
"Bagaimana Ayah bisa bergerak sangat cepat? Zixuan hanya melihat kilatan cahaya, meski sudah menggunakan Mata Jarak Jauh. Apakah Zixuan bisa seperti Ayah?"
Mata Jarak Jauh adalah Artefak Ilahi dengan bentuk kacamata yang mampu melihat sampai dengan jarak 7.580.500 mil dari tempat berdiri, sedangkan pertarungan Lin Chen tadi berjarak miliaran mil, dan tentunya Artefak Ilahi itu tidak mampu menangkap pergerakannya.
Lin Chen mengusap kepala Lin Da Zixuan sembari berucap, "Xuan'er pasti bisa seperti Ayah, percaya pada dirimu sendiri dan terus berlatih."
Lin Da Zixuan terpana dengan mata berbinar-binar, ia terlihat sangat bersemangat untuk bisa seperti Ayahnya nanti. Matanya memancarkan aura yang mengungkapkan tekad berapi-api.
"Zixuan akan menjadi Dewa seperti Ayah!" Lin Da Zixuan menganggukkan kepalanya berkali-kali, kemudian tersentak dan menggeleng. "Tidak! Lebih kuat dari Ayah!"
Lin Chen tertawa kecil seraya mengusap kepala Lin Da Zixuan, akan sangat indah jika itu benar-benar terjadi, sehingga ia bisa tenang dan menyerahkan semua hal tentang pertarungan kepada anak-anaknya, tapi pastinya Yan Xue tidak setuju akan hal itu.
"Yi'er, aku bisa membuatmu langsung menembus tahap Akhir, sama seperti orang yang disebut Leluhur Surgawi tadi. Tapi, ini terlalu berisiko, kau bisa kehilangan nyawa. Jika dibawah Earth Realm, itu masih mungkin bisa dilakukan tanpa efek samping."
Xue Ying terdiam dengan kepala tertunduk, kemudian mendongak dan menggeleng pelan. Walaupun ia ingin bisa mencapai Ranah lebih tinggi dalam waktu singkat, ia tidak ingin melakukannya, karena saat ini ia tidak lagi berjuang seorang diri seperti saat mencari keberadaan Kakaknya dulu.
Sekarang, Xue Ying memiliki banyak orang di sekitarnya, sehingga ia lebih memilih bergerak maju secara perlahan. "Tidak perlu, Yi'er bisa menggunakan Point System atau berlatih sendiri." Ia mengirimkan transmisi suara.
Lin Chen mengangguk kecil, lalu menengadah melihat angkasa luar di atas yang mana tempat Dimensi Monster Kuno berada.
Sepertinya, aku harus menundanya sebentar lagi, ada hal yang harus dilakukan di Daratan Jinmang, batin Lin Chen.
"Ayo kembali, Ayah akan mengajak ke tempat yang bisa meningkatkan pengalaman bertarungnya kalian."
Ketiganya menganggukkan kepala secara bersamaan, mereka juga ingat jika Ayahnya mengatakan akan membawa ke tempat yang menarik saat hendak keluar dari Negeri Surgawi. Walau tidak tahu akan ke mana, entah mengapa mereka sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan nanti.
Karena ketiganya setuju untuk pergi, dan Xue Ying juga setuju untuk menunda pergi ke Dimensi Monster Kuno. Maka, mereka kembali ke Daratan Jinmang.
"Kakak, Yi'er harus pergi sebentar, Yi'er ingin kembali berlatih untuk menembus tahap Akhir dari Earth Realm." Xue Ying tidak ingin terlalu lama menunda untuk melawan Monster Kuno.
"Baiklah." Lin Chen menjentikkan jarinya, menghilangkan Xue Ying untuk masuk ke dalam Ruang Dimensi. Ia sudah mengatur waktu di sana dengan rasio 1 : 3, dan itu pun atas dasar permintaan Xue Ying.
"Ayo kita kembali." Lin Chen membawa semuanya untuk kembali ke Daratan Jinmang, kembalinya mereka tidak dengan cara terbang, melainkan langsung berpindah.
Perpindahannya pun tidak di tempat di mana Gerbang Dimensi muncul, mereka bergerak ribuan mil ke arah barat dari Gerbang Dimensi.
Hanya sekitar beberapa ratus mil lagi dari kota terdekat, yang mana di sana terdapat kelompok bandit yang sering menyerang pejalan kaki, dan kekuatan tertinggi mereka adalah Kaisar Dewa.
Sangat aneh bandit dengan kekuatan seperti itu, akan lebih baik jika mereka bekerja untuk kota, kecuali mereka adalah Kultivator yang telah melakukan banyak kejahatan, dan tidak tahu lagi harus melakukan apa kecuali merampok.
"Ayah, apa yang bisa meningkatkan pengalaman kami?" Lin Qiao Jianying berharap jika caranya bukanlah membunuh manusia, karena ia masih belum siap meski sudah meyakinkan dirinya.
"Sebentar lagi kalian akan mengetahuinya."
Hanya tinggal beberapa puluh mil lagi untuk sampai di tempat yang sunyi dan tidak pernah dilalui orang lain, kecuali mereka yang kekuatannya di atas Heavenly Immortal God, atau Spirit Realm tahap Menengah.
Jika bukan karena untuk pelatihan anak-anaknya, Lin Chen tidak ingin berurusan dengan bandit-bandit, bulan karena takut, tapi karena itu hanya membuang-buang waktunya. Bahkan, bandit dan organisasi di Bintang Qiang saja tidak ia hiraukan.
__ADS_1
Lin Chen membiarkan hal itu mengalir di Bintang Qiang yang ia ciptakan, agar semuanya mengalir dengan seimbang. Namun tidak dengan organisasi yang berpotensi untuk menghancurkan Bintang Qiang, ia akan menghancurkannya terlebih dahulu.
"Persiapkan diri kalian, termasuk pedang. Jangan gentar dan ragu, atau kalian akan terluka."
Mendengar dari ucapan Lin Chen, anak-anak sudah mengerti apa yang akan mereka lawan untuk meningkatkan pengalaman.
Membunuh manusia!
Wusshh...
Fluktuasi energi spiritual terbentuk secara tiba-tiba di depan Lin Chen. Awan mulai tergulung membentuk pusaran angin di langit, yang kemudian terlihat ada cahaya yang muncul di tengah-tengah lingkaran awan.
Dari dalam cahaya hijau, terlihat ada belasan manusia yang merupakan pria paruh baya membawa senjata-senjata kuat. Kekuatan mereka sekiranya dari Jenderal Dewa sampai Raja Dewa, dan mereka semua adalah Kultivator Sejati.
Namun, masih mampu dikalahkan oleh Lin Mein An, Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan.
"Sepertinya hari ini kita mendapatkan harta berharga. Kita bisa membunuh pria, menjual anak-anak dan menikmati wanita ..."
"Kita bisa mendapatkan banyak Batu Spiritual jika menjual anak-anak itu ke bangsawan melalui pasar gelap. Bahkan Artefak Surgawi bisa kita dapatkan sebagai alat pembayaran ...".
"Benar, dengan ini, kelompok kita akan kembali meningkat dan menguasai Daratan Jingman. Bagaimanapun, Kaisar Qiang dan Leluhur Surgawi sudah terbunuh!"
Lin Chen menaikkan sebelah alisnya, tidak menyangka jika kabar tentang terbunuhnya Leluhur Surgawi sudah tersebar, meski belum ada satu jam berlalu. Tapi, mengingat seberapa dihormatinya Leluhur Surgawi, berita terbunuhnya pasti sangat mudah ditemukan, seperti ada tanda-tanda khusus di Daratan Jingman.
Lin Chen menundukkan kepalanya saat merasakan aura kuat dengan niat membunuh yang terpancar, terlihat ketiga anaknya sudah terselimuti oleh energi seperti nyala api dengan warna yang berbeda menurut energi masing-masing.
Tiba-tiba, Lin Qiao Jianying menyingkat beberapa tahap dari Dewa Air dan langsung menembus Dewa Bumi. Matanya menyala dengan warna putih indah, namun keinginan membunuhnya tidak bisa disembunyikan.
Szzzt... Szzzt... Szzzt...
Kilatan listrik terlihat mengelilingi tubuh Lin Da Zixuan dengan dua pedang Element Petir yang ia genggam. Kemarahannya tidak bisa ditahan lagi saat mendengar ada yang berniat untuk membunuh Ayahnya.
Daratan juga mulai bergetar hebat seperti gempa bumi, yang kemudian meledak-ledak membuka celah yang cukup besar seperti jurang.
Booom! Booom! Booom!
Ledakan di tanah itu mengeluarkan semburan air deras.
Lin Mein An mengarahkan tangan kirinya pada belasan pria paruh baya yang terlihat nampak terkejut. "Mati."
Bam! Bam! Bam!
Tornado air itu terpecah menjadi butiran air seperti batu kerikil, yang kemudian melesat tajam ke arah 13 pria paruh baya seperti peluru.
Whooooosh! Whooooosh!
Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan melintas sangat cepat ke arah belasan pria paruh baya dengan cara melalui dua arah yang berbeda.
__ADS_1
Lin Da Zixuan mempercepat kecepatan terbangnya saat hampir sampai, gerakannya seperti kilatan petir kecil, bahkan saking cepatnya, ia sampai meninggalkan petir jauh di belakangnya.
"Mati!" Lin Da Zixuan menebas leher pria paruh baya yang mengenakan pakaian biru dengan warna rambut hitam. "Meledak."
Pria paruh baya yang sudah menjadi mayat, mulai terselimuti oleh sengatan listrik dan meledak menjadi kabut darah.
"Serang! Jangan pikirkan menjual mereka, bunuh!"
Booom!
Air meledak dari kedalaman tanah, menggulung tiga di antaranya. Ini adalah serangan Lin Mein An setelah melihat serangan Lin Qiao Jianying, Badai Kematian.
Lin Qiao Jianying memiringkan kepalanya saat ada yang menusuk pedang ke arah wajahnya. Dengan santainya, ia mengangkat tangannya, menangkap pergelangan tangannya lawannya. "Es Abadi."
Freeze!
Pria itu langsung membeku dalam waktu singkat dan menjadi patung es, kemudian saat Lin Qiao Jianying melepaskan tangannya, pria paruh baya itu terjun bebas dari langit dan menghantam daratan hingga pecah.
Lin Da Zixuan dikepung oleh 2 Jenderal Dewa, Dewa Emas. Tidak ada rasa takut ataupun bimbang di matanya, ia benar-benar sangat marah.
Swoosh! Swoosh!
Dua serangan pedang diayunkan secara vertikal ke arah Lin Da Zixuan yang berada di tengah-tengahnya.
Lin Da Zixuan mendongak, melihat dua pedang di atas kepalanya. Ia mengangkat dua tangannya, terlihat dua jari dari masing-masing tangan mulai menciptakan pedang tipis yang muncul dengan panjang beberapa cm.
Wusshh!
Pedang petir Lin Da Zixuan memanjang dalam sekejap mata, memotong pergelangan tangan beserta menghancurkan senjata yang hendak mengenai kepalnya.
Tidak cukup untuk menenangkan amarahnya, Lin Da Zixuan mengangkat kedua tangannya di depan dada dengan posisi saling bersentuhan, lalu ia merentangkan kedua tangannya menyentuh dada pria paruh baya.
"Ledakan Petir."
Tidak terjadi apa-apa pada pria paruh baya yang disentuh Lin Da Zixuan, hingga beberapa detik kemudian, dari punggung 2 Jenderal Dewa terlihat ada petir yang menyambar keluar, melubangi punggung mereka berdua.
Bug... Bug...
Keduanya jatuh menghantam tanah dengan tubuh yang hancur tak beraturan.
Lin Chen yang berada di kejauhan, tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Hanya dalam waktu singkat, mereka sudah membunuh sembilan. Jika begini, aku tidak perlu khawatir saat harus mengasingkan diri.
...
***
*Bersambung..
__ADS_1