Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 233 : Patung Kaisar Giok


__ADS_3

Pulau Tian


Setelah melalui tahun yang panjang, pulau yang sebelumnya tandus tanpa ada aliran sungai, sudah kembali pulih setelah datangnya Utusan Kaisar Giok; banyak tumbuhan baru yang menyokong kehidupan semua ras yang tinggal di sana.


Patung Kaisar Giok dan Naga Emas sudah dibangun di tengah-tengah pulau. Memiliki efek yang sama seperti menjaga pulau dan perlindungan naga yang akan muncul pada saat-saat berbahaya. Jika tidak terlalu berbahaya, mereka tidak akan muncul dan bertindak, terlebih lagi sampai saat ini tidak ada yang menyerang pulau yang dijaga Patung Kaisar Giok dan Naga Emas.


Bahkan, sebelum ada yang menyerang, pihak penyerang sudah diserang terlebih dahulu dengan Ketua Prajurit Surgawi yang memimpin.


Di hari yang cerah dengan tiupan angin lembut, langit biru dan awan terbang di langit dengan pelan. Suasana sangat tenang, tidak terlalu panas dan tidak terlalu lembab, semuanya sangat sesuai. Hingga, tiba-tiba...


Bang!


Dentuman keras mengenai pelindung emas yang melindungi seluruh pulau, tidak ada tanda-tanda akan rusak, bahkan goresan pun tidak terlihat meski dengan ukuran sehelai rambut. Tapi ledakan itu cukup keras sampai membuat khawatir semua penduduk di pulau yang besarnya hanya setengah Daratan Huaxia, China.


"Apa yang terjadi?! Apakah ada penyerang?"


Pembicaraan panik bisa didengar di berbagai tempat di Pulau Tian, dan desa yang berdekatan dengan pusat pulau, melihat Patung Kaisar Giok tidak mengeluarkan cahaya yang melindungi.


"Apakah Utusan itu berbohong? Dia mengatakan patung ini akan melindungi kita!" Salah seorang wanita paruh baya berteriak. Ia sedang memeluk gadis kecil yang sedang menangis ketakutan.


"Kita tidak tahu, siapa saja yang bisa bertarung. Coba keluar untuk melihatnya," ucap pria tua. Ia membawa tongkat kayu untuk membantunya berdiri.


Tepat setelah pria tua itu berbicara, dentuman lain kembali terdengar dan itu berada di atas kepala mereka. Gelombang angin menyebar di luar pelindung, menghilangkan semua awan di sekitarnya.


Udara berderak saat aura penindasan mulai meningkat dengan niat membunuh yang datang dari langit; pusaran hitam berkumpul di sana dan terlihat sosok berjubah dengan tanduk yang mencuat. Sosok itu tidak sendirian, dengan dirinya, mereka memiliki total 23 sosok dengan jubah merah dan hitam.


Mereka berasal dari Klan Darah dari Sungai Sanzu.


"Hahahaha! Lihatlah ini! Banyak semut-semut kecil yang meringkuk!" Pemuda berambut merah dengan kulit pucat memandang rendang semua ras yang gemetaran karena takut. Ada perasaan khusus di lubuk hatinya saat melihat mereka. Ia menyeringai lebar memperlihatkan gigi bergerigi dengan bercak darah.


Pemuda yang tidak diketahui namanya itu mengangkat kedua tangannya; aura merah berkumpul di antara kedua tangannya dengan darah yang keluar dari pergelangan tangannya.


Darah itu membentuk segi lima pada bagian atasnya, dan bagian bawah yang menghadap pelindung terlihat runcing. Ukurannya cukup besar, mungkin setinggi 300 meter, dengan kabut merah di sekitarnya.


"Kristal Penghancur!"


Pemuda itu mengayunkan tangannya; serangan darah melesat tajam dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Udara di bawahnya terbelah yang kemudian memberikan tekanan ke sekitarnya.


Semua orang di bawah pelindung tidak bisa melalukan apa-apa, mereka tersandung dan duduk di tanah dengan wajah menghitam karena takut. Bahkan sudah ada yang kencing di celana karena tekanan yang dirasakan. Beberapa ada yang mengutuk keras karena Patung Kaisar Giok tetap diam tanpa tindakan.


Booom!


Serangan darah itu menghantam pelindung emas, mengakibatkan suara keras seperti guntur yang mengamuk dengan kekuatan mengerikan. Tapi, serangan itu langsung meledak dan menyebar ke segala arah membentuk cincin meras dalam ukuran besar.

__ADS_1


Pemuda yang sebelumnya menyeringai, terdiam dengan ekspresi membeku. Tidak percaya serangan penuhnya dengan kekuatan Lord Realm tahap 5 masih tidak mampu menghancurkan pelindung yang dianggapnya lemah.


Semua orang yang berada di bawah pelindung, menghela napas lega. Tapi tidak membutuhkan waktu lama sampai akhirnya suasana kembali tegang.


"Kau masih terlalu cepat, setidaknya pelindung ini mampu menahan serangan Lord Realm tahap Tiga Puluh. Tapi sayang sekali, aku lebih kuat dari pelindung ini." Sosok berjubah hitam mengangkat tangannya. Tiba-tiba ratusan serangan yang sama muncul dengan ukuran yang lebih besar.


Whooooosh! Whooooosh!


Semua serangan jatuh dengan kecepatan yang sama dan mereka semua diarahkan pada satu titik di tengah-tengah. Penatua dari Klan Darah itu memiliki kepercayaan diri untuk menghancurkannya, karena akan sangat memalukan apabila tidak mampu menghancurkan susunan ini di hadapan generasi muda.


Ledakan terus terdengar dengan kekuatan tak terbayangkan; asap tebal menghalangi pandangan dengan gelombang kejut lebih kuat. Awan-awan di luar pulau terhempas.


"Penatua Ketiga memang hebat! Dengan asap setebal ini, pastinya susunan ini hancur, bahkan mungkin saja pulau sudah rusak!"


Penatua Ketiga mendengus dingin, kemudian mencibir dan berkata, "Heh! Mungkin kau bilang? Dengan serangan barusan, pulau ini harus han—"


"Penatua!" Salah seorang memotong. Ia mengenakan jubah hitam, tapi memperlihatkan wajahnya. Rambutnya hitam legam, mata merah, dan ada tanda garis merah di bawah matanya. Ketidaknyamanan terlihat jelas di wajahnya, tapi ia tetap menunjuk ke bawah dan berkata dengan gugup, "Pe- Penatua, pelindung itu tetap utuh."


Penatua Ketiga mengalihkan pandangannya, kemudian wajahnya merah karena marah bercampur malu. Dengan kibasan tangannya, ia membunuh generasi muda yang memotong ucapannya tadi.


Tuan Muda dan yang lain, terpana melihat Penatua Ketiga yang membunuh langsung tanpa peringatan.


Penatua Ketiga sangat marah. Ia terus menyerang secara membabi buta bahkan sampai membakar darahnya untuk meningkatkan daya serang sampai dua kali lipat, tapi sebanyak apa pun menyerangnya, pelindung itu tidak bergetar dan tanpa goresan.


Penduduk sangat gembira karena mereka masih selamat meski sudah terkena serangan bertubi-tubi selama beberapa jam.


Sementara itu, Penatua Ketiga sudah kehabisan napas karena kelelahan, tapi kemarahannya makin memuncak. Ia mengambil pil merah dengan aroma darah dari Cincin Ruang dan menelannya, membuatnya kembali bugar.


"Bagus!" Penatua Ketiga berteriak lantang saat mengeluarkan benda berbentuk jarum dari Cincin Ruang. "Kau memaksaku melakukannya! Aku akan menggunakan barang pemberian Lord Sanzu ratusan tahun lalu!"


"Semuanya! Alirkan kekuatan kalian padaku!" Penatua Ketiga mengangkat tangan kanannya, membuat jarum sebesar lengan itu melayang belasan meter di depannya.


Tuan Muda yang menyerang awal, terpana melihatnya. "Penatua Ketiga, bukankah Lord Sanzu tidak memperbolehkan kita menggunakannya kecuali dalam keadaan darurat?"


Penatua Ketiga mengabaikannya dan terus meminta semua orang untuk mengalirkan energi.


Jarum itu terus membesar dengan warna yang semakin gelap, aura penindasan yang keluar terus meningkat. Sampai belasan menit kemudian, jarum itu sudah setinggi ratusan mil. Kilatan petir terlihat mengelilingi dan menyambar, memecah udara di sekitar.


Awan terlihat mendekat untuk menekan jarum, tapi sayangnya tidak terlalu kuat dan akibatnya dihempaskan kembali.


Bagian bawah jarum, ruang mulai terdistorsi dan dirasa mampu menghisap apa pun di depannya, kemudian memindahkannya ke ruang kosong.


Penatua Ketiga tidak bisa menyembunyikan seringai di wajahnya. Ia mengayunkan tangannya saat berteriak, "Mati!"

__ADS_1


Jarum itu turun dengan kecepatan tidak terlalu cepat, tapi setidak inchi yang diambil, tekanan yang diberikan akan berlipat ganda. Udara di sekitarnya terhisap oleh bagian bawahnya yang tajam, beserta gemuruh yang terus terdengar.


Petir-petir merah menyambar pelindung emas yang warnanya terus menebal. Hingga saat jarum menghantam, terdengar suara ledakan keras dengan getaran yang lebih kuat dari sebelumnya. Bahkan sebagai tambahan, ada suara retakan pada permukaan pelindung.


Penatua Ketiga menyeringai dingin saat mendengar suara retakan, dan samar-samar memang ada retakan membentuk seperti jaring laba-laba. "Hahahaha! Kaisar Giok! Setelah enam tahun kebangkitanmu, kau masih sangat lemah ..."


Senyum Penatua Ketiga membeku saat merasakan aura aneh. Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada Patung Kaisar Giok yang memancarkan cahaya emas.


Cahaya emas itu terbang ke langit luas, meledakkan jarum menjadi kepingan kecil dan mengubahnya menjadi debu. Tapi, cahaya emas itu tidak berhenti dan terus melonjak, kemudian membentuk siluet Kaisar Giok yang hanya setengah tubuh.


Walaupun setengah tubuh, tapi ukurannya berkali-kali lebih besar dari jarum pemberian Lord Sanzu.


"I- Itu Kaisar Giok! Kaisar Giok benar-benar muncul!"


Penduduk mulai menangis bahagia setelah menahan kengerian yang menghantui. Mereka mulai bersujud kepada Patung Kaisar Giok.


Kaisar Giok membuka matanya perlahan, memperlihatkan mata emas menyala seperti bola lampu. Kaisar Giok itu hanya membuka matanya, tapi Penatua Ketiga dan yang lain merasakan tekanan kuat dari dalam tubuh mereka.


Duarr! Duarr! Duarr!


Satu demi satu dari Klan Darah meledak tanpa meninggalkan jejak, bahkan serangan itu menghancurkan Esensi Jiwa mereka yang bersembunyi di Sungai Sanzu.


Ketika semuanya sudah terbunuh, siluet Kaisar Giok kembali masuk ke dalam patung setelah mengembalikan susunan formasi.


...***...


Istana Tiantang, Wilayah Tiantang


Lin Chen membuka matanya perlahan saat menghela napas panjang dari dalam mulutnya. Ini menarik perhatian Xue Ying yang sedang membaca buku-buku yang diambilnya dari perpustakaan.


"Ada apa, Kakak?"


"Ada nyamuk kecil yang mengganggu, dan sekarang sudah terbunuh ..." Lin Chen berhenti sebentar saat merasa aura aneh.


Lin Chen merenung sejenak dengan mata yang kembali terpejam. Ia mencoba merasakan Lonceng Langit yang ditinggalkannya di Sungai Sanzu untuk menyegel Taoist Nyamuk. Ketika ia membuka matanya kembali, kilatan dingin terlihat di matanya dengan aura membunuh yang naik.


"Lord Sanzu." Lin Chen menekan kata-katanya, kemudian menambahkan, "Sudah keluar dari pengasingannya!"


Lin Chen berdiri seraya menepuk-nepuk pakaiannya, kemudian berbalik memasuki Istana Tiantang. "Persiapkan semua pasukan! Kita akan turun ke Alam Diyu saat ini juga!"


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2