
Tidak terasa sudah sampai di hamparan tanah tandus yang merupakan gurun pasir, tapi anehnya ada aliran sungai yang sangat deras jauh di kedalaman tanahnya. Ketika dilihat dengan Mata Dewa, terlihat ada alam lain yang berada jauh di dalam tanah, seperti halnya gunung dan hutan.
Walaupun sudah tahu ada tempat lain di bawah tanahnya, tapi mereka tidak langsung turun ke sana, bukan hanya karena tempatnya yang terlalu dalam, tapi juga karena banyak monster di permukaannya yang harus dibunuh.
Kalajengking Api, Viper Tanduk dan Tikus Racun.
"Banyak monster yang bersembunyi, kalian bertiga harus berhati-hati. Ayah hanya akan membantu jika kalian tidak mampu menahannya."
Lin Chen menoleh ke belakang melihat ketiga anaknya, kemudian kembali berucap, "Apakah kalian siap?"
"Siap, Ayah!"
Walaupun mengatakan sudah siap, ketiganya masih di Profound Ark dan mengamati dari atas untuk beberapa waktu.
Wusshh...
Energi spiritual berbeda warna mulai menyelimuti tubuh ketiganya seperti nyala api, membuat kekuatan fisik mereka yang mulai meningkat secara signifikan.
Tubuh mereka mulai ada perubahan setelah berhasil menyerap habis Air Surgawi, pemahaman mereka terhadap kekuatan masing-masing sudah meningkat cukup bagus.
Lin Qiao Jianying sudah mulai mampu memanfaatkan kekuatan Dewa sesuai kehendaknya, tidak seperti sebelumnya yang muncul karena amarah saat melihat Mein terluka.
Lin Da Zixuan juga bisa memanfaatkan kekuatan Iblis, walaupun hanya mampu memunculkan satu Cambuk Iblis, dan itu pun ukurannya tidak terlalu besar, mungkin tiga kali panjang lengannya.
Tidak seperti Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan, Lin Mein An tidak memiliki kekuatan Dewa ataupun Iblis, tapi ia tetap bisa memanfaatkan salah satu kekuatan Ayahnya yang mengalir di pembuluh darahnya.
Kaisar Wanita, atau Maharani, itu adalah salah satu teknik yang digunakan Lin Mein An setelah berusaha sangat keras membangkitkan kekuatan dari Ras Naga. Untuk Naga Biru, ia masih harus berusaha sangat keras, mungkin tiga kali lebih keras dari Lin Da Zixuan.
"Hoooo..." Lin Chen mengusap dagunya pelan melihat anak-anaknya yang sudah meningkat pesat. Tapi, ia sedikit kesal karena sudah beberapa menit semenjak anak-anak menjawab, namun mereka tidak turun.
"Kapan kalian akan ..." Baru saja berbicara, ketiga anaknya langsung melompat turun dari Profound Ark.
Jarak antara tempat mereka melompat dan permukaan pasir cukup jauh, tidak seharusnya anak-anak melompat setinggi itu. Tapi, tidak akan ada hal berbahaya bagi mereka yang sekarang.
Kekuatan monster-monster yang berada di dalam gurun pasir sendiri dibawah Ranah Jenderal Dewa, sehingga tidak masalah bagi anak-anak untuk melawannya.
Booom!
Tiba-tiba ada suara ledakan dari dalam pasir, membuat pasir itu melonjak dan beterbangan ke segala arah tertiup angin, menciptakan asap tebal yang menghalangi pandangan.
Lin Mein An yang turun dalam posisi kedua kaki di bawah, mulai berputar dengan kedua tangan merentang. "Teknik Element Kayu, Hutan Kehidupan."
Gurun pasir tandus mulai bergetar dan terbelah, dari dalam celah tanah itu mulai tumbuh tunas baru yang semakin besar seiring dengan berjalannya waktu, sampai menciptakan sebuah hutan lebat.
Hutan yang baru diciptakan itu mengandung Esensi Kehidupan dan mulai menyerap asap cokelat yang bercampur dengan debu pasir, membuat keadaan kembali membaik.
__ADS_1
Ketiganya mendarat di puncak pohon yang baru saja tumbuh, melihat Kalajengking Api yang ukuran tubuhnya tiga kali ukuran bus. Ada juga Tikus Racun berwarna yang sama seperti pasir, dengan ukuran seperti sapi.
Lin Chen yang berada ratusan meter dari permukaan tanah, menunduk melihat anak-anaknya yang baru turun.
Walaupun mereka berdua memiliki kekuatan Dewa dan Iblis, mereka hanya bisa meningkatkan kekuatan, untuk teknik-tekniknya, mereka bisa menggunakannya setelah mendapatkan Pencerahan dan menerima Pendewaan.
Kalajengking Api mengangkat ekornya mengarah pada Lin Mein An. Pada ekor Kalajengking Api itu ada warna merah di ujungnya, dan mulai terasa suhu yang naik secara perlahan.
Lin Qiao Jianying tidak diam saja melihat Kalajengking Api yang bersiap menyerang, ia mengarahkan tangan kanannya pada Kalajengking Api, kemudian mengepalkan tangannya.
Freeze!
Kalajengking Api itu langsung membeku bahkan sebelum sempat melepaskan serangan yang sudah dikuatkan.
Lin Da Zixuan mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin seperti menggapai langit, ada kilatan kecil di pergelangan tangannya dan awan hitam mulai berkumpul di langit. Ketika ia mengayunkan tangannya, ada petir yang jatuh dari awan hitam.
Blarr!
Kalajengking Api meledak menjadi kepingan es kecil setelah terkena sambaran petir merah kehitaman. Petir ini lebih kuat dari petir yang biasanya digunakan Lin Da Zixuan, karena memang mengandung kekuatan dari Iblis.
Wusshh!
Angin bertiup kencang menerbangkan dedaunan pohon ataupun mencabut pohon dari dalam tanah, tapi pohon itu kembali tertarik oleh suatu energi biru yang menariknya kembali ke tempat semula.
Lin Chen tersenyum tipis melihat anak-anaknya yang semakin baik dalam hal kerja sama dan berburu monster, tapi ia merasa ini belum cukup untuk bisa ia lepas di dunia luar yang keras.
Getaran hebat terjadi di gurun pasir saat tercium aroma yang menggugah selera monster, aroma itu berasal dari 3 Harta yang Lin Chen sebarkan di atmosfer.
Booom! Booom! Booom!
Dari berbagai tempat, pasir melonjak naik membentuk pilar tinggi yang kemudian jatuh bagaikan hujan. Terlihat ada Kalajengking Api, Viper Tanduk dan Tikus Beracun yang bermunculan.
Jumlah total monster itu setidaknya mencapai 2500, dengan kekuatan tertinggi adalah Dewa Giok, Jenderal Dewa.
"Cobalah lawan mereka semua, mereka belum mendapatkan kesadaran dan tidak memiliki bentuk manusia, seharusnya kalian bisa mengalahkannya dengan mudah."
Ketiganya tidak menjawab atau membalas, melainkan melepaskan aura yang lebih kuat lagi.
"Pedang ..." Lin Mein An merentangkan kedua tangannya, menciptakan pusaran cahaya biru yang muncul di atas setiap monster yang ada. "Jatuh!" Ia mengayunkan kedua tangannya sampai saling bersentuhan.
Karena tidak memiliki kemampuan Dewa dan Iblis, Lin Mein An belajar Teknik Pedang Penghancur langsung dari Lin Chen.
Whooooosh! Whooooosh! Whooooosh!
Ratusan pedang tajam melintas cepat membelah udara mengarah pada monster yang ada dan menusuk tubuhnya.
__ADS_1
Semua serangan pedang itu tidak langsung membunuh monster, melainkan menahan gerakan mereka agar tidak terlalu cepat.
Lin Da Zixuan yang berdiri di puncak pohon, bergerak sangat cepat sampai menciptakan gelombang udara. Hanya dalam waktu singkat, ia sudah tiba di bawah kepala Viper Tanduk yang panjang totalnya sekitar dua ratusan meter.
"Petir ..." Tangan Lin Da Zixuan memancarkan kilatan petir saat menyentuh leher Viper Tanduk.
Tidak memakan waktu lama, baru saja menyentuh kepala Viper Tanduk, Lin Da Zixuan melepaskan ledakan petir dari telapak tangannya. Petir itu meluncur sangat cepat, menembus kulit Viper Tanduk dan meledakkannya dari dalam.
Blarr! Booom! Booom!
Petir yang menghancurkan kepala Viper Tanduk itu menyebar ke segala arah, menghancurkan Viper Tanduk lain yang sudah ditandai dengan Jarum Petir. Jarum Petir itu sudah ia tanamkan bersama dengan Pedang Pengunci milik Lin Mein An.
Setengah monster sudah terbunuh hanya dari gerakan sederhana, membuat monster-monster terlihat ketakutan tak berani lagi menyerang.
Lin Qiao Jianying akhirnya bergerak setelah melihat Kakak maupun Adiknya yang bertindak. Ia menyentuhkan kedua telapak tangannya, dengan aura Dewa yang mulai memadat di tubuhnya membentuk Cincin Dewa yang ada di pergelangan tangannya.
"Teknik Element Es, Gerakan Keempat. Badai Kematian!"
Angin mulai bertiup kencang, berputar-putar seperti tornado yang menarik semua benda di sekitarnya dan menggulungnya. Kemudian angin itu mulai berubah dingin dengan jarum-jarum es yang muncul di tornado angin, menggiling semua monster menjadi daging bubur.
Dari kejauhan, tornado yang sebelumnya terlihat cokelat karena debu, berubah menjadi biru keputihan karena es dan kembali berubah menjadi merah gelap seperti darah.
"Element Kayu!" Lin Mein An masih mencoba menyerang meski semua monster sudah tertarik oleh serangan Lin Qiao Jianying. Ia mengangkat kedua tangannya setinggi mungkin, kemudian berlutut. "Kepungan Empat Arah!"
Lin Mein An membanting kedua tangannya di dinding spiritual tempatnya berpijak.
Getaran hebat kembali terjadi dari empat arah yang berbeda, dari getaran itu tanah mulai terbelah seperti jurang dalam. Kemudian, tiba-tiba ada sulur tanaman yang mulai tumbuh dengan kecepatan mengerikan, tumbuh sampai menggapai awan.
Lin Mein An berdiri seraya mengangkat kedua tangannya di depan dada. "Badai!" Ia menyentuhkan kedua tangannya.
Empat pohon dari arah yang berbeda itu mulai memancarkan sinar biru, yang kemudian dedaunan pohon itu terlepas seluruhnya mengepung Badai Kematian yang masih menggulung monster.
Hingga tak lama, jutaan daun itu bergerak secara bersamaan, mendekati Badai Kematian seperti pedang tajam.
Lin Da Zixuan juga tidak tinggal diam, ia mengarahkan telapak tangannya pada Badai Kematian. Dari telapak tangannya, terlihat ada seutas petir yang melesat dengan kecepatan penuh, menghantam Badai Kematian.
Benang Petir yang menghantam Badai Kematian itu pecah, digantikan dengan petir yang terus menyambar di dalam Badai Kematian.
Booom! Booom! Booom!
Ada ledakan yang terus-menerus terjadi dengan api besar di Badai Kematian, itu bisa terjadi karena daun yang mengandung Esensi Kehidupan, terbakar oleh petir.
Lin Chen tersenyum tipis seraya mengusap dagunya, puas akan kerja sama anak-anaknya. "Tornado es, kemudian daun, dan petir? Boleh juga."
...
__ADS_1
***
*Bersambung...