
Perjalanan kembali dilanjutkan setelah mengambil semua harta benda di makam milik Heavenly Immortal, yang semua hartanya diberikan pada anak-anak, membiarkan mereka bertiga membaginya secara adil.
Lin Qiao Jianying mengambil buku-buku tentang Alkemis beserta pil dan sumber daya, Lin Da Zixuan tentang Mantra, Lin Mein An tentang Array. Tidak ada yang kualitasnya setara, atau bahkan mendekati pun tidak, semuanya hanya sebatas kualitas rendah meski salah satunya tingkat Ilahi.
Tujuan mereka kali ini ke sebuah danau yang berwarna emas, itu adalah danau dengan Air Surgawi yang bermanfaat untuk meningkatkan kecepatan dalam kultivasi atau bahkan mampu meningkatkan satu tingkat Ranah.
Air Surgawi hanya berguna untuk anak-anak, tidak berguna untuk Lin Chen yang sudah menjadi Dewa. Bahkan, Yan Xue yang merupakan Huangdi saja sudah tidak membutuhkan Air Surgawi.
Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di sana tidak terlalu lama, karena menggunakan kecepatan terbang Lin Chen yang bisa menyingkat jarak ratusan juta mil dengan sekali tarikan napas.
Hanya dalam hitungan detik saja, yang mana itu pun sudah diperlambat ratusan kali, mereka sudah tiba di suatu tempat di mana hanya ada barisan gunung saja. Barisan gunung itu membentuk sebuah kawah, tapi tidak ada apa pun di tengah-tengahnya termasuk setetes air.
"Apakah benar di sini?" Lin Qiao Jianying tidak yakin ada Air Surgawi, karena ia tidak melihat apa pun di sana, meski merasakan aliran energi yang murni.
"Tidak tahu, tapi Zixuan merasakan energi yang mengalir di sana." Lin Da Zixuan menunjuk kawah kosong di bawahnya.
"Itu tertutupi oleh array ..." Lin Mein An memberitahukannya pada yang lain tentang kawah kosong di bawahnya. "Tapi, array ini terlalu tinggi untuk Mei'er buka."
Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan tertegun dengan mulut sedikit terbuka, kemudian menganggukkan kepala berkali-kali. Tentunya mereka tidak tahu jika ada array di sana, karena mereka hanya mendalami Profesi Array sampai tingkat Guru.
"Ini adalah Array Ilusi tingkat Ilahi tahap Empat. Tentu saja tidak bisa kalian sadari ataupun buka, tapi jika sudah mencapai Master Array tingkat Ilahi, kalian bisa melihatnya samar-samar jika ada energi membentuk naga biru yang terbang di atasnya," ucap Lin Chen yang menunjuk ke arah array, memperlihatkan empat naga biru yang merupakan gabungan energi.
"Tidak seperti Pil Ilahi, yang mana coraknya akan selalu naga emas. Jika untuk Mantra dan Array, corak naga tergantung dari warna energi penciptanya," sambung Lin Chen.
Untuk Senjata dan Artefak Ilahi, mereka tidak didasari dari sebuah corak, mereka dirasakan dari aura yang dilepaskan bahkan jika saat itu tidak sedang diaktifkan.
"Untuk membuka array seperti ini, kalian bisa menyerangnya sekuat tenaga, tapi harus memastikan serangan itu bisa menghancurkannya langsung. Kalian juga bisa menciptakan array yang lebih kuat, atau aliran energi ke salah satu kelemahannya."
"Kelemahan Array Ilahi berbeda, titik lemah mereka akan selalu berpindah-pindah setiap detiknya. Jadi sebelum melakukan serangan di titik terlemah, pastikan kalian bisa menebak di mana titik lemah di detik berikutnya."
Lin Da Zixuan melipat kedua tangannya di depan dada dengan memiringkan kepala dan menutup mata, seperti sedang berpikir dan juga mengabaikan ucapan Ayahnya.
Lin Mein An mengangguk kecil dan mencatat setiap kata-kata Ayahnya untuk pembelajaran ke depannya nanti.
Lin Chen mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya, menciptakan formasi array yang mengelilingi barisan gunung untuk menahan aliran energi spiritual di dalamnya, agar energi itu tidak bocor keluar.
__ADS_1
Setelah selesai, ia kembali menunjuk ke arah Array Ilusi di bawahnya, yang bukan hanya menyembunyikan Air Surgawi, tapi juga berfungsi untuk memindahkan siapa pun yang memasukinya.
Gumpalan energi putih mulai turun perlahan seperti kapas yang jatuh dari ketinggian.
Ketika gumpalan energi putih mengenai dinding array, array itu langsung terbelah dan menghilang dalam sekejap mata. Bisa terlihat dari langit, di tengah-tengah barisan gunung yang melingkar itu ada danau dengan air berwarna emas, aura spiritual yang murni juga langsung tersebar.
Lin Chen tidak merasakan apa pun meski menghirup udara di Air Surgawi, karena aura yang ia ambil dari ratusan juta kloning lebih murni dan kental daripada Air Surgawi.
"Kalian berendam di sana dan serap esensi dari Air Surgawi sebanyak mungkin. Ini bisa digunakan untuk meningkatkan kecepatan penyerapan energi spiritual kalian." Lin Chen membawa turun semua orang, mendarat di tepi danau Air Surgawi.
"Apakah bisa? Setiap hari kami mandi herbal berkualitas dari Ayah. Jian'er merasa tidak berguna—" Lin Qiao Jianying menghentikan perkataannya tiba-tiba saat merasakan aura murni yang mulai masuk melalui pori-pori kulitnya.
Tanpa membuang waktu, Lin Qiao Jianying mulai melepaskan pakaiannya dan langsung melompat ke dalam Air Surgawi, bahkan sebelum sempat mengenakan pakaian putih.
Byurr...
Air memercik keluar dari dalam danau ketika Lin Qiao Jianying melompat. Air Surgawi yang mengenai rerumputan, membuat rumput itu tumbuh dengan cepat setelah menyerap aura murni.
Lin Da Zixuan dan Lin Mein An juga turun setelah mereka memakai pakaian dengan kain putih yang halus nan lembut.
Lin Chen yang tidak turun, mengarahkan tangannya mengambil sedikit Air Surgawi, yang nantinya akan ia masukkan dalam Fitur Copy Item. Sebelumnya ia tidak memiliki fungsi ini, dan tidak bisa berbuat banyak saat melihat Air Surgawi selain menggunakannya langsung.
Kali ini, ia berencana membuat pemandian Air Surgawi di Kota atau Sekte Chenlong di Bintang Qiang.
Lin Chen duduk bersila di tepi danau melihat anak-anaknya yang sedang berkultivasi, lalu menengadahkan kepalanya melihat langit biru. "Mau sampai kapan kau bersembunyi dan mengamati? Aku akan memberikan waktu tiga napas, jika kau tidak melarikan diri dalam jarak seribu mil, aku akan membunuhmu."
Xue Ying yang duduk di samping kiri Lin Chen, mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Bukankah Kakak biasanya akan langsung membunuhnya? Mengapa sekarang terlalu banyak bicara?"
Lin Chen tersenyum kecut dan merasa kesal. "Apa salahnya? Aku terlalu bosan, jadi biarkan Kakakmu ini bermain-main. Melawan God Realm tahap Puncak juga tidak ada hasilnya, meski aku hanya melawan kloning mereka."
Crack! Crack! Craang!
Langit mulai retak, yang tidak lama kemudian pecah berkeping-keping seperti serpihan kaca.
Bisa terlihat ada sebuah mata merah menyala dan dua tangan besar yang sepertinya mencoba untuk memecah ruang lebih besar lagi.
__ADS_1
Craang!
Ruang terpecah lebih besar lagi, terlihat ada seekor kera berwarna hitam yang ukuran tubuhnya berkali-kali lebih besar dari sebuah gunung. Tangannya mampu menggenggam gunung dan meledakkannya menjadi serpihan debu.
Lin Chen mengusap dagunya mengamati monster yang menatapnya tajam, kemudian ia tersenyum tipis mengungkapkan ketertarikan pada monster itu. Ia ingin memilikinya sebagai salah satu tunggangan selain Naga Emas dan 4 Hewan Ilahi. "Kau—"
Gruoahhhh!
Kera raksasa itu meraung keras, mengganggu fokus anak-anak yang sedang menyerap Air Surgawi.
Lin Chen mengepalkan tangannya karena kesal dengan monster itu, ia tidak lagi tertarik untuk menjadikan monster kera sebagai hewan tunggangannya.
"Mati."
Fluktuasi energi kuat mulai muncul di kepala kera, yang tak lama kemudian terlihat ada ruang sekitarnya mulai menyusut dan menelan monster kera seperti lubang hitam.
Hanya membutuhkan waktu singkat saja, monster kera itu terhisap dan terbunuh karena tertelan ruang.
"Padahal monster tadi adalah salah satu yang terkuat, Earth Realm. Tapi, sayang sekali dia tidak ingin menjadi bawahanku." Lin Chen menghela napas panjang karena tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Kemudian, Lin Chen mengalihkan perhatiannya pada anak-anak. Ia mengulurkan tangannya mengarahkannya pada mereka semua, mengalirkan Energi Dewa untuk membantu mereka yang terlihat kesulitan karena gangguan dari monster tadi.
"Kita akan tinggal di sini selama dua minggu, kita akan menunggu anak-anak selesai."
Yan Xue mengerutkan keningnya, merasa melupakan sesuatu. Tapi, tidak membutuhkan waktu lama untuk mengingatnya kembali. "Bukankah Negeri Surgawi hanya terbuka selama tujuh hari?"
Lin Chen tersenyum ringan, kemudian menjawabnya, "Tenang saja, kita bisa tinggal di sini bertahun-tahun ..."
Ia terdiam sejenak seraya merebahkan tubuhnya dalam posisi terlentang. "Bagaimanapun, Negeri Surgawi sudah menjadi milikku."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1