
Malam hari, adalah malam yang sangat sunyi di Hutan Thisavros yang cukup gelap tanpa ada suara, hanya ada embusan angin dingin yang menambah kesan menyeramkan. Bulan juga tidak ada karena terhalang oleh awan hitam di langit malam, yang sepertinya tidak lama lagi akan hujan.
Lin Chen berjaga seorang diri di malam hari, tidak ada api unggun yang menemaninya, karena ia memang sengaja mematikan api agar titik tempat ia menginap tidak diketahuinya keberadaannya.
"Aku baru berhasil membunuh dua puluh Dewa-dewi, penjagaan Semesta lain sangat ketat. Tapi, aku juga mendapatkan keuntungan dari menguasai Semesta dalam jumlah itu."
Entah membutuhkan waktu berapa lagi untuknya dapat mencapai target, membunuh dan menguasai 293 Semesta yang tersisa. Ini semua karena Dewa Kuxing, yang membuatnya menjadi lambat dalam mengambil alih Semesta. Jika hanya God Realm tahap Akhir, mungkin ia masih bisa mengalahkannya dengan mengeluarkan seluruh kemampuan, tapi untuk tahap Puncak, masih terlalu awal.
Lin Chen berdiri dari tempat duduknya di batang pohon, berjalan ke tenda yang tidak terlalu jauh darinya. Ia membuka kain yang merupakan pintu masuk tenda, melihat Lin Da Zixuan yang tidur di antara Yan Xue dan Lin Qiao Jianying, dengan Mein yang berada di samping Lin Qiao Jianying.
Lin Chen tersenyum hangat melihat mereka yang tidur dengan pulasnya, kemudian ia menutup pintu tenda dan kembali berjaga-jaga. "Jian'er dan Xuan'er memintaku untuk mengadopsi Mein sebagai anak. Tapi, aku belum bisa mengambil keputusan."
"Karena, akan sangat sulit mengubah sikap dari yang sebelumnya Tuan, kemudian menjadi orangtua."
Lin Chen mengembuskan napas panjang, kemudian menengadahkan kepalanya melihat langit gelap. "Aku akan berdiskusi dengan Xue'er."
Ada keinginan untuk membangkitkan keluarganya Mein, tapi entah mengapa sisi lainnya mengatakan untuk tidak membangkitkan mereka, seperti ada rasa sakit yang tak terbayangkan apabila harus membangkitkannya.
Lin Chen menoleh ke kanan melihat ke arah timur, merasakan ada yang datang, ini bukanlah monster, melainkan manusia karena ia hanya menekan auranya untuk monster agar tidak mendekat. Manusia yang datang itu masih sangat jauh, mungkin dua bulan lagi baru sampai.
Cukup lama ia berjaga di malam yang gelap dan tidak ada yang menemani, hingga sinar matahari mulai naik, Yan Xue datang dari belakang dan memeluknya, seraya mengecup hangat pipinya.
"Selamat pagi, Gege."
Lin Chen menoleh ke kiri menatap Yan Xue, dan membalas kecupan itu di keningnya. "Selama pagi, Xue'er."
"Gege ..." Yan Xue menyilangkan kedua tangannya di leher Lin Chen seraya duduk di salah satu pahanya. "Apakah Gege sudah memutuskan tentang permintaan anak-anak?"
Lin Chen terdiam sejenak dengan tatapan lurus ke depan, melihat hutan lain di seberang jalan. Kemudian ia menghela napas dan menundukkan kepala menatap Yan Xue. "Bagaimana denganmu?"
Yan Xue menundukkan kepalanya dan bersandar di pundak Lin Chen. "Kalau Xue'er, sudah menganggap Mein seperti putri sendiri. Dia baik, penurut dan sopan, bukan hanya saat bekerja, tapi saat berada di luar Mansion Lin," ucapnya pelan.
Lin Chen menoleh ke belakang melihat tenda yang sedikit terbuka. "Kalian dengar itu?"
Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan yang mengintip, terkejut saat mendengar pertanyaan dari Lin Chen. Kemudian mereka berdua keluar dari dalam tenda, berlari ke arah Lin Chen dari depan.
Lin Da Zixuan memiringkan kepalanya menata Yan Xue, seraya menyentuh bibirnya sendiri. "Ibu seperti anak kecil."
Lin Qiao Jianying mengabaikan posisi duduk Ibunya. "Apakah Ibu bersungguh-sungguh?" tanyanya yang terlihat sangat bersemangat.
Yan Xue berdiri dari paha Lin Chen, yang kemudian duduk di sampingnya. "Ibu serius ..." Ia menganggukkan kepalanya, lalu menoleh ke belakang. "Mein, kau bisa keluar."
Mein yang sedari awal sudah bangun dan bersembunyi, akhirnya berjalan keluar dengan kepala tertunduk. Ia tidak berharap akan menjadi bagian dari keluarga Lin, ada rasa senang dan juga rindu, rindu terhadap Ibunya.
Ibu, Nenek. Mein baik-baik saja, kalian bisa tenang dan lihat Mein dari surga, batin Mein menghampiri Yan Xue.
__ADS_1
"Nyo- Nyonya." Mein masih menundukkan kepalanya di depan Yan Xue, bukan karena tidak berani, tapi wajahnya merah dan tidak tahu harus bersikap apa.
Yan Xue mengulurkan tangannya mengusap kepala Mein. "Kau bisa memanggilku 'Ibu', tapi sebelum itu, kami berdua akan mengalirkan darah kami ke pembuluh darahmu."
Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan tidak terlihat iri ataupun cemburu, mereka terlihat bahagia karena Mein akan bergabung dengan keluarga Lin.
"Kakak Mein!" Keduanya memeluk Mein secara bersamaan.
Mein hanya bisa diam dan tersenyum, bingung harus berbuat apa.
Lin Chen berdiri dari tempat duduknya sembari berucap, "Mein, ayo datang, kita akan melakukan upacaranya."
Mein mendongak dan menoleh ke kiri melihat Lin Chen, kemudian menganggukkan kepalanya. Ia menuruti apa yang diperintahkan, ia duduk bersila di hamparan rumput yang tidak terlalu luas dan menutup matanya.
Lin Chen tidak duduk, ia hanya berdiri saja melihat Mein yang duduk bersila. "Akan ada rasa sakit, mungkin seperti saat Mein menerima sayatan di sekujur tubuh. Kepala juga akan terasa seperti meledak ..."
Mein berkeringat dingin dan sangat gugup ketika mendengarnya. Ia takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan padanya.
Lin Chen tahu mengapa Mein sangat ketakutan, mengingat Mein hanyalah manusia biasa, yang nantinya akan menerima darahnya dan darah Yan Xue. "Mein harus tetap tenang, mengatur pernapasan dan menahan rasa sakitnya. Jangan membuka matamu sampai semuanya selesai."
Mein menelan ludahnya sendiri, kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Lin Qiao Jianying terlihat khawatir jika Mein tidak bisa menahannya. Ia mendongak menatap Lin Chen yang sangat tinggi seraya menarik kain celananya. "Ayah, jangan biarkan Kak Mein merasa sakit."
"Sayang."
Lin Chen menoleh ke kanan melihat Yan Xue yang membuka telapak tangannya, memperlihatkan gumpalan darah merah. Itu adalah darah Yan Xue, yang mengandung kekuatan dari Tubuh Suci.
Lin Chen juga melukai ujung jarinya, terlihat darah berwarna emas yang keluar dari sana. Ia mencampurkan gumpalan darahnya dengan darah Yan Xue. "Di sini, ada kekuatan dari Tubuh Suci, Tubuh Segel Dewa Naga, tapi tidak menutup kemungkinan jika Mein akan mendapatkan yang lain."
"Tahan ini." Lin Chen mengulurkan tangannya, mengarahkannya pada dada Mein.
Gumpalan darah merah keemasan itu bergerak ke arah dada Mein, yang perlahan mulai masuk dan menghilang. Seketika itu juga, ada fluktuasi energi yang sangat kuat mengitari tubuh Mein.
Angin bertiup kencang mengitari Mein yang duduk di tengah-tengahnya, dan mulai melukainya tubuhnya seperti sayatan pisau tajam.
"Mmff..." Mein masih berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya, hingga tubuhnya mulai berlubang-lubang kecil, yang mengeluarkan darah merah segar yang deras, seperti keluar dari selang air. "Aaarrrgghh!"
"Kakak..." Lin Qiao Jianying tidak tahu apa yang dirasakan Mein, tapi pastinya itu sangat menyakitkan.
Yan Xue berjalan ke belakang Lin Chen, lalu berlutut di belakang Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan, yang kemudian menutup mata keduanya. "Jangan lihat."
Lin Chen menyebarkan Energi Dewa untuk membantu Mein dalam menyerap dua darah berbeda, yang salah satunya mengandung kekuatan berlimpah.
Mein masih terus berteriak tanpa henti, sampai suaranya sangat serak dan tidak bisa terdengar lagi.
__ADS_1
Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan sudah menangis sesenggukan. Walaupun tidak melihatnya secara langsung, mereka bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi hanya dari teriakannya saja.
Mein juga menangis karena tidak mampu menahan rasa yang sangat menyiksanya, air matanya mengalir deras, gendang telinganya pecah, darah juga mengalir dari bibir dan hidungnya. Tapi, ia tetap mencoba bertahan agar tidak mengubah posisi duduknya.
Tubuh Mein yang sebelumnya berlubang, mulai beregenerasi kembali dan digantikan dengan retakan-retakan seperti petir yang menyambar. Ada pola-pola yang warnanya berganti-ganti, dari warna merah, cokelat, perunggu, biru dan hijau.
Tubuh 5 Element!
Bukan hal aneh mengapa Mein bisa mendapatkan Tubuh 5 Element, meski Lin Chen tidak memiliki tubuh itu. Tapi karena ia memiliki Energi Dewa dari Esensi Dao Dewa, Tubuh 5 Element dan lain sebagainya, bisa ia dapatkan.
"Ada darah naga yang sedikit mengalir, tapi harus berlatih lebih keras untuk mampu memanggil Naga Biru."
Tubuh Mein kembali beregenerasi lagi untuk yang kedua kalinya, bersama dengan napasnya yang tenang dan tidak berat seperti sebelumnya, serta tidak ada teriakan-teriakan yang terdengar menyakitkan.
Bang!
Ledakan yang teredam dari dalam tubuh Mein terdengar, menandakan bahwa Mein sudah mendapatkan Dantian dan bahkan menembus Ranah Half God. Itu terlihat dari cahaya biru yang melonjak beberapa mil ke langit dari dalam tubuhnya, menembus udara seperti pisau tajam. Tanah di sekitar Mein duduk juga hancur dan retak dengan bentuk seperti jaring laba-laba.
Tidak ada Kesengsaraan Petir yang ditarik, karena Lin Chen sengaja menundanya, tidak baik langsung menurunkan Kesengsaraan Petir untuk Mein.
Mein membuka matanya perlahan, tubuhnya sudah basah akan keringat. Tapi ia tidak merasa lelah, melainkan merasa tubuhnya sangat segar dan lebih ringan. Ada perubahan pada penampilannya, mata hitamnya berubah cokelat seperti Yan Xue, dan rambutnya terbagi menjadi dua warna, hitam dan putih.
Lin Chen berlutut di depan Mein yang masih duduk dan terlihat linglung. Ia mengusap lembut kepala Mein. "Mein, apakah kau membenciku karena rasa sakit ini?"
Mein tersentak, tersadar dari lamunannya. Ia menggelengkan kepalanya cepat, dan kemudian menjawabnya, "Tidak, harusnya saya sangat berterima kasih karena Tuan ..." Ia menghentikan perkataannya saat melihat tatapan mata Lin Chen.
"A- Ayah ..." Mein menundukkan kepalanya lagi. Ia sangat berterima kasih karena diperlakukan baik selama ini, dianggap sebagai seorang anak sendiri, dan sekarang menjadi bagian dari keluarga Lin.
Mein bersumpah akan selalu menuruti semua perkataan Lin Chen dan Yan Xue, tidak akan menolak ataupun menyakitinya. Dan, akan menyayangi Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan yang memang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, meski ia tidak pernah memiliki saudara.
Lin Chen tersenyum tipis dan kembali berucap, "Mulai hari ini dan seterusnya, namamu adalah Lin Mein An. An memiliki makna yang damai dan tenang, aku ingin kau membawa perdamaian ke mana pun kau pergi, dan tetap berpikir tenang jika menghadapi suatu masalah ..." Ia mengecup hangat kening Lin Mein An.
"Untuk nama panggilan, aku akan memanggilmu Mei'er."
Yan Xue berjalan menghampiri Lin Mein An lalu mengecup hangat keningnya. Ia juga mencium kening Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan.
"Kakak!" Keduanya memeluk erat Lin Mein An.
Lin Chen dan Yan Xue menatap hangat mereka bertiga, merasakan bahagia di dalam hati mereka. Tapi, mereka berdua tetap berkeinginan untuk memiliki anak lagi.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1