shen dan yang lain bekerja lebih cepat? Lautan awan berubah menjadi merah darah karena pertempuran. Jika tidak dibersihkan dengan cepat, itu akan memengaruhi Alam Semesta."


Lin Chen kembali duduk bersila, kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, lalu menutup matanya.


...***...


Alam Tiantang


Lin Chen sudah berada di sebuah pulau seperti kawah gunung berapi, tapi tidak ada apa pun di dalamnya dan tertutupi oleh lautan awan. Tempat ini sangat cocok untuk menyuling Pil Dewa Abadi karena tersembunyi, dan karena ia akan menyuling menggunakan Esensi Jiwa sebagai bahan utamanya, maka dampaknya agar sangat besar.


Bahkan saat menyuling Pil Dewa, ia mendapatkan luka dalam dan api terus meledak tanpa henti.

__ADS_1


Lin Chen mengeluarkan Botol Giok Jiwa tanpa membukanya, tapi masih bisa merasakan aura kuat di dalamnya. Seperti Esensi Jiwa mereka saling terhubung dan menguatkan aura mereka sampai tekanannya keluar dari Botol Giok Jiwa. Dengan hal ini, kesulitan untuk menyuling Pil Dewa Abadi akan meningkat.


Lin Chen menenangkan diri dengan mengambil napas berkali-kali sampai detak jantungnya stabil, meskipun ia sebenarnya tidak memiliki jantung.


Ketika Botol Giok Jiwa dibuka, aura penindasan dengan aura membunuh meledak; cahaya hitam melonjak naik ribuan mil menembus awan sampai membuat lubang di tengahnya. Kabut hitam juga mulai menyebar dan merusak udara sekitarnya dengan racun mematikan.


Chakram Dewa di punggungnya bergerak dan membelah menjadi beberapa bagian yang mengurung Botol Giok Jiwa di tengah-tengah agar tidak pergi ataupun menimbulkan ledakan kuat lainnya.


Lin Chen mengangkat kedua tangannya saat mulai mengumpulkan Energi Abadi, kemudian mengatupkan kedua tangan sampai menimbulkan suara keras dengan getaran kuat yang menghempaskan kabut hitam. "Api Surgawi!"


Tiba-tiba api muncul dengan sembilan warna berbeda yang menyatu dan membakar Botol Giok Jiwa.


Bang!


Botol Giok Jiwa memuntahkan semua Esensi Jiwa yang tersimpan di dalamnya dan mulai terbakar.


Esensi Jiwa itu nampak menyatu karena keinginannya sendiri, kemudian kembali meledak dengan aura penindasan yang mencoba menekan Lin Chen.


"Api Surgawi! Membesar!"


Ledakan lain kembali terjadi dengan aura yang lebih kuat dari dalam tubuh Lin Chen yang mencoba membalas tekanan dari Esensi Jiwa. Darah terlihat mengalir di sudut bibirnya karena tekanan yang diberikan tadi, tapi sekarang sudah kembali pulih.


"Bahkan jika aku sudah mati, aku tidak akan membiarkanmu memurnikan Esensi Jiwa-ku!"


Esensi Jiwa dari Leluhur Malaikat dan Lord Shenjun adalah yang paling kuat saat melepaskan tekanan, menimbulkan langit marah dengan sambaran-sambaran petir bagaikan hujan.


Lin Chen mengangkat tangan kanannya; Rantai Dewa yang awalnya sudah tenang, kini kembali bergerak dengan liarnya ke langit. Rantai Dewa itu melesat dan menabrak petir hitam, kemudian meledak.


Rantai Dewa membelah menjadi beberapa bagian dan menciptakan pelindung berbentuk sangkar burung dengan langit sebagai pusatnya. Setiap petir menyambar, salah satu rantai akan lepas dari ikatan dan membalas serangan.


Lin Chen menyentuh dahinya dengan kedua jarinya, kemudian terlihat sebuah tanda berbentuk api berwarna emas, dan kembali berubah menjadi 天.


Dari langit, tiba-tiba turun sebuah cahaya emas yang jatuh seperti pilar, menekan Esensi Jiwa agar tetap tenang, meski masih ada sedikit getaran perlawanan.


Lin Chen kembali mengatupkan kedua tangannya; aura putih bagaikan nyala api membakar tubuhnya saat kekuatan yang dilepaskannya lebih besar lagi sampai memengaruhi cuaca di Alam Tiantang.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2