Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 136 : Abadi?


__ADS_3

Semesta Tian adalah Semesta 50 yang penjagaannya tidak terlalu banyak, karena pemiliknya sendiri God Realm tahap Menengah, sehingga dirasa mampu menjaganya sendiri. Tidak seperti yang berada dibawah Semesta 100, yang masih tahap Awal.


Tapi, ia merasa tidak sesederhana kelihatannya. Walaupun terlihat sepi, semua Dewa dan Dewi yang ada di Ruang Para Dewa, bisa datang ke sini untuk membantu, sama seperti kejadian di Semesta Xing.


Lin Chen yang melayang di angkasa luar, hanya diam tanpa melakukan apa pun. Ia masih mempersiapkan dirinya, sebelum akhirnya melepaskan semua kekuatannya untuk memancing Dewi Alam.


Jika yang terpancing ternyata tidak hanya satu atau dua, maka ia hanya perlu mengerahkan seluruh kekuatan, bahkan jika harus mengorbankan nyawa manusia yang tidak bersalah di Semesta Tian. Asalkan mampu membunuhnya, itu semua sepadan, karena ia bisa membangkitkan manusia yang sudah ia bunuh nantinya.


Lin Chen mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin, mengalirkan Energi Dewa dan Iblis di tangannya, menciptakan getaran pada Semesta Tian yang terlihat hampir pecah.


"Datanglah!" Lin Chen mengayunkan tangannya, memukulkan tinjunya pada ruang kosong di depannya.


Bang!


Dentuman keras dengan ledakan yang tidak bisa dijelaskan terjadi saat Lin Chen melepaskan kekuatannya. Gelombang suara menyebar ke segala arah, meretakkan bintang-bintang yang berada di sekitar dan meledakkannya sekali jalan.


Walaupun ia diberi pesan untuk tidak menjadi monster atau penjahat, dan tetap berada di jalan yang benar tanpa melupakan siapa dirinya. Ia tidak bisa menahannya dan malah merusak Semesta Tian beserta isinya.


Maaf Ibu, setelah aku membunuhnya, aku pasti akan mengembalikan hidup manusia di sini.


Ratusan galaksi meledak dan membunuh semua makhluk di sana. Point Pengalaman yang ia dapatkan juga terus meningkat, tapi akan kembali berkurang setelah mengembalikan Semesta Tian kembali seperti semula.


"Tidak ada salahnya, mundur satu langkah untuk maju dua langkah."


Walau sudah membunuh banyak manusia, masih sangat jauh untuk mampu menembus tahap Akhir. Point yang ia terima sangat sedikit, bahkan tidak ada 1 Sektiliun. Ia merasa semuanya sia-sia saja, tapi tidak masalah, karena pada akhirnya semua manusia akan mati saat pertarungan dimulai.


Jadi, lebih baik ia yang membunuh mereka terlebih dahulu ketimbang Dewi Alam.


Lin Chen berbalik seraya mengibaskan tangan kirinya ke belakang ketika merasakan fluktuasi energi yang datang.


Boom!


Api menyala di angkasa luar yang tidak ada oksigen, terlihat ada celah ruang yang berada di tengah-tengah nyala api yang sangat panas. Dari dalam celah ada seorang wanita muda berambut biru langit, mengenakan hanfu biru dengan selendang hijau muda.


Splash!

__ADS_1


Tiba-tiba ada gelombang air yang sangat tinggi di angkasa luar, yang memadamkan nyala api.


"Apakah kau orang yang mengacau di Ruang Para Dewa?"


Lin Chen hanya diam menatap datar Dewi Alam yang juga menatapnya datar. Ia melirik melihat sekitar, dan mengangguk kecil saat tidak merasakan adanya Dewa atau Dewi yang membantu. Lalu ia mengalihkan perhatiannya lagi pada Dewi Alam yang tetap tenang.


"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa meningkat secepat ini. Mungkin kau merasa aku lebih lemah dari Dewa Pedang, karena Semesta yang aku perintah berada di peringkat yang jauh dibawahnya. Tapi, asal kau tahu, aku hampir menembus tahap Akhir."


Lin Chen masih tetap diam tanpa bergeming dari tempatnya berdiri. Ia menghela napas panjang dari mulutnya, lalu mendongak menatap Dewi Alam. "Kau banyak bicara untuk orang yang tidak bisa mengekspresikan dirinya."


Dewi Alam tidak berbicara lagi, hanya menatap tajam Lin Chen. Kemudian, ia mengulurkan tangannya ke depan, membuka telapak tangannya. Ada gumpalan air sebesar ibu jari yang melayang di tangannya.


Ketika Dewi Alam mengepalkan tangannya, ada gelombang air yang menyebar dari sela-sela jarinya. Air itu meledak seperti bom yang dijatuhkan ke lautan luas.


Lin Chen yang berada jauh di bawah Dewi Alam, menengadahkan kepalanya melihat gelombang air yang sangat besar seperti kain luas yang menutupi semua pandangannya. Ia mengalirkan Energi Dewa di tangan kanannya, menciptakan gumpalan api yang ukurannya seperti kelereng kecil.


Lin Chen mengayunkan tangannya ke atas, melemparkan gumpalan api kecil mengarah pada air seluas galaksi yang jatuh ke arahnya.


Wush! Boom!


Psshh!


Air dalam volume besar itu menguap karena terkena lautan api yang sangat panah, bahkan sampai menciptakan fenomena lain seperti melelehnya ruang kosong yang tidak ada apa pun di sana.


Dewi Alam tidak terkejut sama sekali, ia sudah pernah merasakan serangan Lin Chen yang lebih kuat dari ini saat di Ruang Para Dewa. Yang ia pikirkan, hanya mengapa serangan ini sangat lemah ketimbang serangan tiga tahun lalu.


Lin Chen yang menengadahkan kepala, tiba-tiba menoleh ke belakang melihat tetesan air yang berkumpul di sana. Ia mengangkat tangan kirinya, mengarahkan pada tetesan air dan membakarnya.


Tetesan air itu kembali menguap, yang kemudian menyebar lagi ratusan meter dari Lin Chen. Tidak lama setelahnya, uap air kembali berkumpul membentuk Dewi Alam yang hanya setengah tubuhnya saja.


"Kau tidak akan bisa membunuhku, aku terbuat dari air. Selama ..."


Lin Chen mendengkus dingin menatap Dewi Alam. "Selama ada air, kau akan selalu hidup?" Ia hanya perlu menghilangkan semua sumber air yang ada di Semesta Tian, tapi, apabila klon Dewi Alam ada di Semesta lain, maka lain lagi ceritanya.


Dewi Alam terpana dengan pengetahuan Lin Chen. Ia bertepuk tangan, memberikan pujian pada Lin Chen yang sudah mampu mengetahui hal-hal ini meski baru beberapa tahun menjadi Dewa.

__ADS_1


Bukannya senang, Lin Chen merasa terhina ketika Dewi Alam bertepuk tangan. Ini seperti mengatakan bahwa dirinya tidak berpengalaman, yang mana harus selalu diberi pujian setiap mendapatkan atau mengetahui sesuatu.


"Harus kuakui, kau adalah lawan yang paling menyebalkan. Aku harus benar-benar meledakkanmu tanpa sisa dengan serangan kuat."


Tubuh Lin Chen diselimuti oleh Energi Iblis yang membara seperti nyala api, mengubah penampilannya seperti Iblis dengan mata merah menyala. Ia tidak menggunakan Cambuk Iblis yang biasanya selalu ia gunakan karena merupakan senjata yang kuat, tapi untuk melawan Dewi Alam, ia merasa itu percuma.


Seberapa kuat menyerang air, air akan tetap utuh.


Atasan Lin Chen terbakar habis, memperlihatkan dadanya yang bidang dengan tato merah di lengan kanan maupun dada kirinya. Tanda merah menyala seperti api juga ada di dahi, serta rambutnya yang sedikit berubah merah.


Tidak ada Chakram Iblis, melainkan Api Iblis yang muncul di belakang punggungnya. Api berwarna merah gelap seperti darah, yang sangat panas melebihi api Dewa Phoenix. Api ini adalah hasil ciptaan dan latihan yang ia lakukan selama ini, meski dari luar ia hanya terlihat bersantai-santai dan memanjakan keluarga.


Dewi Alam melihat sekeliling saat merasakan suhu yang mulai naik. Ia juga melihat banyak sekali ruang-ruang di Semesta Tian yang mulai retak dan terbakar. Tapi, kepanikannya hanya berlangsung beberapa detik saja, yang kemudian kembali tenang.


Lin Chen menyilangkan tangan kanannya di depannya, ada pisau kecil yang ia genggam. Pisau itu terbuat dari Api Iblis yang sangat panas dan mengandung niat membunuh yang kuat. "Mati!" Ia mengayunkannya tangannya.


Dari ayunan tangannya menciptakan suatu kekuatan yang sangat kuat berwarna merah, kekuatan itu membelah Semesta Tian menjadi dua bagian. Terlihat ada garis lurus berwarna merah yang panas, meledakkan galaksi sejauh mata memandang.


Lin Chen tidak berhenti disitu saja, masih banyak lagi yang harus ia hancurkan. Ia berbalik seraya mengibaskan tangan kanannya, meledakkan galaksi yang berada jauh di belakang.


Dewa Alam tetap tenang seperti tidak peduli dengan kehancuran Semesta Tian. Dengan menatap datar Lin Chen, ia berucap, "Aku mengerti bagaimana kau bisa membunuh Dewa Pedang. Tapi ..."


Dewi Alam mengibaskan tangannya, menciptakan fluktuasi energi yang sangat kuat hampir di seluruh penjuru Semesta Tian. "Dengan kekuatanmu yang sekarang, kau tidak bisa mengalahkanku. Bahkan, tahap Akhir saja tidak bisa, apalagi kau."


Lin Chen melihat sekitar di mana fluktuasi energi mulai berkumpul, ia bisa melihat adanya gumpalan tanah yang membesar dalam hitungan detik, mengubahnya menjadi bintang-bintang penuh dengan sumber air.


"Ini ..." Lin Chen tidak bisa berkata-kata, tidak berharap jika Dewi Alam yang harusnya hanya mengendalikan sekitar, tapi juga mampu menciptakan bintang.


Akhirnya ia mengerti mengapa hanya Semesta Tian saja yang penjagaannya tidak terlalu ketat, karena memang sangat sulit untuk dibunuh. Tapi, ini adalah tantangan tersendiri yang membangkitkan ambisi untuk menjadi yang lebih kuat lagi.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2