Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 160 : Kota Yang


__ADS_3

Hanya tersisa empat orang lagi yang mencari masalah, kekuatan mereka yang sebelumnya lebih kuat dari Lin Qiao Jianying, namun setelah Lin Qiao Jianying berhasil menembus batasnya dan menerobos Dewa Bumi, musuh terkuat itu tidak lagi terlihat kuat.


Sekarang, keadaan benar-benar terbalik dari segi jumlah. Bahkan, hanya dengan anak-anak yang bertindak, bandit yang menghalangi jalan mereka tidak bisa berkutik lagi.


Kemarahan anak-anak juga tidak padam, dan karena emosi mereka yang memuncak, mereka menembus batas dan meningkatkan kekuatan mereka.


Walaupun merasa kagum dengan kekuatan anaknya, tapi Lin Chen merasa sedikit takut karena emosi anaknya yang mudah dipancing. Jika terus seperti itu, maka tidak ada perbedaan dengan dirinya yang dulu, yang mana sangat mudah terpancing, bahkan sampai menyerang tanpa memikirkan ide sekalipun.


Whooooosh!


Lin Da Zixuan kembali bergerak bagaikan kilatan cahaya yang masuk ke tengah-tengah dari kelompok bandit itu. Ia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dada, dengan telapak mengarah ke bawah.


Szzzt... Szzzt... Szzzt...


Kilatan listrik terlihat di kedua telapak tangannya, yang mulai berpencar membentuk cincin yang mengelilinginya.


"Menyebar." Lin Da Zixuan terlihat tenang, meski ada kemarahan yang masih bergejolak di dalam hatinya.


Blarr!


Cincin petir itu menyebar luas dalam sekejap, yang kemudian meledak mengenai semua bandit, meski hanya menghempaskannya saja dan tidak membunuhnya.


Keempat orang itu tidak bisa bereaksi tepat waktu karena pergerakan Lin Da Zixuan yang sangat cepat, tidak sesuai dengan Dewa Giok, Jenderal Dewa pada umumnya.


Lin Qiao Jianying membuka telapak tangannya, terlihat ada Chakram Dewa yang ukurannya dua kali kepalan tangan. Ini adalah hal yang dipelajari dari Ayahnya, meski hanya mampu menggunakannya secara sederhana seperti senjata lempar.


"Fwuh..." Lin Qiao Jianying meniup Chakram Dewa di telapak tangannya, membuat Chakram Dewa itu bergetar dan melesat bagaikan kilatan cahaya, membelah udara menjadi dua bagian sampai menimbulkan gelombang angin.


Slash!


Chakram Dewa bergerak bagaikan piringan lempar mengarah pada pria paruh baya yang mengenakan pakaian hijau tua, rambut hitam dengan mata cokelat. Karena Chakram Dewa, pria tua itu terbelah menjadi dua bagian dengan darah memercik dan tubuhnya jatuh ke tanah.


Lin Mein An mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin, menciptakan fluktuasi energi spiritual kuat yang berkumpul di langit. Dari energi spiritual itu menimbulkan adanya awan putih keemasan, dan tak lama kemudian terbelah dua, memperlihatkan adanya Gunung Suci yang mulai jatuh.


"Si- Sial! Siapa mereka semua, bagaimana bisa anak-anak menguasai Teknik Ilahi? Bahkan tanpa harus menggunakan segel tangan atau pengucapan, mereka juga bisa dengan mudah membentuk serangan dari elemen ..."


"Jangan banyak tanya, cepat bunuh mereka." Salah seorang menunjuk ke arah Lin Chen dan Yan Xue.


Yang lain, menganggukkan kepalanya dan bergerak menghindari Gunung Suci, pergi ke arah Lin Chen dengan serangan yang sudah disiapkan di kedua tangan.

__ADS_1


Lin Da Zixuan mengangkat tangannya mengarah pada bandit yang mencoba melarikan diri. "Jangan pergi." Ada benang petir yang muncul dari telapaknya.


Benar petir itu melesat dan melilit leher tiga pria paruh baya, kemudian dengan tarikan tangan Lin Da Zixuan, ketiganya tertarik kembali ke tempat awal.


Wusshh...


Gunung Suci mulai turun lebih cepat dari sebelumnya dan menimbulkan gelombang udara yang menyebar ataupun tertekan ke bawah, menekan tanah untuk lebih dalam lagi.


"Tidaaak!!!"


Gunung Suci terus jatuh menekan ketiganya di sana dan tidak bisa bergerak sama sekali, karena benang petir yang mengikat tubuh mereka dan memberikan rasa sakit pada jiwa.


Booom!


Gunung Suci menghantam tanah dan menciptakan getaran seperti gempa bumi, serta gelombang udara yang menyebar ke segala arah, menghempaskan pepohonan di sekitar.


Lin Chen melihat ketiga anaknya yang masih terselimuti oleh energi masing-masing, dan mata mereka juga menyala bagikan api. Ketika ia menjentikkan jarinya, mata mereka bertiga mulai membaik dan mendapatkan kesadarannya kembali.


"Hum?"


Ketiganya menoleh melihat sekitar seraya memegangi kepalanya, kemudian tersentak karena mengingat apa yang baru saja terjadi. Mereka mulai mual-mual dan memuntahkan isi perutnya, air mata juga mengalir karena mentalnya masih tidak terlalu kuat.


"Apakah kalian baik-baik saja?" Yan Xue khawatir saat melihat wajah anak-anak yang memerah dan panas, seperti terkena demam.


"Zi- Zixuan baik-baik saja ..." Lin Da Zixuan berkeringat dingin dan itu cukup deras, bahkan pakaiannya sampai basah.


Lin Chen mengelap keringat di wajah Lin Qiao Jianying dan Lin Mein An. "Mereka terkena demam karena terlalu memaksakan diri dan mentalnya belum siap untuk membunuh manusia."


Yan Xue menoleh ke kiri menatap Lin Chen. "Gege ..."


Lin Chen tahu apa yang harus dilakukan, ia menyentuh dahi ketiga anaknya dan memberikan sedikit energi. Perlahan, suhu mereka mulai turun dengan rasa kantuk yang menyerang dan membuat mereka tertidur saat itu juga.


"Aku sudah menyembuhkan mereka dan membiarkannya tidur. Dan, kita juga harus pergi dari sini, karena setelah kematian mereka, pastinya banyak yang akan datang." Lin Chen menggendong kedua gadis di tangannya.


Lin Chen menoleh ke kanan membalas tatapan Yan Xue. "Aku tidak ingin berurusan dengan mereka, dan biarkan pihak Daratan Jinmang yang yang menyelesaikan hal ini. Bagaimanapun, organisasi mereka tidak terlalu penting ..."


Yan Xue menganggukkan kepala, ia juga tidak terlalu peduli dengan organisasi yang dimaksud ini, karena saat ini ada hal yang lebih penting lagi, yaitu mengurus anak-anak.


Lin Chen membawa keluarganya untuk berpindah lagi ribuan mil ke arah barat, di sana ada sebuah kota yang padat penduduk. Tapi sebelum itu, ia mengembalikan semuanya seperti sedia kala, meninggalkan jejak pertarungan.

__ADS_1


Ketika keluarga Lin pergi, saat itu langit mulai menggulung awan dan membentuk pusaran biru. Dari sana keluar ratusan orang dengan dipimpin oleh pemuda yang mengenakan pakaian emas dengan jubah merah, rambutnya berwarna oranye dengan mata biru.


"Jejak mereka menghilang di sini, apakah mereka gagal mendapatkan mangsa dan terbunuh?"


Bao Xuxan adalah nama pemuda itu, ia menoleh melihat sekitarnya, kemudian ada kerutan di dahinya. "Tidak ada bekas pertarungan, apakah mereka terbunuh dalam sekejap dan tidak meninggalkan jejak?"


Bao Xuxan mengusap dagunya, memikirkan tentang keanehan yang terjadi. Hingga belasan menit berdiri tenang, akhirnya ia mengambil keputusan. "Kalian, lakukan pencarian dalam radius seratus mil. Bunuh siapa pun yang kalian temui."


"Baik!"


"Aku akan kembali ke Kota Yang untuk melaporkannya pada Ayahku." Bao Xuxan terbang ke langit dan memasuki pusaran cahaya biru.


***


Kota Yang, Kerajaan Qiuran


Lin Chen sudah tiba di kota dan menyewa seluruh kamar di penginapan agar keadaan di penginapan lebih tenang tidak ada gangguan, sehingga anak-anaknya bisa beristirahat dengan nyaman dan tenang.


"Bagaimana, Gege?" Yan Xue masih terlihat khawatir meski keadaan anak-anak sudah lebih baik.


Lin Chen yang duduk di kursi tepi jendela, menoleh ke kiri melihat Yan Xue yang duduk di tepi tempat tidur melihat anak-anak. "Tenanglah, Xue'er. Aku mengaturnya agar mereka bangun tiga jam setelah tidur, dan kita baru tiba beberapa menit ..."


Lin Chen berdiri menghampiri Yan Xue dan mengecup pelipisnya. "Biarkan mereka beristirahat, mereka baik-baik saja. Saat menyembuhkan mereka tadi, aku juga memberikan hadiah."


"Bagaimana hadiah itu, itu tergantung pada diri mereka sendiri."


Lin Chen menyusupkan ilusi di dalam benak mereka bertiga, ilusi tentang Alam Bawah yang merupakan tempat Pohon Dewa terbentuk. Jika mereka bisa memanfaatkan kesempatan itu, mereka bisa mengabaikan satu tingkatan dan menembus Ranah selanjutnya.


Yan Xue sedikit mengangguk, lalu menyandarkan kepalnya di dada Lin Chen. Ia mengamati anak-anak sampai keadaan lebih membaik, kemudian ia mengecup kening ketiganya dan duduk bersila di tempat tidur lain.


Yan Xue ingin bermeditasi untuk berhasil menembus Ranah Tongzhi. Walau ia tidak bisa membantu Lin Chen, setidaknya ia ingin meningkatkan kekuatannya agar tidak terlalu jauh dari Lin Chen, meski harus menghabiskan ratusan juta tahun lamanya.


Lin Chen kembali duduk di kursi sebelah jendela, mengamati salah satu keluarga di Kota Yang. "Bandit? Lucu sekali, salah satu keluarga besar di Kota Yang, adalah dalang dibalik perampok di Lembah Xuzhiao ..."


"Tapi, aku tidak peduli selama mereka tidak mengganguku."


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2