
Keluarganya beristirahat untuk beberapa saat sampai Lin Mein An sudah tenang kembali setelah berhasil membunuh monster. Serta harus mengembalikan hutan yang mereka rusak cukup parah dengan cara membalikan waktu.
Tidak ada lagi bekas pertarungan atau darah yang menggenang, semuanya benar-benar kembali seperti semula, seperti tidak pernah ada manusia yang menginjakkan kakinya di sini.
"Apakah Mei'er sudah baikan?" Yan Xue membersihkan wajah Lin Mein An dengan sapu tangan hangat.
Lin Mein An memegangi kepalanya yang sedikit pusing. "Mei'er baik-baik saja, Ibu," jawabnya pelan.
Lin Chen hanya diam melihat Yan Xue yang merawat Lin Mein An, dengan ia yang memeluk Lin Qiao Jianying yang duduk di pangkuannya. Ia menundukkan kepalanya melihat putrinya yang sangat cantik. "Putri Ayah sangat cantik." Ia menggosokkan wajahnya di wajah Lin Qiao Jianying.
Lin Qiao Jianying menutup sebelah matanya dan terkejut saat Ayahnya bersikap seperti ini. "A- Ayah ..."
Lin Chen membalikkan tubuh Lin Qiao Jianying, lalu melemparkannya ke udara dan menangkapnya lagi. Ia melakukannya berulang kali dan Lin Qiao Jianying juga senang, itu terlihat jelas dari raut wajahnya dan tawanya.
"Hup." Lin Chen menangkap Lin Qiao Jianying seraya menoleh ke kiri, namun matanya masih tertuju pada putrinya. "Cium Ayah."
Lin Qiao Jianying memegang pundak Lin Chen, lalu mengecup pipinya.
"Oohh!" Lin Chen sangat bahagia ketika Lin Qiao Jianying mencium pipinya. "Saat Jian'er bayi, Ayah meminta ciuman, tapi Jian'er menepuk wajah Ayah."
Lin Qiao Jianying memiringkan kepalanya. "Benarkah? Jian'er tidak tahu itu." Ia menyentuh wajah Lin Chen dengan kedua tangannya.
Lin Chen sedikit mengangguk dengan senyuman yang menjelaskan semuanya. Kemudian ia mengecup pipi Lin Qiao Jianying yang sangat halus itu. "Apakah Jian'er mencintai Ayah?"
"Tentu saja!" Lin Qiao Jianying memeluk erat Lin Chen dengan tangannya yang kecil.
Cukup lama mereka berada di tengah-tengah hutan tanpa bergerak ke tempat lain, setidaknya sampai sinar matahari jatuh tepat di tengah-tengah langit, menandakan sudah memasuki pertengahan hari, barulah mereka kembali bergerak setelah Lin Mein An sudah pulih.
Padahal, akan lebih cepat jika disembuhkan dengan pil atau Energi Dewa, tapi tidak terlalu baik mengendalikan mental dengan hal-hal semacam itu. Saat Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan membunuh monster untuk kali pertama, mereka juga harus beristirahat.
Lin Chen memimpin jalan ke arah tenggara dengan cara melompat dari satu dahan ke dahan pohon lain, ketiga anaknya berada di tengah-tengah dan Yan Xue di barisan belakang ditemani oleh Baixue dan Baimei.
Karena mereka menggunakan cara biasa dan gerakannya tidak terlalu cepat, setidaknya mereka menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk sampai di hamparan rumput dengan luas empat kali lapangan sepak bola, yang ada di tengah-tengah hutan penuh monster ini.
Ada semak-semak kecil yang tumbuh di atas hamparan rumput, dengan kilauan emas di dalamnya.
__ADS_1
Lin Chen yang berdiri paling depan, menundukkan kepalanya melihat semak-semak yang tidak terlalu jauh darinya. Ia berjongkok, mengambil kilauan emas yang ternyata buah berry. "Berry?" Ia mengamati buah sebesar ibu jari, lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
Lin Da Zixuan menengadahkan kepalanya menatap Ayahnya, lalu menunduk dan mengambil Berry Emas yang sama. Tanpa berbasa-basi, ia memakan berry itu, merasakan ada aliran energi asing yang mengalir di dalam tubuhnya. "Ini bisa membantu Zixuan menembus Jenderal Dewa!"
Lin Qiao Jianying yang mendengar itu, juga mengambil Berry Emas untuk mendapatkan energi yang sama, agar bisa menembus Dewa Perunggu dari Jenderal Dewa.
Untuk Lin Chen sendiri, tidak ada yang spesial dari Berry Emas, ia hanya merasakan setitik air yang jatuh ke dalam samudra. "Butuh miliaran Berry Emas sebesar Bintang Logia, untuk membantuku menembus tahap Akhir."
Walaupun rasanya lebih segar dari berry biasa, tapi Lin Chen tetap tidak terlalu menyukainya. Berbeda dengan Yan Xue dan yang lain, mereka terlihat sangat menyukainya, bahkan Yan Xue sampai membawa sekop kecil untuk mengambil bibitnya.
Lin Chen berjalan ke tengah-tengah hamparan rumput, duduk bersila dan menutup matanya. Ia ingin mengetahui bagaimana keadaan di Semesta Yongheng, melihatnya melalui miliaran kloning yang tertidur yang ia tinggalkan di sana.
Walaupun mengendalikan salah satu klon yang tertidur, ia tidak asal menampilkannya di tempat umum dan tetap memilih bersembunyi ratusan meter di dalam danau yang mengelilingi Pohon Dewa. Ia menggunakan langit biru sebagai matanya, untuk melihat keadaan Bintang Qiang.
Lin Chen bisa melihat semua orang hidup dengan rukun tanpa ada masalah yang berarti, monster-monster yang ia sebarkan juga terus berkembang dan terus diburu untuk pelatihan ataupun pendapatan.
Lin An Guang dan Lin An Peiyu terlihat berlatih bersama Ayah dan Ibunya yang sangat ia rindukan. Ada juga Xue Ying yang duduk bersila di bawah Pohon Dewa, sedang menyerap energi murni dari Point System.
Kerutan kecil muncul di dahi Lin Chen saat melihat bayi kecil yang dibawa Long Xia Yun, dengan Ho Liiu Yaoshan yang menemani.
Kesadaran Lin Chen yang ada di dalam danau berangsur-angsur meredup dan akan kembali apabila ia datang, atau Bintang Qiang dalam bahaya.
Lin Chen membuka matanya perlahan, masih melihat Yan Xue yang mengambil bibit Berry Emas. Ia merebahkan tubuhnya di atas hamparan rumput, melihat langit biru yang menyilaukan mata. Ia meniupkan udara dari dalam mulutnya, menciptakan awan putih yang menghalau sinar matahari yang jatuh mengenai wajahnya.
"Ini lebih baik."
Ketika Lin Chen menutup matanya untuk bersantai, tiba-tiba ada yang melompat ke arahnya. Ia membuka matanya, terlihat ada Lin Qiao Jianying yang telungkup di atasnya. "Hati-hati, jangan asal melompat." Ia mengusap punggung Lin Qiao Jianying.
Yan Xue datang menghampiri, menggunakan pahanya untuk dijadikan bantal kepala Lin Chen.
Lin Da Zixuan dan Lin Mein An juga datang, dan merebahkan tubuhnya dengan kepala di atas lengan Lin Chen.
***
18 Bulan Kemudian
__ADS_1
Tidak terasa sudah tiga tahun mereka tinggal di Bintang Logia, dan saat ini sudah tinggal di Ibu Kota Dinasti Ming. Bahkan memiliki kediamannya sendiri yang cukup luas, serta membangun sebuah sekolah bela diri yang hanya memfokuskan pada pengolahan kekuatan fisik dan pernapasan, tanpa memanfaatkan energi spiritual.
Lin Chen datang ke halaman belakang yang langsung mengarah pada tebing tinggi yang curam. Ia tidak sendirian, keluarganya menemaninya di sini, karena penasaran dengan apa yang akan dilakukannya.
Lin Chen menutup matanya sejenak, mencoba untuk memastikannya lagi. Kemudian ia membuka matanya, seraya mengarahkan tangannya ke ruang kosong di depannya.
Molekul-molekul cahaya putih mulai berkumpul membentuk siluet manusia, yang ketika cahaya itu meredup, terlihat wanita muda berambut hitam kecokelatan, mata biru malam yang berkilauan, mengenakan hanfu hijau muda yang indah.
"Bibi Ying!" Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan yang berdiri di belakang Lin Chen, berlari menghampiri wanita yang baru datang, yang mana merupakan Xue Ying.
Xue Ying langsung berlutut dan memeluk dua keponakannya yang menghampirinya. "Bibi merindukan kalian berdua."
Xue Ying mendongak menatap Lin Mein An, lalu mengalihkan pandangannya pada Lin Chen. "Dia?"
Lin Chen menundukkan kepala ke kiri melihat Lin Mein An seraya mengusap kepalanya. "Lin Mein An, anak yang kami adopsi, dan ada darah kami yang mengalir di tubuhnya."
Xue Ying sedikit tersentak mendengarnya, tapi dengan cepat mengangguk kecil dan tersenyum hangat menatap Lin Mein An. "Mei'er, kemarilah, kau bisa memanggilku Bibi Ying."
Lin Mein An masih ragu, tapi saat punggungnya sedikit didorong Lin Chen, barulah ia maju menghampiri Xue Ying.
Masih banyak yang ingin ditanyakan Xue Ying, yang pertama adalah tentang tidak ada energi spiritual di tempat ini, tapi ada energi asing yang beredar di atmosfer. Namun, ia akan menanyakannya nanti, disaat sudah selesai melepas rindu.
Yan Xue merasa bahagia melihat anak-anaknya yang bertemu Xue Ying, tapi disisi lain ada kesedihan yang mengganggu perasaan. Kesedihan ini adalah janji yang pernah diucapkan Lin Chen, yang mana saat Xue Ying kembali, Lin Chen akan meninggalkan mereka untuk bertarung melawan 293 Dewa yang tersisa.
Lin Chen menoleh ke kanan menatap Yan Xue. "Aku akan tinggal selama beberapa bulan lagi, kau tidak perlu merasa sedih seperti itu. Aku hanya pergi sebentar saja." Ia mengusap air mata yang keluar dari sudut mata Yan Xue.
"Ba- Baik."
Lin Chen tersenyum hangat, melihat Yan Xue ataupun Xue Ying secara bergantian. Kemudian membawa mereka semua untuk kembali masuk.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1