Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 139 : Kedatangan Tamu


__ADS_3

Walaupun sudah membunuh Dewi Alam, ia tidak menghilangkan perubahannya dan tetap berjaga-jaga tanpa mengendurkan kewaspadaannya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya saat ia lengah, meski Semesta Tian sudah bersih.


Lin Chen melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan di setiap Semesta setelah menghilangkan semua makhluk hidup, yang mana mengembalikan kehidupan yang sebelumnya ia bunuh untuk kembali hidup, menjaga Semesta Tian dan mendapatkan aura spiritual.


Jumlah Dewa dan Dewi yang mencari masalah dengannya, jika ia ingat-ingat kembali saat pertama kali masuk ke Ruang Para Dewa, ada sekitar 243 Dewa/Dewi. Artinya, ada 70 Dewa dan Dewi yang tidak menjadi targetnya, tapi tidak menutup kemungkinan mereka semua sudah dihasut oleh Dewi Kuxing dan Dewa 5 Element.


"Tunggu!" Lin Chen menyadari akan sesuatu, ia berpikiran jika Dewa 5 Element dan Dewi Alam saling berhubungan, mungkin memiliki hubungan darah, mengingat bagaimana kekuatan mereka yang dirasa sama.


Krak! Krak! Krak!


Ada yang mengganggunya saat sedang berpikir, gangguan itu berasal dari suara seperti kaca yang retak. Lin Chen menengadahkan kepalanya, terlihat Penyegelan Semesta yang menggunakan Energi Dewa mulai retak hingga menyebar luas.


Lin Chen menggertakkan giginya seraya mengepalkan kedua tangannya, merasa kesal dan ada bahaya yang berasal dari sumber retakan. "Bahaya!" Ia melesat dengan kecepatan penuh, pergi menuju retakan.


Prang!


Dari retakan itu pecah seperti kaca yang jatuh dari tempat tinggi, memperlihatkan ruang biru berkilauan seperti Gerbang Dimensi.


Lin Chen mengarahkan tangan kirinya ke celah yang terbuka dan tangan kanan di depan dada. "Pergi!" Ia memukulkan tinjunya mengarah pada celah ruang.


Dari dalam celah ruang seperti Gerbang Dimensi, ada pemuda yang mengenakan pakaian biru langit, berambut kuning cerah dengan mata oranye dan alis hitam. Kekuatannya sendiri hampir menembus tahap Puncak dari God Realm, itu adalah lawan tertinggi yang Lin Chen temui.


Lin Chen tidak ingin menunggu sampai Dewa Langit menyiapkan serangan, karena semakin lama ia membiarkan Dewa Langit di sini, semakin banyak pula Dewa atau Dewi yang akan datang.


Bang!


Pukulan yang ia lepaskan tadi ditepis oleh Dewa Langit dengan kibasan tangan, membelah pukulan menjadi dua bagian dan meledakkannya.


Dewa Langit menundukkan kepalanya menatap datar Lin Chen, yang kemudian amarahnya di dalam hatinya terbangkitkan. "Aku ingin membunuhmu."


"Aku juga ingin sekali membunuhnya ..."


"Begitu pun denganku ..."


"Jangan lupakan kami ..."


Lin Chen tidak bisa berkata-kata lagi ketika banyak Dewa maupun Dewi yang memasuki Semesta Tian. Harusnya tidak ada yang mampu memecahkan segelnya, meski itu tahap Akhir, tapi setelah melihat ada setidaknya tiga puluhan tahap Menengah dan Akhir dari God Realm, semuanya bisa terjadi.


Seandainya aku melepaskan Penyegelan Semesta setelah membunuh Dewi Alam, aku bisa menggunakan System untuk menciptakan pelindung.

__ADS_1


Kerutan di dahinya terlihat saat menyadari ada yang aneh, yang mana Dewa Pedang dari Semesta Pedang (23) dan Dewa Phoenix dari Semesta Phoenix (25) hanya God Realm tahap Menengah. Berbeda dengan God Realm yang baru datang, setengahnya sudah memasuki Ranah God Realm tahap Akhir.


Dewa Langit tersenyum tipis saat melihat reaksi yang ditunjukkan Lin Chen. "Kau membandingkan kami dengan Dewa Pedang?"


"Yah, aku hanya heran saja. Dewa Pedang hanya tahap Menengah, tapi menguasai Semesta yang lebih tinggi menurut susunan Weiqi." Lin Chen sudah kembali tenang dan akan tetap menyerang mereka semua, meski keberhasilannya sangat rendah, mungkin 10%.


Bahkan jika ia mati di sini, ia hanya akan menerima luka parah saat memindahkan tubuh utamanya.


Lin Chen melepaskan penutup mata yang ia kenakan, tanpa membuka kedua matanya. "Aku selalu bertanya-tanya, mengapa kalian menyerangku sesaat aku datang ke Ruang Para Dewa? Apakah karena aku hanya sebatas Spirit Realm?"


Dewa Langit berpikir sejenak seperti tidak ingin membicarakannya, tapi setelah mendapat persetujuan dari Dewa yang lain, ia tersenyum tipis. "Entahlah, mungkin karena kau adalah Spirit Realm. Hanya Spirit Realm, sudah memasuki Ruang Para Dewa, pastinya kau memiliki suatu rahasia ..."


"Jadi, kami berpikiran untuk membunuhmu dan mengambil darahmu, apa yang akan terjadi pada kami? Apakah kekuatan kami akan meningkat atau tidak? Tidak ada yang tahu pasti jika tidak mencobanya."


Wanita yang berdiri di samping Dewa Langit, mengenakan pakaian hanfu merah muda dengan selendang putih transparan, rambutnya berwarna sama seperti pakaiannya. Ia adalah Dewi Jiwa, dinamakan demikian karena memiliki teknik yang mampu mengendalikan kehendak orang lain.


Dewi Jiwa membuka matanya, memperlihatkan mata merah muda berkilauan yang sangat indah. "Anak muda~" Ia menjilati bibirnya sendiri mencoba menggoda Lin Chen.


Lin Chen membuka matanya perlahan, terlihat mata hitam pekat tanpa ada warna putihnya, aura yang ia keluarkan juga semakin kuat. "Teknikmu tidak berguna untukku."


Dewi Jiwa tersentak ketika melihatnya dan tubuhnya mulai gemetar seperti serangan yang ia lepaskan, memantul dan melukai dirinya sendiri.


Dewa Petarung melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tidak mengenakan atasan, hanya bawahan yang merupakan celana merah, rambutnya cokelat panjang yang mengembang. Ada semacam tato di bagian dadanya dengan bentuk seperti kepala singa berwarna hitam.


Lin Chen masih diam mengamati setiap Dewa maupun Dewi, memastikan apakah ia bisa menenangkan pertarungan yang sudah diluar nalar. Saat ia melawan 7 God Realm, ia sangat kesulitan bahkan mati berkali-kali, apalagi sekarang yang melawan 18 God Realm tahap Akhir, dan 14 God Realm tahap Menengah.


"Sepertinya, aku akan mati hari ini."


Dewa Petarung mendengkus dingin mengungkapkan penghinaan terhadap Lin Chen yang terlihat menyerah. "Apakah hanya seperti ini saj—"


Boom!


Tiba-tiba ada asap putih yang mengepul di kerumunan God Realm, tidak ada yang menyadari bahwa Lin Chen sudah berpindah tempat dalam sekejap mata.


Wosh!


Dewa Langit mengibaskan tangannya, menghilangkan asap putih yang menghalangi pandangan semua orang. Bisa terlihat ada Lin Chen yang menendang dengan kaki kirinya, dan ditahan oleh Dewa Xiade yang menahannya dengan toya yang terbuat dari rotan.


Dewa Xiade adalah Dewa yang kehilangan penglihatannya tanpa bisa disembuhkan, tapi pendengarannya saat tajam, bahkan jika Semesta Tian masih utuh. Ia bisa mendengar suara jarum jatuh di ujung Semesta Tian dari sisi ujung lain.

__ADS_1


Pakaian Dewa Xiade seperti gelandangan, rambutnya juga tidak terawat dan ada luka di kedua matanya seperti habis terkena tebasan pedang.


Dewa Xiade mendorong toya yang ia genggam ke arah Lin Chen sampai menyentuh dahinya. "Meledak!"


Toya itu memancarkan sinar oranye di bagian ujungnya dan semakin terang dengan aura yang kuat. Hingga tak lama, toya itu mengeluarkan ledakan keras dengan api yang menyala.


Boom!


Lin Chen terhempas bagaikan kilatan cahaya karena ledakan dari toya milik Dewa Xiade. Ia juga merasakan sakit saat terhempas, seperti ada jarum tajam di sekitarnya.


Fluktuasi energi kuat muncul di belakang Lin Chen yang membuat perhatiannya teralihkan. Ia menoleh ke belakang, melihat ada Dewa Petarung yang sudah bersiap-siap.


Lin Chen juga melihat di depannya ada Dewa Perang, yang mengenakan satu set perlengkapan perang dan membawa tombak tajam, dengan kain merah yang diikat di bawah mata tombaknya.


Energi berwarna emas mulai terbakar menyelimuti tubuh Lin Chen dan menciptakan sepasang sayap kecil yang bertugas untuk mengendalikan tubuhnya yang terhempas. Ia berdiri memasang kuda-kuda seraya membuka kedua tangannya tiba-tiba.


Bang!


Telapak tangan kanannya berhasil menahan serangan dari Dewa Petarung, tapi tidak dengan bagian kiri yang telah tertembus oleh Tombak Perang.


"Bunuh!"


Datang lagi serangan lain dari atas, bawah, depan dan belakang.


Dewa Xiade di atas, Dewa Langit di belakang, Dewa Kehancuran di depan dan Dewa Bumi di bawah.


Lin Chen yang melihat semua serangan datang menghampirinya, ia tetap tenang dan diam di tempatnya, bahkan saat Dewa Perang menusuknya dengan Tombak Perang, Dewa Petarung yang terus menguatkan pukulan hingga mematahkan tangannya.


Jleb! Jleb! Jleb!


Semua senjata menembus tubuhnya dari segala arah.


Dewa Xiade tersenyum tipis saat serangannya menghancurkan pundak Lin Chen, meski awalnya ia menyerang kepala namun meleset. Tiba-tiba, telinganya terlihat bergerak-gerak ketika mendengar suara yang sangat pelan.


Ada sosok merah bertangan empat yang sangat besar, ukurannya ratusan kali galaksi yang bergabung. Iblis besar itu menggerakkan kedua tangan yang hendak menghancurkan 6 God Realm yang mengepung Lin Chen, termasuk Lin Chen itu sendiri.


Kemunculan Iblis ini secara tiba-tiba, seperti tercipta dari kekosongan. Bahkan karena terlalu cepat seperti instan, 26 God Realm lain tidak menyadarinya meski mereka berada sangat jauh.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2