
Kelompok lima orang sudah datang ke Istana Tiantang, tapi belum menuju tempat untuk menciptakan Tanah Suci, karena kesulitan dalam mencari ruang yang cocok. Bukannya tidak ada ruang, tapi terlalu banyak ruang dan sulit untuk memilih yang cocok.
Kamar yang tak terhitung jumlahnya berada di Istana Tiantang, semuanya sangat luas dengan ukuran lapangan sepak bola untuk satu kamarnya.
Entah mengapa dan siapa yang membuat Istana Tiantang seperti ini. Benar-benar merepotkan. Bahkan, Lin Chen sering tersesat dan memasuki kamar kosong.
"Bagaimana, jika ruang bawah tanah saja? Tidak pernah ada yang datang ke sana, dan kebetulan tidak pernah digunakan karena tidak ada apa-apa di sana." Setelah kesulitan untuk mencari ruangan, akhirnya Lin Chen menyarankan tempat luas di bawah tanah, atau harus dikatakan di bawah awan?
Permaisuri Nuwa tertegun tanpa bisa berkata-kata; merasa kesal dan marah, tapi tidak melakukan apa-apa selain berkata, "Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal? Kita sudah membuang waktu selama dua jam hanya untuk mencari ruangan dan tidak ada hasil seperti ini."
Lin Chen tersenyum canggung, tetapi tetap diam tanpa kata dan berjalan, memimpin mereka semua untuk turun ke ruang bawah tanah.
...
Setelah berjalan cukup lama, mereka tiba di pintu besar yang cukup membuat dua bus ditumpuk. Pintu itu berwarna emas dengan ukiran Naga dan Phoenix; ada aura kuat yang menekan siapa pun di bawah Lord Realm. Tapi tidak dengan Xue Ying, tidak merasakan tekanan sama sekali, bukan hanya kekuatannya yang sudah bisa dianggap seperti Lord Realm, tapi dengan Qi Kekacauan yang melimpah di tubuhnya, tekanan seperti ini tidak membuatnya merinding.
Lin Chen menunjuk jarinya pada lingkaran di tengah-tengah pintu kembar. Gumpalan emas muncul di depan jarinya, melesat ke arah lingkaran dengan kecepatan pelan seolah-olah tertiup angin.
Cahaya emas itu tenggelam di dalam lingkaran, kemudian lingkaran bercahaya searah jarum jam sampai membentuk lingkaran penuh. Pada saat itu, pintu bergetar seperti mesin pemotong rumput, kemudian terdengar suara besi berderak dan pintu pun terbuka perlahan.
Aura kuat meledak saat pintu terbuka dengan aroma obat yang menyebar dan penindasan dari Roh Pertempuran. Dan, harus diketahui semua ini hanyalah jejak yang tertinggal, karena semua yang ada di dalamnya sudah dikosongkan dan dipindahkan ke Paviliun Harta yang baru dibangun empat tahun lalu.
Alasan pemindahan itu adalah untuk kenyamanan, karena Istana Tiantang tidak boleh dimasuki sembarang orang, akan merepotkan mereka yang ingin meminta sumber daya dalam pengembangan Paviliun atau Wilayah Dewa dan Dewi yang tinggal di Wilayah Tiantang. Bukan hanya repot dalam hal meminta izin, ini juga merepotkan Lin Chen yang harus menerima urusan dalam memberikan surat, kemudian mengirim kembali surat yang diterima.
Akan baik-baik saja jika Lin Chen senang dalam memerintah, tapi Lin Chen sangat malas dalam memerintah, bahkan memegang dokumen pun enggan. Bayangkan, saat ia sedang berhubungan dengan Yan Xue di dalam kamarnya, dan saat itu sedang intens, merasakan kenikmatan yang membara, kemudian ada gangguan yang membuat mereka berhenti hanya karena surat.
Tapi, tidak mungkin ia mengatakan alasan pemindahan Ruang Harta karena itu.
Lin Chen masuk ke dalam ruangan yang sangat luas: tingginya seperti sepuluh Burj Khalifa yang ditumpuk dan luasnya beberapa kali lebih luas dari Daratan Huaxia, China.
Ruangan di sini berwarna emas karena Energi Murni yang padat.
Lin Chen masuk ke dalam dan langsung merasakan aura yang lebih kuat lagi. Tapi, dengan lambaian tangannya, postur ini seolah-olah sedang menepis lalat; aura yang berada di dalam ruangan langsung menghilang.
"Apakah tempat ini terlalu kecil?" tanya Lin Chen menoleh ke belakang, melihat Permaisuri Nuwa yang sedang menilai sekitar.
Permaisuri Nuwa menarik pandangannya dan membalas tatapan Lin Chen. Dengan menggelengkan kepalanya, ia menjawab, "Tidak, ini sudah lebih dari cukup. Lagi pula, tidak banyak yang mampu menahan Qi Kekacauan di Wilayah Tiantang."
__ADS_1
Lin Chen menganggukkan kepalanya, kemudian berjongkok saat menyentuh lantai dengan telapak tangan kanannya. Ia menyebarkan energi di tubuhnya yang sudah berubah warna menjadi ungu, meski masih mengandung warna emas. Jika tadi saat membuka pintu menggunakan sedikit energi, sekarang ia menggunakan energi aslinya yang sudah menjadi Qi Kekacauan.
Dalam pembuatan Tanah Suci tidak terlalu sulit karena memang sudah ada ruangannya. Awalnya, ia ingin membuat menggunakan Gerbang Dimensi seperti Dimensi Ruang yang dimiliki oleh peninggalan Heavenly Realm di Kota Yang, Dimensi Leluhur Yang.
Tapi setelah dipikir-pikir, Lord Realm yang sudah mencapai tahap 70 hanya bisa dihitung dengan jari dan itu pun cukup dengan satu tangan. Sehingga terlalu berlebihan jika menciptakan Dimensi Ruang, karena itulah menciptakan Tanah Suci di tempat yang sudah ada.
Bang!
Auranya meledak dengan garis-garis ungu membentuk jaring laba-laba yang menyebar ke seluruh ruangan: dari lantai, dinding dan langit-langit ruangan memiliki motif yang sama. Pada saat itu, tekanan di dalam ruangan terasa lebih berat lagi, kemudian garis-garis itu bergerak membentuk formasi array pertahanan.
Dinding dan lantai berdengung dengan getaran kecil, kemudian memancarkan cahaya ungu keemasan yang sesaat kemudian mengubah warna di dalam ruangan.
"Array tingkat Dewa. Harusnya bisa menahan tekanan dari Qi Kekacauan." Lin Chen berdiri seraya bertepuk tangan, membersihkan tangannya.
Lin Chen menoleh ke kiri menatap Xue Ying yang tidak terganggu dengan sekitar, bahkan memakan kentang goreng yang dibawanya. Terkadang, ia sedikit kesal dengan sikap Xue Ying yang acuh tak acuh dengan sekitarnya. "Yi'er ..." Ia mencubit pipi Xue Ying. "Lanjutkan."
Xue Ying menatap tajam Lin Chen, kemudian memalingkan wajahnya seraya mendengus kesal. Ia melangkah ke depan setelah menyimpan kentang goreng yang dibawanya.
Xue Ying mengangkat kedua tangannya, meluruskannya ke depan seperti menyentuh dinding.
Telapak tangannya terdapat lubang hitam, tapi tidak memiliki daya hisap, melainkan dorong.
Tekanan kuat itu mendistorsi ruang dan memecahnya seperti kaca. Yang terlihat di dalam ruang hanyalah ruang hampa dengan badai ruang yang sangat berbahaya bahkan untuk Lord Realm.
Setelah mengubah ruang menjadi ketiadaan, guntur bergemuruh dengan petir ungu seperti aliran listrik yang menyambar dengan ganasnya. Tapi itu belum semua, Xue Ying terus melepaskan Qi Kekacauan yang tiada tara, mengubah kabut menjadi embun dingin yang menyengat seperti listrik.
...
Waktu terus berjalan dan semua ruangan sudah menjadi ruang hampa dengan petir yang terus menyambar tanpa henti; sengatan yang dikeluarkan juga cukup kuat, tapi anehnya Xue Ying yang belum menyentuh Lord Realm terlihat baik-baik saja. Hal ini mengusik ketenangan Permaisuri Nuwa dan Tao Agung, mereka ragu dengan identitas Xue Ying yang hanya God Realm tapi memiliki ketahanan yang luar biasa.
Tapi daripada memikirkan Xue Ying, Permaisuri Nuwa dan Tao Agung yang terlahir di Dimensi Kekacauan, tidak bisa tenang ketika merasakan Qi Kekacauan yang berlimpah. Napas mereka berat seperti ada batu yang menyumbat hidung mereka.
Lin Chen mengerutkan keningnya, merasa bahwa Xue Ying terlalu bermain-main sampai harus menghabiskan waktu lama untuk mengeluarkan Qi Kekacauan. "Yi'er! Jangan bermain-main, keluarkan semuanya!"
Mendengar itu, Permaisuri Nuwa dan Tao Agung mengalihkan pandangannya pada Lin Chen, pikiran mereka menjadi liar, tapi tidak berani mengatakannya. Kemudian, mereka mengalihkan perhatian lagi pada Xue Ying ketika melihat Qi Kekacauan yang keluar lebih deras lagi dari lubang hitam.
"Baik, Kakak." Xue Ying menekankan suaranya pada 'Kakak' seperti sangat kesal.
__ADS_1
Qi Kekacauan yang sebelumnya menjadi embun, kini berubah menjadi tetesan air seperti gerimis. Tapi itu belum semua, Xue Ying menciptakan klon yang berdiri di sampingnya, dan setelah mengkonversi ratusan triliun Point System menjadi Energi Murni dan Energi Murni menjadi Energi Abadi, yang kemudian menjadi Qi Kekacauan.
Qi Kekacauan benar-benar sangat kacau di ujung ruangan; memadat membentuk gunung batu berwarna ungu yang menyentuh batas langit-langit ruangan.
Permaisuri Nuwa yang terlahir jauh lebih dulu dari Tao Agung, tidak bisa menahan dirinya untuk tetap tenang. Jika Qi Kekacauan membentuk tetesan air masih bisa ditahannya, tapi tidak dengan Qi Kekacauan yang memadat menjadi batu.
Perlu diketahui, Batu Spiritual kualitas Rendah berwarna biru muda, kualitas Sedang berwarna biru tua, dan kualitas Tinggi berwarna Ungu.
Di atas Batu Spiritual kualitas Tinggi ada Batu Mystik yang harganya 1000 Batu Spiritual : 1 Batu Mystik. Dan, 1000 Batu Mystik : 1 Mutiara Giok. Kemudian, Batu Kekacauan masih lebih berharga dari Mutiara Giok, meskipun Mutiara Giok sama-sama langka.
Permaisuri Nuwa pernah menemukan Batu Kekacauan, dan itu hanya sebesar kepalan tangan. Itu pun ia sudah memperlakukannya seperti harta yang lebih berharga dari nyawanya sendiri, dan sekarang, Batu Kekacauan itu sebesar gunung.
Kemudian, walaupun Batu Spiritual kualitas Tinggi dan Batu Kekacauan sama-sama berwarna ungu, tapi Batu Kekacauan mengeluarkan sambaran petir di sekitarnya dengan ruang yang terpecah-pecah.
Ketika Permaisuri Nuwa dalam keadaan linglung seperti orang yang kehilangan jiwanya. Tiba-tiba...
Booom!
Ledakan keras berasal dari celah antara dua puncak gunung. Terlihat ada air yang menyembur dengan derasnya, kemudian aliran air berwarna ungu dengan aliran listrik di dalamnya itu jatuh membentuk air terjun dan mengalir menciptakan sebuah sungai.
"Qi Kekacauan ... Air Kekacauan dan ... Batu Kekacauan ..." Permaisuri Nuwa berkata perlahan dengan jeda yang cukup lama.
Begitu pun dengan Tao Agung. Sebelumnya, Energi Abadi dan Air Abadi sangat langka, tapi setelah kedatangan Lin Chen ke Alam Tiantang, itu semua tidak lagi berharga, bahkan status terendah di Wilayah Tiantang memiliki banyak Air Abadi yang digunakan untuk berendam.
Tao Agung menoleh ke kiri menatap Lin Chen dan bergumam, "Apakah ... kau benar-benar anakku?"
Lin Chen mendengarnya, tapi hanya tersenyum tanpa kata. Ia sendiri tidak tahu siapa dirinya, apalagi orang lain.
Xue Ying menghela napas ketika menurunkan kedua tangannya. Ia berbalik melihat Lin Chen. "Kakak, Yi'er sudah selesai. Yi'er ingin kembali ke Bintang Qiang, ada penerimaan murid, dan Yi'er disuruh datang."
Lin Chen menganggukkan kepalanya, melambaikan tangannya saat Xue Ying pergi.
Perginya tidak melalui gerbang seperti sebelumnya, melainkan pusaran cahaya ungu yang sengaja dipasang agar Qi Kekacauan tidak meledak saat pintu terbuka.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...