
Lin Chen menghirup napas dalam-dalam dari kedua lubang hidungnya, kemudian mengembuskannya perlahan setelah menahannya untuk beberapa saat. Ia menghilangkan sosok putih yang menyelimutinya, dan mengganti dengan dirinya yang membesar.
Telapak tangan Lin Chen kembali bersinar dengan tulisan yang masih sama, membuat aura di sekitar mereka menjadi hangat dan sangat bersahabat untuk manusia, tapi tidak untuk Monster Kuno yang terlebih tersedak.
Monster Kuno itu tidak melepaskan serangan atau menggunakan Esensi Dao miliknya, atau memang tidak memilikinya karena monster. Ia memilih untuk berbalik dan melesat pergi menjauh dari Lin Chen.
Lin Chen tidak akan membiarkan Monster Kuno untuk pergi darinya, karena ia benar-benar kesal atas perlakuan yang ia dapat dan karena Monster Kuno juga, semua orang yang ia bawah sempat tewas.
Ia melesat sangat cepat mengejar monster Kuno, yang saat mereka saling bertemu akan meledakkan ruang sekitarnya dan mengubah tempat mereka berada saat ini.
Jika dilihat dari jauh, ada dua cahaya yang saling bertemu dan meledakkan ruang, kemudian berpisah cukup jauh meski hanya beberapa waktu sebelum akhirnya berbenturan lagi.
Kejadian ini terus berulang tanpa henti karena kekuatan mereka yang sama-sama kuat, mereka juga selalu beradu Domain masing-masing. Monster Kuno yang mengubah medan sekitar agar sesuai dengan tempatnya, dan Lin Chen yang mengubahnya untuk cocok bagi manusia.
Karena pertarungan Domain dan Esensi Dao tidak membuah hasil sama sekali. Keduanya memilih untuk menyerang dengan serangan fisik mereka saat ini, yang mana jauh berbeda dari pertarungan antar Dewa.
Monster Kuno mengayunkan pukulannya dengan tangan kanan bawah, mengarahkannya pada wajah Lin Chen.
Lin Chen menangkap pukulan itu dengan tangan kirinya, begitu juga dengan tangan kanan yang menangkap pukulan lain. Namun karena Monster Kuno memiliki empat lengan, lawannya memiliki keuntungan yang lebih baik.
"Kali ini kau akan mati—"
Wush! Wush!
Dua chakram muncul secara tiba-tiba di kekosongan dan langsung bergerak cepat, memotong dua lengan lain milik Monster Kuno.
Lin Chen menarik kedua tangannya untuk membuat Monster Kuno semakin dekat dengannya, kemudian ia memukulkan telapak tangannya pada dada Monster Kuno.
Monster Kuno melesat sangat cepat seperti kilatan cahaya.
Lin Chen yang sudah menjaga jarak itu mulai melakukan gerakan tangan. Ia memadatkan energi spiritual di antara kedua telapak tangannya, menimbulkan suara dengung yang membuat tulang saling bergesekan. Langit merah juga mulai berubah biru dengan lingkaran array putih berpola emas.
"Dao Dewa. Berkah, Pemurnian Total!"
Bang!
Esensi dari Dao Dewa yang merupakan Berkah mulai menyebar dari dalam tubuh Lin Chen ataupun langit. Terlihat molekul-molekul kecil putih yang mulai menghilangkan miasma berbahaya di sekitar.
"Dao Dewa. Kehidupan, Domain Dewa!"
Medan sekitar benar-benar berubah menjadi putih dengan awan bersih tanpa kotoran sedikit pun. Chakram mulai bermunculan di sekitarnya yang saling berhubungan satu sama lain, sinar putih juga mulai jatuh dan memandikannya yang berada di tengah-tengah.
__ADS_1
Namun tidak lama kemudian, bagian kaki Lin Chen mulai mengeluarkan kabut merah yang mengubah pakaian bawahnya, serta ratusan cambuk juga mulai muncul dalam sekejap mata.
Cambuk-cambuk itu melilit chakram yang ada di belakang Lin Chen dan melemparkannya secara membabi buta.
Setiap lemparannya akan menimbulkan badai dan ledakan ruang yang terus berganti-ganti, tapi tidak sampai meledakkan Alam Selestial karena menahan kekuatannya.
Monster Kuno tidak bisa beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang sangat cepat, kekuatannya seperti terus menurun tanpa henti setiap kali ia mengambil napas dan kekuatan Lin Chen terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Lin Chen mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin. "Dao Dewa. Hukuman Dewa!"
Lingkaran array putih kembali muncul di langit putih dengan jumlah ratusan ribu, yang satuannya memiliki besar seperti galaksi lengkap. Dari dalam lingkaran mulai turun petir putih, pedang, jarum, naga, bulu-bulu sayap yang tajam dan lain sebagainya.
Lin Chen mengayunkan tangannya mengarah pada Monster Kuno. "Pemusnahan!"
Wush! Wush! Wush!
Semua serangan bergerak bersamaan mengarah pada Monster Kuno dan menyerangnya secara membabi-buta tanpa henti. Setiap serangannya akan membuka ruang Alam Selestial, memperlihatkan angkasa luar penuh bintang yang merupakan Alam Semesta.
Kemudian ia mengarahkan kedua telapak tangannya ke depan, mengarah pada Monster Kuno. Pada telapak tangan kirinya ada tulisan berwarna emas '房间' dan di telapak tangan kanannya bertuliskan '时间'. Kedua kata itu memiliki arti Ruang dan Waktu.
"Berhenti!"
Ketika Lin Chen membuat serangan seperti ini, ada suara dengung lain seperti lonceng di langit yang hampir pecah. Bisa dilihat ada lingkaran putih yang lebih besar dari ratusan galaksi yang bergabung menjadi satu, dan ada pola maupun huruf kuno berwarna emas pada lingkaran itu.
Sinar putih kembali memandikan Lin Chen untuk kedua kalinya, dan sinar ini adalah sinar di mana ia menembus Heavenly Realm setelah menyerap setengah kekuatan milik Monster Kuno.
Ukuran tubuhnya semakin membesar dan galaksi yang sebelumnya sebesar telapak tangan, kini berubah sangat kecil seperti ibu jarinya saja.
Lin Chen mengayunkan tangannya, menangkap Monster Kuno seperti menangkap kelinci kecil.
Darah mulai merembes keluar dari permukaan kulit Monster Kuno saat dicengkeram erat oleh Lin Chen, dan hanya bagian kepalanya saja yang terlihat.
Lin Chen mengangkat ibu jarinya, kemudian menekan kepala Monster Kuno yang tidak tersembunyi di dalam kepalan tangannya.
Zrash!
Monster Kuno itu meledak di dalam genggaman Lin Chen dan darah merah kehitaman mulai merembes keluar dari sela-sela jari tangan kanannya.
Duarr! Duarr! Duarr!
Ledakan terus terdengar saat ia menguatkan kepalan tangannya tadi, dan benar-benar meledakkan Alam Selestial tanpa meninggalkan satu pun tempat.
__ADS_1
Ledakan ini bisa didengar oleh mereka yang ada di Alam Semesta dan Bawah.
Kemudian dari tempat Alam Semesta dan Alam Bawah, samar-samar mulai terlihat kaki yabg mulai turun dari kekosongan ruang. Kaki yang sangat besar dan mampu menghancurkan Alam Semesta hanya dengan tendangannya saja.
Hingga dalam waktu singkat, semua wujudnya benar-benar terlihat. Sesosok pria putih yang sangat besar, bagian punggungnya terdapat ratusan chakram atau cincin putih yang saling berhubungan, dan ada juga cambuk hitam yang memancarkan nyala api merah.
Semua orang yang ada di Bumi, Alam Immortal, Alam Dewa, Alam Surga dan Galaxy Zhongyang mengenal siapa sosok ini.
Ada dua reaksi berbeda saat melihat sosok bagaikan Dewa yang mampu melakukan apa pun yang disukai. Orang-orang yang benar-benar mengenal Lin Chen dan tidak memiliki masalah, mereka sangat takjub bahkan mulai bersujud.
Galaxy Zhongyang yang merupakan musuh Lin Chen, mereka tidak bisa bergerak sama sekali dan napas mereka tersengal-sengal seperti sekarat hampir mati.
Sekte Chenlong yang ada di Alam Dewa sangat senang saat melihat Lin Lin, terutama untuk murid-murid yang memang sudah pernah melihatnya secara langsung. Lalu untuk murid baru yang hanya bisa melihat melalui gambar yang terpampang, mereka hanya bisa menggigit jari.
Lin Chen menunduk melihat Alam Semesta yang ukurannya hanya sebesar satu lengan. Kemudian ia menyeringai dingin melihat galaksi yang ada di pusat Alam Semesta yang merupakan Galaxy Zhongyang.
"Aku akan mengunjungi kalian tidak lama lagi." Lin Chen menghilang setelah mengatakan kalimat itu, membuat suasana kembali hening dan tenang.
***
Alam Bawah
Semua manusia ataupun binatang memandangi Lin Chen yang sedang duduk bersila di langit, dengan awan putih sebagai tempatnya duduk.
Pandangan semua orang terhadap Lin Chen benar-benar berubah. Jika sebelumnya masih berani menatap mata Lin Chen meski sekilas, kali ini mereka tidak ada yang berani untuk melihatnya langsung.
Kelopak mata Lin Chen mulai bergerak-gerak dan kemudian terbuka, membuat semua orang mulai menundukkan kepala agar tatapan mata mereka tidak saling bertemu satu sama lain.
Saat semua orang mulai takut, berbeda dengan Lin Chen yang terlihat biasa-biasa saja seperti tidak pernah melakukan hal spesial sama sekali. Ia menghilangkan awan putih di bawahnya, dan mulai turun perlahan menghampiri Luo Yi.
"Ibu." Lin Chen melompat ke dalam pelukan Luo Yi.
Setelah mendengar penjelasan dari Putih saat di Alam Selestial, ia semakin menyayangi Luo Yi, Ibunya.
Luo Yi tertegun dengan sikap Lin Chen yang tidak berubah, kemudian ia tersenyum hangat dan mengusap lembut kepala Lin Chen. "Ibu di sini ..."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1