
Lin Chen duduk bersila memandangi gumpalan energi merah yang merupakan ingatan Dewi Kuxing. "Ingatan dari sudut pandangnya, tapi aku bisa mengubahnya menjadi sudut pandang ku."
Lin Chen memejamkan matanya; gumpalan energi merah mulai bergerak memasuki dahinya secara perlahan. Gambaran ingatan dari sudut pandang Dewi Kuxing mulai terlihat jelas, dimulai dari Dewi Kuxing yang dilempar dari kedai kecil karena telah mencuri sepotong roti keras.
Dewi Kuxing yang tidak memiliki nama, mulai berdiri mengambil roti kotor di jalanan dan berjalan meninggalkan kota seraya menerima serangan batu yang dilemparkan ke arahnya dari penduduk sekitar.
Darah mengalir dari pelipis, tangan dan kakinya lebam yang membuatnya kesulitan untuk berjalan, ditambah lagi dengan hari yang dingin karena turun salju, membuatnya menggigil menahan rasa dingin yang menusuk ke tulang.
Ketika hampir sampai di gerbang kota, ia melihat seorang yang duduk bersandar di tembok kota, mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tampilan.
Dewi Kuxing melihat antara gerbang kota dan orang yang duduk berkali-kali secara bergantian; setelah beberapa saat berpikir, akhirnya ia berlarian kecil menghampiri orang asing yang duduk bersandar. "U- Untukmu." Ia mengulurkan kedua tangannya; memberikan roti keras yang tersisa untuknya makan.
Orang yang duduk bersandar, mendongak menatap tajam Dewi Kuxing dengan mata merah menyala. Chen Hao Ling!
Chen Hao Ling mengulurkan tangannya mengambil roti pemberian Dewi Kuxing; memakannya sampai habis tanpa menyisakan sedikit pun untuk Dewi Kuxing.
Dewi Kuxing tersenyum hangat menatap Chen Hao Ling, lalu membungkukkan badan dan pergi meninggalkan Chen Hao Ling.
Dewi Kuxing tinggal di luar kota; bersandar di tembok kota seraya duduk dengan memeluk kedua lututnya. "Di- Dingin, la- lapar ..."
Tidak ada tanda-tanda akan berhentinya salju yang turun, salju terus turun seperti hujan deras yang mengubur Dewi Kuxing di dalamnya, membuatnya tidak bisa bergerak dan kesadarannya mulai menghilang. Saat-saat terakhir sebelum kesadarannya menghilang, ia bisa melihat Chen Hao Ling yang berdiri di depannya.
***
Dewi Kuxing terbaring di atas tempat tidur yang terbuat dari batu keras yang lembab dan gelap tanpa adanya penerangan sama sekali, tubuhnya gemetaran karena dingin dan rasa lapar maupun haus akibat tidak makan selama dua hari dua malam. Sekalinya mendapatkan roti keras, ia memberikannya pada Chen Hao Ling.
"Bangun!"
Dewi Kuxing tersentak saat mendengar suara yang terdengar dingin; ia membuka matanya tiba-tiba dan pandangannya gelap tidak bisa melihat sekitarnya kecuali mata merah menyala di dalam kegelapan. Walaupun gelap, ia bisa tahu kalau pergelangan kakinya sedang digenggam dan ia menggantung terbalik.
Bug...
"Ack!" Dewi Kuxing merasakan sakit di sekujur tubuhnya saat pergelangan kakinya dilepaskan; dibiarkan jatuh menghantam tanah yang berjarak dua meter.
Chen Hao Ling atau Lin Chen berbalik meninggalkan Dewi Kuxing di dalam ruangan yang lembab. "Keluar dari sini, aku sudah menyiapkan makanan. Setelah itu, ikuti aku untuk berlatih."
Dewi Kuxing gemetaran merasakan takut, kakinya tidak bisa digerakkan karena luka-luka yang diterima saat masih di kota, ditambah jatuh dari ketinggian barusan. Tapi, ia tetap menjalankan perintah agar tidak mendapatkan siksaan; ia berjalan merangkak mengikuti arah Lin Chen berjalan tadi dan terlihat cahaya, yang sepertinya tadi sedang membuka pintu.
Dewi Kuxing yang sudah keluar dari ruangan setelah berusaha keras, melihat meja bundar yang di atasnya ada uap panas. "Makanan?" Ia kembali merangkak, lalu berusaha keras untuk duduk di kursi.
Air mata menetes dari sudut matanya melihat makanan di atas meja, ada nasi hangat, sayuran dan ayam goreng yang dimasak utuh.
"Apa yang kau tunggu? Cepat habiskan lalu temui aku di luar!"
Dewi Kuxing tersentak saat mendengar suara Lin Chen, tapi tidak bisa melihat di mana orangnya. Ia menggelengkan kepalanya, lalu mulai menyantap makanan di atas meja dengan lahap.
*30 Menit Kemudian
Dewi Kuxing sudah selesai makan dan berencana untuk beristirahat sebentar agar saluran pencernaannya lancar, tapi ia tidak memiliki waktu untuk itu—karena tubuhnya bergerak dengan sendirinya keluar dari ruangan yang tertutupi oleh kain, kemudian jatuh di tanah keras.
Lin Chen melihat Dewi Kuxing dengan malasnya seraya melemparkan sebuah kapak. "Angkat, tebang pohon itu. Jika sampai malam pohon itu tidak ditebang, tidak ada makan malam dan kau tidur di luar."
Dewi Kuxing menoleh ke belakang; melihat sebuah pohon berdiameter 1,5 meter dan tingginya belasan meter. "Ta- Tapi ..."
"Kerjakan."
__ADS_1
Dewi Kuxing merasa tertekan karena ucapan Lin Chen. Ia mulai merangkak lagi mengambil kapak yang digunakan untuk orang dewasa, tidak cocok dengan tubuhnya yang rapuh, apalagi ia masih anak-anak berusia delapan tahun.
"Be- Berat ..." Dewi Kuxing sangat kesulitan untuk mengangkatnya, dan akhirnya ia menarik kapak itu seraya merangkak ke pohon yang jaraknya setengah lapangan sepak bola.
Untuk datang menghampiri pohon, setidaknya menghabiskan waktu 30 menit dan itu harus beristirahat beberapa kali. Tangannya sudah terluka karena merangkak, bahkan kuku jarinya ada yang terlepas dan lututnya yang berdarah.
Lin Chen tidak merasa kasihan pada Dewi Kuxing; semua kasih sayang dan perasaan hangat yang baik hati sudah menghilang darinya setelah kehilangan orang yang sangat berharga, Chen Haiyang dan Yi Xinran.
***
7 Hari Kemudian
Dewi Kuxing berhasil menebang pohon yang diperintahkan, dalam waktu yang dihabiskannya selama ini, ia tidak diberikan makan sekalipun, hanya dua cangkir air tawar untuk satu harinya. Untuk mengisi perutnya, ia harus memakan kulit kayu dari hasil yang ia tebang.
Selama satu minggu Dewi Kuxing tidak diperbolehkan pergi dari tempatnya, dan harus tidur di bawah pohon yang saat siang hari akan terasa sangat panas dan malam harinya sangat dingin.
Tap... Tap... Tap...
Dewi Kuxing bisa mendengar suara langkah kaki di belakangnya, tapi ia tidak bisa melihatnya karena merasa sangat lelah tak bertenaga.
Lin Chen menatap tajam Dewi Kuxing yang tergeletak di tanah dengan posisi telungkup. "Bangun." Ia menendang-nendang kecil pinggang Dewi Kuxing. "Aku sudah menyiapkan makanan di dalam, kau hanya memiliki waktu tiga jam untuk beristirahat." Ia kembali berbalik.
Dewi Kuxing mengangkat kepalanya perlahan, lalu kembali merangkak seperti bayi untuk sampai ke gua di mana makanan berada. Kali ini membutuhkan waktu tiga kali dari satu minggu yang lalu hanya untuk sampai, itu karena lukanya sangat parah, bahkan hanya untuk menggerakkan jari-jarinya akan terasa sangat menyakitkan.
Pelatihan kedua dilanjutkan bahkan jika Dewi Kuxing tidak cukup beristirahat; pelatihan itu adalah memindahkan 250 batu yang satuannya memiliki berat 5 斤 (jin) atau 3000 gram. Jarak antara tumpukan batu dan tempat meletakkannya adalah 150 meter, boleh menggunakan cara apa pun.
Hanya diberikan roti keras sebagai makanan sampai semua batu berhasil dipindahkan.
Dewi Kuxing menggunakan kain untuk membungkus dua sampai tiga batu, lalu mengikatnya di pinggang dan merangkak untuk bisa sampai, membutuhkan waktu 12 jam untuk memindahkan tiga batu.
Membutuhkan waktu 41 hari untuk bisa memindahkan semua batunya, dan hanya boleh beristirahat di luar tanpa boleh masuk ke dalam ruangan.
Jika tugasnya sudah selesai, Dewi Kuxing hanya diberikan waktu tiga jam untuk makan dan beristirahat, kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan lain yang sangat berat, sampai memilih untuk mati ketimbang hidup dalam penyiksaan.
***
3 Tahun Kemudian
Dalam waktu tiga tahun ini sudah cukup banyak tugas yang diberikan: seperti mengambil ratusan liter air dari sungai berjarak beberapa mil, menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, mengayunkan pedang kayu sebanyak ribuan kali dalam satu hari, memukul kayu ataupun batu sampai meninggalkan jejak di sana dan lain sebagainya.
Dewi Kuxing beristirahat di tempat tidur batu yang sudah dilapisi dedaunan dan kain dengan posisi menyamping. "Hari ini, neraka apalagi yang harus aku jalani?"
Dalam tiga tahun terakhir, Dewi Kuxing sudah sering mencoba bunuh diri agar bisa mengakhiri semua siksaan yang diterima, tapi semuanya berakhir dengan kegagalan. Bahkan jika ia berhasil bunuh diri saat tidak ada Lin Chen, ia akan dibangkitkan lagi dan itu terjadi berulang kali.
Tubuhnya yang hancur karena melompat dari tebing, mencoba memotong lehernya sendiri dan lain sebagainya, termasuk melompat ke dalam danau penuh monster agar tidak menyisakan tubuh.
"Bangun."
Dewi Kuxing tersentak saat mendengar suara Lin Chen dan ada belasan buku yang terlempar ke arahnya.
"Belajarlah menulis dan membaca, kemudian pahami buku teknik di sana. Aku memberimu waktu satu minggu." Lin Chen yang sudah memberikan buku, langsung pergi meninggalkan Dewi Kuxing seorang diri di dalam kamar.
Dewi Kuxing langsung bangun, tidak membuang-buang waktu karena takut hukuman yang akan diberikan apabila tidak sesuai target. Ia pernah mendapatkan hukuman seperti digantung di atas pohon secara terbalik selama dua hari dua malam dan dipukul oleh kayu rotan sampai mengeluarkan darah.
Dewi Kuxing membuka buku yang telah diberikan; melihat isi yang tertulis di sana, tapi tidak tahu bagaimana cara membacanya. Ketika ia mencoba menyentuh tulisan, bisa terdengar suara dari huruf itu.
__ADS_1
"Aku harus memahaminya dengan cepat, aku tidak ingin dipukul lagi." Dewi Kuxing menangis saat membolak-balikkan kertas.
Tapi, memahami Teknik Iblis adalah awal dari penyiksaan yang lebih berat, namun Dewi Kuxing tidak tahu akan hal itu, bahkan jika ia tahu, ia tidak bisa berbuat banyak. Hidupnya bukan lagi miliknya, ia tidak bisa meminta untuk mati, karena sudah pernah memohon dan mendapatkan hukuman yang lebih berat, dilemparkan ke dalam kolam dalam hingga lemas.
Hari-hari yang dialaminya tidak berubah, semakin hari sakit yang diterima terus bertambah dan tak terasa sudah 700 tahun berada di tempat asing yang tidak diketahui di mana tempatnya ini.
Serangan demi serangan sudah diterima oleh Dewi Kuxing yang membuatnya hampir gila, dan saat hari di mana akhirnya ia akan gila, ia sangat bersyukur karena hilang kendali, tapi saat itu juga ia langsung disembuhkan.
Berbagai macam racun sudah ditanamkan di dalam darah Dewi Kuxing, hingga satu tetes darahnya mampu mengubah hutan dalam radius puluhan ribu mil menjadi tanah tandus dalam sekejap mata.
Tubuhnya pernah dimasukkan serangga melalui telapak tangan, yang bergerak melalui pembuluh darah dan mulai menggerogoti organ dalamnya secara perlahan. Selama belasan tahun, ia menerima rasa sakitnya tanpa bisa beristirahat sama sekali, meski hanya sedetik.
Dewi Kuxing pernah ditanamkan formasi di dalam tubuhnya saat berusia 19 tahun, formasi itu mampu menyerap aura sekitarnya untuk menciptakan Dantian kedua. Dantian kedua tidak membawanya dalam hangat, melainkan rasa sakit yang diterima bertambah berkali-kali lipat.
Akan merasakan rasa sakit yang menyiksa saat mencoba berkultivasi, tapi jika tidak berkultivasi, tubuhnya akan mengeluarkan darah terus-menerus yang membakar kulit.
"Aku sudah sampai Ranah Spirit Realm tahap Puncak. Kapan semua ini berakhir? Aku ingin mati, benar-benar mati dan tidak ingin bangkit lagi. Aku sudah lelah ..."
Dewi Kuxing pernah mencoba bunuh diri lagi, tapi hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, karena ia langsung beregenerasi saat itu juga.
Dewi Kuxing duduk meringkuk; memeluk erat lututnya dan ada air mata yang mengalir di pipinya. "Energi Dewa dan Iblis, sangat menyakitkan ..."
Tap... Tap... Tap...
Dewi Kuxing menghapus air matanya saat mendengar suara langkah kaki dari luar gua seraya beranjak turun dari tempat tidur; berlari menghampiri Lin Chen agar tidak mendapatkan hukuman lainnya.
"Ini adalah tes terakhir," ucap Lin Chen melepaskan tudung kepalanya—ia menyentuh dahi Dewi Kuxing, memasukkan energi merah yang merupakan Kutukan dari Kematian Abadi.
Darah mengalir deras dari mata Dewi Kuxing seperti menangis, ini sangat menyakitkan, tapi ia tidak diperbolehkan untuk berteriak.
Dewi Kuxing mendongak perlahan, menatap wajah Lin Chen yang selama ini tidak pernah ia lihat. Ia bisa melihat raut wajah Lin Chen yang datar, tapi sangat jelas itu memberinya perasaan seperti menahan kesedihan, kemarahan, penyesalan dan dendam yang mendalam.
"Itu adalah kutukan yang aku tanamkan di dalam tubuhmu, kau hanya memiliki waktu seratus tahun untuk bisa menghilangkannya, kau akan merasakan sakit yang menyiksa saat kultivasi ataupun makan ..."
"Jika sampai saat itu belum bisa menghilangkan kutukannya, kau akan mati dan bereinkarnasi, tapi kutukan itu masih tertanam sampai kau bisa menghilangkannya."
Lin Chen berbalik membelakangi Dewi Kuxing. "Jika kau berhasil, kau akan mendapatkan kekuatan yang mampu menguasai dunia. Sekarang, kau bebas dari sini, kau bebas pergi ke mana pun kau suka."
Dewi Kuxing memuntahkan darah dari dalam mulutnya. "Tu- Tunggu. Tu- Tuan ingin pergi ke mana?" Ia mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Lin Chen berhenti melangkah. "Aku hampir menerobos Lord Realm, aku ingin menyimpan harta yang sangat berarti dan berharga untukku," jawabnya kembali melangkah—ia menghilang dari pandangan Dewi Kuxing, berubah menjadi asap hitam.
"Ha- Harta? Umf!" Dewi Kuxing menahan darah yang hampir keluar, tapi tidak bisa menahannya dan memuntahkannya. Ia terduduk paksa, tangan kanannya bertumpu di tanah dan tangan yang lain menutup mulutnya.
"Kun Xiang Yin, itulah namamu mulai hari ini."
Kun adalah bumi atau perempuan, Xiang memiliki makna semoga berhasil, dan Yin adalah lawan dari Yang, yang berarti dingin.
Jika semuanya digabung, memiliki makna wanita dingin yang berhasil.
Dewi Kuxing menengadahkan kepalanya; melihat langit biru. Air mata menetes dari sudut matanya mulai membasahi pipinya. "Aku, punya nama?"
Dewi Kuxing bersujud cukup keras, sampai ada darah yang keluar dari dahinya. "Terima kasih."
...
__ADS_1
***
*Bersambung...