
Lin Chen sudah menjelaskan semuanya pada Luo Yi tentang apa yang ia lalui selama ini sampai bertemu dengan Lin Mein An dan menjadikannya sebagai anaknya sendiri. Termasuk pemberian kekuatan dari darahnya dan Yan Xue, yang mana hanya memiliki keberhasilan 1 : 10.000.
Mengapa hal itu sangat berbahaya, karena darahnya yang memiliki banyak kekuatan dan di Bintang Logia tidak ada aura spiritual. Tapi, semua itu bisa terwujud karena bantuannya, jika saja ada yang sengaja mengambil darahnya untuk meningkatkan kekuatan, orang itu akan meledak karena tidak mampu menahan luapan energi.
Jika ada yang mengetahui tentang spesialnya darah Lin Chen, mungkin banyak yang memburunya. Bahkan, meski tidak ada yang tahu, saat ini saja masih ada 293 Dewa/Dewi yang selalu mencari cara untuk membunuhnya.
Luo Yi merasa kasihan pada Lin Mein An, dan entah mengapa ia juga mengerti alasan Lin Chen tidak ingin membangkitkan keluarga Mein.
"Berapa lama Chen'er akan tinggal?" Luo Yi menundukkan kepalanya, mengusap kepala Lin Chen yang ada di pahanya.
Lin Chen yang matanya terpejam, membuka matanya dan menoleh ke kiri melihat anak-anak yang sedang bermain. "Mungkin satu bulan, kemudian aku akan pergi lagi. Masih banyak lagi yang harus dilakukan ..."
Ia terdiam sejenak kembali menatap Luo Yi. "Tapi, aku pasti akan selalu mampir, meski tidak setiap tahun."
Lin An Peiyu datang menghampiri Lin Chen yang duduk bersama di bawah Pohon Dewa. Ia berjongkok menatap Kakaknya. "Kakak sangat manja."
Lin Chen menekan kedua tangannya di tanah, menopang badannya untuk duduk. Ia mengulurkan kedua tangannya, mengusap wajah Lin An Peiyu. "Yu'er menjadi gadis yang cantik." Ia memainkan kedua pipi Adiknya itu.
Lin An Peiyu tersenyum cerah dan terlihat sangat bahagia.
Lin Chen mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang, hendak mengeluarkan Senjata Ilahi yang akan ia berikan pada Lin An Peiyu. Namun saat Cincin Ruangnya baru saja bersinar, Luo Yi menangkap pergelangan tangannya.
"Berhenti, Ibu tahu apa yang ingin Chen'er berikan dan sangat berterima kasih karena berniat memberikan hadiah. Tapi, jangan berikan itu."
Tubuh Lin Chen bergidik ketika melihat tatapan mata Luo Yi yang sangat tajam, seperti singa yang siap menerjang kelinci kecil. Akhirnya, ia membatalkan niatnya untuk memberikan senjata, dan menggantinya dengan boneka beruang setinggi dua meter.
Lin An Peiyu menengadahkan kepalanya melihat boneka beruang yang lebih tinggi darinya. "Besar." Ia menyimpannya di dalam Cincin Ruang, lalu mengalihkan pandangannya pada Lin Chen. "Terima kasih, Kakak."
Lin Chen tersenyum ringan seraya mengusap kepala Lin An Peiyu. "Sama-sama." Ia seperti melihat Xue Ying kecil saat melihat Lin An Peiyu, tapi versi sopan dan baik, tidak seperti Xue Ying yang senang sekali mematahkan semangatnya.
Lin An Peiyu tersenyum cerah, lalu berbalik menghampiri anak-anak yang lain.
__ADS_1
Lin Chen yang tidak tahu harus melakukan apa di Bintang Qiang, akhirnya memilih untuk kembali tidur di pangkuan Luo Yi, menikmati belaian tangan di kepalanya. "Ibu, bagaimana keadaan Bintang Qiang selama tiga tahun terakhir?"
"Bukankah Chen'er bisa mengetahuinya sendiri?" Luo Yi menghentikan gerakan tangannya yang mengusap kepala Lin Chen, tapi tidak lama kemudian, kembali menggerakkan tangannya. "Ayahmu mengaturnya dengan baik, memang ada beberapa masalah seperti serangan monster ..."
"Bandit dari berbagai tempat, serangan monster dari bintang lain. Tapi, semuanya bisa diselesaikan dengan baik."
Luo Yi terdiam sejenak melihat Lin Chen yang memejamkan mata. Ada sedikit rasa takut dan khawatir di hatinya, ia tidak ingin anaknya terus bepergian ke tempat berbahaya. "Chen'er, Ibu tahu ini berat untukmu. Tapi, Ibu harap kau harus bertahan, jangan sampai kehilangan siapa dirimu yang sebenarnya ..."
"Ibu tidak ingin kau berubah menjadi monster kejam karena terus membunuh, kau dianggap sebagai pahlawan, dan teruslah seperti itu. Jangan merubah dirimu menjadi penjahat."
Lin Chen merenungkan perbuatannya selama ini. Ia memang pernah berniat atau tidak sengaja berjalan di jalan itu, ia pernah hampir menghabisi seluruh makhluk hidup di Semesta Yongheng ketika semua keluarganya terbunuh saat ia datang ke Alam Selestial.
"Baik, Ibu." Lin Chen membuka matanya menatap Luo Yi, lalu melihat belasan anak-anak yang bermain bersama. "Tidak mungkin aku seperti itu, lagi pula aku sudah memiliki anak, keponakan, adik dan lainnya."
Luo Yi tersenyum hangat menatap Lin Chen, lalu mendongak menatap semua orang. "Ibu harap Chen'er selalu memegang ucapannya."
Lin Chen tersenyum dan menutup matanya kembali, ia ingin bersantai dan menenangkan dirinya dari semua beban yang ia tanggung. Sangat jarang ia bisa bersantai seperti ini, yang mana ia hanya bisa bersantai menjadi dirinya sendiri setiap bersama Ibu, Yan Xue dan anak-anak.
***
Lin Chen sudah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan Bintang Qiang, membunuh Dewa yang sudah ia targetkan selama ini. Salah satu Dewa kuat yang mampu mengendalikan apa pun di sekitarnya tanpa terkecuali.
Untuk penyerangannya kali ini, ia tidak akan membawa anak-anaknya termasuk Yan Xue. Ia ingin bepergian seorang diri seraya mengembangkan Sekte Chenlong di 18 Semesta lain dan memasang Patung Naga Emas untuk disembah.
Dengan banyaknya yang menyembah Patung Naga Emas, sedikit banyaknya ia bisa meningkatkan kekuatannya.
Lin Chen tidak memberi tahu pada semua orang jika ia ingin pergi sendirian. Tapi, pastinya akan menimbulkan kecurigaan, mengingat ia mengatakan pada semua orang akan pergi satu bulan setelah datang ke Bintang Qiang.
"Ibu, kami akan pergi lagi. Aku akan datang lagi setelah satu tahun."
Luo Yi tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya, kemudian berucap, "Baiklah. Hati-hati, Ibu juga mewakilkan Ayahmu, dia tidak bisa datang karena harus pergi bersama Ayah dan Kakek ke salah satu galaksi."
__ADS_1
Lin Chen tahu tentang Ayahnya yang pergi, dan ia tahu pergi ke mana, untuk apa. Ia juga sudah meninggalkan klon di mana Ayahnya akan datang, berjaga-jaga apabila ada hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah cukup berpamitan, Lin Chen memasukkan Yan Xue dan ketiga anaknya ke dalam Ruang Dimensi, memindahkannya ke Dinasti Ming yang ada di Bintang Logia. Ia juga mengubah tubuhnya menjadi asap putih yang menyebar, berpura-pura jika sudah meninggalkan tempatnya.
"Dia sudah pergi." Luo Yi tersenyum tipis, mencoba menahan rasa rindunya karena baru sebentar bertemu Lin Chen. Ia menunduk melihat Lin An Guang dan Lin An Peiyu, ia sedikit membungkukkan badannya dan membawa keduanya. "Ayo jalan-jalan ke kota."
Wang Ji Fei masih melihat hamparan rumput di depannya, melihat Lin Chen yang baru saja menghilang. "Masih belum cukup, aku masih belum memeluk Chen'er kecilku."
"Kau sangat menyayangi Chen'er? Bukankah ada Yi'er, Guang'er dan Yu'er. Ada juga Chang'er yang masih bayi."
Wang Ji Fei melirik ke kanan dengan tatapan tajam, kemudian memalingkan wajahnya seraya mendengkus kesal. "Aku tidak ingin mendengar itu dari Ibu. Ibu sendiri sama saja, selalu ingin memeluk Chen'er."
Hua Jia Ran tidak bisa menyangkalnya, ia memang ingin memeluk Lin Chen, atau lebih tepatnya ingin mencoba dekat agar kesalahannya di masa lalu bisa benar-benar dilupakan dan tidak diungkit lagi.
Srak! Boom!
Suara ruang yang terbuka dan ledakan di dalam danau, terjadi secara bersamaan. Air melonjak naik ratusan meter ke langit, mengarah pada celah ruang berwarna biru yang cukup tinggi dari permukaan air.
Hua Jia Ran dan Wang Ji Fei yang masih di sana, melihat kilatan cahaya putih yang melesat ke langit mengarah ke celah ruang. Walaupun mereka tidak melihatnya dengan jelas, mereka tahu siapa yang terbang.
"Chen'er!?"
"Aku senang kalian berdua sangat perhatian dan menyayangiku, tapi aku harap, kalian berdua juga menyayangi yang lain. Aku tidak ingin terlihat serakah dan egois karena ingin mendapatkan semua perhatian kalian berduaan."
Celah ruang itu menutup kembali sesaat setelah Lin Chen selesai mengirimkan transmisi suara pada Hua Jia Ran dan Wang Ji Fei.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1