
Lin Chen melepaskan Energi Dewa yang lebih besar, membuat tubuhnya berubah sangat besar di Semesta Xing. Ia mengangkat tangannya sejajar dengan dada. "Dao Dewa. Kehidupan, Berkah, Penciptaan. Pembalik Waktu."
Fluktuasi energi yang sangat kuat mulai berkumpul di telapak tangannya, memunculkan bintang-bintang kecil yang bercahaya dan aura di Semesta Xing mulai kembali seperti sedia kala. Galaksi mulai terbentuk di telapak tangannya sebesar biji beras, hingga belasan menit kemudian, Semesta Xing sudah kembali.
Bukan hanya Semesta Xing saja yang kembali seperti sebelum kehancurannya, tapi semua kehidupan di sana kecuali mereka yang berhubungan dengan Dewa Xing. Saat membunuh Dewa Xing, ia sudah melihat siapa-siapa saja yang memiliki hubungan, dan membunuhnya.
"Inventory."
Lin Chen mengeluarkan Bintang Xu, mengembalikan ke tempat awal.
Qiang Dewei yang melihat Lin Chen itu terkejut, tidak menduga akan melewatkan kesempatan baik karena mengabaikan tawaran dari Lin Chen.
Lin Chen yang sudah mengembalikan Semesta Xing seperti sedia kala, kehilangan hampir separuh Energi Dewa. Tapi untungnya, dengan 8 Semesta sebagai kekuasaan, ia bisa mengisinya dengan cepat.
Semesta Yongheng (314), Semesta Guai (106), Semesta Xing (105), Semesta Bintang (107), Semesta Ruang (104), Semesta Buddhist (110), Semesta Pedang (23), Semesta Phoenix (25).
"Kehilangan setengah Energi Dewa untuk manfaat yang lebih besar di kemudian hari, tidak ada salahnya."
Lin Chen mengecilkan tubuhnya dan bersembunyi di dalam Ruang Dimensi, bersamaan dengan memasuki Ruang Para Dewa menggunakan kesadarannya.
***
Ruang Para Dewa
Kemunculan Lin Chen belum diketahui oleh 306 Dewa yang terlihat melihat Weiqi, melihat perubahan 7 Semesta yang ada di sana. Semua Semesta itu sudah diambil alih kepemilikannya oleh Lin Chen, dan mereka juga sudah mencoba memasuki 7 Semesta, tapi tetap tidak bisa, sama seperti saat mencoba memasuki Semesta Yongheng.
Lin Chen berjalan perlahan ke tengah-tengah dari Ruang Para Dewa. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan di depan dada. "Ruang dan Waktu ..."
"Terbuka!" Lin Chen berteriak lantang seraya merentangkan kedua tangannya, membuat semua perhatian tertuju padanya.
Fluktuasi energi juga berkumpul mengelilinginya, membentuk cincin hitam yang tinggi dan gelap. Cincin itu adalah celah ruang yang terbuka, dari dalam sana ada Api Phoenix yang sangat panas dan ia simpan saat pertarungannya melawan Dewa Phoenix.
Wosh! Boom!
Api yang sangat panas menyembur ke segala arah, menerangi gelapnya Ruang Para Dewa dan menaikkan suhu ruang. Terlihat penampilan Dewa ataupun Dewi yang tidak terlalu jelas, tapi yang pasti tidak semuanya manusia.
Jeritan yang terdengar menyakitkan berasal dari segala sisinya, dan satu per satu mulai terasa Dewa-dewi yang menghilang di Ruang Para Dewa, karena tidak mampu menahan panasnya suhu di sini.
"Brengs**!"
__ADS_1
Lin Chen merasa familiar dengan suara wanita ini, itu adalah orang yang sebelumnya mempermalukannya di Ruang Para Dewa dan membunuhnya. Meski hanya kesadarannya saja dan tidak berdampak pada tubuh utama, tapi rasa sakit yang dialaminya benar-benar nyata.
"Aku akan mendatangi kalian semua, dan membunuh kalian!" Lin Chen mengayunkan kedua tangannya ke depan sampai saling bertepuk.
Boom!
Api kembali meledak dan terbakar lebih besar lagi, membuat suhu menjadi lebih panas dari sebelumnya, berserta dengan teriakan-teriakan yang terdengar seperti nyanyian di telinga Lin Chen.
Lin Chen yang berada di tengah-tengah nyala api itu tetap berdiri dengan tenang, karena masih belum waktunya untuk pergi. Ia ingin melihat seberapa banyak God Realm tahap Menengah di sini, dan tahap Akhir ataupun Puncak.
Ketika sudah selesai, sudah mendapatkan informasi tentang kekuatan semua Dewa-dewi di sini. Lin Chen berlutut seraya membanting kedua tangannya di lantai. "Dao Iblis, Kematian. Penghancuran Jiwa!"
Seketika itu juga kabut merah dan hitam keluar dari dalam tubuh Lin Chen, menyebar ke segala arah. Kabut itu sangat merusak, siapa saja yang menghirupnya akan merasakan rasa sakit di pikiran mereka, seperti jiwa yang akan meledak. Tapi, karena ini adalah Ruang Para Dewa, dampaknya tidak terlalu kuat.
Namun, ia merasa ini sudah lebih dari cukup untuk memberikan mereka rasa sakit karena sudah menghinanya saat pertama kali datang ke Ruang Para Dewa.
Satu per satu Dewa-dewi mulai berjatuhan, tersungkur di lantai hutan yang terbakar dengan nyala api. Mereka mencengkeram erat kepala masing-masing sembari berteriak mengungkapkan rasa yang sangat menyakitkan.
Bang!
Dewi dari Semesta Kuxing melepaskan auranya yang sangat menekan, membuat Lin Chen kesulitan bernapas dan tersungkur di lantai.
Dewi Kuxing melangkah menghampiri Lin Chen, setiap langkahnya meninggalkan jejak yang cukup dalam di lantai. "Haruskah aku membunuhmu sekarang? Tapi, membunuhmu di sini tidak akan berdampak pada tubuh utama. Apakah aku harus menahanmu di sini dan meneliti tubuhmu?" Ia sedikit berjongkok seraya mengulurkan tangannya.
Lin Chen sedikit mendongak, lalu menyeringai dingin. "Persetan! Aku akan datang membunuhmu! Menjadikan tubuhmu sebagai pakan ternak!"
Boom!
Tubuh Lin Chen berubah menjadi asap putih yang tebal, menutupi pandangan semua orang dan menghilang secara perlahan. Ketika asap itu menghilang, Lin Chen juga menghilang dari Ruang Para Dewa.
Dewi Kuxing mengepalkan kedua tangannya, aura berwarna biru mulai menyelimuti tubuhnya mengungkapkan amarah yang memuncak. "Sial!"
Bang!
Kekuatan God Realm tahap Puncak meledak dari dalam tubuhnya, menambah tekanan yang mengerikan dan meledakkan God Realm yang tersisa di Ruang Para Dewa. Ada kemarahan yang terpancar dari matanya, dan keinginan untuk membunuh yang kuat.
"Baiklah, karena kau mengatakan ingin datang, aku akan menunggumu. Ketika waktunya tiba, kau akan merasakan kematian yang sangat menyakitkan."
Dewi Kuxing mengayunkan tangannya ke samping, membuat ruang pecah seperti kaca retak.
__ADS_1
***
Ruang Dimensi
Lin Chen bersandar di pohon yang ada di bukit hijau, napasnya terengah-engah dan jantungnya berdegup kencang karena masih merasakan bahaya. Ia merasa Dewi Kuxing benar-benar akan mengurungnya di Ruang Para Dewa, dan tidak membiarkannya terbunuh di sana.
"Ngomong-ngomong, mengapa tidak ada yang menyambutku." Lin Chen berdiri dengan menekan tangan kirinya di tanah, dan tangan kanan bertumpu pada lututnya.
Baru saja berdiri, Lin Chen menoleh ke arah kanan atau timur, ia mendengar suara yang tidak asing lagi baginya. Jaraknya sendiri cukup jauh, mungkin berkisar antara 200.000 sampai 300.000 mil darinya.
Tanpa berlama-lama lagi, Lin Chen terbang sangat cepat mengarah pada sumber suara yang ia dengar.
Hanya membutuhkan hitungan detik saja untuknya sampai di sana, ia bisa melihat Yan Xue yang sedang bermain dengan Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan di danau yang baru-baru ini terbentuk.
Lin Chen melayang turun mengarah ke belakang Yan Xue.
Lin Da Zixuan menengadahkan kepalanya ketika merasakan ada tiupan angin kecil. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Lin Chen yang sudah kembali. "Ayah!" Ia sedikit berteriak dan tersenyum cerah.
Lin Qiao Jianying yang bermain di air, menoleh ke belakang dan mendongak. "Ayah!" Ia berlari menghampiri Lin Chen.
Lin Chen tersenyum ringan seraya membuka kedua tangannya lebar hendak memeluk, tapi bukan untuk memeluk Lin Qiao Jianying ataupun Lin Da Zixuan, melainkan memeluk erat Yan Xue. "Sayang."
Yan Xue tersenyum tipis dan menyembunyikan wajahnya di dada Lin Chen, merasa sedikit memalukan karena dilihat kedua anaknya.
"Ayah!" Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan berteriak kesal karena diabaikan.
Lin Chen tertawa kecil, lalu melepaskan Yan Xue dari pelukannya. Kemudian ia berlutut untuk memeluk Lin Qiao Jianying dan Lin Da Zixuan. "Maaf-maaf. Apakah kalian berdua menjadi anak baik?" Ia mengusap belakang kepala keduanya.
Lin Da Zixuan yang berada di pelukan kiri Lin Chen, menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Iya, Zixuan menuruti semua perkataan Ibu. Tapi, kenapa Ayah sampai menghabiskan satu minggu?"
Lin Chen terdiam dengan kerutan di dahi. Ia sedikit mendorong anak-anaknya dari pelukannya, melihat mereka berdua dengan tatapan heran. "Benarkah? Ayah merasa tidak lama, Ayah merasa baru tiga jam berlalu."
Lin Qiao Jianying menganggukkan kepalanya sembari menjawab, "Benar."
Lin Chen kembali diam, lalu menoleh ke belakang melihat Yan Xue, dan mendapatkan jawaban yang sama. Ia tidak tahu jika pertarungannya akan memakan waktu yang cukup lama, meski tidak selama ketika kejadian Kepungan Tiga Alam.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...