
Sudah satu minggu berlalu semenjak Chenlong Herbal dibuka, keuntungan yang didapatkan cukup memuaskan untuk usaha kecil seperti ini di Kota Fanren, dan yang lebih penting adalah Lin Chen yang sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini.
Kabar mengenai Chenlong Herbal sepertinya sudah tersebar sampai ke kota-kota lain yang terhalang oleh pegunungan, ataupun sekte-sekte berkuasa di Bintang Qiuzan.
Jika ada yang berencana datang dengan niat baik, pastinya ada niat buruk seperti mengambil sumber daya ataupun metode pengolahan herbal-herbal tanpa harus menggunakan energi spiritual.
Toko herbal selalu ramai setiap harinya, bahkan jika toko tidak tutup pada malam hari, malam hari akan datang pengunjung untuk membeli herbal.
Lin Chen sudah terbiasa hidup seperti ini; menikmati kesehariannya, berinteraksi dengan orang-orang yang tinggal di sekitar perkarangan rumah dan pergi ke pasar setiap pagi hari sebelum toko dibuka. Semua yang dilakukannya seperti mengatakan bahwa ia bukanlah Dewa atau Kultivator, ia hanyalah manusia biasa yang menikmati hidup.
Sudah sangat lama tidak merasakan hal semacam ini, biasanya saat ia datang ke tempat lain, akan selalu ada masalah seperti saling merendahkan hanya karena tingkatan kultivasi, dan saat berjalan-jalan di Kota Chen, semua penduduk akan berlutut dan tidak berani melihat matanya.
Hari ini Lin Chen dan Yan Xue beristirahat dari melayani pembelian; mereka sedang berada di bawah Pohon Jujube Surgawi, melihat pelanggan yang terus berdatangan. Ada kekecewaan yang terlihat di wajah pelanggan, bukan karena herbal atau ramuan yang dijual tidak bermutu, tapi karena tidak bisa mendapatkan pelayanan dari Lin Chen.
Lin Chen duduk di kursi bersantai dengan kaki diluruskan dan sedang membaca buku bersampul biru. "Ternyata banyak mitos-mitos aneh di Kota Fanren: kota ini adalah tempat yang dikutuk, semua yang lahir di sini terlahir tidak bisa berkultivasi seberapa banyak berusaha, tidak boleh ada aktivitas pada tengah malam atau akan mendapatkan musibah?"
Sangat aneh jika tidak boleh melakukan aktivitas pada tengah malam, karena para penjaga di Kota Fanren selalu terjaga pada malam hari dan tidak mendapatkan musibah.
"Apakah karena Yegui?" Lin Chen menoleh ke kanan melihat Yan Xue yang duduk di kursi biasa dan sedang merajut.
Yan Xue menggelengkan kepalanya. "Bukan, karena hanya ada satu Yegui di Kota Fanren dan itu sudah dibunuh."
"Begitu ... ." Lin Chen menganggukkan kepalanya, melanjutkan membaca buku yang ia pegang.
Yan Xue kembali merajut untuk beberapa waktu sampai semuanya selesai menjadi syal yang indah. Ia menoleh ke kiri untuk memberikannya kepada Lin Chen, tapi ternyata sudah tertidur dengan posisi bersandar dan wajahnya tertutup oleh buku.
Lin Chen tidak tidur, ia hanya sedang mencoba memahami apa saja yang sudah ia dapatkan selama tinggal di Kota Fanren. Meskipun kekuatan fisiknya sangat kuat, tapi jika terlalu lama di sini dan tidak mendapatkan Pencerahan, kekuatan Dewa Kehampaan akan terus meningkat.
Kehidupan, setelah melihatnya langsung, makna kehidupan menurut orang-orang di sini sangat berbeda. Ada yang hidup karena uang, ada yang karena kesehatan, takdir dan mengubah nasib. Tapi kebanyakan ingin berumur panjang dan selalu bisa bersama.
Aku memahaminya, namun, mengapa aku tidak mendapatkan Pencerahan? Apakah karena tidak ada Kultivator di sini? Jika ada Kultivator, mungkin jawabannya akan berbeda, seperti manusia biasa hanya ingin bertahan hidup tanpa mendapatkan masalah.
Lin Chen menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. "Kehidupan, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata ... ."
Lin Chen terus mencoba memahaminya dengan mata masih terpejam; tidak merasa ada perbedaan yang signifikan meski sudah belasan menit mencoba memahaminya dari sudut pandang Mortal. Tapi, yang tidak ia ketahui, tubuhnya mulai memancarkan cahaya putih yang sangat menenangkan jiwa.
Cahaya yang dikeluarkan Lin Chen hanya bisa dilihat oleh Kultivator yang memang bisa merasa energi spiritual, untuk manusia biasa tidak bisa melihat, bahkan merasakan pun tidak.
Aliran energi spiritual di Semesta Lantian juga mulai mengalami perubahan, bahkan Semesta-semesta lain juga terkena dampaknya meski tidak terlalu banyak.
"Gege!" Yan Xue menggoyangkan tubuh Lin Chen; khawatir jika terjadi sesuatu di saat Lin Chen tidak memiliki kekuatan.
Lin Chen mengangkat buku yang menutupi wajahnya. "Ada apa?"
"Eh!?" Yan Xue terpana melihat cahaya yang menyinari tubuh Lin Chen menghilang dalam sekejap, dan aliran energi di Bintang Qiang mulai kembali seperti semula.
Lin Chen mengulurkan tangannya meraih wajah Yan Xue, lalu mencubit pipinya yang halus dan lembut. "Ada apa, Sayang?"
Yan Xue menyentuh wajah, leher, dada dan perut Lin Chen secara bergantian dengan tatapan khawatir. "Apakah Gege tidak apa-apa?"
Lin Chen menganggukkan kepalanya dengan tatapan kosong; tidak tahu apa yang sedang dilakukan Yan Xue, dan saat menoleh ke pintu masuk toko, ia bisa melihat Xue Ying yang berdiri di sana dengan tatapan yang saja saat menatapnya dari kejauhan.
Lin Chen tidak tahu mengapa mereka terlihat sangat khawatir dan tatapan mata mereka seperti itu, tapi tak lama kemudian ia mengetahuinya. "Apakah sekte-sekte di luaran sana sudah tahu tentang Chenlong Herbal dan memutuskan untuk datang?"
Yan Xue menoleh ke kanan belakang; melihat Xue Ying dan memberikan tanda dengan anggukkan kepala secara bersamaan. Kemudian, ia kembali menoleh menatap Lin Chen. "Iya, banyak sekte yang sudah tahu tentang toko kita, tapi hanya sedikit yang datang kemari."
Keduanya berencana untuk merahasiakan tentang perubahan di dalam tubuh Lin Chen sampai pada tahap tertentu; mereka merasa Lin Chen sudah mulai memahami arti dari Kehidupan, tapi sepertinya masih belum cukup dan akan dalam bahaya jika terlalu memaksakan diri atau mengetahui perubahan tubuh sebelum paham arti Kehidupan.
__ADS_1
Perihal sekte yang datang ke Kota Fanren, bukan hanya karena Chenlong Herbal yang menarik perhatian, tapi karena aliran energi yang mengarah ke Kota Fanren dan menarik perhatian kekuatan tersembunyi.
Bahkan Kultivator yang berada di bintang lain juga mulai melakukan pergerakan untuk datang ke Bintang Qiuzan dan mencari tahu apa yang terjadi.
Lin Chen membenarkan posisi duduknya untuk tegak dan menutup buku yang ia bawa. "Begitu, maka biarkan saja mereka datang, aku ingin melihat bagaimana sikap manusia di sini saat bertemu Immortal. Apakah mereka akan bersujud, atau mereka akan mencoba menjilat."
Ini adalah hal yang bagus jika mereka datang kemari dalam waktu dekat, sehingga ia bisa melihat bagaimana kehidupan manusia biasa di sini dan membuat kesimpulan yang dapat membantunya.
Tapi, ada satu hal yang membuatnya sedikit tak mengerti, haruskah ia melakukan hal yang sama seperti berlutut atau bahkan bersujud? Lin Chen hanya pernah bersujud di kaki Ibunya saat meminta maaf karena membiarkannya terbunuh.
Lin Chen menggelengkan kepalanya, tidak akan bersujud pada orang lain bahkan jika harus saling bertarung melawan Kultivator di saat ia menyegel kekuatannya. Ia masih memiliki jarum perak, ia mampu menyumbat Meridian mereka akan bahkan menghilangkan basis kultivasi dan mengubahnya menjadi manusia biasa.
"Aku kembali beristirahat, bangunkan saat hari mulai petang."
Lin Chen kembali merebahkan tubuhnya di kursi bersantai dan menutup matanya. Karena tidak mungkin langsung bisa tertidur, ia kembali masuk dalam keadaan tenang dan fokus dalam kultivasi pikiran untuk mendapatkan Pencerahan.
Aliran energi kembali berubah dan sangat mempengaruhi Kultivator yang sangat bergantung pada energi spiritual. Aliran energi itu tidak beraturan, meski sebenarnya mengikuti kehendak Lin Chen yang sedang berpikir.
Yan Xue kesulitan untuk bernapas karena aliran energi di dalam tubuhnya bergerak tak beraturan sampai menyakitinya, tapi itu hanya terasa sebentar saja karena Xue Ying membantunya agar tidak terpengaruh oleh Lin Chen.
***
Keesokan Harinya
Lin Chen masih mencoba memahami arti Kehidupan di sela-sela waktu istirahat atau saat tidak ada pelanggan yang datang, dan pada waktu itu Xue Ying harus bekerja lebih keras untuk melindungi enam orang yang bersama mereka.
"Kehidupan oh Kehidupan—"
"Immortal datang ke Kota Fanren!"
Lin Chen tersadar dari kultivasi pikirannya saat ada yang berteriak di jalan utama. Ia berjalan keluar dari Kediaman Lin, lalu menoleh ke kanan melihat ke gerbang utama, terlihat ada ratusan orang yang mengenakan pakaian putih seragam.
Bug... Bug... Bug...
Lin Chen kembali mengalihkan perhatiannya pada jalanan, terlihat semua penduduk mulai berlutut atau bahkan bersujud saat Immortal berjalan di depan mereka.
"Apakah harus sampai sejauh itu?" Lin Chen merasa sangat aneh melihat Kultivator lemah sampai mendapatkan perlakuan seperti itu, bahkan ada salah satu anak kecil yang tidak tahu apa-apa harus mendapatkan tendangan.
Lin Chen mengatur pernapasannya dan mencoba untuk tenang, jangan sampai terpancing emosi, karena bisa memperlambat kemajuannya.
Lin Chen berdiri belasan meter dari gerbang untuk menyambut Sekte Elang Putih yang sudah ia ketahui dari Plat Giok, tapi yang terlihat jelas berasal dari lambang di dada kiri mereka.
"Apakah ini Chenlong Herbal?"
Lin Chen mendongak melihat pria tua yang mengenakan jubah biru, rambutnya putih panjang dengan janggut sampai dada. Ia tidak tahu kekuatan pria tua di depannya karena tidak bisa merasakan aliran energi, tapi melihat dari Mata System, kekuatannya hanya sebatas Spirit Realm tahap Menengah, mungkin Immortal God atau Heavenly Immortal God.
Lin Chen menangkupkan kedua tangan dengan maksud memberi hormat agar nampak seperti manusia biasa. "Iya, saya adalah pemiliknya, Lin Chen, dan ini istriku, Yan Xue."
Pemuda yang berdiri di kiri belakang pria tua, melihat Yan Xue dengan tatapan menjijikkan dan sesekali menjilati bibirnya sendiri.
Lin Chen menyadari hal itu dan ingin sekali mencongkel matanya, tapi ia mencoba menahan diri. "Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Pemuda berambut biru yang mengenakan ikat kepala dan berjubah merah, melangkah maju menghampiri Lin Chen. "Apakah begini cara Mortal berbicara dengan Immortal? Berlutut!" Ia menusuk-nusuk dada Lin Chen dengan jari telunjuknya.
Lin Chen masih tetap tenang dan bahkan senyuman di wajahnya tidak menghilang; ini belum seberapa, masih bisa ia tahan karena saat ini ia adalah manusia biasa.
"Apa kau tidak ingin berlutut?! Aku adalah Penerus Sekte Elang Putih, Hu Dajin!"
__ADS_1
Hu Dajin mengayunkan tangannya; memukul dada Lin Chen cukup keras.
Lin Chen tidak merasakan rasa sakit dan tetap berdiri di tempatnya tanpa melangkah mundur, hingga saat semua tatapan mata tertuju padanya, ia mencoba merusak organ dalamnya sendiri dan memuntahkan darah.
Hu Dajin menyeringai dingin dan menatap rendah Lin Chen yang sedikit membungkuk memegangi dada. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Yan Xue yang sangat cantik. "Aku akan memafaatkan ketidaktahuan kalian, tapi, biarkan istrimu yang membayarnya."
Lin Chen kembali berdiri tegak menatap Hu Dajin dan menangkap pergelangan tangannya yang ingin meraih Yan Xue. "Apakah kau mencari kematian? Apakah Sekte Elang Putih ingin berakhir di sini?"
"Kau!" Hu Dajin menggertakkan giginya seraya mengepalkan tangan kirinya yang diselimuti energi kuat membentuk kabut biru.
Hu Dajin kembali mengangkat tangannya dan menyerang ke arah kepala Lin Chen.
"Tunggu!" Hu Yangsan yang merupakan pria tua mencoba menghentikan cucunya; ia merasa ada yang salah setelah melihat Pohon Jujube Surgawi.
Pohon Jujube Surgawi terlihat sedikit menunduk ke arah Lin Chen, dan ini adalah hal yang sangat mustahil bagi mereka yang tidak memahami Dao atau memiliki basis kultivasi yang tinggi, setidaknya Heavenly Realm.
Lin Chen memutar tangan kanan Hu Dajin hingga terdengar suara retakan kasar, dan terlihat tangan kanan Hu Dajin telah patah pada bagian siku.
"Aarrgh—"
Lin Chen menusuk leher Hu Dajin menggunakan jarum perak untuk tidak berteriak karena terlalu berisik. Ia juga menusuk pada bagian pergelangan tangan kiri yang menghentikan aliran energi Hu Dajin.
Bukan hanya itu saja, Lin Chen menusuk semua titik akupuntur tanpa meninggalkan satu pun, kemudian memukul bagian dada Hu Dajin.
Hu Dajin yang tidak bisa berteriak, hanya bisa merasakan sakit dalam diam dan tubuhnya terlihat ada garis-garis merah yang merupakan pembuluh darah; darah mulai mengalir keluar dari pori-pori kulit, yang kemudian tergeletak di tanah tanpa bisa memberikan perlawanan.
Tindakan Lin Chen sangat cepat dan semua titik akupuntur yang ia tusuk tidak meleset sekalipun, semuanya tepat pada titiknya, lalu karena pukulannya tadi, Dantian Hu Dajin telah meledak.
Lin Chen menatap tajam Hu Yangsan yang masih tidak bisa memproses apa yang terjadi barusan. "Sepertinya kalian datang bukan dengan niat baik, maka tidak perlu ada yang kita bicarakan lagi ... Yin'er!"
"Baik, Master." Dewi Kuxing berjalan keluar dari dalam toko seraya membawa pedang tajam; berdiri di depan Hu Dajin dan menebas lehernya hingga terputus.
Lin Chen mengabaikan tatapan mata semua orang dan memilih masuk ke dalam toko bersama Yan Xue. Namun sebelum masuk, ia kembali berhenti dan berkata, "Ini adalah pelajaran bagi kalian semua yang datang! Tidak peduli apa yang kalian lakukan, jangan sekalipun membawa-bawa istriku ..."
Lin Chen menoleh ke belakang menatap Hu Yangsan yang terlihat sangat marah. "Aku akan membunuhnya, meski harus mengulang pelatihan ku dari awal."
"Usir mereka."
Dewi Kuxing tersenyum dingin menatap Hu Yangsan, dan tiba-tiba ia sudah berdiri di depannya dengan tangan kanan terangkat. "Apa kau dengar? Master-ku meminta kalian untuk pergi!"
Bang!
Dewi Kuxing mengayunkan tangannya menampar wajah Hu Yangsan cukup keras, sampai merusak setengah wajahnya dengan luka bakar yang mengerikan.
Hu Yangsan tidak bisa menahan pukulannya dan langsung jatuh menghantam tanah; lubang besar tercipta dengan dirinya sebagai pusatnya.
Xue Ying mengangkat tangannya setinggi mungkin, kemudian mengepalkan tangannya.
Booom! Booom!
Profound Ark yang terbang di langit Kota Fanren meledak; api besar dengan kepulan asap abu-abu terlihat memenuhi langit dan potongan kayu mulai berjatuhan.
Lin Chen sangat kesal karena ada yang merusak pelatihannya selama satu minggu ini dengan memancing emosinya. Jika ada yang menampar atau memukulnya, ia bisa menahan hal itu, tapi tidak jika menyangkut keluarga, terutama orang yang ia cintai.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...