
Lin Chen mendarat di luar Gerbang Langit Selatan dan disambut dengan pelukan hangat dari Yan Xue yang berlari ke arahnya. "Apakah aku hebat?"
Yan Xue mendongak membalas tatapan Lin Chen. "Iya, Gege sangat luar biasa. Tapi, jangan pernah membahayakan diri." Ia sudah tahu dan sudah melihatnya berkali-kali, tapi ia selalu khawatir dengan keadaan suaminya, meskipun itu hanya terkena goresan kecil.
"Yang Mulia Kaisar ..." Ketua Prajurit Surgawi yang pertama membuka suara di antara penghuni Wilayah Tiantang, tapi berhenti di tengah jalan karena tidak berani mengganggu.
Lin Chen menganggukkan kepalanya, tahu maksud dari ucapan Ketua Prajurit Surgawi maupun tatapan mata semua orang. Ia mendongak menatap semuanya dan berkata dengan santainya, "Lord Realm tahap Enam Puluh." Ia sengaja merahasiakan kekuatan aslinya.
Bukannya tidak percaya atau apa, Lin Chen hanya ingin lebih waspada karena baru datang ke Alam Tiantang, masih banyak hal-hal yang tidak diketahuinya. Jika semua bahaya sudah menghilang, seperti Lord Sanzu, mungkin ia akan berusaha jujur mengenai kekuatan aslinya.
"Ini ... ini ..." Ketua Prajurit Surgawi kehabisan kata-kata, begitu pun dengan yang lain; tidak pernah menduga bahwa Kaisar Giok yang baru kembali selama tiga hari, sudah sekuat itu. Sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan mereka, yang mana kekuatan terkuat hanyalah Lord Realm tahap Sepuluh.
Lin Chen menggelengkan kepalanya, kemudian menambahkan, "Tapi, ini belum cukup untuk menyerang Alam Diyu." Ia memercayai apa yang dikatakan Lord Fei. Kemudian, ia menoleh ke kanan belakang melihat Juling Shen. "Tolong, percepatan pembangunan Gerbang Langit Selatan. Setelah itu, aku akan menambahkan Energi Abadi di Wilayah Tiantang untuk kalian berkultivasi."
Juling Shen tersentak dengan mata melebar karena kejutan, kemudian berbalik dan kembali memperbaiki Gerbang Langit Selatan. Jika memperbaikinya hanya menumpuk-numpuk, itu akan sangat mudah, tapi memperbaiki Gerbang Langit Selatan membutuhkan keahlian mengukir, mantra, array, termasuk penempaan.
Lin Chen menutup matanya lagi saat masih memeluk Yan Xue. Ia sedang membuka System Shop untuk melihat-lihat Artefak Dewa yang mampu meningkatkan kelayakan hidup di Wilayah Tiantang. Wilayah Tiantang bisa diibaratkan seperti tanah tandus, karena terlalu banyak awan ketimbang daratan.
Terutama, hidangan di sini tidak memenuhi keinginannya, meski di sini ada Dewa Masakan yang memberikan kehidupannya untuk makanan. Tapi, dari sudut pandang Lin Chen, masakannya kurang bumbu, cara memotongnya salah, cara mencucinya bahkan salah.
Sepertinya, aku harus membangun supermarket di sini. Ini bisa membuat Dewa Masakan memiliki lebih banyak cara dalam memasak, dan bisa saja menjadi terobosan baginya agar menerobos tahap Menengah dari God Realm.
Lin Chen berdeham, merasa tidak nyaman dengan tatapan semua orang. "Semuanya sudah selesai, kalian bisa kembali ke tempat masing-masing."
Seketika itu juga, mereka semua menangkupkan kedua tangan dengan maksud untuk memberi hormat, kemudian pergi setelah berpamitan. Tujuh Putri juga kembali ke Kediaman Putri Tiantang. Tujuh Putri adalah putri yang diadopsi oleh Kaisar Giok dan Permaisuri Surga sebelum Lin Chen mengorbankan diri untuk Alam Tiantang, dan diikuti oleh Yan Xue yang ingin mati bersama.
"Tunggu sebentar." Lin Chen menahan Tujuh Putri untuk tetap tinggal.
Hong yang memiliki rambut merah dengan pakaian yang sama, berbalik dan menangkupkan kedua tangan kemudian bertanya, "Iya, Ayah Kais— Yang Mulia Kaisar Giok."
Ziye menggunakan sikunya untuk menyenggol lengan Hong saat memberikan salam, meski mereka adalah putri adopsi dan sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan 'Ayah Kaisar' dan 'Ibu Permaisuri', orangtua adopsi mereka belum benar-benar mengingat tentang kehidupan pertama, sehingga tidak baik langsung memanggilnya dengan panggilan biasanya.
Zhi yang berasal dari Bunga Zinnia, sama seperti Dewi Lushi, hanya diam saat menundukkan kepalanya. Ia adalah Putri Keempat yang anggun dan pandai berbicara, tapi saat ini lebih memilih untuk tetap diam.
__ADS_1
Putri Kelima, Qing mendongak menatap Lin Chen. "Ada keperluan apa, Yang Mulia Kaisar Giok?"
Lin Chen melihat Tujuh Putri yang memiliki penampilan dengan warna berbeda, masing-masing dari mereka mewakili bunga. Mereka tumbuh pada saat yang bersamaan, dan mendapatkan bentuk manusia pada waktu yang berdekatan.
"Kalian sudah bekerja dengan baik." Lin Chen mengangkat jarinya, kemudian memberikan Energi Keberuntungan seperti air terjun yang jatuh di atas kepala mereka.
Lin Chen tidak kejam dan membiarkan yang lain tidak mendapatkan apa-apa setelah bekerja keras. Ia pun memberikan sejumlah Energi Keberuntungan pada semua penghuni Wilayah Tiantang dari jarak jauh, itu seperti bintang jatuh di langit yang menyebar ke segala tempat.
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya kalian adalah putri-putri kami. Kalian bisa memanggil kami seperti biasanya, tapi gunakan panggilan formal saat ada pertemuan atau orang lain." Lin Chen menepuk-nepuk kepala Putri Ketujuh, Ziye
Lin Chen juga memberikan hadiah lain seperti Energi Abadi untuk membantu mereka menerobos tahap Akhir dari God Realm, serta memberikan mereka Artefak Dewa yang hampir mendapatkan Kesadaran Spiritual.
Lin Chen ingin memberikan hadiah lain, tapi tidak tahu bagaimana efeknya. Hadiah yang ingin diberikannya adalah darahnya dan Yan Xue, seperti saat memberikannya pada Lin Mein An. Tapi, ada perasaan was-was karena Tujuh Putri berasal dari bunga, sehingga ia masih harus memikirkannya terlebih dahulu.
Yan Xue melepaskan pelukannya dari Lin Chen, kemudian memandangi Hong, Cheng, Huang, Zhi, Qing, Lan, Ziye. "Mereka mengatakan bahwa aku adalah Permaisuri Surga, tapi aku tidak bisa mengingatnya sama sekali. Aku hanya ingat tentang kehidupan sebagai Guang Mei Fei ..."
"Jadi, tolong harap maklum." Yan Xue sedikit membungkukkan badannya.
Lin Chen berjalan melewati Tujuh Putri. "Apakah kalian ingin makan bersama? Aku bisa pastikan makanan yang aku masak lebih enak daripada hidangan Dewa Masakan."
Tujuh Putri tidak tahu harus berkata apa, mereka hanya diam dan saling memandang, kemudian berjalan mengikuti Lin Chen dengan Yan Xue yang memimpin.
...***...
970.840.000 Mil ke Arah Tenggara dari Wilayah Tiantang
Lin Chen tiba di tempat yang sama sekali tidak ada cahaya, semuanya sangat gelap. Hanya dirinya yang bercahaya, cahayanya tidak terlalu besar dan terang, tapi merupakan suatu cahaya suci di dalam kegelapan tak berujung. "Siapa yang mengira ada tempat seperti ini di sini, jika di Alam Semesta mampu mengedarkan Kesadaran Ilahi sampai jarak triliunan mil. Di sini, Kesadaran Ilahi hanya bisa menangkap beberapa puluh juta mil ..."
"Ini karena banyak tempat yang sudah bukan dalam wilayah kekuasaan Wilayah Tiantang." Lin Chen menghela napas panjang.
Lin Chen menguatkan cahaya yang dilepaskannya, kemudian berkata dengan pelan, "Ras Malaikat Jatuh. Aku akan memberi kalian kesempatan untuk kedua kalinya, patuh di bawah kepemimpinan Prajurit Surgawi, dan menjaga Wilayah Tiantang." Suaranya menggema di kegelapan.
Tidak ada jawaban dari dalam kegelapan, tapi tak lama kemudian kegelapan itu bergerak perlahan dan memperlihatkan bentuk aslinya. Malaikat Jatuh dengan ukuran tubuh belasan kali lebih besar dari Ketua Prajurit Surgawi.
__ADS_1
"Kaisar Giok? Aku tidak tahu apakah kau bodoh atau berani. Kau datang sendirian ke Markas Aliansi Penjarah Surga?"
Lin Chen menengadahkan kepalanya, melihat Malaikat Jatuh yang sangat besar. Pada bagian tubuh Malaikat Jatuh, terbangun sebuah bangunan-bangunan yang menggantung pada bagian sayap ataupun tangan. "Kau, menutupi seluruh wilayah di sini dalam kegelapan dan membangun markas. Boleh juga."
Lord Realm, God Realm, Heavenly Realm, Earth Realm dan Spirit Realm mulai keluar satu demi satu dari bangunan-bangunan yang berada di bagian tubuh Malaikat Jatuh digunakan sebagai tebing. Jumlahnya sekitar tiga kali lipat dari Aliansi Penjarah Surga yang menyerang Wilayah Tiantang barusan.
Lin Chen menengadahkan kepalanya melihat Malaikat Jatuh yang besar. "Kau bilang, tadi aku bodoh? Maaf saja, semua pasukan yang kau kirimkan terlalu lemah, dan kebetulan aku membutuhkan lebih banyak Esensi Jiwa untuk dimurnikan menjadi Pil Dewa Abadi."
Malaikat Jatuh Raksasa menatap rendah Lin Chen. "Tidak mungkin, kalaupun kau berhasil membunuh mereka semua, bukan berarti kau bisa datang ke sini. Ada yang lebih kuat dari Sheng dan Shan, terutama aku." Suaranya terdengar biasa-biasa saja, tapi menggema di langit dengan aura penindasan yang kuat.
"Apakah ini adalah Kaisar Giok yang baru lahir?" Datang pria tua berambut putih, tapi wajahnya masih terlihat cerah meski tidak bisa dikatakan muda. Pakaiannya berwarna hitam dan membawa pedang di pelukannya.
Yang lain juga datang, membawa kapak besar di punggung. Pria paruh baya dengan otot, bahkan kepalanya terlihat lebih kecil dari otot-otot yang dimiliknya. Ia mengenakan pakaian merah tanpa lengan, dan sepanjang lengannya terdapat tato aneh yang mengeluarkan aura kuat.
"Kaisar Giok? Wajahnya memang berkilau seperti giok, dan aku sangat benci dengan namanya giok. Sepertinya, hari ini aku bisa memoles wajahmu sampai kasar."
Lin Chen tetap tenang saat melihat satu demi satu Lord Realm yang datang di depannya, sampai jumlah mereka setidaknya ada tujuh. Kekuatan mereka dimulai dari Lord Realm tahap 25 sampai 49. Itu adalah kekuatan yang sangat kuat dan mendominasi Alam Tiantang, tapi anehnya, Lin Chen mendengar hanya sampai tahap 15 saja saat Pertemuan Lord Realm di Pulau Hitam.
"Jika kalian memiliki kekuatan sebesar ini, mengapa kalian tidak langsung menyerang Wilayah Tiantang?" Sebanyak apa pun dipikirkan, Lin Chen masih tidak tahu alasannya dan membuatnya penasaran.
Malaikat Jatuh Raksasa menggelengkan kepala yang mampu menimbulkan badai angin. "Apakah Kaisar Giok yang sekarang bodoh? Karena ini bukanlah hal penting, aku akan memberitahukannya padamu. Wilayah Tiantang dilindungi oleh Surga, kami harus lebih kuat dari Hukum Surga untuk menyerang Wilayah Tiantang ..."
"Kemudian, Wilayah Tiantang memiliki Tiga Dewata Murni. Walaupun mereka tidak keluar, tapi jika kami mengganggu mereka di saat kekuatan kami belum cukup, bukankah kami akan habis? Bagaimanapun, mereka adalah Pencipta dari Tiga Alam." Pandangan Malaikat Jatuh Raksasa terhadap Lin Chen semakin rendah dan tidak ada lagi rasa hormat di matanya.
Lin Chen tetap tenang dengan anggukkan kecil. Kemudian, ia mengeluarkan Pedang Cahaya di tangan kanannya.
Tujuh Tetua Aliansi Penjarah Surga menggelengkan kepala seraya melipat kedua tangan di depan dada; merasa sangat kasihan pada Lin Chen yang tetap ingin melawan meski hasilnya sudah bisa dipastikan, bahwa Aliansi Penjarah Surga akan memenangkan pertempuran.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1