
Alam Tiantang
Lin Chen keluar dari Istana Tiantang untuk berdiri di Gerbang Langit Selatan, menunggu tamu penting yang akan datang dan termasuk salah satu karakter yang dikaguminya semasa di Bumi sebelum bereinkarnasi ke Alam Rendah.
Yang memberi tahu bahwa ada tamu yang akan datang, itu adalah Tiga Dewata Murni yang berkomunikasi dengannya melalui transmisi suara.
Yan Xue, sudah sembuh setelah beristirahat beberapa jam, dan ingin pergi bersama, tapi Lin Chen melarangnya—memintanya untuk beristirahat lebih lama.
Lin Chen yang telah menunggu beberapa menit, merasakan aura yang sedikit lebih kecil dari Tiga Dewata Murni, tapi tidak bisa dikatakan lemah.
Seberkas cahaya terbang ke Gerbang Langit Selatan.
Tidak lama kemudian, sosok itu tiba di Gerbang Langit Selatan; seorang wanita berambut merah, dengan tubuh bagian bawah adalah ular putih. Terdapat berbagai pola di sekujur tubuh atasnya; matanya hijau kebiruan seperti ular.
Lin Chen menangkupkan kedua tangannya melihat kedatangan wanita di depannya. "Selamat datang di Wilayah Tiantang, Dewi Nuwa."
Tiga Dewata Murni menciptakan Tiga Alam, Pangu membuka Semesta untuk dapat menampung banyak bintang dan memisahkan Alam Semesta dengan Alam Tiantang. Dewi Nuwa...
Legenda “Nuwa memperbaiki langit” terjadi pada zaman dahulu kala. Nuwa adalah dewi yang baik dan murah hati, ia sengaja datang ke Daratan Timur, kedatangannya mengisi semua tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang di dunia manusia dengan kehidupan.
Seorang Dewi dengan kekuatan magis yang hebat berkeliling, dan kemudian dia datang ke dunia yang dibuka oleh Pangu, dia adalah Nuwa. Ia memutuskan untuk tinggal saat sedang berjalan di dunia, dan melihat bahwa dunia sangat indah.
Hari demi hari, ia menikmati keindahan alam. Meskipun dia ditemani oleh burung, binatang buas, serangga, dan ikan, Nuwa secara bertahap merasa kesepian. Ia selalu merasa ada sesuatu yang hilang, tetapi dia tidak tahu apa yang hilang, dia hanya bisa membiarkan perasaan kesepian ini semakin besar dari hari ke hari.
Suatu hari, ketika ia sedang berjalan di hutan belantara yang rimbun, burung, binatang, dan ikan tidak bisa lagi membuatnya bahagia. Ia berjalan dengan lesu di sepanjang sungai, merasa sangat lelah, dan duduk di atas batu di tepi sungai.
Air sungai yang jernih memantulkan bayangannya, dan ia melihat dirinya yang tidak bahagia di dalam air. Jadi ia tersenyum di sudut mulutnya, dan bayangan itu tersenyum; dia mengerutkan kening, dan bayangan itu mengerutkan kening.
Dewi Nuwa pun tersadar mengapa ia merasa kesepian, karena tidak ada makhluk seperti dirinya di dunia, bagaimana bisa gunung, tanaman, serangga, ikan, burung, dan binatang lain dapat berkomunikasi dengan jiwanya?
Dewi Nuwa berpikir, kalau begitu, mengapa tidak menciptakan beberapa makhluk dengan caranya sendiri untuk membuat dunia hidup? Dengan sebuah ide, ia segera menggerakkan tangannya dan meraih segumpal lumpur kuning di tepi sungai, meremas tanah itu sambil melihat bayangannya di air
Tak lama kemudian sesosok tanah liat kecil sudah siap. Nuwa memegang sosok tanah liat kecil di tangannya dan meletakkannya di depan mulutnya dan mengembuskan napas ringan. Patung tanah liat kecil itu bernapas dan bergerak.
__ADS_1
Singkat cerita, Dewi Nuwa sangat senang dengan ciptaannya yang bisa berbicara, tidak seperti burung, dan setelah waktu berlalu, ia menciptakan banyak manusia dan pergi. Tapi, ketika kembali, manusia-manusia itu tergeletak di tanah dengan rambut memutih. Akhirnya mengetahui, bahwa manusia bisa mati—sehingga membiarkan manusia berkembang dengan sendirinya.
Dewi Nuwa tidak lagi ikut campur dengan urusan manusia, termasuk tidak lagi menciptakannya. Sehingga ia bepergian di Semesta Yongheng untuk menjaga ketenangan.
Lin Chen sendiri tidak tahu apakah cerita itu ada benarnya atau tidak, tapi siapa yang peduli? Tapi yang pasti, Dewi Nuwa tidak berasal dari Semesta Yongheng.
Dewi Nuwa berasal dari Dimensi Kekacauan—ruang angkasa tanpa kehidupan—hanya badai angkasa dan petir.
Kemudian Dewi Nuwa yang telah berhasil datang ke Semesta Yongheng, memutuskan untuk tinggal sepenuhnya, dan setelah sekian lama, berhasil berhubungan baik dengan Tiga Dewata Murni dan diundang sebagai Dewi Terhormat di Alam Tiantang.
Lin Chen menyadari manusia pertama berasal Semester Yongheng, kemudian setelah membudidayakan Jalan Kultivasi, mereka pergi berpencar ke 323 Semesta lainnya.
Dewi Nuwa tersenyum tipis, tatapannya tenang tanpa membalas salam Lin Chen.
Lin Chen tidak mempermasalahkan hal itu, dan membawa Dewi Nuwa untuk pergi bersama ke Istana Tiantang.
Dewi Nuwa berubah menjadi sosok manusia dengan tinggi 191 centimeter, terbang di samping Lin Chen.
Setelah sampai di Istana Tiantang, Lin Chen sangat tegas dan langsung pada intinya. "Dewi Nuwa, ada keperluan apa Anda kemari?"
"Ada orang bernama Sura, dia membangun Klan Sura di Dimensi Kekacauan, atau harus aku bilang 'menciptakan', bagaimanapun dia mencoba meniru apa yang aku lakukan saat menciptakan manusia."
Lin Chen tersentak dalam kejutan, tapi tidak memotong cerita yang dijelaskan Dewi Nuwa dan terus mendengarkannya dengan saksama.
"Dimensi Kekacauan sudah ada sebelum Tiga Alam. Yang terlahir di sana, aku, Pan Gu, Tiga Dewata Murni, Kaisar Dewa-Iblis."
"Aku, Pan Gu dan Tiga Dewata Murni bisa dikatakan sebagai rekan, karena kami yang mengembangkan Tiga Alam. Tapi tidak dengan Kaisar Dewa-Iblis, dia membunuh Pan Gu yang lemah setelah mengembangkan Semesta, tapi mereka juga terluka parah, sehingga membelah diri menjadi Klan Dewa dan Iblis ..."
"Karena membelah diri dan masing-masing wujudnya mendapatkan kesadaran dan emosinya sendiri, mereka saling berperang, tapi beberapa ratus tahun lalu, mereka bergabung."
Dewi Nuwa kembali menenggak teh sebelum menambahkan, "Klan Sura sudah aku hancurkan beberapa tahun lalu, harusnya kami tidak boleh bertindak macam-macam, tapi karena mereka sudah sangat keterlaluan, aku mengambil tindakan. Adapun Klan Dewa-Iblis, mereka mengalami kerugian besar setelah membantu Klan Sura untuk membunuhku."
"Tapi, bukan berarti mereka tidak bisa bangkit."
Lin Chen terus mendengarkannya. Ras Dewa di Alam Semesta berasal dari Ras Malaikat di Alam Tiantang, adapun Klan Dewa dan Iblis di Dimensi Kekacauan, mereka berada di tingkat yang berbeda, dan tentunya memiliki kesombongan.
__ADS_1
Lin Chen merasa khawatir dengan Dimensi Kekacauan. "Apakah ada tempat lain selain Dimensi Kekacauan?"
Dewi Nuwa menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Dimensi Kekacauan adalah awal mula dari segalanya. Tapi, ada satu hal yang tidak kami mengerti, bagaimana kami bisa terbentuk?"
"Setelah memikirkannya cukup lama, Dimensi Kekacauan memiliki Kesadaran, dan itu disebut sebagai Kesadaran Surgawi. Karena kekuatan dari Dimensi Kekacauan sangatlah kuat, Kesadaran Surgawi memanifestasikan dirinya, memecah bentuk menjadi kami yang tercipta di sana."
"Aku mengira, Kaisar Dewa-Iblis ingin mengambil Dao Surgawi dari membunuh Pan Gu, dia ingin menciptakan Alam baru. Mungkin, dia ingin menciptakan Semesta di dalam tubuh? Aku tidak tahu."
Dewi Nuwa mengangkat bahunya; menghela napas panjang.
Lin Chen, bagaimanapun, tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar semuanya. Jika ada yang dikatakannya adalah kebenaran, bukankah itu tidak ada waktu santai untuknya? Tidak bisakah, ia menjadi hidup biasa-biasa saja?
Seperti melihat melalui isi pikiran Lin Chen, Dewi Nuwa tersenyum tipis. "Tidak perlu khawatir, aku bisa meminta Tiga Dewata Murni bergabung. Bagaimanapun, mereka bertiga adalah satu orang, jika dia bergabung, bahkan, Kaisar Dewa-Iblis, Pan Gu, bukan tandingannya."
Lin Chen menghela napas lega, tapi tetap dalam keadaan terkejut setelah mengetahui kebenaran tentang Tiga Dewata Murni. Tapi, setidaknya ia bisa beristirahat, menghilangkan pikiran tentang Kaisar Dewa-Iblis di Dimensi Kekacauan.
Kemudian, kembali lagi tentang menciptakan Semesta di dalam Dunia Jiwa. Ia merasa tercerahkan, dan saat itu juga, aura di Dunia Jiwa di dalam tubuhnya meningkat dan membesar dalam sekejap mata.
Planet dengan diameter 200.000 mil telah terbentuk, kemudian angkasa yang luas, dan itu terus terlihat sampai ada kilauan-kilauan cahaya yang membentuk planet lain. Hingga Sistem Planet seperti Tata Surya, dan lain sebagainya, hanya dalam tiga menit, Dunia Jiwa sudah berubah menjadi Galaxy!
Lin Chen mengatur napasnya—menenangkan diri karena peningkatan yang tiba-tiba.
"Bagaimana denganmu?" Lin Chen penasaran dengan kekuatan Dewi Nuwa, tapi setelah melontarkan pertanyaan, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan merasa bahwa itu tidak sopan.
Dewi Nuwa tidak memasalahkan hal itu, dan menjawabnya dengan senyuman, "Kekuatanku yang sekarang telah aku segel, tapi, tidak jauh berbeda dengan Tiga Dewata Murni yang dalam satu wujud." Ia sangat percaya diri.
"Kapan Anda akan pergi ke Dimensi Kekacauan?" Lin Chen ingin pergi ke sana, dan membunuh Kaisar Dewa-Iblis dalam keadaan lemah. Tidak baik membiarkannya terlalu lama, karena ia harus bersantai dan bersantai dan bersantai dan! Bersantai!
Dewi Nuwa menutup matanya saat membuat gerakan mencubit di udara kosong seperti sedang meramal. Kemudian membuka matanya perlahan. "Dua minggu dari sekarang, kita masih memiliki banyak waktu."
Mendengar itu, Lin Chen menganggukkan kepalanya kembali. Ada tekad yang kuat di matanya untuk terus berkultivasi, setidaknya sampai Kaisar Dewa-Iblis terbunuh.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...