Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 128 : Membawa Mein


__ADS_3

"Mein, apakah dia tinggal sendirian?" Lin Chen tidak tahu kehidupan Mein, karena Mein tidak pernah mengambil cuti dan selalu bekerja di Mansion Lin. Ia juga tidak memeriksa bagaimana kehidupan Mein saat keluar dari Mansion Lin.


Lin Qiao Jianying yang sudah duduk di pangkuan Lin Chen, mendongak menatap Lin Chen. "Iya, dia tinggal sebatang kara di Wilayah Tiga di gubuk kecil, Jian'er pernah melihatnya sendiri. Dia dirawat neneknya, ayahnya kabur dan ibunya jatuh sakit, kemudian meninggal saat dia baru berusia tiga tahun ..."


Lin Qiao Jianying menundukkan kepalanya, merasa ikut sedih terhadap kehidupan yang dijalani Mein. "Keluarganya meninggalkan hutang yang cukup besar karena ulah ayahnya yang kabur, saat berusia sembilan tahun, dia harus bekerja untuk mengurus neneknya. Pekerjaannya mencari bunga di bukit dan kayu bakar di hutan, kemudian dijual."


Wilayah 3 adalah wilayah terpencil di Ibu Kota atau tersembunyi, yang keberadaannya tidak ingin diketahui oleh dunia luar karena bobroknya tempat itu. Singkatnya, Wilayah 3 adalah wilayah kumuh yang tidak ada aturan.


Lin Chen takjub dengan penjelasan Lin Qiao Jianying yang sangat mudah dimengerti, mungkin ini semua karena ajaran Yan Xue dan semua buku yang telah dibaca. Tapi, ia tidak pernah tahu tentang keadaan Mein, karena memang tidak pernah mencari tahu, dan saat anak-anaknya pergi, ia tidak mengawasi mereka.


Lin Chen hanya mengawasi apakah anak-anaknya dalam bahaya atau tidak. Ia tidak tahu jika Lin Qiao Jianying datang ke Wilayah 3.


"Ketika dia meminta pekerjaan pada Ayah, dia sedang dikejar oleh penagih hutang. Tapi, setelah dia bekerja di tempat kita, penagih hutang itu tidak lagi berani bertindak," sambung Lin Qiao Jianying.


Jika ini adalah Lin Chen yang dulu, mungkin ia akan tersentuh dengan cerita tentang kehidupan Mein. Tapi untuknya yang sekarang, ia tidak terlalu peduli, karena saat ini ia hanya ingin memedulikan keluarganya. Namun, pikirannya salah, karena sebentar lagi keteguhan hatinya akan terpatahkan.


"Ayah~" Lin Qiao Jianying mendongak lagi menatap Lin Chen, dan suaranya terdengar melas, tatapan matanya memancarkan harapan.


Lin Chen mengerutkan keningnya dan menekan giginya. Ia tidak ingin mengajak Mein bersamanya, tapi saat melihat tatapan mata Lin Qiao Jianying, ia hampir goyah. "Tida—"


"Ayah~" Lin Da Zixuan juga terlihat sangat melas. "Bawa dia."


Lin Chen masih diam untuk beberapa saat, mencoba menenangkan diri dan bertekad untuk menahan diri agar dirinya tetap yakin. Namun, tatapan keduanya semakin intens, membuatnya menghela napas panjang dan menyerah. "Baiklah. Tapi, kalian harus bertanya pada Ibu."


Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan memiringkan tubuh mereka ke arah yang berbeda, melihat Yan Xue yang sedang menyiapkan makanan di dalam gerbong kereta.


Yan Xue menyadari tatapan itu dan mengetahui apa yang sedang dibahas. Ia menoleh ke kanan menatap anak-anaknya. "Ibu setuju, dia sangat baik dan kalian juga terlihat dekat dengannya."


"Ayah!"


"Ayah tahu." Lin Chen mengusap kepala kepala Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan.

__ADS_1


Lin Chen menutup matanya, melihat keadaan di Wilayah 3 yang ada di Ibu Kota. Ia bisa melihat Mein yang menangisi kepergian Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan. Tapi bukan tangis itu yang membuatnya tertegun, melainkan luka lebam dan bagian dalam rumah yang berantakan.


Baru ditinggal untuk beberapa menit, dan keadaan Mein sudah sangat memprihatinkan. Ia mengembalikan waktu sejenak untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Mein.


Lin Chen bisa melihat setelah ia memberikan Tas Ruang, Mein langsung pergi ke Wilayah 3, berencana mengambil semua barang untuk pindah ke tempat yang lebih baik. Namun sangat disayangkan, saat baru datang ke rumah, sudah ada beberapa pria paruh baya yang terlihat seperti bandit.


Pukulan, rambut yang ditarik, tendangan, dan Tas Ruang yang juga diambil. Semua itu diterima Mein sesaat baru datang ke gubuk kecil. Mein tidak bisa melawannya sama sekali, karena memang tubuhnya yang lemah dan hanya manusia biasa tanpa kemampuan.


Lin Chen membuka matanya perlahan dan menghela napas panjang dengan amarah yang sedikit bangkit, bersamaan dengan fluktuasi energi yang muncul di dalam gerbong kereta.


Dari fluktuasi energi berwarna putih, mulai terlihat gadis berusia 12 tahun yang mengenakan pakaian Maid dengan koyakan ataupun bercak darah, rambut hitam yang kusam, bibirnya yang robek, darah yang mengalir di sudut bibir dan mata. Yang terparah, tulang rusuknya patah dan pergelangan kakinya terkilir, serta ada luka sayatan sepanjang betis maupun lengan.


Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan yang dipeluk Lin Chen, di saat melihat kedatangan Mein, bukan kebahagiaan yang dirasakan, melainkan kemarahan yang bangkit di dalam hatinya.


"Siapa?!" Lin Qiao Jianying sangat marah, sampai membuat matanya bersinar seperti nyala api berwarna putih.


Lin Da Zixuan juga tidak berbeda jauh, matanya juga diselimuti energi seperti Lin Qiao Jianying, hanya saja berwarna merah.


Lin Chen menepuk-nepuk belakang kepala Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan, mencoba untuk menenangkan mereka berdua. Masih terlalu awal bagi mereka untuk menggunakan kekuatan dari Dewa ataupun Iblis, meski itu hanya kekuatan dari darah yang mengalir, bukan dari Pencerahan yang kemudian Pendewaan.


Keduanya melepaskan diri dari pelukan Lin Chen, laku pergi menghampiri Mein yang masih terlihat linglung karena perpindahan tempat yang sangat cepat.


"Tuan? Nyonya?"


"Kak Mein!" Lin Qiao Jianying duduk di depan Mein dengan wajah yang berlinang air mata. Ia ingin memeluk Mein, tapi menahan diri karena takut memberikan luka.


Lin Qiao Jianying mengeluarkan Pil Penyembuh dan Regenerasi tingkat Kuning. Pil yang ia buat sendiri dan sudah dipastikan khasiatnya, karena diawasi langsung oleh Lin Chen.


Mein yang baru pertama kalinya melihat Pil Penyembuh dan Regenerasi, langsung menerimanya yang kemudian menelannya secara bergantian, dimulai dari Pil Penyembuh, lalu Pil Regenerasi.


Luka luar Mein mulai membaik secara signifikan, yang dimulai dari bagian lebam di beberapa bagian tubuh dan bibir yang robek. Pil Penyembuh hanya menyembuhkan luka luar yang tidak terlalu parah, kemudian saat menelan Pil Regenerasi, barulah penyembuhannya bertambah cepat.

__ADS_1


Luka sayatan di lengan maupun maupun betisnya mulai menghilang, tulang rusuknya yang patah juga mulai menyatu kembali.


Lin Da Zixuan mengambil Talisman Jiwa dari dalam Cincin Ruang, Talisman tingkat Ungu yang ia buat sudah payah, berfungsi untuk menenangkan diri dan menjaga mental seseorang. "Permisi." Ia mengulurkan tangannya, menempelkan Talisman Jiwa di dahi Mein.


Lin Da Zixuan mengangkat tangan kanannya di depan dada dengan jari telunjuk dan tengah menghadap ke langit. "Aktif."


Talisman yang menempel di dahi Mein mulai bersinar dengan warna putih indah, dan secara perlahan mulai menyelimuti tubuh Mein yang sedang dalam penyembuhan dari luka-luka yang diterima. Napas berat Mein mulai membaik, detak jantungnya kembali normal karena mentalnya mulai terjaga lagi.


Mein menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya. Ia melakukannya berulang kali, sampai semuanya benar-benar membaik. "Nyonya, bagaimana saya bisa di sini?" Ia masih kebingungan dengan perpindahan tempat yang singkat.


Yan Xue mengabaikan pertanyaan itu, dan memilih mengajukan pertanyaan balik. "Bagaimana Mein bisa terluka?"


Mein tertegun, ada rasa takut saat mendengar pertanyaan dari Xue Ying dan ia menundukkan kepalanya seperti enggan menjawab. "I- Itu, sa- saya tersandung. Jalanan tidak rata, penuh lubang."


Hanya orang bodoh saja yang akan percaya dengan jawaban Mein.


Lin Chen yang duduk di kursi bagian kusir, tidak menoleh ke belakang sama sekali dan mengangkat tangan kanannya, melepaskan gumpalan energi putih yang bergerak ke arah Yan Xue.


Ketika gumpalan energi putih memasuki dahi Yan Xue, Yan Xue mulai melihat kejadian yang dialami Mein sesaat setelah mereka meninggalkan Ibu Kota. Ada kemarahan yang terpancar dari matanya, tapi ia mencoba untuk tetap menahannya karena sedang berada di depan anak-anak.


"Ayah memindahkan Kak Mein ke sini. Kami ingin pergi ke Dinasti Ming, mengajak Kak Mein." Lin Qiao Jianying memeluk erat pinggang Mein.


Mein hanya diam masih kebingungan, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Membawanya datang? Ia tidak tahu caranya, karena dari awal ia hanya berdiam diri di gubuk saat sudah diberhentikan dari pekerjaannya di Mansion Lin.


Mein menoleh ke kiri menatap Yan Xue, bibirnya gemetaran seperti hendak mengatakan sesuatu, namun ia tahan.


"Tentu ..." Yan Xue menganggukkan kepalanya, mengerti apa yang ingin dikatakan Mein. "Mein boleh ikut kami." Ia memeluk Mein, seraya mengalihkan pandangannya pada Lin Chen.


Lin Chen tetap tidak menoleh, tapi melambaikan tangan kanannya, menjelaskan bahwa semuanya sudah diurus.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2