Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 061 : Kehilangan?


__ADS_3

Pandangan Lin Chen sangat gelap dan kesulitan untuk bernapas, ia seperti tenggelam di kedalaman lautan yang menekan tubuhnya. Tubuhnya merasakan sakit yang sangat menyiksa, ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar dan tidak bisa bernapas.


"...En..."


"...Hen..."


"...Chen..."


"Lin Chen!"


Lin Chen membuka matanya lebar secara tiba-tiba dan melihat langit merah yang ia kenal. Langit ini adalah langit yang sudah pernah ia datangi dan hancurkan, ini adalah Alam Bawah. "Hah, hah, hah ..." Napasnya terengah-engah tak beraturan, teringat akan kejadian sebelumnya.


Dengan kedua tangan menyentuh tanah hitam yang tandus, ia menopang badannya untuk duduk dengan meluruskan kaki. Kemudian ia memegangi kepala kanannya dan merintih kesakitan. "Bagaimana ..."


"Saat-saat terakhir, kau memahami Esensi Dao Dewa dan mendapatkan kemampuan yang aku saja tidak mendapatkannya ..."


"Kemampuan Abadi! Kau tidak akan terbunuh. Bahkan jika tubuh utama telah hancur, jiwamu bisa bepergian ke klon yang kau sebarkan dan mengubahnya menjadi tubuh utama. Begitu seterusnya."


Lin Chen tidak terlihat bahagia saat mendengar itu, meski kemampuan itu memang benar-benar sangat berguna dan luar biasa. "Seberapa kuat serangan tadi?"


"Dia hampir setara dengan Tingkat Tujuh, dan Ziranzhi hampir setara dengan Tingkat Enam."


Lin Chen mengepalkan tangannya erat, benar-benar kesal karena ia mati begitu saja tanpa ada perlawanan sama sekali. Jika Ziranzhi yang merupakan terkuat di Alam Yongheng terbunuh, tentunya ia bisa mati dengan cepat.


"Ngomong-ngomong ..." Lin Chen menengadahkan kepalanya melihat langit merah dan menembusnya ke Alam Semesta. "Mengapa Alam Semesta masih bertahan?"


Putih tidak lagi menjawabnya langsung seperti tadi, seperti tidak tahu alasan tertentu mengapa Alam Semesta masih bertahan. "Entahlah, mungkin mereka hanya menargetkan Alam Selestial."


Lin Chen menganggukkan kepalanya, kemudian memijat keningnya. Ia benar-benar pusing dan kelelahan, mentalnya sedikit terganggu karena organisasi yang sangat kuat tadi. Mungkin kekuatannya 1000 kali dari Zhiranzhi. Entah membutuhkan waktu berapa lama untuk menembusnya, belasan atau puluhan tahun?


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Lin Chen melipat lututnya dan menekan tangannya pada lutut, yang kemudian berdiri seraya menepuk-nepuk pundak yang berdebu.


"Tiga bulan."


Lin Chen mengerutkan keningnya, kemudian mengecek apakah ada perubahan pada tubuhnya, dan ia merasakan kekuatannya sudah menembus batas akhir Huangdi dan berhasil meningkat ke Tongzhi tahap Awal.


"Mengapa aku yang diincar?"


"Aku tidak tahu, mungkin karena kau yang dirasa terkuat atau mengancam kekuasaan organisasi itu, sehingga mereka mengincarmu."


Lin Chen benar-benar tidak habis pikir, lagi-lagi dengan alasan yang sama. Saat menjadi Kaisar dari Istana Naga, ia dibunuh karena dirasa akan mengancam kedudukan Kaisar Surgawi. Ketika menjadi Founder dan CEO dari C.L Crop, ia dibunuh karena mengancam kekayaan Mo Feng.

__ADS_1


Sekarang? Kekuatannya juga mengancam?


"Hah ..." Lin Chen mengembuskan napas panjang, kemudian menghilang karena berpindah ke dalam Ruang Dimensi.


***


Ruang Dimensi


Lin Chen mendarat di tempat biasa yang mana adalah perbukitan dengan hamparan bunga yang indah. Bukannya kebahagiaan yang ia dapatkan saat tiba di sini, melainkan kebencian, amarah, dendam dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.


Apa yang ia lihat sampai membuatnya menjadi seperti ini, adalah semua kota-kota yang ada sudah runtuh menjadi puing-puing. Tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan, entah manusia atau monster.


"Sy- System."


Layar interface muncul di depan matanya, yang artinya System masih terhubung dengannya. Tapi tetap saja, tidak ada manusia yang bertahan hidup di sini.


Lin Chen menggeser layar interface di depannya dan mendongak, kemudian pergi dengan kecepatan tertinggi seperti angin yang bertiup. Hanya dalam kedipan mata saja, ia sudah tiba di reruntuhan tebing yang merupakan fondasi Kediaman Jinguang Long dibangun.


Lin Chen mengambil bebatuan besar dan melemparkannya menjauh, ia berusaha untuk mencari orang yang sangat ia sayangi. Hingga belasan detik berlalu, ia melihat Yan Xue yang tergeletak di tanah dengan darah yang telah mengering di bagian pelipis.


"Xue'er, Xue'er, Xue'er." Lin Chen menepuk-nepuk pipi Yan Xue dengan lembut dan semakin keras.


Air matanya mulai menetes saat menyadari bahwa Yan Xue sudah meninggalkannya untuk selamanya, namun ia tidak ingin mempercayai hal itu dan terus berusaha untuk membangunkan Yan Xue.


Air matanya mengalir deras dari matanya, berkumpul di dagu dan jatuh mengenai wajah Yan Xue yang putih pucat, serta suhunya benar-benar sangat dingin.


Lin Chen menoleh ke kiri dan melihat ada kaki seorang wanita yang ia kenal. Dengan kekuatannya, ia memindahkan batu besar dan terlihat Xue Ying yang juga tergeletak dengan luka yang sama.


"Tunggu sebentar ..." Lin Chen meletakkan tubuh Yan Xue di tanah dengan perlahan, tidak ingin melukai istrinya.


Kemudian, ia mengangkat tubuh Xue Ying dan melakukan hal yang sama pada Yan Xue sebelumnya. "Yi'er, Yi'er, Yi'er ..."


Tidak ada respon sama sekali setelah belasan menit mencoba membangunkan Yan Xue dan Xue Ying, sampai suaranya serak hampir tidak bisa bersuara lagi, namun ia masih terus memanggil nama keduanya tanpa henti.


Lin Chen menangis tanpa menahan diri, air matanya mengalir deras membasahi wajahnya, napasnya tersengal-sengal. Ia juga terus memeluk keduanya, Yan Xue di kanan dan Xue Ying di kiri. "Xue'er, Yi'er ..."


Tiga menit kemudian, Lin Chen melonggarkan pelukannya seraya mengembuskan napas panjang, terlihat ada energi yang berkumpul di dalam tubuhnya yang sangat kuat. "Aaaahhh!" Ia menengadahkan kepalanya.


Wush!


Cahaya merah melonjak ribuan mil ke langit dari mulut dan kedua mata Lin Chen, membuat langit berubah warna menjadi merah, serta mengubah struktur Ruang Dimensi. Banyak tulang-tulang yang mulai bermunculan dan semua tanaman mulai layu, serta gunung-gunung meledak.

__ADS_1


Lin Chen melayang perlahan dengan adanya perubahan pada tubuhnya. Dimulai dari cambuk yang bermunculan tanpa adanya chakram, telinganya runcing seperti pedang, matanya merah menyala tanpa ada warna putih.


Rambut Lin Chen juga bertambah panjang dan warnanya berubah menjadi merah darah, tanduk mulai muncul di dahi serta kedua pelipis. Taring mulai tumbuh di bagian atas maupun bawah, kuku jari-jarinya mulai memanjang.


Duarr! Duarr! Duarr!


Ruang Dimensi terus meledak sangat mengerikan seperti akhir dari dunia, dan ini bukan hanya terjadi di sini saja, tapi juga Alam Bawah yang meledak-ledak. Itu semua karena klon lain Lin Chen mengeluarkan emosi yang sama seperti ini.


"Chen'er ..."


"Chen'er Sayang ..."


"Gege ..."


"Kakak ..."


"Yang Mulia Kaisar ..."


"Dewa ..."


Mata Lin Chen mulai ada perubahan, terlihat ada kilauan cahaya putih di kedua bola matanya. Tubuhnya juga mulai berubah kembali seperti semula, meski sedikit lambat tidak seperti saat ia menjadi Iblis.


Lin Chen mulai turun kembali secara perlahan dan mendarat di tanah dengan kedua lutut yang menyentuh tanah terlebih dahulu. Ia memeluk erat tubuhnya sendiri dengan air mata yang masih saja mengalir deras, ada perasaan hangat yang juga memeluknya dari segala arah secara bersamaan.


Pakaiannya yang merah darah berubah menjadi putih bersih tanpa ada kotoran sama sekali, meski saat ia sedang berlutut di tanah berdebu yang kotor. Rambut merahnya juga berubah warna menjadi putih, ada juga sepasang sayap yang muncul di punggung.


Keadaan di Ruang Dimensi kembali seperti semula, semua bangunan yang hancur mulai menyatu kembali seperti tidak pernah terjadi kehancuran. Meski, orang yang mati tidak bisa kembali hidup.


Emosi Lin Chen ini sampai ke Alam Bawah, mengubah Alam Bawah menjadi daratan yang sangat subur. Tanah-tanah hitam tandus mulai menjadi cokelat kehitaman yang lembab, langit merah menjadi biru cerah, pepohonan mulai tumbuh dengan aliran sungai.


Bebatuan dalam tanah mulai terangkat membentuk dataran tinggi dan menjadi pegunungan, kehidupan juga mulai bermunculan meski hanya sebatas binatang-binatang kecil tanpa kekuatan.


Aura spiritual di Alam Bawah juga sudah dimurnikan, menjadi tempat yang sangat baik bagi manusia untuk berkultivasi.


Lin Chen mendongak dan mengusap air mata yang membasahi wajahnya dengan kedua lengan. Terlihat mata putihnya kembali berkilau seperti telah mendapatkan kesadarannya kembali. "Kalian semua, tunggu di sini, aku berjanji akan membangkitkan kalian semua ..."


Lin Chen masih merasakan jiwa-jiwa semua orang, meski terpecah-pecah menjadi molekul cahaya yang sangat kecil. Dengan kekuatannya yang sekarang, masih belum cukup untuk menyatukan semua jiwa.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2