
Kelompok lima manusia dengan dua Hewan Suci sudah memasuki wilayah Dinasti Ming hanya dalam waktu lima hari perjalanan, waktu yang terbilang cepat jika dibandingkan dengan waktu normal yang ditempuh, yang mana menghabiskan waktu kurang lebih dua bulan perjalanan.
Dalam waktu singkat ini, Lin Mein An sudah mulai terbiasa dengan kehidupan barunya, dan sudah menerima Kesengsaraan Petir, meski masih belum mahir dalam mengendalikan energi spiritual yang tersimpan di Dantiannya.
Lin Mein An juga sudah tidak ragu lagi memanggil Lin Chen dengan sebutan 'Ayah' dan memanggil Yan Xue dengan sebutan 'Ibu'. Ia juga memanggil Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan dengan nama panggilan masing-masing, tidak seperti sebelumnya yang memanggilnya 'Tuan Muda' dan 'Nona Muda'.
Sikap Lin Mein An benar-benar seperti seorang 'Kakak', menegur Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan jika melakukan hal yang salah, tapi tetap dalam batas wajar. Ia juga belajar bersama, mempelajari semua pengetahuan yang diketahui Lin Qiao Jianying maupun Lin Da Zixuan, entah tentang Kultivasi atau Sains.
Tapi pelajaran yang lebih penting atau dasar, adalah mempelajari 1000 Karakter China yang sangat asing bagi Lin Mein An.
Lin Chen dan Yan Xue tidak membeda-bedakan ketiganya, mereka tetap adil dalam memberikan kasih sayang, meski Lin Mein An masih sering menolak jika diberi hadiah.
Lin Chen yang duduk di kursi kusir, menatap lurus ke depan melihat jalan yang kiri kanannya adalah hamparan rumput. "Karena kita sudah memasuki wilayah Dinasti Ming, ganti pakaian kalian." Ia sudah berganti pakaian.
Hanfu putih dengan corak abu-abu di bagian bawahnya, kemudian mengenakan rompi berwarna abu-abu dan jubah hitam. Itu adalah pakaian yang dikenakan Lin Chen saat ini, serta ada plat giok hijau bertuliskan '林' atau 'Lin' berwarna emas.
Yan Xue mengenakan hanfu biru langit yang dibalut dengan jubah putih bersih, rambutnya ia sanggul karena memang sudah bersuami dan memiliki anak, meski terkadang akan ia biarkan digerai.
Lin Qiao Jianying mengenakan hanfu hijau muda seperti yang biasanya dikenakan Xue Ying selama bertahun-tahun tanpa mengganti dengan yang baru.
Lin Da Zixuan mengenakan Tang Suit merah, berbeda dengan yang lain, karena ia ingin bergerak lebih mudah.
Lin Mein An mengenakan hanfu merah, yang semakin ke bawah akan semakin oranye, ada corak-corak bunga oranye dan tidak mengenakan jubah.
"Apakah nyaman?" Lin Da Zixuan bertanya pada Lin Mein An mengenai hantu yang dikenakan.
Lin Mein An mengangkat bawahan hanfu yang ia kenakan, memutar-mutar tubuhnya seraya menunduk maupun menoleh ke belakang. "Sangat nyaman, kainnya lembut dan tidak berat, tidak mudah robek. Dan, ini tidak terasa panas, Mei'er merasa sejuk."
Lin Da Zixuan tersenyum cerah, kemudian duduk di pangkuan Lin Chen untuk membaca buku cerita.
Gerbong kereta terus bergerak dengan kecepatan stabil ke arah timur, hingga saat terus menuruni perbukitan, mereka mulai melihat sebuah kota berbentuk lingkaran. Kota itu memiliki jumlah penduduk sekitar 1.540.550 orang, kota yang terbilang kecil.
Ketika melihat kota, Lin Da Zixuan berpindah tempat dan memilih duduk di punggung Baixue. Begitu pun dengan Lin Qiao Jianying yang duduk di punggung Baimei ditemani oleh Lin Mein An.
Lin Chen dan Yan Xue memilih berjalan kaki setelah menyimpan gerbong kereta yang merupakan Artefak Ilahi.
__ADS_1
Keluarga Lin menjadi pusat perhatian semua orang yang sedang mengantre untuk memasuki Kota Mangshan, dan ini wajar karena pakaian mereka terlihat mewah, lebih mewah dari Keluarga Bangsawan di Kota Mangshan.
Gerbang kota ini hanya memiliki dua jalur, untuk masuk dan keluar, tidak ada gerbang khusus seperti kota-kota yang Lin Chen ketahui.
"Gege ..."
Lin Chen menoleh ke kiri menatap Yan Xue. "Ada apa?" Ia mengirimkan transmisi suara pada Yan Xue.
"Maaf jika Xue'er bertanya. Xue'er tahu Gege harus melawan Dewa, apakah kita bisa hidup santai seperti ini dan tidak melawan Dewa lagi?" Yan Xue tahu Lin Chen sangatlah kuat, dan ia percaya bahwa Lin Chen bisa menang. Tapi, tetap saja ia sangat mengkhawatirkannya.
Lin Chen terdiam sejenak dengan mulut sedikit terbuka, kemudian menghela napas dan menjawab, "Aku juga ingin begitu, tapi aku sudah ditargetkan para Dewa untuk dibunuh. Setelah Yi'er selesai dalam kultivasinya, aku akan kembali berperang melawan ratusan Dewa."
Yan Xue hanya bisa diam dan sedikit mengangguk, tidak lagi bertanya.
Mungkin butuh waktu lama, tapi aku pasti akan melindungi kalian semua, batin Lin Chen.
Belasan menit kemudian, akhirnya mereka berhasil memasuki Kota Mangshan setelah menunjukkan Kartu Petualang dari Kerajaan Epitychimenos, dan membayar Tael Perak yang satuannya setara dengan 3 Keping Perak. Serta Baixue dan Baimei yang harus mengecil, karena di dalam kota tidak diperbolehkan ada hewan berbahaya, meski sudah dijinakkan.
Ketiganya berdiri di depan Lin Chen dan Yan Xue, dengan saling bergandengan tangan. Pemandangan ini membuat perasaannya hangat dan tenang, melupakan fakta tentang 293 Dewa yang sedang menunggu untuk membunuhnya.
"Kenapa?" Lin Da Zixuan menoleh ke belakang menatap Lin Chen.
"Bukankah itu yang Xuan'er inginkan? Berburu monster. Ini juga bagus untuk kerja sama kalian bertiga, dan Mei'er juga harus berlatih untuk membunuh monster."
Mata Lin Da Zixuan berapi-api penuh tekad saat mendengarnya, sudah lama tidak berburu monster dan ia merasa bosan saat dalam perjalanan karena tidak ada satu pun monster yang datang. Tapi tidak dengan Lin Mein An, yang terlihat gugup karena sebelumnya ia hanyalah manusia biasa.
Lin Qiao Jianying menggandeng tangan Lin Mein An. "Kakak tenang saja, Jian'er akan melindungi Kakak." Ia menepuk-nepuk dadanya dengan tangan kiri.
Lin Mein An tertegun dengan mulut sedikit terbuka, kemudian tersenyum hangat dan menganggukkan kepalanya. "Terima kasih." Ia juga bertekad untuk bisa mengalahkan monster, agar tidak mempermalukan nama keluarga Lin.
Lin Da Zixuan menolehkan kepalanya ke belakang, memalingkan wajahnya dari tatapan Lin Chen saat mencium aroma yang terasa enak. "Daging!"
Tanpa berlama-lama lagi, Lin Da Zixuan yang memeluk Baixue itu pergi ke kedai kecil di pinggir jalan yang sedang membakar daging.
Lin Qiao Jianying dan Lin Mein An menyusul Lin Da Zixuan agar tidak terpisah di tempat yang cukup ramai ini.
__ADS_1
***
Keesokan Harinya
Keluarga Lin Chen sudah berada di hutan yang ada di sebelah selatan dari Kota Mangshan. Hutan ini terkenal dengan monster-monster yang tersebar, dan konon katanya ada monster Rank S yang setara dengan Nirwana sampai Mahayana.
Kelompok mereka terus masuk lebih dalam ke selatan, di mana sangat jarang ada manusia yang berani masuk, kecuali Petualang Rank S.
Ketika Lin Chen mengatakan ingin pergi ke hutan, penjaga gerbang mencoba menghentikannya berkali-kali, meski pada akhirnya penjaga gerbang hanya bisa pasrah dan membiarkan Lin Chen lewat.
Lin Chen dan Yan Xue berdiri di belakang, melihat anak-anak yang berada di barisan depan. Mereka tidak akan membantu, hanya mengamati bagaimana pertarungan nantinya berlangsung.
"Sebarkan kesadaran kalian untuk mengetahui keadaan sekitar, tapi jangan terlalu berlebihan, karena itu bisa memberi tahu tempat kalian berada," ucap Lin Chen.
"Baik, Ayah." Ketiganya menjawabnya secara bersamaan, kemudian mengikuti arahan dari Lin Chen.
"Di sana!" Ketiganya membuka mata secara bersamaan setelah menutupnya beberapa saat, dan menunjuk ke arah yang berlawanan.
Kanan atau timur, kiri atau barat dan depan atau selatan.
Di ketiga tempat itu memang ada monster yang cukup kuat untuk Bintang Logia, Kaisar Surgawi dan Nirwana.
Lin Mein An mengangkat kedua tangannya di depan dada, membuat segel tangan dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat. Fluktuasi energi spiritual berkumpul di depannya, membentuk sebuah bola api. "Teknik Element Api, Ledakan Bola Api."
Lin Mein An menengadahkan kepalanya, seraya mengibaskan tangannya ke atas, membuat bola api itu melesat naik ratusan meter ke langit. Ketika ia menepuk kedua tangannya, bila api itu bersinar terang dan ada retakan di permukaannya, yang kemudian meledak.
Angin bertiup cukup kencang dan ledakannya juga cukup keras, menarik perhatian monster-monster dari tiga arah yang berbeda.
Lin Chen melangkah mundur, bersandar di batang pohon dan mengamati apa yang akan terjadi nantinya.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1