
Perwujudan dari Kekuatan dan Tak Terkalahkan, itulah yang dilihat semua orang dari Lin Chen yang sekarang, yang mana sangat sulit atau bahkan tidak mungkin bisa mereka kejar.
Lin Chen berbalik dan kembali menuju Feichuan seraya membuka kedua tangannya. "Xue'er..."
Yan Xue tersadar dari lamunannya, kemudian terbang melesat dan masuk ke dalam pelukan Lin Chen.
Lin Chen memeluk erat Yan Xue dan berputar-putar dengan senyum indahnya yang terukir jelas di wajahnya. Ekspresinya saat ini benar-benar sangat berbeda dari sebelumnya yang terlihat kejam dan dingin, bahkan tatapan matanya saja mampu menelan jiwa.
"Apakah kau terluka?" Lin Chen mengusap puncak pipi Yan Xue.
Seraya menggelengkan kepala dan tersenyum cerah, Yan Xue menjawab, "Xue'er tidak terluka."
Lin Chen membalas senyuman Yan Xue, kemudian mendongak melihat semua orang. "Kupu-kupu Surgawi, Macan Taring Pedang, Merpati Tujuh Warna, Kuda Sayap Elang, Kelinci Tiga Warna, Lebah Perak, Semut Emas ..." Ia terus menyebutkan Binatang Suci lain.
Puluhan cahaya berbeda warna terbang ke arah Lin Chen dan terlihat manusia-manusia yang merupakan Binatang Suci. Mereka menangkupkan kedua tangan memberikan penghormatan kepada Lin Chen.
"Salam, Dewa Pencipta."
Masih dalam keadaan memeluk Yan Xue, ia memandangi satu per satu Binatang Suci. "Menyebar dan kembangkan klan kalian di bintang sekitar Bintang Qiang. Kalian bisa memilih sesuka hati, namun jika memiliki pilihan yang sama, buat sendiri keputusannya sendiri. Hanya saja ..."
Lin Chen memerhatikan gerak-gerik setiap Binatang Suci. "Jangan saling membunuh."
"Baik, Dewa Pencipta." Binatang Suci memberikan salam, kemudian mereka berpencar ke arah yang berbeda.
Ribuan cahaya lain juga pergi mengikuti Pemimpin dari Binatang Suci yang baru ditetapkan oleh Lin Chen.
Lin Chen turun perlahan dari angkasa yang tinggi, mendarat di bagian depan Feichuan. "Bintang Qiang sangat sepi, aku ingin bertanya pada kalian. Apakah aku harus membawa orang-orang dari Alam Immortal dan Dewa?"
Semuanya hanya diam untuk waktu yang tidak sebentar, seperti tidak berani menyuarakan pendapat dan ada rasa takut jika menyinggung perasaan Lin Chen karena bertingkah seperti mengetahui apa pun. Bahkan, Wang Ji Fei yang sebelumnya terlihat sangat dekat dengannya, sekarang hanya diam membisu.
Lin Chen bisa mengerti akan hal itu, akhirnya memutuskan untuk mengembalikan semua orang masuk ke dalam Feichuan, beserta Kaisar dan Permaisuri dari Ras Roh.
Masih banyak lagi pembahasan yang ingin ia bicarakan, tapi sebelum itu ia ingin membangun sebuah tempat di Bintang Qiang. Lalu karena Bintang Qiang mampu menampung puluhan ribu Bumi, mungkin ia akan membawa semua orang dari Alam Immortal dan Alam Dewa.
__ADS_1
Tidak mungkin Bintang Qiang yang sangat luas ini hanya ditinggali oleh 901.199 manusia.
***
Bintang Qiang
Hal yang dirasakan pertama kali saat memasuki Bintang Qiang adalah aura spiritual yang sangat padat dan murni, yang bergerak bebas di atmosfer. Aura ini lebih banyak dari Alam Selestial, meski tidak sebaik Alam Bawah yang merupakan tempat di mana ia mendapatkan Pendewaan.
Geografis di sini juga masih sangat terjaga, banyak gunung-gunung tinggi yang menembus awan, tentunya awan ini tidak berada belasan mil dari permukaan tanah, melainkan puluhan hingga ratusan mil.
Lin Chen meminta pada semua orang untuk kembali ke kamar masing-masing apabila ingin beristirahat, tapi kebanyakan dari mereka memilih untuk tetap berada di lantai teratas Feichuan dan melihat Bintang Qiang.
Masih memeluk Yan Xue, Lin Chen melepaskannya perlahan dan kemudian berjalan ke arah Long Min Zhong beserta Wang Ji Fei. Dengan kepala tertunduk dan menangkupkan kedua tangan, ia berucap memberikan salam, "Salam. Lin Chen datang memberi hormat pada Kakek dan Nenek."
Terlihat keraguan di wajah Wang Ji Fei yang seperti ingin memeluk Lin Chen, tapi sebagai makhluk Semi-Immortal, ia merasa terlalu rendah untuk mendapatkan kesempatan itu pada Lin Chen.
Lin Chen mendongak dan tersenyum ringan. "Perlakukan aku seperti seorang cucu, aku tidak ingin orang-orang yang berhubungan keluarga denganku, bersikap seperti orang asing."
Wang Ji Fei tertegun tidak tahu harus berkata apa dan tubuhnya gemetaran, seperti tubuhnya ingin bergerak memeluk Lin Chen, namun pikirannya mencoba untuk menahan itu. Hingga akhirnya Luo Yi menganggukkan kepala, memberi tanda bahwa Lin Chen ingin diperlakukan seperti biasa.
Long Min Zhong masih terpukul mengenai Ras Naga yang hampir musnah, dan ia mulai mencari tahu apa yang terjadi setelah kematiannya melalui Long Xia Yun.
Long Xia Yun menjelaskan semua perjalanan yang ia lalui selama tiga puluhan juta tahun terakhir, semua masalah dan bahaya yang dilalui, serta kematian yang bahkan pernah menimpa semua orang.
Long Min Zhong benar-benar tidak menyangka jika kematiannya akan berdampak buruk bagi Ras Naga, dan putranya yang keras kepala tidak berubah sama sekali, masih memiliki keinginan untuk menjadi penguasa.
"Pasti berat bagimu untuk merawat dua keponakanmu." Long Min Zhong memeluk erat Long Xia Yun.
"Tidak apa, ini sepadan." Long Xia Yun terlihat menahan tangis agar air matanya agar tidak terjatuh.
Long Min Zhong melepaskan Long Xia Yun dari pelukannya, kemudian memeluk Long Xia Yi atau Luo Yi. "Maafkan Ayah karena mengirim mu untuk menyelesaikan tugas, meski kau dan Li Zhian sudah menjadi Kaisar dan Permaisuri."
Dengan air mulai menetes dari sudut matanya, Luo Yi menggeleng pelan dan menjawab, "Tidak apa-apa. Yang lalu biarlah berlalu."
__ADS_1
Acara selanjutnya hanyalah memeluk satu sama lain untuk melepaskan rindu.
Lin Chen datang menghampiri Wang Xi Zhang dan Hua Jia Ran yang merupakan Kaisar dan Permaisuri dari Ras Roh. Ia menangkupkan kedua tangan tanpa menunduk, karena masih ada kemarahan di dalam hatinya terhadap Ras Roh. "Salam, Lin Chen datang memberi hormat pada Kakek dan Nenek Buyut."
Tidak menunggu adanya jawaban, Lin Chen langsung berbalik meninggalkan keduanya.
Hua Jia Ran mengangkat tangannya. "Tung—" Ia menurunkan tangannya kembali dan menunduk. Ini adalah hal yang wajar jika ia dibenci oleh cicitnya sendiri, mengingat bagaimana perlakuan Ras Roh pada Lin Chen.
Seharusnya Hua Jia Ran merasa bersyukur karena tidak dibunuh dan mendapatkan pengampunan.
Lin Chen sendiri tidak tahu kapan atau bisa membuka hatinya untuk memaafkan Ras Roh yang juga ikut menyerang saat Pengepungan Tiga Alam. Jika ia sendirian, mungkin masih bisa dibicarakan, tapi saat itu ia bersama beberapa bawahan, Hewan Ilahi, Long Xia Yun dan Xue Ying.
Lin Chen mengendalikan Feichuan ke tempat yang memiliki geografis terbaik di Bintang Qiang, dan ingin membangun sebuah kota di sana.
Pohon Dewa, itu adalah pohon besar dan tertinggi di Bintang Qiang yang ia ciptakan, meski tidak sebaik yang ada di Alam Bawah. Pohon ini akan menjadi pusat dari Bintang Qiang dan menjadi pemerintah Sekte Chenlong.
Ada sebuah danau luas yang mengelilingi Pohon Dewa, dan hamparan rumput hijau yang mengelilingi danau, kemudian ada lagi bukit maupun hutan lebat yang mengitari hamparan rumput itu.
"Ini adalah tempat terbaik." Lin Chen tersenyum tipis melihat geografis di sana. Ia menunjuk pada Pohon Dewa, terlihat di ujung jarinya ada gumpalan cahaya putih.
Gumpalan itu melesat, menembus dinding kaca di depannya dan bergerak ke arah Pohon Dewa, yang kemudian getaran hebat seperti gempa berlangsung pada daratan. Perlahan, dinding batu puluhan meter mulai mengelilingi perbukitan, melindungi wilayah dalam radius 75.000 mil dari Pohon Dewa.
Wilayah yang terlalu luas, tapi tidak ada salahnya, karena Pusat dari Bintang Qiang memang harus luas dan megah.
Getaran masih berlanjut dan ada pohon lain yang lebih tinggi dari pohon sekitar, yang tumbuh di empat sudut tembok. Pada permukaan kulit pohon terlihat pola-pola berwarna putih dan emas, yang kemudian ada cahaya yang melonjak naik ke langit.
Cahaya itu berbelok mengarah Pohon Dewa, kemudian membentuk kubah pelindung berwarna emas yang secara perlahan mulai memudar, membaur dengan atmosfer sekitar.
"Sepertinya aku harus mengurus pembangunan dan masalah jumlah penduduk."
"Barulah aku bergabung dengan Hitam dan Putih."
...
__ADS_1
***
*Bersambung...