Strongest God System 3

Strongest God System 3
Chapter 116 : Selesai


__ADS_3

Lin Chen merentangkan tangan kanannya yang terkepal, membuat ruang di sebelahnya retak dan terbuka, yang menghubungkan Semesta 23 milik Dewa Pedang. Tanpa berlama-lama, ia mengirimkan 'Dirinya' untuk mengambil alih Semesta Jian, kemudian menggunakan System untuk melindunginya.


Lin Chen mengangkat tangan kanannya, menarik Naga Emas untuk kembali. Naga Emas itu sendiri sudah terluka parah karena mendapatkan serangan dari Burung Phoenix dan Dewa Phoenix itu sendiri.


"Kau lebih lemah dari Dewa Pedang, tapi yang paling menyebalkan. Semua serangan yang mengandung api tidak bisa melukai tubuhmu."


Dewa Phoenix hanya diam tak bergeming, tapi auranya lebih kuat dari sebelumnya, ada kemarahan yang tidak bisa ia tahan lagi setelah 6 God Realm terbunuh dan hanya menyisakan dirinya.


Dewa Phoenix sendiri tidak menduga Naga Emas bisa menahannya cukup lama, tidak memperbolehkannya untuk membantu Dewa Pedang dan yang lain saat dalam keadaan genting.


Keduanya hanya diam di tempat saling memandang satu sama lain untuk waktu yang lama. Tidak seperti sebelumnya yang akan melepaskan serangan kuat, itu karena banyak orang, sehingga harus mengambil tindakan yang cepat.


Lin Chen menghela napas panjang dengan embun es yang keluar dari dalam mulutnya. Ia harus menggunakan cara berbeda untuk melawan Dewa Phoenix yang menguasai Element Api sampai tingkat tertinggi.


Tangan Lin Chen sudah diselimuti oleh embun es yang sangat dingin, bahkan sampai membekukan sekitarnya.


Dalam pertarungan terakhir ini, Lin Chen tidak bisa menggunakan serangan jarak jauh, karena serangannya bisa ditangkis atau dihilangkan dengan mudah oleh Api Phoenix yang sangat panas. Sehingga, ia hanya bisa menggunakan serangan-serangan sederhana dari dekat.


Wosh! Wosh!


Keduanya bergerak secara bersamaan dengan tangan yang terkepal, mereka memikirkan hal yang sama untuk bertarung, lebih memilih melakukannya di jarak dekat ketimbang dari jauh.


Bang!


Pukulan keduanya yang saling beradu itu menciptakan dentuman yang sangat keras dengan Element Es dan Api yang meledak. Sisi Lin Chen sudah beku dengan es, dan sisi Dewa Phoenix sudah dipenuhi oleh nyala api.


Lin Chen melepaskan lebih banyak kekuatannya di tangan kanannya, menangkap pukulan Dewa Phoenix. "Aaaahhh!" Ia berteriak lantang, mengeluarkan Element Es untuk membekukan Dewa Phoenix.


Dewa Phoenix tersentak, kemudian ia mengayunkan tangan kirinya, melepaskan pukulan yang mengarah pada pelipis Lin Chen.


Lin Chen menundukkan kepalanya menghindari serangan itu, lalu berbalik membelakangi Dewa Phoenix seraya menangkap pergelangan tangan kiri yang digunakan untuk menyerangnya. "Pergi!" Ia melemparkan Dewa Phoenix sejauh mungkin.


Dewa Phoenix melesat bagaikan kilatan cahaya, dan membelah dinding es yang sangat tebal.


Lin Chen kembali berbalik melihat nyala api yang tidak menghilang. Ia mengarahkan telapak tangannya, menciptakan pusaran hitam di depannya yang secara perlahan mulai menghisap nyala api. Ia ingin menyimpan api dari Dewa Phoenix untuk digunakannya di saat-saat tertentu.


Api yang menyala itu menghilang dalam waktu singkat, tersimpan di dalam Dimensi Ruang yang merupakan Element Ruang dan Waktu.


Lin Chen mengalirkan Energi Dewa di kedua telapak tangannya, kemudian ia mendekatkannya perlahan, menciptakan embun es yang berada di antara kedua tangan. "Membeku!" Ia menyentuhkan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Bang!


Dinding es lebar yang luas mulai menutup dalam sekejap, mengurung Dewa Phoenix di dalamnya.


Dewa Phoenix yang terkurung di dalam dinding es mulai meredup, namun itu hanya berlangsung sebentar saja sebelum akhirnya kembali menyala lebih terang dan panas. Hingga akhirnya semuanya meledak, menghancurkan dinding es tebal.


Lin Chen mengangkat lengan kanannya melindungi wajahnya dari pecahan es tajam dan nyala api yang sangat panas, kemudian bergerak jauh ke belakang saat Dewa Phoenix muncul tiba-tiba di depannya.


Bang!


Pukulan Dewa Phoenix tidak mengenai Lin Chen, namun tetap menimbulkan suara keras dan membakar Semesta Xing yang sudah benar-benar kosong.


Dewa Phoenix mendongak menatap jauh Lin Chen, lalu tubuhnya menghilang seperti api yang padam.


Lin Chen menolehkan kepalanya dengan cepat ke belakang ketika merasakan perubahan suhu yang signifikan, terlihat ada Dewa Phoenix yang sudah berdiri di sana dengan posisi siap melepaskan pukulan. "Sial!" Ia memutar kedua tangannya, membentuk pola Yin Yang.


"Mati!" Dewa Phoenix memukulkan tinjunya mengarah pada dada Lin Chen, namun terhalang oleh dinding pelindung berpola Yin Yang di depannya.


Ada darah yang mengalir di sudut bibir Lin Chen saat berhasil menahan pukulan dari Dewa Phoenix, tapi ia tetap mencoba menahannya seraya terus memutar tangannya menciptakan lebih besar lagi pula Yin Yang. Kemudian ia mendorong kedua telapak tangannya pada dada Dewa Phoenix.


Dewa Phoenix sendiri merasa aneh karena tidak bisa menarik tangannya, seperti ada daya tarik yang sangat kuat mencoba menahannya.


Lin Chen yang sudah menghempaskan Dewa Phoenix memilih untuk diam di tempat, tidak menerjang seperti biasa. Ia mengatur pernapasannya berulang kali, kemudian Cambuk dan Chakram Iblis mulai muncul di tempat biasa, dengan ukuran yang sangat besar.


Tanduk mencuat keluar di kedua pelipis, taringnya yang tertutupi oleh Topeng Iblis juga mulai tumbuh, dan ada aura merah kehitaman yang menyelimutinya.


Lin Chen merentangkan tangan kanannya, membuat Chakram Iblis yang berada di punggung itu berpindah mengikuti gerakan tangannya. "Dao Iblis. Kehancuran, Malapetaka!" Ia mengayunkan tangannya ke depan, melemparkan Chakram Iblis.


Dewa Phoenix yang sudah mengendalikan tubuhnya, mulai kembali membelah diri seperti nyala api yang bergerak ke dua arah yang berlawanan.


Lin Chen yang melihat itu mengarahkan kedua tangannya ke dua tempat yang berbeda. Ada tulisan '房间' dan '时间' di kedua telapak tangannya berwarna emas. "Berhenti!"


Dua nyala api yang berada di dua tempat itu berhenti bergerak.


Lin Chen menggertakkan giginya dan darah yang mengalir di sudut bibirnya lebih deras lagi. Kekuatan Dewa Phoenix terlalu besar untuk ia tahan terlalu lama. "Datang!"


Chakram Iblis yang melesat jauh, membelah Semesta Xing menghilang dari pandangannya, kemudian muncul kembali di tengah-tengah antara dua nyala api. "Membesar!" Ia mengepalkan kedua tangannya.


Kepalan tangan Lin Chen ini memperkuat kekuatan ruang yang menahan Dewa Phoenix, namun juga berdampak pada tubuhnya sendiri yang mengalami luka dalam lebih parah lagi.

__ADS_1


Wosh! Slash!


Chakram Iblis mulai menyala lebih terang dan membesar dalam sekejap mata, membelah dua nyala api di tempat yang berbeda.


"Ugh!" Lin Chen menahan darah yang hampir menyembur dari dalam mulutnya. Tubuhnya juga terbelah dua ketika Chakram Iblis membesar dalam sekejap.


Semesta Xing yang gelap, yang sudah membaik itu kembali terbelah dua secara horizontal sejauh mata memandang.


Lin Chen yang tubuhnya sudah terbelah dua itu tetap berusaha sekuat tenaga untuk mengakhiri semua ini. Ia mengalirkan Energi Dewa dan Iblis di kedua telapak tangannya, lalu menyentuhkannya. "Kematian Abadi! Kehancuran Jiwa!"


Bang! Duarr!


Sentuhan telapak tangannya menimbulkan dentuman yang sangat keras, diiringi dengan ledakan spektakuler dari Dewa Phoenix yang terkena kutukan sesaat tubuhnya tidak bisa digerakkan. Ketika Dewa Phoenix membelah diri, itu adalah saat terlemahnya.


Ledakan di Semesta Xing kali ini lebih besar dari yang lain, mengubah semua Semesta Xing menjadi merah menyala seperti di dalam ruangan tertutup dengan pencahayaan yang sangat terang dan panas.


Ledakan terus terdengar dan nyala api di Semesta Xing bertahan sampai beberapa waktu, yang tidak tahu sudah berapa lama terlewati. Hingga saat semuanya sudah berakhir, Semesta Xing kembali gelap gulita, tanpa adanya satu titik cahaya atau makhluk hidup lain.


Semuanya benar-benar kosong!


Srak!


Ada suara celah yang koyak, terlihat pemuda keluar dari sana. Pemuda berambut putih dengan mata hitam, serta alis putih. Ia mengenakan bawahan putih, tanpa ada atasnya, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang sempurna.


"Ternyata, melawan Dewa Phoenix lebih mudah dari yang lain apabila melepaskan serangan yang tepat dan di waktu yang tepat pula. Tapi, aku juga mengorbankan banyak hal."


Lin Chen, adalah pemuda berambut putih itu, ia memegangi perutnya sendiri, masih merasakan rasa sakit saat ia terbelah dua karena terkena serangannya sendiri. "Tapi, tidak masalah." Ia mengangkat tangan kanannya.


"Dengan ini, aku sudah memiliki lima Semesta sebagai tempat kekuasaan!"


"Sekarang, haruskah aku mengacau di Ruang Para Dewa?"


Senyum dingin terukir jelas di wajahnya, memperlihatkan niat licik dan ada dendam yang terpampang di wajahnya.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2