Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 084 : Hitam dan Putih


__ADS_3

Hal pertama yang ia lihat saat bangun di siang hari adalah wajah tidur istrinya yang sangat cantik dan nampak sangat kelelahan, ini adalah hal wajar, mengingat seberapa lama mereka berdua bertarung di atas tempat tidur menggunakan berbagai macam gaya.


Lin Chen mengusap pipi kiri Yan Xue. "Maafkan aku karena tidak memiliki banyak waktu bersamamu, tidak seperti pasangan lain yang selalu bersama, kau selalu ku tinggal untuk berlatih."


"Tapi setelah semuanya berakhir, kita bisa menikmati hidup bersama dengan tenang, seperti sepasang kekasih normal."


Walaupun dalam tidur, Yan Xue bisa merasakan hangatnya tangan Lin Chen. Ia tersenyum lembut dengan tubuh yang bergerak dan semakin mendekat ke dalam pelukan.


Lin Chen memeluk erat Yan Xue yang masih tertidur pulas. Ia menutup matanya perlahan untuk mengikuti Yan Xue yang tertidur, ia ingin beristirahat bersama semenjak ia masih memiliki beberapa jam lagi sebelum akhirnya bergabung dengan Hitam dan Putih.


Ketika sudah dalam keadaan mengurung diri untuk bermeditasi, ia tidak tahu kapan akan bisa bangun lagi, karena itu semenjak masih ada waktu, ia ingin menghabisi waktunya bersama Yan Xue.


***


Keesokan Harinya


Lin Chen dan Yan Xue tidak melakukan apa pun selain berada di dalam kamar selama sehari semalam, meski sebelumnya ia hanya berencana untuk beberapa jam saja, tapi karena terbawa suasana hangat yang sangat romantis, mereka terus melakukannya sampai benar-benar lelah.


Pada saat ini mereka berdua sudah berada di dahan Pohon Dewa yang bisa dibangun kota di atasnya. Keduanya duduk bersama memandangi pembangunan kota yang mulai berjalan, dengan pekerja dari Ras Roh yang datang, serta manusia-manusia yang tidak termasuk dalam pemerintahan Bintang Nanren.


Dalam sehari kemarin, keributan terus terjadi karena adanya perpindahan daratan luas ke Bintang Qiang. Banyak yang mulai mencari cara untuk menjalin kerja sama dengan Sekte Chenlong, entah Sekte Chenlong dari Alam Dewa atau di Kota Chen.


Walaupun ada beberapa organisasi yang berniat menguasai sumber daya Bintang Qiang, atau bahkan berencana menguasai Bintang Qiang itu sendiri. Tapi Lin Chen tidak terlalu peduli akan hal itu, karena ia bisa menghilangkan mereka dengan mudah.


Bahkan meski Bintang Qiang memiliki aura yang lebih padat dan berlimpah dari Alam Selestial, tidak akan ada yang mampu menembus Earth Realm. Tidak! Jangankan Earth Realm, untuk menembus Ziranzhi saja mungkin tidak akan mampu, karena Hukum Langit di Alam Semesta hanya sebatas Tongzhi.


Lin Chen sendiri tidak memiliki rencana untuk mengubah Hukum Langit, agar kekuatan yang memimpin Alam Semesta tetap Kota Chen.


"Hah..." Lin Chen menghela napas panjang dengan kepala tertunduk, dan detik berikutnya menoleh ke kanan menatap wajah Yan Xue. "Xue'er, sebentar lagi aku akan berkultivasi. Aku harap kau juga berlatih untuk menembus tahap Menengah dari Divine God."


"Di Semesta lain, kekuatanmu hanya setara Spirit Realm. Karena itu, saat aku bermeditasi—"


Yan Xue menerjang Lin Chen dan mencium bibir, sampai lidah keduanya saling beradu. "Puah..." Ia melepaskan ciumannya pada Lin Chen. "Xue'er tahu, Xue'er akan selalu berlatih agar tidak menjadi beban bagi Gege."


Lin Chen diam membisu tidak bisa berkata-kata, selama ini Yan Xue tidak pernah mengambil inisiatif, meski tidak pernah menolak saat ia ajak bermain bersama di tempat tidur. Tapi, hari ini terlihat sangat berbeda.

__ADS_1


"Sekali lagi." Lin Chen menyentuhkan keningnya dengan kening Yan Xue, kemudian bibir keduanya bertemu.


Lin Chen menyelesaikan ciumannya seraya memegangi telinga kiri Yan Xue. "Aku pergi sekarang."


Yan Xue menganggukkan kepalanya seraya melambaikan tangan kanannya. "Baik, Gege." Ia mencoba untuk tetap tersenyum, meski hatinya terasa sakit karena harus ditinggalkan lagi selama tiga tahun.


Namun, ketika mengingat kembali suaminya yang harus hidup dalam rasa sakit selama belasan tahun, ia merasa mampu menahannya. Ketika Lin Chen di depannya sudah menghilang, ia berdiri dari dahan pohon, melayang turun untuk mencari Long Xia Yun agar mau membantunya berlatih.


***


Alam Bawah


Lin Chen sudah kembali lagi ke Alam Bawah yang merupakan tempat kekuasaan mutlak miliknya. Ia saat ini berada di dalam batang Pohon Dewa dengan posisi bersila dan memejamkan mata.


Sebelum benar-benar memasuki keadaan meditasi, ia menarik napasnya berulang kali untuk mempersiapkan diri, agar mentalnya tidak terguncang saat bergabung dengan Hitam dan Putih. Bagaimanapun, bergabung artinya akan mendapatkan ingatan yang sama, ingatan tentang melihat keluarga yang terbunuh tepat di depan mata, dan itu sangat menyakitkan untuk diingat.


"Apakah sudah saatnya?"


Hitam dan Putih tidak menjawabnya sama sekali, namun ada aura berwarna hitam dan putih yang mulai menyelimuti tubuhnya.


Badai besar terjadi di Alam Bawah, hujan mulai turun dengan sangat deras membasahi daratan luas dan dalam sekejap sudah menutupi rerumputan dengan air.


Lin Chen yang berada di dalam batang pohon juga basah, meski bukan karena air hujan, melainkan keringat deras yang membasahi sekujur tubuhnya. Ia merasakan rasa sakit yang sangat menyiksa di bagian kepala, serta beberapa tulang di tubuhnya yang saling bergesekan.


Darah mulai mengalir dari kedua telinga, hidung, mata dan sudut bibirnya saat siksaan yang diterima.


Gambar-gambar mulai memasuki pikirannya, gambaran tentang ia yang berada di tempat sangat gelap tanpa bisa bergerak sama sekali. Kemudian tiba-tiba ia merasa seperti bergerak menaiki roller coaster, yang melesat jatuh dari ketinggian.


Boom!


Dalam gambaran yang sangat gelap itu ia mendengar suara keras yang tidak terlalu jauh darinya, atau suara itu memang berasal darinya karena membentur alas keras.


Panas, dingin, basah. Ia merasakan semuanya dalam waktu tujuh hari tujuh malam tanpa ada jeda sama sekali, yang ia rasakan ini sangat nyata, seperti bukan ingatan.


Ketika memasuki hari ke delapan, ada sentuhan hangat yang menyelimuti tubuhnya, tangan yang terasa seperti tangan wanita, meski permukaannya terasa sangat kasar.

__ADS_1


Saat merasakan sentuhan hangat di tubuhnya, Lin Chen mulai bisa membuka matanya dan yang ia lihat adalah sepasang suami istri berpenampilan kusam, wajahnya kurus. Wajah ini adalah orang yang sangat ia kenal, Lin Zhian dan Luo Yi.


"Ba-ba ... da-da ... hoe hou aa." Kedua tangannya yang mungil mencoba menyentuh wajah wanita kurus yang kusam itu.


Aku, menjadi bayi!?


Wanita itu tersenyum hangat menatap Lin Chen, dengan senyumnya yang sangat indah dengan bibirnya yang pecah-pecah seperti kekurangan nutrisi. "Bayi yang lucu." Ia menyentuh pelan hidung Lin Chen. Kemudian mendongak ke belakang menatap suaminya. "Bagaimana jika kita merawatnya?"


Pria paruh baya berambut hitam terikat, wajah kusam dan terlihat sangat kurus itu memegang bahu istrinya. "Tentu, kita juga tidak memiliki anak, mungkin ini adalah jawaban dari semua doa-doa kita." Ia mengecup pelipis istrinya.


Wanita itu menyentuh tangan mungil Lin Chen. "Mulai hari ini, namamu adalah Chen Hao Ling. Hao dari kata Hao de, Ling dari Lingdao zhe." Air matanya mengalir sesaat setelah memberikan nama, tangis bahagia karena akhirnya memiliki anak.


Pemimpin Baik! Itu adalah nama yang diberikan.


Sepanjang jalan, Lin Chen tidak bisa mengendalikan tubuh mungilnya, gerakan tangan ataupun suara yang keluar, itu dilakukan secara spontan.


Geografis di sekitar benar-benar buruk untuk manusia tinggal, desa tandus yang hanya terdapat beberapa rumah saja, rerumputan di sini berwarna cokelat karena layu, begitu pun dengan pohon-pohon yang tumbuh jarang. Tanahnya panas dan keras, sangat tidak cocok untuk ladang pertanian.


Lin Chen terus dibawa oleh sepasang suami istri ke bagian terdalam dari desa, terdapat rumah kayu yang sangat rapuh. Tidak ada salahnya jika ada yang mengatakan bahwa ini adalah kandang kuda, bahkan kandang kuda bisa disebut sebagai istana jika dibandingkan dengan gubuk ini.


Banyak lubang di dinding, ular bisa masuk kapan saja, atapnya berlubang, pintunya miring hampir lepas dari penyangga.


Apakah ini tempat tinggal ku di kehidupan pertama?


Wanita itu tersenyum kecut dan ada kesedihan di matanya, kemudian menunduk menatap Lin Chen dengan senyum cerah. "Maafkan Ibu, karena tidak bisa memberikan tempat tinggal yang baik."


"Wa-wa da-da ba-ba." Lin Chen kecil tertawa kecil seraya mengangkat kedua tangannya.


Pasangan suami istri itu tersenyum lembut menatap Lin Chen kecil, kemudian memasuki istana kecil yang sangat berharga bagi keluarga mereka.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2